FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Invasi Amerika Serikat ke Grenada




Pasukan AS saat diterjunkan di atas Grenada lewat parasut. (Sumber)

Grenada adalah nama dari sebuah negara pulau kecil yang terletak di Laut Karibia, Amerika Tengah. Sebagai negara pulau tropis, Grenada menjadi salah satu tujuan wisata favorit para pelancong karena cuacanya yang hangat & pemandangan pantainya yang indah. Tak hanya itu, Grenada juga terkenal sebagai pulau penghasil rempah-rempah, khususnya pala. Namun siapa yang menyangka, di luar aneka kelebihan tersebut, pulau tersebut di masa lalu pernah porak poranda akibat serangan pasukan AS & sekutunya.

Invasi AS ke Grenada (dikenal juga dengan kode sandi "Operasi Kemarahan yang Mendesak / Operation Urgent Fury") terjadi pada tahun 1983 tak lama usai terjadinya kudeta militer oleh kelompok sayap kiri di negara pulau tersebut. Dalam invasi militernya, pasukan AS dibantu oleh pasukan militer negara-negara Karibia lainnya seperti Antigua & Barbuda, Barbados, Dominika, Jamaika, St. Lusia, serta St. Vincent & the Grenadines. Pihak Grenada di lain pihak juga mendapatkan bantuan dari sesama negara Karibia, yaitu Kuba.



LATAR BELAKANG

Sejak merdeka di tahun 1974 dengan status Persemakmuran, kondisi sosial politik Grenada sudah dilanda kekacauan antara pemerintahan berkuasa Grenada yang dipimpin oleh Sir Eric Matthew Gairy melawan kelompok oposisi berideologi komunis bernama New Joint Endeavor for Welfare, Education, and Liberation Movement (Gerakan Gabungan Baru untuk Kesejahteraan, Pendidikan, & Pembebasan) atau biasa disingkat sebagai New JEWEL Movement (NJM). NJM getol menentang rezim Gairy karena rezim Gairy dianggap sebagai rezim yang korup & otoriter.

Peta lokasi dari Grenada. (Sumber)
Tahun 1976, terjadi pemilu di Grenada di mana Gairy & partainya keluar sebagai pemenang, namun hasil pemilu tersebut ditolak oleh kubu NJM yang mengklaim bahwa ada unsur kecurangan dalam pemilu tersebut. Ketika perbedaan pendapat antara partai milik Gairy & NJM semakin berlarut-larut, pada tahun 1979 sayap militer milik NJM lantas melancarkan kudeta yang sukses melengserkan Gairy dari tahtanya. Maurice Bishop selaku pemimpin NJM lalu diangkat sebagai pemimpin baru Grenada.

Tak lama sesudah kudeta, Grenada semakin mendekatkan dirinya kepada Blok Timur alias negara-negara sayap kiri. Tenaga-tenaga ahli dari Kuba - negara berhaluan komunis di Karibia - didatangkan untuk membantu pengembangan infrastruktur & pelayanan publik di Grenada. Rezim Bishop juga menyatakan NJM sebagai satu-satunya partai yang boleh aktif di Grenada & hanya mengizinkan para simpatisan komunis untuk menduduki kursi-kursi pemerintahan serta ketentaraan. Perkembangan tersebut lantas membuat AS mulai khawatir kalau Grenada bisa menjadi negara komunis seutuhnya dalam waktu dekat.

Tahun 1983, terjadi perpecahan dalam tubuh pemerintahan Grenada menyusul perbedaan pendapat antara Bishop dengan petinggi-petinggi NJM yang lain. Penyebab utama dari perpecahan tersebut adalah Bishop ingin agar Grenada tetap menjadi negara berhaluan non-blok, sementara para petinggi NJM yang lain - khususnya dari golongan komunis garis keras - ingin agar Grenada menjadi negara anggota Blok Timur. Perbedaan pendapat tersebut lantas berujung pada timbulnya kudeta militer pada tahun yang sama. Bishop sendiri ditangkap & dieksekusi oleh para pelaku kudeta tak lama berselang.

Maurice Bishop. (Sumber)
Usai tewasnya Bishop, pemerintahan baru Grenada memberlakukan masa darurat militer di mana mereka yang ketahuan berada di jalanan umum tanpa izin bisa ditembak di tempat. Sejak beberapa bulan sebelumnya, Grenada juga membangun sebuah bandara internasional dengan bantuan negara-negara sayap kiri. Perkembangan situasi di Grenada lantas mengundang kekhawatiran dari organisasi multinasional Organization of American States (OAS; Organisasi Negara-Negara Amerika) yang kemudian meminta AS untuk menstabilkan kondisi sosial politik di Grenada. AS menyanggupi permintaan tersebut & bersama sejumlah negara Karibia lainnya, AS pun mulai mengirimkan pasukannya ke Grenada.



BERJALANNYA INVASI

Invasi pasukan gabungan AS & negara-negara Karibia dimulai pada pagi hari tanggal 25 Oktober 1983. Dalam penyerbuan tersebut, pasukan AS dipecah menjadi 2. Pasukan marinir (Marine) digerakkan untuk menguasai Pulau Grenada sebelah utara, sementara pasukan komando (Ranger) diperintahkan untuk menyerang & menduduki Grenada sebelah selatan. Fokus utama penyerangan dari selatan adalah untuk menduduki bandara Port Saline yang dicurigai akan dijadikan pangkalan militer negara-negara Blok Timur di Karibia.

Invasi ke Grenada sendiri bukannya tanpa kontroversi. Banyak negara - termasuk Inggris selaku kepala dari negara-negara Persemakmuran - menganggap invasi pimpinan AS tersebut sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional. Sebagai respon atas penolakan banyak negara tersebut, PBB pun sempat berencana membuat resolusi untuk menghentikan invasi tersebut, namun resolusi yang dimaksud gagal dibuat menyusul veto yang dilontarkan oleh perwakilan AS dalam rapat PBB. Sebagai akibatnya, invasi pun tetap berjalan & dunia internasional tak bisa berbuat apa-apa selain hanya sebatas mengutuk.

Peta dari Grenada & negara-negara yang menginvasinya. (Sumber)
Kembali ke medan perang di Grenada. Pukul 5 pagi waktu setempat, ratusan pasukan gabungan AS & negara-negara Karibia mendarat di bandara Pearls, Grenada utara, dengan memakai helikopter pengangkut personil. Dalam pendaratan tersebut, mereka sempat mendapatkan serangan dari sepasukan kecil tentara Grenada, namun serangan tersebut berhasil dipatahkan dengan mudah & dalam waktu singkat, bandara Pearls berhasil dikuasai oleh pasukan AS. Tak lama sesudah berhasil menduduki bandara, sebagian dari mereka naik kembali ke helikopter untuk singgah di kapal induk sebelum nantinya diberangkatkan kembali ke sisi lain pulau.

Di ujung selatan pulau, pasukan Ranger mulai mendarat di Grenada & mendapatkan perlawanan sengit dari pasukan Grenada di daerah tersebut. Untuk meredam perlawanan pasukan Grenada di daerah tersebut, pasukan AS pun mengirim pesawat AC-130 Spectre di mana keberadaan pesawat tersebut sukses besar dalam meredam perlawanan para prajurit Grenada di darat. Pasukan Ranger yang sudah berada di tanah Grenada lantas mulai bergerak ke St. George, ibukota Grenada, untuk membebaskan para mahasiswa warga negara AS yang ditahan oleh pasukan gabungan Grenada & Kuba.

Pasukan Ranger mencapai kampus True Blue - kampus tempat ditahannya para mahasiswa AS - pada pukul 9 pagi waktu setempat & berhasil membebaskan seluruh mahasiswa yang disandera. Lewat informasi para mahasiswa tersebut, pasukan Ranger juga mendapatkan informasi bahwa ada ratusan mahasiswa AS lainnya yang ditahan di kampus Grand Anse yang terletak beberapa ratus kilometer dari True Blue. Upaya penyelamatan mahasiswa di Grand Anse sempat terkendala oleh blokade yang dilakukan oleh pasukan Grenada & Kuba, namun mereka yang ditahan di Grand Anse akhirnya bisa dievakuasi pada hari berikutnya.

Pasukan AS saat mengoperasikan
meriam artileri. (Sumber)
Tanggal 27 Oktober 1983, pasukan gabungan Ranger & Marine yang dibantu oleh pasukan udara dari kapal induk USS Independence menggempur basis pertahanan pasukan Grenada yang terletak di sebelah utara ibukota St. George. Penyerbuan berjalan sulit karena kuatnya pertahanan yang dibangun oleh pasukan Grenada, terlebih karena di hari-hari sebelumnya pasukan AS sempat kehilangan 3 helikopternya di atas area tersebut sehingga pasukan AS terkesan lebih waspada saat melakukan penyerbuan. Setelah melalui situasi pertempuran yang sengit, basis pertahanan tersebut akhirnya bisa direbut oleh pasukan AS.

Setelah berhasil merebut ibukota St. George & sekitarnya, kini pasukan gabungan AS & negara-negara Karibia lebih fokus untuk mengalahkan pasukan-pasukan Grenada yang masih tersisa & terpencar di seantero pulau. Memasuki bulan November, pasukan gabungan AS & negara-negara Karibia mengumumkan bahwa konflik bersenjata telah berakhir. Sebagian dari pasukan gabungan AS & negara-negara Karibia meninggalkan Grenada, sementara sebagian lainnya tetap ditempatkan di Grenada untuk menormalkan kembali aktivitas sosial negara tersebut yang sempat lumpuh akibat kudeta & peperangan.



KONDISI PASCA INVASI

Invasi AS & sekutunya ke Grenada berlangsung dalam waktu relatif singkat. Konflik militer hanya berlangsung selama sekitar 1 minggu, namun operasi militer pasukan AS sendiri tetap berlangsung hingga bulan Desember di mana dalam operasi militer pasca konflik militer, pasukan AS bertugas sebagai penjaga keamanan sementara bagi Grenada. Dalam invasi militer tersebut, pasukan AS dilaporkan kehilangan 19 personilnya. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan jumlah korban tewas pasukan Grenada & Kuba yang jika ditotal mencapai 70 orang.

Suasana kota St. George, 20 tahun
pasca invasi. (Sumber)
Pasca berakhirnya invasi, timbul kekosongan kekuasaan di tubuh pemerintahan Grenada menyusul tumbangnya rezim NJM akibat serangan pasukan gabungan AS & negara-negara Karibia. Pemilu kemudian dilaksanakan setahun sesudah invasi di mana dalam pemilu tersebut, Grenada National Party (Partai Nasional Grenada; GNP) keluar sebagai partai pemenang & Herbert Blaize terpilih sebagai perdana menter Grenada yang baru. Sejak saat itu, perlahan tapi pasti Grenada pun mulai memulihkan dirinya kembali.  Kini, Grenada menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Karibia & sekitar 4 kapal pesiar mengunjungi Grenada setiap tahunnya.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : Oktober - November 1983
    - Lokasi : Grenada

2. Pihak yang Bertempur
    (Negara)  -  Amerika Serikat, Antigua & Barbuda, Barbados, Dominika, Jamaika, St. Lucia,
                     St. Vincent & the Grenadines
          melawan
    (Negara)  -  Grenada, Kuba

3. Hasil Akhir
    - Kemenangan pihak Amerika Serikat & sekutunya
    - Berakhirnya rezim New JEWEL Movement di Grenada

4. Korban Jiwa
    - Amerika Serikat : 19 jiwa
    - Grenada & Kuba : 70 jiwa (94 bila termasuk penduduk sipil)



REFERENSI

GlobalSecurity.org - Operation Urgent Fury
Wikipedia - Grenada
Wikipedia - Invasion of Grenada (1983)
T. Nardin & K. D. Pritchard. 1988. "Ethics and Intervention....Grenada, 1983". (file PDF)


          

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

3 komentar:

  1. Maaf gan helicopter ac 130 itu apa ya? Mngkin yg dimaksud pesawat ac 130 spectre. Btw nice blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, iya. Maksud saya pesawat (gunship). Terima kasih buat koreksinya.

      Hapus
    2. terima kasih untuk info-info ini...saya meminta izin untuk mengambil sedikit sebanyak maklumat saudara untuk membantu saya menyiapkan tugasan saya...sekali lagi terima kasih

      Hapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.