FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Perang Sipil Liberia, Pertumpahan Darah di "Tanah Kebebasan" (bagian 1)




Pasukan pemberontak NPFL saat terlibat kontak senjata
dengan pasukan pemerintah Liberia. (Sumber)

Liberia adalah nama dari sebuah negara kecil yang terletak di pantai barat Benua Afrika. Negara tersebut berbatasan dengan Pantai Gading di sebelah timur, Guinea di utara, Sierra Leone di barat, & Samudera Atlantik di sebelah selatan. Nama Liberia pada negara ini berasal dari kata "liberty" yang berarti "kebebasan" karena negara tersebut awalnya memang didirikan untuk menampung budak-budak kulit hitam dari Amerika Serikat yang baru saja dibebaskan oleh pemerintah setempat. Namun di "tanah kebebasan" ini pula, salah satu perang sipil paling berdarah & paling brutal di Afrika pernah terjadi.

Perang sipil Liberia - sesuai namanya - adalah perang saudara yang mengambil tempat di Liberia. Berdasarkan waktu kejadiannya, perang tersebut bisa dibagi ke dalam 2 fase : perang fase I (1989 - 1996) & perang fase II (1999 - 2003). Akibat perang tersebut, hampir setengah juta rakyat Liberia kehilangan nyawanya & jutaan lainnya terpaksa menjadi pengungsi di negara-negara lain. Perang tersebut juga turut andil dalam mengubah Liberia menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Kisah mengenai perang sipil Liberia pernah diangkat dalam film fiksi berjudul "Lord of War" yang dirilis pada tahun 2005 & dibintangi oleh Nicholas Cage, namun dengan sejumlah perubahan yang menyimpang dari sejarah versi aslinya.

Perang sipil Liberia juga diwarnai dengan aksi-aksi kejahatan kemanusiaan yang oleh orang-orang awam bisa dianggap sebagai tindakan di luar nalar. Sebagai contoh, pihak-pihak yang bertikai banyak merekrut anak-anak untuk menjadi anggota pasukannya. Bukan hanya itu, pihak-pihak yang bertikai juga melakukan praktik mutilasi & kanibalisme karena adanya kepercayaan bahwa orang yang memakan bagian tubuh lawannya akan bertambah kuat! Adapun bagian-bagian tubuh manusia yang kerap menjadi sasaran mutilasi & kanibalisme adalah hati, jantung, & alat kelamin pria. Walaupun terkesan mengerikan, kenyataannya praktik tersebut dianggap lekat dengan budaya Liberia sehingga selama perang sipil, kegiatan perdagangan ilegal dari bagian-bagian tubuh yang bersangkutan kerap terjadi.



LATAR BELAKANG

Peta dari Liberia. (Sumber)
Berdasarkan asal muasalnya, penduduk Liberia  bisa dibagi ke dalam 2 golongan utama : golongan kulit hitam pribumi yang persentase jumlahnya mencapai 95 % & golongan kulit hitam keturunan Amerika Serikat (AS) yang persentasenya hanya sekitar 5 %. Golongan kulit hitam keturunan AS itu sendiri aslinya adalah budak-budak kulit hitam AS yang baru saja dibebaskan oleh pemerintah setempat. Usai dibebaskan, para mantan budak tersebut lalu dikirim ke tanah yang kelak menjadi cikal bakal negara Liberia supaya mereka bisa mendirikan negara sendiri. Dengan begitu, pemerintah AS tidak perlu bersusah payah mencarikan pekerjaan baru untuk para mantan budak tersebut seandainya mereka tetap tinggal di AS.

Walaupun hanya berstatus sebagai golongan minoritas jika ditinjau dari jumlahnya, aktivitas perpolitikan Liberia sejak kelahiran negara tersebut di tahun 1847 selalu didominasi oleh orang-orang kulit hitam keturunan AS via partai politiknya yang bernama True Whig Party (TWP). Untuk menjamin dominasi mereka, TWP sempat melarang keikutsertaan penduduk pribumi dalam pemilu presiden hingga dekade 1950-an & membatasi aktivitas dari partai-partai oposisi. Situasi tersebut lantas menimbulkan rasa tidak suka dari penduduk pribumi setempat yang merasa diperlakukan layaknya warga kelas 2 di tanah leluhur mereka sendiri.

Memasuki tahun 1970-an, Liberia mulai dilanda krisis ekonomi menyusul anjloknya harga karet selaku komoditas ekspor andalan Liberia selama ini. Awalnya pemerintah Liberia masih sempat bertahan berkat bantuan finansial yang mereka dapat dari negara-negara Blok Barat & Blok Timur sekaligus. Namun memasuki tahun 1979, krisis tersebut akhirnya pecah menjadi kerusuhan berdarah menyusul munculnya rencana pemerintah untuk menaikkan harga beras. Akibat kerusuhan tersebut, 40 orang dilaporkan tewas sehingga situasi dalam negeri pun berubah menjadi tegang.

Samuel K. Doe. (Sumber)
Tahun 1980, sejumlah tentara Liberia yang dipimpin oleh Samuel K. Doe - seorang pribumi - melakukan kudeta militer yang sukses mengakhiri kekuasaan Presiden William R. Tolbert, Jr. & dominasi politik komunitas kulit hitam keturunan AS. Doe kemudian membekukan konstitusi sehingga ia kini menjadi sosok paling berkuasa di Liberia. Namun tekanan dari negara-negara Barat yang selama ini menjadi penyokong ekonomi Liberia membuat Doe melunak & mengizinkan diadakannya pemilu presiden pada tahun 1985. Pemilu tersebut berhasil dimenangkan oleh Doe, namun hasil dari pemilu tersebut menuai kecaman dari dalam & luar negeri karena pelaksanaan pemilunya dianggap penuh dengan kecurangan.

Di luar masalah hasil akhir dari pemilu presiden yang kontroversial, aspek kesukuan & diskriminasi sosial juga sangat berperan dalam menumbuhkan bibit-bibit konflik di Liberia. Selama berkuasa, Doe cenderung menelantarkan orang-orang dari suku Gio & Mano. Di lain pihak, Doe mendapatkan banyak dukungan dari suku Krahn & Madingo mengingat Doe beserta orang-orang dekatnya memang berasal dari suku Krahn. Selain sentimen kebencian antar suku pribumi tadi, komunitas kulit hitam keturunan AS juga mengintip peluang untuk mengembalikan kembali dominasi mereka di Liberia.



BERJALANNYA PERANG SIPIL PERTAMA

Liberia versus NPFL & INPFL

Bulan Desember 1989, kelompok pemberontak yang menyebut diri mereka National Patriotic Front of Liberia (NPFL; Front Patriotik Nasional Liberia) & dipimpin oleh Charles Taylor melakukan serangan ke provinsi Nimba, Liberia timur, dari balik perbatasan Pantai Gading. Charles Taylor adalah seorang kulit hitam keturunan AS yang sempat menjabat sebagai kepala lembaga pelayanan umum negara saat Doe berkuasa, namun ia melarikan diri keluar Liberia pada tahun 1983 dengan alasan yang tidak jelas. Saat berada di luar Liberia inilah, ia beserta para pengikutnya mendapatkan dukungan finansial & pelatihan militer dari pemerintah Libya.

Charles Taylor. (Sumber)
Kembali ke medan konflik. Menyusul serangan yang dilakukan oleh NPFL, pemerintah Liberia lantas menerjunkan pasukan ke Nimba untuk menumpas pemberontakan tersebut. Selama melakukan operasi militer, pasukan Liberia melakukan pembunuhan tanpa pandang bulu kepada penduduk setempat. Menurut laporan dari media & organisasi HAM internasional, 200 orang dilaporkan tewas akibat operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Liberia. Tindakan pasukan Liberia tersebut tak pelak membuat banyak penduduk lokal yang semakin tidak bersimpati dengan pemerintah pusat Liberia sehingga mereka kemudian bergabung ke dalam NPFL.

Tahun berganti, pasukan NPFL berhasil mendesak mundur pasukan Liberia & bergerak semakin dekat ke Monrovia, ibukota dari Liberia. Selama bergerak menuju Monrovia inilah, pasukan NPFL melakukan pembantaian kepada penduduk sipil yang berasal dari suku Krahn & Madingo. Tepat pada bulan Juni 1990, pasukan NPFL tiba di tepi Monrovia & pertempuran memperebutkan ibukota pun dimulai. Upaya NPFL untuk merebut Monrovia sempat terganggu menyusul adanya perpecahan internal yang berujung pada lahirnya kelompok baru yang bernama Independent National Patriotic Front of Liberia (INPFL; Front Patriotik Nasional Merdeka Liberia) pimpinan Prince Yormie Johnson, seorang anggota suku Gio.

Walaupun dilanda perpecahan, NPFL & INPFL tetap kompak melakukan pengepungan ke kota Monrovia. Sementara itu di luar Liberia, organisasi ECOWAS yang beranggotakan negara-negara Afrika Barat memutuskan ikut terjun ke medan konflik & mengirim pasukan gabungan bernama Economic Community Monitoring Group (ECOMOG; Kelompok Pengawas Komunitas Ekonomi) pada bulan Agustus 1990. Kedatangan pasukan ECOMOG berhasil memperpanjang napas dari rezim Doe untuk beberapa lama. Namun, Doe akhirnya menemui ajalnya setelah pada bulan September 1990, ia ditangkap & disiksa hingga tewas oleh pasukan INPFL saat sedang mengunjungi markas ECOMOG di dekat Monrovia.


NPFL versus INPFL versus ULIMO

Pasukan ECOMOG & AS yang sedang
berada di bandara Monrovia. (Sumber)
Pasca tewasnya Doe, perundingan yang diawasi oleh ECOWAS lalu diadakan di negara Gambia untuk menentukan pemerintahan baru Liberia pasca tewasnya Taylor. Pemerintahan yang dimaksud akhirnya berhasil didirikan pada bulan Oktober 1990. Namun, Taylor menolak mengakui keberadaan pemerintahan baru tersebut sehingga perang sipil di Liberia pun berlanjut - kali ini antara NPFL melawan INPFL. Situasi semakin runyam setelah pada tahun 1991, sisa-sisa simpatisan Samuel Doe yang melarikan diri ke Sierra Leone - negara tetangga Liberia di sebelah barat - membentuk kelompok bersenjata baru yang bernama United Liberation Movement of Liberia for Democracy (ULIMO; Gerakan Pembebasan Bersatu Liberia untuk Demokrasi).

Walaupun munculnya ULIMO membuat perkembangan konflik di Liberia semakin berlarut-larut, keberadaan mereka juga membawa dampak positif tersendiri untuk ECOMOG / ECOWAS. Karena berkat kedatangan pasukan ULIMO ke Liberia di tahun 1992, pasukan ECOMOG yang dibantu oleh ULIMO berhasil mempertahankan Monrovia dari serbuan pasukan NPFL sehingga impian Taylor untuk menjadi penguasa baru Liberia via jalur militer gagal terwujud. Selama perang sipil pasca tumbangnya rezim Doe, pasukan NPFL juga menyerang orang-orang berkewarganegaraan AS yang sedang berada di Liberia. Ada pendapat yang menyatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menggerus pengaruh AS di Liberia mengingat negara penyokong utama NPFL adalah Libya yang selama ini memang dikenal sangat anti-AS.

Selain karena ingin menjadi penguasa baru Liberia, penyebab lain kenapa Taylor memilih untuk melanjutkan perang adalah karena faktor ekonomi. Begitu perang meletus, Taylor & para pengikutnya bisa mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) yang berada di Liberia sebebas-bebasnya. Kebetulan tanah dari Liberia memang kaya akan SDA bernilai tinggi seperti berlian, karet, emas, & kayu. Dengan berlajutnya perang sipil, maka Taylor & para pengikutnya pun bisa tetap melanjutkan aktivitas tersebut tanpa bisa dicegah siapapun. Adapun selain Taylor, pemimpin-pemimpin milisi Liberia yang lain juga ikut memanfaatkan situasi dalam negeri yang sedang kacau untuk mengeksploitasi SDA & memperkaya diri mereka.

Suasana dalam pemilu presiden
Liberia di tahun 1997. (Sumber)
Kembali ke medan konflik. Pada tahun 1993, sebuah perundingan yang diawasi oleh ECOWAS & PBB sempat diadakan di negara Benin untuk mendamaikan pihak-pihak yang berkonflik. Namun, perundingan tersebut gagal menciptakan perdamaian jangka panjang di Liberia & pertempuran kembali pecah pada tahun 1994. Di tahun yang sama, ULIMO mengalami perpecahan internal hingga menghasilkan 2 kelompok baru : ULIMO-J pimpinan Roosevelt Johnson (mayoritas anggotanya berasal dari suku Krahn) & ULIMO-K pimpinan Alhaji G.V. Kromah (mayoritasnya suku Mandingo). Situasi keamanan di Liberia pun tetap tidak mengalami perbaikan berarti, namun celah untuk mengakhiri konflik mulai terbuka menyusul bergulirnya rencana untuk segera mengadakan pemilu presiden di Liberia.

Pemilu presiden yang dimaksud akhirnya digelar pada tahun 1997. Hasilnya, Taylor berhasil keluar sebagai pemenang dengan keunggulan suara yang sangat telak atas lawan-lawannya. Pengamat internasional yang diterjunkan untuk mengawasi pemilu menyatakan bahwa pemilu tersebut berjalan jujur & adil. Dengan kemenangan Taylor via pemilu, perang sipil fase pertama di Liberia pun berakhir & kondisi keamanan di Liberia secara berangsur-angsur mengalami peningkatan. Membaiknya kondisi keamanan di Liberia pasca pemilu lantas diikuti dengan mulai kembalinya para pengungsi Liberia ke negara asalnya.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : 1989 - 1996
    - Lokasi : Liberia

2. Pihak yang Bertempur
    (Negara)  -  Liberia, negara-negara anggota ECOWAS
    (Grup)  -  ULIMO
          melawan
    (Grup)  -  NPFL
          melawan
    (Grup)  -  INPFL

3. Hasil Akhir
    - Perang berakhir tanpa pemenang
    - Tumbangnya rezim Liberia pimpinan Samuel K. Doe di tahun 1990
    - Charles Taylor dari NPFL menjadi penguasa baru Liberia lewat pemilu

4. Korban Jiwa
    Sekitar 200.000 jiwa



Bersambung ke perang sipil Liberia (bagian 2).



REFERENSI

American Memory from the Library of Congress - Liberia Timeline
BBC News - Liberia Profile - Timeline
GlobalSecurity.org - Liberia - First Civil War - 1989-1996
GlobalSecurity.org - Liberian Conflict
Wikipedia - First Liberian Civil War
- . 2008. "Liberia". Encyclopaedia Britannica, Chicago.


     

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

6 komentar:

  1. Keren, Liberia memang tak pernah sepi dari konflik. Sebenarnya negara-negara kapitalis di Eropa dan Amerika juga turut berperan. Salam kenal, mampir ya...

    BalasHapus
  2. Semoga ada damai untuk Liberia

    BalasHapus
  3. Konflik hanya menimbulkan kekacauan dan korban nyawa, pada akhirnya perebutan pengaruh dan kekuasaan yang terjadi

    BalasHapus
  4. Intip ig ku dong.. Dickson_yowmand

    We want peace in liberia, peace in monrovia..

    BalasHapus
  5. numpang tanya gan,.. pernah dengar nda? nama mayor jendral johnson oda yg katanya sebagai mantan wakil mentri keamanan nasional dibawah kepemimpinan presiden charles taylor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya belum pernah dengar sayangnya.

      Hapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.