FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Perang Sipil Liberia, Pertumpahan Darah di "Tanah Kebebasan" (bagian 2)




Tentara Liberia dalam pertempuran di ibukota Monrovia. (Sumber)

Sambungan dari bagian 1.


PERIODE DAMAI SEMENTARA

Perang sipil pertama Liberia berakhir setelah Charles Taylor - pemimpin kelompok NPFL - memenangkan pemilu presiden di tahun 1997 dengan keunggulan suara yang telak atas lawan-lawannya. Walaupun pengamat internasional menyebut proses pemilu yang memenangkan Taylor berlangsung jujur & adil, suasana pemilu itu sendiri dianggap tidak benar-benar kondusif karena adanya kekhawatiran di antara penduduk Liberia kalau Taylor akan melanjutkan kembali perlawanan bersenjata jika dirinya sampai gagal memenangkan pemilu. Selain karena faktor ketakutan, alasan lain kenapa Taylor bisa memenangkan pemilu adalah karena dia memiliki keunggulan sumber daya atas rival-rivalnya mengingat menjelang digelarnya pemilu, NPFL sedang menguasai sebagian besar wilayah Liberia yang ada di luar Monrovia.

Tidak lama setelah Taylor memenangkan pemilu, proses pemulihan & rekonstruksi di Liberia mulai dijalankan. Anggota dari kelompok-kelompok bersenjata - utamanya NPFL - dijadikan tentara nasional Liberia. Para pengungsi Liberia yang awalnya berada di luar negeri mulai kembali ke tanah airnya. Namun, masalah baru muncul karena sebagai akibat dari minimnya kedisiplinan yang dimiliki oleh para tentara, mereka kerap melakukan intimidasi & penyerangan berbau sentimen kesukuan kepada para pengungsi tersebut. Tak hanya itu, tersendatnya aliran dana dari negara-negara donor juga membuat upaya rekonstruksi & pembangunan kawasan pelosok Liberia menjadi terhambat.

Liberia juga memiliki masalah dengan konflik bersenjata di kawasan setempat. Jika Liberia sedang mencoba menikmati kembali masa-masa damainya sesudah berakhirnya perang sipil pertama, maka Sierra Leone - negara tetangga Liberia di sebelah barat - masih harus berjibaku dengan perang saudara antara pemerintah setempat melawan kelompok Revolutionary United Front (RUF; Front Bersatu Revolusioner). Akibat perang tersebut, banyak penduduk Sierra Leone yang kemudian mengungsi ke wilayah Liberia. Saat jumlah mereka semakin banyak & konflik di negara tetangga semakin memanas, Liberia pun mulai ikut terkena getahnya. Situasi yang sebenarnya diciptakan oleh pemerintah Liberia secara tidak langsung karena merekalah yang selama ini memberikan bantuan finansial & pelatihan militer kepada RUF secara diam-diam demi mengamankan persediaan berlian yang ada di Sierra Leone.



BERJALANNYA PERANG SIPIL KEDUA

Anggota LURD. (Sumber)
Sejak bulan April 1999, muncul kerusuhan sipil & konflik bersenjata di provinsi Lofa yang banyak ditempati oleh pengungsi dari Sierra Leone & pengungsi Liberia yang baru saja kembali dari Guinea, negara tetangga Liberia di sebelah utara. Liberia lantas menuduh Guinea berada di balik konflik tersebut & aksi baku tembak dari balik perbatasan masing-masing negara pun mulai timbul. Sementara itu di sebelah timur, konflik sipil lintas negara juga pecah antara etnis Krahn & Guare melawan etnis Gio & Yacouba yang bermukim di wilayah Pantai Gading.

Di tengah-tengah situasi kacau ini, muncullah kelompok bersenjata di Liberia utara yang menyebut diri mereka Liberians United for Reconciliation and Democracy (LURD; Liberia Bersatu untuk Rekonsiliasi & Demokrasi). Mayoritas anggota LURD berasal dari etnis Mandingo, etnis yang pada perang sipil pertama merupakan penyusun utama dari keanggotaan kelompok ULIMO-K. Awalnya aksi-aksi LURD hanya terbatas di perbatasan Guinea & Liberia. Namun seiring berjalannya waktu, aktivitas perjuangan bersenjata yang dilakukan LURD mulai menjalar ke wilayah barat & tengah Liberia. Sudah jatuh tertimpa tangga, PBB menjatuhkan sanksi embargo senjata kepada rezim Taylor pada bulan Mei 2001 sebagai akibat dari keterlibatannya dalam perang sipil & perdagangan berlian ilegal di Sierra Leone.

Ketika pasukan LURD semakin dekat dengan ibukota Monrovia, pemerintah Liberia lantas menetapkan status darurat negara & melarang segala macam bentuk pertemuan yang melibatkan banyak orang pada bulan Februari 2002. Mereka juga mulai merekrut paksa anak-anak untuk menambah jumlah tentaranya - taktik yang juga dilakukan oleh LURD kepada anak-anak di kawasan pedesaan. Aksi-aksi penyerangan & pembunuhan kepada etnis Mandingo dilakukan. Berkat kombinasi dari aneka taktik kontroversial tersebut, pasukan Liberia berhasil merebut wilayah-wilayah di sekitar Monrovia yang sebelumnya dikuasai oleh LURD. Merasa puas dengan pencapaian tersebut, pemerintah Liberia lalu mencabut status darurat negara pada bulan September di tahun yang sama.

Pasukan Nigeria saat mendarat
di ibukota Monrovia. (Sumber)
Tahun berganti, perang saudara di Liberia menjadi semakin rumit menyusul lahirnya kelompok bersenjata baru dari Liberia selatan yang menamakan dirinya Movement for Democracy in Liberia (MODEL; Gerakan untuk Demokrasi di Liberia). MODEL mendapat dukungan dari Pantai Gading & mayoritas anggotanya berasal dari etnis Krahn, etnis yang pada perang sipil pertama merupakan penyusun utama dari keanggotaan kelompok ULIMO-J. Munculnya MODEL & masih berlanjutnya perlawanan bersenjata yang dilakukan LURD membuat pemerintah Liberia semakin terpojok. Memasuki pertengahan Maret 2003, pasukan LURD bahkan hanya tinggal berjarak 10 km dari ibukota Monrovia.

Perundingan damai sebenarnya sempat dilakukan pada bulan Juni 2003 di Akosambo, Ghana. Namun perundingan tersebut gagal menghentikan konflik untuk jangka panjang & pertempuran memperebutkan Monrovia kembali pecah sebulan kemudian. Tuntutan mundur yang dialamatkan kepada Taylor semakin menggema, baik dari dalam maupun luar Liberia. Taylor akhirnya sepakat untuk meletakkan jabatannya setelah pemerintah Nigeria menyatakan kesediaannya untuk menampung Taylor. Maka, pada bulan Agustus 2003 pasukan Nigeria datang ke Monrovia untuk menjemput Taylor & membawanya ke Nigeria. Dengan perginya Taylor ke luar negeri, perang sipil kedua Liberia pun berakhir dengan keberhasilan pasukan pemberontak mengakhiri rezim Taylor.



KONDISI PASCA PERANG

Tidak lama sesudah kepergian Taylor, para pemimpin dari kelompok anti-Taylor & organisasi masyarakat setempat melakukan pertemuan di Ghana untuk membahas masa depan Liberia pasca lengsernya Taylor. Hasilnya, dicapailah kesepakatan kalau Gyude Bryant akan menjadi pemimpin sementara Liberia hingga pemilu digelar pada tahun 2005. Kelompok-kelompok bersenjata yang ada di Liberia akan membiarkan senjatanya dilucuti oleh pasukan perdamaian PBB & puluhan ribu anggota kelompok-kelompok tadi akan menerima bantuan uang serta pendidikan supaya mereka bisa hidup normal kembali layaknya penduduk sipil biasa.

Suasana kota Monrovia, 10 tahun pasca
berakhirnya perang sipil. (Sumber)
Walaupun berhasil keluar hidup-hidup dari negaranya, bukan berarti Charles Taylor bisa hidup nyaman di sisa hidupnya. Tahun 2007, ia mulai diadili oleh pengadilan internasional di Den Haag, Belanda, atas tuduhan kejahatan perang di Sierra Leone. Tahun demi tahun berlalu & proses investigasi atas dirinya terus berjalan. Bulan Mei 2012, Taylor akhirnya dinyatakan bersalah & dijatuhi hukuman 50 tahun penjara. Keputusan hakim tersebut disambut hangat oleh warga kota Freetown, Sierra Leone, yang mengikuti proses persidangan & penjatuhan hukuman kepada Taylor lewat siaran langsung dari layar televisi raksasa.

Perang sipil Liberia membawa dampak negatif yang amat besar bagi negara tersebut. Jika ditotal, jumlah korban tewas akibat perang sipil pertama & kedua mencapai 350.000 jiwa. Kondisi sosial politik negara tersebut juga masih sangat labil hingga sekarang. Sebagai contoh, pada tahun 2010 lalu sempat ada kerusuhan berbau agama di provinsi Lofa yang berujung pada hancurnya rumah-rumah ibadat setempat. Akibat perang sipil itu pula, Liberia kini menjadi salah satu negara paling miskin di dunia dengan tingkat pengangguran yang amat tinggi. Buntutnya, aksi-aksi kriminal di Liberia pun marak terjadi & warga asing - khususnya warga negara AS - yang sedang berada di Liberia kerap menjadi sasaran pencurian serta perampokan. Sebuah ironi bagi negara yang menyebut dirinya sebagai "tanah kebebasan"...  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : 1999 - 2003
    - Lokasi : Liberia

2. Pihak yang Bertempur
    (Negara)  -  Liberia
          melawan
    (Grup)  -  LURD, MODEL

3. Hasil Akhir
    - Kemenangan pihak LURD & MODEL
    - Berakhirnya rezim Charles Taylor di Liberia
    - Pembentukan pemerintahan transisi di Liberia

4. Korban Jiwa
    Sekitar 150.000 jiwa



REFERENSI

BBC News - Liberia ex-leader Charles Taylor get 50 years in jail
BBC News - Liberia profile - Timeline
BBC News - Profile: Liberia's rebels
GlobalSecurity.org - Liberia - Post-Taylor Cease Fire
GlobalSecurity.org - Liberia - Second Civil War - 1997-2003
Wikipedia - Second Liberian Civil War


            

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

3 komentar:

  1. seringkali pemilih dalam pemilu memilih dalam suasana ketakutan dan terancam, komentar balasan dong ke blog saya www.goocap.com

    BalasHapus
  2. setidaknya indonesia bisa belajar dari masa kelam perang sipi di liberia dengan tetap berpegang tegung dengan pancasila sebagai legal fundamentalis demi terwujudnya perdamaian di seluruh pelosok negeri, jangan selalu bicara SARA di negara yang sekuler seperti indonesia. biarkan masyarakat beragama hidup damai jangan ada provokasi yang selalu ingin memecah

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.