FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Perang Sipil Lebanon, Banjir Darah di "Swissnya Timur Tengah"




Suasana kota Beirut saat perang sipil Lebanon
masih berlangsung. (Sumber)

Lebanon / Libanon adalah nama dari sebuah negara kecil yang terletak di pesisir timur Laut Mediterania. Sebagai akibat dari dominannya sektor perbankan & pariwisata dalam menyumbang pemasukan bagi pemerintah Lebanon, negara itupun mendapat julukan "Swiss dari Timur" / "Swissnya Timur Tengah". Bahkan Beirut yang menjadi ibukota dari Lebanon juga mendapat julukan "Parisnya Timur Tengah" berkat bangunan-bangunan dengan arsitektur bergaya Perancisnya. Sayang, semua julukan berbau positif tadi lenyap seketika akibat perang sipil yang membakar Lebanon.

Perang sipil Lebanon (Lebanese civil war) adalah perang saudara yang terjadi di Lebanon pada tahun 1975 hingga 1990. Agak sulit menjelaskan perang sipil Lebanon sebagai konflik antara siapa melawan siapa akibat banyaknya kelompok yang terlibat & seringnya terjadi pergeseran aliansi. Namun secara garis besar, perang sipil Lebanon bisa dideskripsikan sebagai konflik antara ekstrimis Muslim & sayap kiri melawan ekstrimis Kristen & sayap kanan. Dari luar Lebanon, negara-negara seperti Israel & Suriah juga ikut terlibat secara langsung dalam konflik. Akibat perang sipil Lebanon, ratusan ribu rakyat Lebanon kehilangan nyawanya & kondisi infrastruktur negara tersebut luluh lantak.



LATAR BELAKANG

1. Beragamnya Komposisi Agama di Lebanon

Berdasarkan latar belakang agamanya, populasi Lebanon secara garis besar bisa dibagi ke dalam 2 golongan utama : golongan penganut Islam & golongan penganut Kristen. Golongan penganut Islam (Muslim) terdiri dari beberapa sekte di mana sekte yang paling dominan adalah sekte Syiah. Sementara dalam populasi penganut Kristen di Lebanon, sekte Kristen yang jumlahnya paling besar adalah sekte Maronit / Maronite. Selain kedua agama tadi, ada juga pemeluk agama Druze yang merupakan golongan agama minoritas terbesar di Lebanon.

Gereka Maronit St. George (kiri) yang
terletak berdampingan dengan Masjid
Al-Amin di kota Beirut. (Sumber)
Lebanon memiliki populasi penganut Islam & Kristen yang nyaris seimbang. Untuk mencegah timbulnya konflik bermotifkan perebutan kekuasaan antar golongan agama, sistem perpolitikan Lebanon pun didesain sedemikian rupa. Presiden Lebanon harus berasal dari agama Kristen sekte Maronit. Perdana menteri Lebanon harus berasal dari agama Islam sekte Sunni. Kepala parlemen Lebanon harus berasal dari agama Islam sekte Syiah. Sementara dalam hal susunan pemilik kursi parlemen, komunitas Kristen memiliki jatah jumlah kursi yang lebih banyak ketimbang komunitas Muslim.

Penggunaan sistem politik rumit yang memperhatikan keikutsertaan dari perwakilan masing-masing sekte agama toh tetap tidak membuat Lebanon bebas dari konflik. Tahun 1958, Lebanon sempat diguncang pemberontakan yang dilakukan oleh komunitas Muslim & Druze setempat karena kedua komunitas tadi menginginkan penyatuan Lebanon dengan negara Republik Arab Bersatu. Pemberontakan tersebut untungnya tidak berlangsung lama setelah pasukan Amerika Serikat (AS) diterjunkan ke Lebanon atas permintaan dari pemerintah Lebanon sendiri. Pasca pemberontakan, Lebanon kembali menikmati masa-masa damainya. Namun sentimen negatif antar komunitas masih tetap mengendap & menjadi bom waktu yang siap meledak sewaktu-waktu.


2. Tidak Meratanya Pembangunan & Pendapatan Nasional

Dekade 1960 hingga pertengahan 1970-an merupakan masa keemasan bagi Lebanon. Pada periode tersebut, Lebanon menikmati pertumbuhan ekonomi yang pesat berkat sumbangan pemasukan dari sektor pariwisata & perbankan. Sayang tidak semua wilayah Lebanon menikmati masa keemasan tersebut. Pengembangan infrastruktur di Lebanon hanya terfokus di ibukota Beirut. Sementara daerah-daerah Lebanon yang lain seperti daerah utara, selatan, & Lembah Bekaa cenderung kurang diperhatikan sehingga mayoritas penduduk setempat tetap berkubang dalam kemiskinan. Situasi yang membuat mereka jadi relatif gampang untuk dihasut.


3. Masuknya Arus Pengungsi Palestina ke Lebanon Selatan

Peta dari Lebanon. (Sumber)
Sejak tahun 1948 yang juga merupakan tahun berdirinya Israel, negara-negara Arab beberapa kali terlibat konflik bersenjata dengan Israel karena menganggap pendirian Israel sebagai ilegal & tidak memperhatikan hak-hak komunitas Arab Palestina. Munculnya konflik demi konflik lantas membuat banyak penduduk Palestina yang mengungsi ke negara-negara sekitarnya, salah satunya ke Lebanon yang terletak di sebelah utara Israel. Para pengungsi tersebut bukan hanya terdiri dari warga sipil yang tidak bersenjata, tapi juga milisi anti-Israel yang ikut mengungsi sambil membawa stok persenjataannya ke kompleks pengungsian di Lebanon selatan.
 
Permulaan dekade 1970-an, pemerintah Yordania mengusir Palestine Liberation Organization (PLO; Organisasi Pembebasan Palestina) keluar dari negaranya. Terusir dari Yordania, PLO lalu menjadikan Lebanon selatan sebagai markas barunya untuk melancarkan serangan-serangan sporadis ke Israel. Situasi tersebut ganti mengundang rasa tidak suka dari sejumlah rakyat Lebanon yang khawatir kalau aksi-aksi penyerangan yang dilakukan oleh PLO akan memancing serangan balasan dari Israel ke wilayah Lebanon. Pro kontra atas kegiatan PLO pun bermunculan. Masing-masing pihak mulai mempersenjatai diri. Situasi keamanan di Lebanon jadi semakin berlarut-larut & semakin dekat menuju pecahnya perang sipil.



BERJALANNYA PERANG

Penembakan yang Mengawali Petaka Nasional

Tanggal 13 April 1975, sejumlah orang yang identitasnya tidak jelas melakukan penembakan ke sebuah gereja di Beirut untuk membunuh Pierre Gemayel, pemimpin dari Partai Falangis (Phalangist / Phalange) yang berhaluan Kristen & sayap kanan. Gemayel selamat dari upaya pembunuhan tersebut, namun 4 anggota Falangis lainnya tewas tertembak. Falangis lantas melancarkan tuduhan kalau pelaku dari penembakan tersebut adalah milisi-milisi Palestina. Sebagai tindakan balasan, di hari yang sama Falangis menembaki bus yang mengangkut pengungsi Palestina sehingga 27 penumpangnya tewas. Hari berganti, situasi Beirut semakin mencekam menyusul timbulnya baku tembak antara milisi Falangis melawan milisi Palestina.

Militer Lebanon tidak bisa diterjunkan untuk meredakan konflik akibat perbedaan pendapat dalam tubuh pemerintahan yang notabene diisi oleh faksi-faksi agama berbeda. Pertempuran di Beirut pun mulai menjalar ke wilayah-wilayah Lebanon yang lain. Sejak periode itu pula, muncul 2 kubu utama dalam perang sipil Lebanon. Kubu pertama adalah Mouvement National Libanais (MNL; Gerakan Nasional Lebanon), sebuah persekutuan dari beberapa kelompok bersenjata yang keanggotaannya diisi oleh Muslim, Druze, sosialis, pan-Arabis (golongan yang menginginkan pendirian sebuah negara yang wilayahnya mencakup seluruh Arab), & orang-orang Palestina. Kubu kedua adalah Front Libanais (FL; Front Lebanon) yang merupakan persekutuan dari beberapa kelompok nasionalis & Kristen (termasuk Falangis).

Peta dari Lebanon di tahun 1976.

Meletusnya perang saudara di Lebanon menjadi fokus perhatian tersendiri bagi Suriah yang memang berbatasan langsung dengan Lebanon di sebelah barat daya. Selain harus menanggung arus pengungsi dari negara tetangganya tersebut, Suriah juga mengintip peluang untuk menjadikan Lebanon sebagai bagian dari wilayahnya. Gayung bersambut ketika pada bulan Juni 1976, presiden Lebanon yang pro-FL meminta intervensi pasukan asing menyusul semakin terdesaknya posisi pasukan FL. Suriah langsung menjawab permintaan tersebut dengan mengirimkan 30.000 tentaranya ke Lebanon. Wilayah Lebanon pun kini terbagi ke dalam 3 zona utama : zona barat yang dikuasai FL, zona timur yang dikuasai oleh militer Suriah, & zona selatan yang dikuasai oleh MNL.

Bulan Oktober 1976, diadakan perundingan damai di Riyadh, Arab Saudi. Pasca perundingan tersebut, pihak-pihak yang bertikai setuju untuk meletakkan senjata & Suriah mendapat kepercayaan untuk menjadi pasukan penjaga perdamaian di Lebanon. Masa damai di Lebanon pasca perundingan di Riyadh sayangnya tidak berlangsung lama menyusul pecahnya pertempuran antara pasukan FL melawan pasukan Suriah di Beirut pada bulan Februari 1978. Akibat pertempuran tersebut, Suriah yang awalnya bersimpati kepada FL berbalik memusuhi kelompok tersebut & mengalihkan dukungannya ke MNL.


Masuknya Israel & Munculnya Pemerintahan Kembar

Pasukan PLO di Beirut. (Sumber)
Bulan Maret 1978, Israel akhirnya ikut terjun langsung ke medan perang di Lebanon setelah milisi-milisi Palestina menyandera sebuah bus yang ada di Israel utara. Israel menarik mundur pasukannya di tahun yang sama akibat tekanan dari PBB. Namun 4 tahun kemudian, Israel kembali menginvasi Lebanon setelah duta besarnya yang ada di London nyaris dibunuh oleh milisi Palestina. Hanya dalam waktu kurang dari 1 bulan, pasukan Israel sudah berhasil menduduki seluruh Lebanon selatan & mulai membombardir ibukota Beirut. Berkat perundingan yang difasilitasi oleh perwakilan AS, pertempuran tidak berlanjut lebih jauh lagi setelah pasukan gabungan PLO & Suriah setuju untuk mundur dari Beirut.

Periode gencatan senjata antara Israel & Palestina (PLO) sayangnya dinodai oleh peristiwa pembantaian sekitar 800 - 3.000 pengungsi Palestina yang ada di kompleks pengungsian Sabra & Shatilla. Pelaku dari pembantaian tersebut adalah Falangis. Namun Israel dianggap ikut memiliki andil atas terjadinya pembantaian di Sabra & Shatilla karena membiarkan pasukan Falangis memasuki kompleks pengungsian yang dikuasai oleh militer Israel. Pasca peristiwa tersebut, Ariel Sharon mundur dari posisinya sebagai menteri pertahanan & media-media internasional menjuluki Sharon sebagai "Penjagal dari Beirut" (The Butcher of Beirut).

Tahun-tahun terakhir perang sipil Lebanon diwarnai oleh konflik internal dalam tubuh masing-masing komunitas agama. Tahun 1985 - 1987, pecah pertempuran antara pasukan Afwaj al-Muqawamah al-Lubnaniyyah (Amal; Detasemen Perlawanan Lebanon) yang keanggotaannya didominasi oleh Muslim Syiah melawan pasukan gabungan PLO, Hizbullah (juga beranggotakan mayoritas Muslim Syiah), Druze, & milisi sayap kiri Lebanon. Penyebab dari pertempuran tersebut adalah karena Amal tidak menyukai tindak tanduk PLO di Lebanon selatan yang terkesan berbuat semaunya di tanah orang. Pada permulaan tahun 1990, giliran pasukan FL yang terlibat pertempuran melawan tentara-tentara Lebanon dari golongan Kristen.

Anggota FL yang sedang
berpose. (Sumber)
Bulan September 1988, masa jabatan Amin Gemayel sebagai presiden Lebanon berakhir. Sebelum turun dari jabatannya, Gemayel sempat menunjuk Michel Aoun - seorang Kristen Maronit - untuk menjadi perdana menteri Lebanon yang baru. Keputusan Gemayel tersebut langsung menuai penolakan dari golongan non-Kristen di Lebanon karena selama ini ada kesepakatan kalau perdana menteri Lebanon harus berasal dari golongan Muslim Sunni. Mereka lalu mengangkat Salim al-Hoss sebagai perdana menteri tandingan. Akibatnya, Lebanon pun kini diperintah oleh 2 rezim berbeda : rezim Kristen yang beribukota di Beirut timur & rezim Muslim yang beribukota di Beirut barat.

Bulan September 1989, perwakilan negara-negara Arab & parlemen Lebanon melakukan perundingan di Taif, Arab Saudi. Berdasarkan perundingan tersebut, sistem politik berbasis sekte agama tetap dipertahankan. Namun komunitas Muslim Lebanon mendapat penambahan jumlah kursi di parlemen sehingga kini jatah kursi parlemen komunitas Muslim & Kristen Lebanon berjumlah sama. Aoun selaku pemimpin rezim Lebanon versi Kristen sendiri masih menolak untuk mengakui hasil dari perundingan di Taif. Namun sikap keras kepalanya tidak bertahan lama setelah pada bulan Oktober 1990, pasukan Suriah menggempur kediaman Aoun di Beirut. Tergulingnya Aoun & dijalankannya hasil perundingan Taif sekaligus menjadi akhir dari perang sipil Lebanon.



KONDISI PASCA PERANG

Pasca perundingan di Taif, para anggota parlemen Lebanon memilih Rene Moawad sebagai presiden baru. Namun Moawad hanya menjabat sebagai presiden selama beberapa hari setelah dirinya tewas terbunuh oleh ledakan bom mobil pada bulan November 1990. Elias Hrawi lalu naik menjadi presiden pengganti. Bulan Maret 1991, pemerintah Lebanon mengeluarkan amnesti / pengampunan hukum massal kepada para anggota milisi Lebanon. Dua bulan kemudian, kelompok-kelompok bersenjata di Lebanon dibubarkan & dilucuti persenjataannya. Namun Hizbullah menolak membiarkan persenjataannya dilucuti sehingga kelompok itupun bisa tumbuh menjadi salah satu kelompok paling disegani di Lebanon hingga sekarang.

Pasukan Suriah saat meninggalkan
Lebanon di tahun 2005. (Sumber)
Perang sipil Lebanon mengakibatkan antara 150.000 - 200.000 rakyat Lebanon kehilangan nyawanya. Lebih dari seperlima penduduk Lebanon yang masih hidup (sekitar 900.000 jiwa) berubah menjadi tuna wisma & terpaksa mengungsi keluar negeri. Ketika perang berakhir, sebagian dari mereka kembali ke negara asalnya, namun sebagian lainnya yang jumlahnya mencapai 250.000 jiwa memilih untuk menetap di luar negeri. Kondisi infrastruktur di seantero Lebanon juga porak poranda. Namun secara perlahan tapi pasti, negara tersebut kembali membangun dirinya & berhasil membukukan pertumbuhan ekonomi yang mengesankan. Setidaknya sebelum pecahnya konflik Israel-Hizbullah di Lebanon pada tahun 2006.

Walaupun perang sipil Lebanon secara resmi sudah berakhir pada tahun 1990, baik Israel maupun Suriah sama-sama tetap menempatkan pasukannya di Lebanon. Israel menempatkan pasukannya di sebelah selatan Lebanon dengan dalih untuk menangkal serangan-serangan yang dilancarkan oleh kelompok anti-Israel dari balik perbatasan Lebanon. Israel baru menarik mundur seluruh pasukannya dari wilayah Lebanon pada tahun 2000. Di pihak yang berseberangan, Suriah menempatkan pasukannya di wilayah Lebanon dengan dalih membantu mengendalikan situasi keamanan di negara tetangganya tersebut. Namun menyusul tewasnya perdana menteri Rafik Hariri & beredarnya tuduhan kalau Suriah mendalangi peristiwa tersebut, Suriah menarik mundur seluruh pasukannya dari Lebanon pada tahun 2005.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : 1975 - 1990
    - Lokasi : Lebanon

2. Pihak yang Bertempur
    (Grup)  -  FL
    (Negara)  -  Suriah (1976 - 1978), Israel
          melawan
    (Grup)  -  MNL, PLO, Hizbullah
    (Negara)  -  Suriah (1978 - 1985)
          melawan
    (Grup)  -  Amal
          melawan
    (Negara)  -  Lebanon
          melawan
    (Negara)  -  Suriah (1985 - 1990)

3. Hasil Akhir
     - Perang berakhir tanpa pemenang yang jelas
     - Komunitas Muslim Lebanon mendapatkan peningkatan jatah jumlah kursi parlemen
     - Israel menempatkan pasukannya di Lebanon selatan hingga tahun 2000
     - Suriah menempatkan pasukannya di Lebanon hingga tahun 2005

4. Korban Jiwa
    Sekitar 150.000 - 200.000 jiwa



REFERENSI

About.com - Timeline of the Lebanese Civil War, 1975-1990 (page 1)
About.com - Timeline of the Lebanese Civil War, 1975-1990 (page 2)
GlobalSecurity.org - Lebanon (Civil War 1975-1991)
Liberty 05 - Lebanese Civil War 1985 -1987
Liberty 05 - Lebanese Civil War 1988 -1990
The New York Times - After 29 years, Syria leaves Lebanon
Wikipedia - Lebanese Civil War
Wikipedia - Lebanon
- . 2006. "Edisi Koleksi Angkasa : Perang Hizbullah-Israel". Gramedia, Jakarta.


            

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

1 komentar:

  1. Trims gan utk tulisannya,sumbernya jga akurat. Setelah nonton Incendies dan baca tulisan agan smakin jelas.

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.