FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Perang Musim Dingin, Kisah David versus Goliath di Eropa Utara




Pasukan ski Finlandia dalam Perang Musim Dingin. (Sumber)

Bagi yang pernah membaca kisah-kisah dalam agama Samawi, kisah David & Goliath (Daud & Jalut kalau dalam literatur Islam) pastinya bukanlah kisah yang asing. Dalam kisah tersebut, David yang bertubuh kecil berhasil mengalahkan Goliath yang bertubuh tinggi besar. Kisah itupun lalu melahirkan ungkapan kalau tidak selamanya sesuatu yang kecil pasti kalah dari sesuatu yang besar. Kalau dalam sejarah Perang Dunia II, kisah David & Goliath bisa digunakan untuk mengilustrasikan Perang Musim Dingin.

Perang Musim Dingin (Winter War; Talvisota; Zimnyaya Voyna) atau dikenal juga sebagai Perang Rusia-Finlandia adalah konflik bersenjata yang terjadi antara Finlandia melawan Uni Soviet. Perang bermula ketika pasukan Uni Soviet melakukan serangan mendadak ke wilayah Finlandia dari arah selatan & timur pada bulan November 1939. Namun di luar dugaan, pasukan Finlandia ternyata bisa memberikan perlawanan gigih yang menyulitkan pasukan Soviet. Perang baru berakhir usai dicapainya perjanjian damai di Moskow, ibukota Uni Soviet, pada bulan Maret 1940.

Perang Musim Dingin juga melahirkan sosok legendaris bernama Simo Hayha, seorang pejuang Finlandia yang terkenal akan keahliannya sebagai penembak jitu. Selama Perang Musim Dingin berlangsung, Hayha tercatat berhasil menewaskan lebih dari 500 tentara Uni Soviet! Berkat kehebatannya tersebut, Hayha pun mendapat julukan "Sang Kematian Putih" (White Death). Hayha sempat tertembak di bagian rahang kiri, namun untungnya tembakan tersebut tidak sampai mengakhiri nyawanya sehingga ia pun menjadi saksi hidup dari Perang Musim Dingin sebelum ajal menjemputnya pada tahun 2002.



LATAR BELAKANG

Peta dari Finlandia
sebelum tahun 1939.
Sejak permulaan abad ke-19, wilayah Finlandia berada di bawah pengaruh Kekaisaran Rusia. Namun menyusul timbulnya Revolusi Oktober & perang sipil Rusia pada tahun 1917, Finlandia lalu memerdekakan diri pada tahun yang sama. Pasca merdeka, muncul masalah baru karena adanya perbedaan pendapat mengenai sistem pemerintahan Finlandia. Sebagian rakyat Finlandia ingin negaranya menjadi republik komunis, sementara sebagian lainnya ingin Finlandia menjadi negara non-komunis.

Perbedaan pendapat tadi akhirnya berujung pada pecahnya perang sipil di Finlandia. Di akhir perang, kubu anti-komunis keluar sebagai pemenang & Finlandia berdiri sebagai negara republik sayap kanan. Walaupun Uni Soviet selaku negara penerus Kekaisaran Rusia sudah menyatakan pengakuannya atas kemerdekaan & rezim baru Finlandia, hubungan antara kedua negara tidak lantas membaik karena kelompok Bolshevik selaku pendiri Uni Soviet sempat mendukung kubu komunis dalam perang sipil Finlandia & masih segarnya bayang-bayang penjajahan Rusia di masa lalu dalam benak rakyat Finlandia.

Bulan Agustus 1939, Jerman & Uni Soviet menanda tangani perjanjian rahasia yang dikenal sebagai Pakta Molotov-Ribbentrop. Via pakta tersebut, wilayah Polandia barat menjadi jatah Jerman, sementara wilayah Polandia timur & negara-negara Baltik menjadi jatah Soviet. Diresmikannya pakta tersebut lalu diikuti dengan invasi Jerman & Uni Soviet ke Polandia. Pasca berhasilnya invasi ke Polandia, muncul kekhawatiran dari Uni Soviet kalau Jerman kelak akan menginvasi Finlandia juga sehingga posisi Jerman akan semakin dekat dengan Leningrad, salah satu kota penting di wilayah Uni Soviet barat.

Pasukan Soviet saat menginvasi
Polandia. (Sumber)
Uni Soviet lalu mengajak Finlandia ke meja perundingan & meminta Finlandia menyerahkan sebagian wilayahnya di Teluk Finlandia supaya wilayah tersebut bisa digunakan oleh Soviet untuk membangun pangkalan militer. Sebagai gantinya, Finlandia akan mendapatkan wilayah seluas 8.800 km persegi yang terletak di perbatasan kedua negara. Semua tawaran tadi ditolak oleh Finlandia karena Finlandia ingin menjaga netralitasnya di dunia internasional & khawatir kalau lepasnya wilayah Teluk Finlandia akan melemahkan pertahanan negaranya.



BERJALANNYA PERANG

Perlawanan Gigih Finlandia

Gagal di meja perundingan, Uni Soviet akhirnya beralih ke jalur militer. Pada tanggal 30 November 1939, Uni Soviet secara tiba-tiba melancarkan invasi militernya ke sebelah selatan Finlandia. Uni Soviet berharap bisa meraih kemenangan cepat atas Finlandia dengan memanfaatkan keunggulan kekuatan militer & ketidak siapan pasukan Finlandia. Sehari kemudian, Uni Soviet membentuk pemerintahan boneka berhaluan komunis yang bernama Republik Demokratik Finlandia (RDF) untuk menarik simpati kaum pekerja Finlandia agar mau memihak Soviet. Kebetulan pada perang sipil Finlandia dulu, mayoritas kaum pekerja merupakan simpatisan komunis.

Walaupun Uni Soviet unggul jauh dalam hal jumlah tentara & kendaraan tempur, Finlandia bukannya tidak berdaya sama sekali. Di perbatasan selatan negaranya, Finlandia sudah membangun barikade militer yang bernama Garis Mannerheim. Finlandia juga sudah menyiagakan 21.000 tentara di antara Garis Mannerheim & perbatasan kedua negara. Bukan hanya itu, pasukan Finlandia juga berperang di tanahnya sendiri sehingga mereka otomatis memiliki semangat juang & pengetahuan lebih akan medan konflik. Dan di luar harapan pihak Soviet, alih-alih terpecah, seluruh lapisan rakyat Finlandia (termasuk kaum pekerjanya) justru bahu membahu untuk menghentikan gelombang serangan Soviet.

Tank Soviet yang berhasil direbut
oleh pasukan Finlandia. (Sumber)
Kembali ke medan perang. Untuk memastikan agar kemenangan cepat yang diinginkannya benar-benar terwujud, Uni Soviet turut mengerahkan persenjataan beratnya yang mencakup tank & meriam artileri. Unggul dalam hal jumlah personil & kualitas persenjataan, pasukan Soviet jadi cenderung menganggap remeh lawannya sehingga mereka secara gegabah menggerakkan tank-tanknya ke medan tempur tanpa perlindungan memadai. Kondisi yang bisa dimanfaatkan oleh pasukan Finlandia untuk melumpuhkan tank-tank Soviet dengan cara menyelipkan batang kayu ke roda tank & memasukkan bom molotov ke dalam ruang awak tank Soviet.

Lepas dari kecerdikan & kegigihan pasukan Finlandia, pasukan Soviet toh pada akhirnya berhasil memaksa pasukan Finlandia untuk mundur ke Garis Mannerheim pada tanggal 6 Desember 1939. Dengan dibantu oleh tembakan artileri, pasukan infantri & tank Soviet beberapa kali melakukan serangan frontal untuk menerobos Garis Mannerheim, namun Soviet harus kehilangan banyak tentaranya dalam serangan-serangan tersebut. Pasukan tank Soviet akhirnya berhasil menerobos Garis pada tanggal 19 Desember. Namun semua tank tersebut hancur 3 hari kemudian akibat tidak adanya dukungan dari pasukan Soviet yang lain.


Tahun Berganti, Peruntungan Berganti

Pertempuran antara pasukan Finlandia melawan pasukan Soviet tidak hanya terjadi di perbatasan Finlandia bagian selatan, tapi juga di perbatasan Finlandia bagian timur. Karena daerah tersebut dipenuhi oleh hutan, sungai, & danau kecil, petinggi militer Finlandia awalnya menduga kalau Soviet tidak akan nekat melancarkan serangan ke daerah ini & hanya akan fokus menyerang ke perbatasan selatan. Dugaan yang salah karena ternyata pasukan Soviet ada yang dikerahkan untuk menyerbu desa Suomussalmi, Finlandia timur, pada akhir November 1939.

Simo Hayha, prajurit Finlandia
yang terkenal akan keahlian
menembaknya. (Sumber)
Serangan yang dilakukan pasukan Soviet ke Suomussalmi sukses memutus kontak antara wilayah utara dengan wilayah tenggara Finlandia. Namun pasukan Finlandia jelas tidak tinggal diam. Dengan menggunakan peralatan ski sebagai metode transportasi utamanya, pasukan Finlandia melakukan serangan demi serangan untuk melemahkan kedudukan pasukan Soviet di Suomussalmi. Pasukan Soviet di lain pihak tidak bisa berbuat banyak selain bertahan di posisinya akibat kondisi daratan Finlandia timur yang tidak menunjang pergerakan kendaraan berat. Hasilnya, pada awal Januari 1940 pasukan Finlandia berhasil mendapatkan kembali Suomussalmi beserta alutsista yang ditinggalkan pasukan Soviet.

Gagal memenuhi target awal untuk mengalahkan pasukan Finlandia secepat mungkin, Uni Soviet lalu melakukan evaluasi & perombakan militer secara serius. Kliment Voroshilov dicopot dari jabatannya sebagai pemimpin pasukan Soviet di Finlandia & posisinya digantikan oleh Semyon Timoshenko. Soviet juga mengalihkan fokus rute penyerangannya ke daerah Karelian Isthmus. Untuk memperkuat kembali pasukannya yang sudah melemah seusai perang fase pertama, Soviet mengirimkan ribuan tank & ratusan ribu tentara tambahan ke medan perang.

Tanggal 1 Februari, Soviet akhirnya memulai kembali penyerbuannya ke wilayah Finlandia dengan melancarkan hujan peluru artileri & bom dari pesawat udara. Pasukan Soviet sesekali juga menggerakkan armada tanknya ke garis pertahanan Finlandia dengan dilindungi oleh pasukan infantri sehingga pasukan Finlandia tidak bisa lagi mempraktikkan taktik anti-tank yang sukses besar pada perang di tahun 1939. Terdesak oleh keterbatasan stok amunisi & serangan gencar pasukan Soviet, pasukan Finlandia di garis depan akhirnya mulai kehilangan momentumnya.

Tentara Soviet. (Sumber)
Baik Finlandia maupun Uni Soviet sama-sama kehilangan banyak tentara di medan perang. Bedanya, jika Finlandia kesulitan mengganti tentara yang tewas akibat terbatasnya jumlah penduduk yang mereka miliki, Soviet bisa menerjunkan tentara pengganti dengan mudah & cepat. Untuk mencegah kondisi bertambah buruk, perwakilan Finlandia pun mulai terlibat perundingan dengan perwakilan Soviet sejak pertengahan Februari. Kesepakatan damai permanen akhirnya bisa dicapai pada tanggal 12 Maret 1940 di Moskow, Uni Soviet, sekaligus menandai berakhirnya Perang Musim Dingin.



KONDISI PASCA PERANG

Berdasarkan perjanjian damai di Moskow, Finlandia harus menyerahkan sebagian wilayahnya ke pihak Soviet. Wilayah-wilayah tersebut antara lain 4 pulau kecil di Teluk Finlandia, sebagian Finlandia tenggara, & Salla yang terletak di Finlandia tengah. Soviet juga mendapatkan hak untuk menggunakan Semenanjung Hanko di Finlandia barat daya sebagai basis militer selama 30 tahun. Sebagai gantinya, Finlandia mendapatkan wilayah Repola & Porajavi yang terletak di sebelah timur perbatasan Finlandia-Soviet.

Perang Musim Dingin membawa korban jiwa & material yang amat tinggi bagi pihak Finlandia maupun Soviet. Tingkat kerugian yang ada di pihak Soviet jauh lebih tinggi daripada Finlandia sebagai akibat dari kesalahan taktik Soviet di bulan-bulan awal peperangan. Tercatat Soviet harus kehilangan 126.875 tentara, 3.543 tank, & lebih dari 260 pesawat. Finlandia di lain pihak "hanya" kehilangan 25.904 tentara berikut 957 warga sipil, 62 pesawat, & lebih dari 20 unit tank. Perang ini juga membawa kerusakan serius bagi kota-kota Finlandia yang kebetulan berada di zona konflik.

Peta dari wilayah-wilayah Finlandia yang
harus diserahkan ke pihak Soviet
(warna merah). (Sumber)
Walaupun Finlandia harus kehilangan sebagian wilayah strategis & peralatan tempurnya akibat perang, Perang Musim Dingin juga membawa dampak positif tersendiri bagi Finlandia. Berkat perang tersebut, rakyat Finlandia yang awalnya berada dalam perpecahan terselubung akibat memori perang sipil menjadi solid & bersatu padu seusai perang karena adanya musuh bersama dari luar negeri. Perang Musim Dingin juga dikenang sebagai perang yang heroik & menunjukkan kegigihan rakyat Finlandia karena Finlandia yang notabene merupakan negara kecil ternyata bisa merepotkan negara raksasa macam Uni Soviet.

Bagi pihak Uni Soviet, Perang Musim Dingin dianggap sebagai aib karena negara sebesar Uni Soviet ternyata tidak bisa meraih kemenangan meyakinkan atas Finlandia. Ada beberapa alasan yang disebut-sebut menjadi biang kerok buruknya performa pasukan Soviet di medan perang. Pertama, Uni Soviet tidak membekali tentaranya dengan perlengkapan militer yang sesuai dengan kondisi medan perang yang bersalju, misalnya seragam berwarna putih. Kedua, kondisi daratan Finlandia menyulitkan komunikasi antar pasukan & manuver kendaraan tempur.

Alasan ketiga, struktur pengambilan keputusan dalam militer Soviet begitu kaku & terpusat sehingga komandan di salah satu front cenderung enggan mengambil keputusan secara mandiri karena khawatir akan mengundang kemarahan atasannya. Terakhir, militer Soviet kehilangan tokoh-tokoh yang kompeten & berpengalaman pasca pembunuhan massal (Great Purge) yang dilakukan oleh Josip Stalin, penguasa Soviet. Pembunuhan massal itu sendiri terjadi karena Stalin merasa khawatir kalau dirinya kelak akan dikhianati oleh tokoh-tokoh senior Soviet. Sikap paranoid berlebihan yang akhirnya menjadi bumerang bagi militer Soviet.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : November 1939 - Maret 1940
    - Lokasi : Finlandia

2. Pihak yang Bertempur
    (Negara)  -  Finlandia
          melawan
    (Negara)  -  Uni Soviet

3. Hasil Akhir
    - Perang berakhir tanpa pemenang yang jelas
    - Terjadinya pertukaran wilayah antara Finlandia & Uni Soviet

4. Korban Jiwa
    - Finlandia : 26.861 jiwa
    - Uni Soviet : 126.875 jiwa



REFERENSI

GlobalSecurity.org - 1939-1940 - Winter War
History Learning Site - The Winter War 1939
Mosin Nagant - Simo Hayha
Wikipedia - Background of the Winter War
Wikipedia - Winter War


       

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

3 komentar:

  1. Saya sangat suka membaca blog ini karena banyak mengupas peristiwa sejarah yang jarang didengar... keep writing...

    BalasHapus
  2. isinya bagus banget gan.......
    ternyata ini lebih bagus wikipedia.......
    I LIKE it..................

    BalasHapus
  3. Great! Lanjut teruuus!

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.