FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Perang Donbass, Api Perpecahan di Ukraina Timur




Helikopter Mi-24 Ukraina saat terlibat pertempuran
di bandara Donetsk, Ukraina timur. (Sumber)

Ukraina. Itulah nama dari sebuah negara di Eropa Timur yang juga merupakan salah satu negara pecahan Uni Soviet. Di tahun 2012 lalu, Ukraina menjadi pusat perhatian dunia ketika negara tersebut menjadi tuan rumah Piala Eropa bersama-sama dengan Polandia. 2 tahun berlalu, Ukraina kembali menjadi pusat pemberitaan media-media internasional. Namun bukan dalam hal yang positif karena kali ini Ukraina diberitakan sebagai negara yang sedang diguncang oleh perang saudara.

Perang saudara yang sedang terjadi di Ukraina sejak bulan April 2014 dikenal dengan sebutan "Perang Donbas" (Donbass war) di mana Donbass merupakan nama lain dari wilayah Ukraina timur. Selain dengan nama Perang Donbass, konflik ini juga dikenal dengan nama lain "Perang di Ukraina" & "Perang Ukraina Timur". Dalam Perang Donbass, pasukan pemerintah Ukraina ditampilkan terlibat konflik bersenjata dengan pasukan pejuang kemerdekaan Donetsk & Luhansk. Perang Donbass juga kerap disebut-sebut sebagai adu kepentingan antara pihak-pihak adidaya karena jika pihak Ukraina didukung oleh negara-negara Barat (khususnya NATO & Uni Eropa), maka pihak Donetsk & Luhansk mendapat dukungan dari Rusia.



LATAR BELAKANG

Ditinjau dari segi etnis & bahasa, penduduk Ukraina bisa dibagi ke dalam 2 kelompok utama : kelompok etnis Ukraina yang populasinya terkonsentrasi di Ukraina barat & utara, serta kelompok etnis Rusia yang populasinya terkonsentrasi di Ukraina timur & selatan. Terhitung sejak tahun 2010, Ukraina dipimpin oleh presiden Viktor Yanukovych yang kebijakan-kebijakan politiknya cenderung menguntungkan Rusia & memiliki basis pendukung dalam jumlah besar di Ukraina timur serta selatan.

Peta Ukraina berdasarkan bahasa
mayoritas penduduknya. (Sumber)
Menjelang akhir tahun 2013, Yanukovych membatalkan kesepakatan dagang antara Ukraina & Uni Eropa karena adanya tekanan dari Rusia. Pasca batalnya kesepakatan tersebut, ribuan orang di ibukota Kiev langsung turun ke jalanan untuk memprotes tindakan Yanukovych. Alasan utama di balik aksi protes tersebut adalah karena para demonstran merasa kalau Ukraina bisa lebih maju kalau Ukraina menjalin hubungan lebih dekat dengan negara-negara Uni Eropa daripada dengan Rusia. Ketika aksi protes tersebut berlangsung semakin panas, parlemen Ukraina akhirnya memutuskan untuk menuruti keinginan para demonstran & melengserkan Yanukovych pada bulan Februari 2014.

Kubu demonstran anti-Yanukovych yang juga dikenal dengan sebutan "Euromaidan" merayakan peristiwa turunnya Yanukovych dengan gegap gempita. Tapi tidak demikian dengan pemerintah Rusia & rakyat Ukraina timur serta selatan yang selama ini mendukung Yanukovych. Rusia khawatir kalau Ukraina berhasil dipimpin oleh presiden yang pro Uni Eropa, maka kepentingan ekonomi Rusia di Ukraina akan terganggu & Ukraina nantinya akan dimanfaatkan oleh NATO - organisasi hankam yang kebetulan sebagian besar anggotanya juga berstatus sebagai anggota Uni Eropa - untuk mengusik Rusia dari dekat.

Tergulingnya presiden pro Rusia & kacaunya situasi domestik di ibukota lantas menimbulkan efek domino di Semenanjung Crimea yang terletak di Ukraina selatan & menjadi lokasi dari pangkalan militer Rusia. Di wilayah tersebut, sejumlah milisi pro Rusia menyandera gedung pemerintahan setempat & menggelar referendum secara sepihak pada bulan Maret di mana referendum tersebut berhasil dimenangkan oleh kubu pro Rusia. Pemerintah Ukraina & negara-negara Barat mengecam referendum tersebut, namun pemerintah Ukraina tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisi dalam negerinya masih labil & mereka khawatir kalau pengiriman pasukan ke Crimea akan memancing reaksi balasan dari Rusia.

Merasa terinspirasi dengan keberhasil referendum di Crimea, sejumlah milisi pro Rusia di Donetsk & Luhansk - 2 provinsi / oblast paling timur Ukraina -  menduduki gedung-gedung pemerintahan setempat. Mereka yang berdomisili di Donetsk lalu mendeklarasikan berdirinya negara sempalan yang bernama "Republik Rakyat Donetsk", sementara mereka yang di Luhansk juga menempuh langkah serupa & memproklamasikan berdirinya "Republik Rakyat Luhansk". Seperti yang sudah diduga, pemerintah pusat Ukraina menyatakan penolakannya atas deklarasi tersebut. Pemerintah Ukraina bahkan mengancam akan mengirimkan pasukan ke Ukraina timur jika deklarasi di kedua daerah tersebut tidak dibatalkan.


Peta dari Donetsk & Luhansk, 2 provinsi yang menjadi arena konflik.


BERJALANNYA PERANG

Ancaman yang Diikuti Perang

Tanggal 15 April, setelah ultimatum dari pemerintah Ukraina tidak diindahkan oleh kubu separatis, pemerintah Ukraina akhirnya mengirimkan pasukannya ke Ukraina timur sekaligus mengawali pecahnya Perang Donbass. Sasaran pertama pasukan pemerintah Ukraina adalah bandara Kramatorsk di mana bandara tersebut berhasil direbut oleh pasukan Ukraina usai baku tembak singkat melawan pasukan separatis Donetsk. Namun, pasukan Ukraina juga harus kehilangan kendaraan lapis bajanya setelah konvoi yang terletak di luar bandara dicegat oleh penduduk Kramatorsk. Kendaraan lapis baja pengangkut infantri tersebut lalu digunakan oleh pasukan Donetsk untuk menduduki kota Sloviansk di sebelah utara Kramatorsk.

Seminggu berlalu, pasukan Ukraina berhasil merebut kembali Sloviansk & daerah sekitar Kramatorsk. Sementara itu di luar Ukraina, pasukan Rusia melakukan latihan militer di dekat perbatasan kedua negara - tindakan yang diduga sengaja dilakukan Rusia untuk menakut-nakuti pemerintah Ukraina agar berhenti memerangi kubu separatis. Memasuki bulan Mei, pertempuran sengit juga pecah di kota Mariupol, Donetsk selatan, di mana pertempuran tersebut berakhir dengan kemenangan pasukan Ukraina.

Milisi separatis Donetsk. (Sumber)
Masih di bulan yang sama (Mei), wilayah Donetsk & Luhansk yang dikuasai oleh kubu separatis melebur untuk membentuk negara serikat bernama "Novorossiya" (Rusia Baru). Sementara itu di medan konflik, pihak yang terlibat dalam Perang Donbass semakin banyak setelah kelompok-kelompok milisi yang beranggotakan relawan nasionalis Ukraina ikut melibatkan diri dalam konflik melawan pasukan separatis. Situasi semakin runyam bagi kubu separatis menyusul timbulnya perpecahan yang ditandai dengan peristiwa kudeta pemimpin Donetsk oleh sesama milisi separatis.

Pertempuran sengit bukan cuma berlangsung di sisi barat Donbass. Di sisi timur yang juga merupakan perbatasan resmi Ukraina & Rusia, konflik memperebutkan pos-pos perbatasan juga terjadi antara pasukan Ukraina & pasukan pemberontak. Memasuki minggu kedua bulan Juni, muncul laporan dari pihak Ukraina kalau Rusia ikut terlibat dalam konflik dengan cara mengirimkan tank ke pihak separatis. Menurut penasihat Menteri Dalam Negeri Ukraina, tank tersebut aslinya adalah tank Ukraina yang dirampas dari Crimea & kemudian dikirim ke Ukraina timur melalui wilayah Rusia. Laporan yang dijawab pihak Rusia sebagai hasil rekayasa pemerintah Ukraina semata.

Tanggal 19 Juni, intensitas Perang Donbass semakin meningkat setelah pasukan pemerintah & separatis yang sama-sama diperkuat oleh tank terlibat pertempuran hebat di Krasnyi Lyman, Luhansk barat. Sehari kemudian, pertempuran berakhir dengan keberhasilan pasukan pemerintah Ukraina mempertahankan Krasnyi Lyman, namun pasukan Ukraina juga harus kehilangan tank & pesawat pembomnya dalam pertempuran tersebut. Tanggal 21 Juni, Petro Poroshenko selaku presiden baru Ukraina mengumumkan gencatan senjata sebagai bagian dari upayanya untuk merumuskan rencana perjanjian damai permanen & memberi kesempatan bagi pasukan Ukraina untuk membenahi diri.


Bangkitnya Pasukan Ukraina

Pasukan Ukraina. (Sumber)
Gencatan senjata yang diumumkan Poroshenko hanya berlangsung selama sekitar 1 minggu. Memasuki bulan Juli, pasukan Ukraina kembali melakukan penyerbuan ke wilayah-wilayah yang sedang dikuasai oleh kubu separatis. Hasilnya, hanya dalam kurun waktu 2 minggu pasukan Ukraina berhasil merebut kota-kota penting di Donbass tengah seperti Sloviansk, Druzhkivka, & Artemivsk. Pasukan pemberontak mencoba melawan balik dengan cara menyerbu bandara internasional Luhansk & Donetsk, namun upaya mereka gagal berbuah manis menyusul keberhasilan pasukan Ukraina mempertahankan kedua bandara tadi.

Di tengah-tengah sengitnya perang antara pasukan Ukraina & separatis Donbass, terjadi peristiwa yang tidak disangka-sangka oleh siapapun. Pada tanggal 17 Juli, pesawat sipil MH-17 milik maskapai Malaysia Airlines ditembak jatuh di langit Donbass & menewaskan seluruh penumpang di dalamnya. Peristiwa yang lantas menuai banjir kecaman dari dunia internasional. Pihak-pihak yang bertikai lantas saling melempar tuduhan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat tersebut. Pemerintah Ukraina menuduh pasukan separatis yang dipersenjatai oleh Rusia sebagai pelakunya, sementara kubu separatis & pemerintah Rusia juga melontarkan tuduhan serupa kepada pemerintah Ukraina.

Kembali ke Perang Donbass. Bulan berganti, pasukan Ukraina masih menunjukkan superioritasnya di medan konflik. Kota-kota yang sebelumnya dikuasai oleh pasukan separatis berhasil direbut oleh pasukan Ukraina satu demi satu. Namun, pasukan Ukraina masih belum berhasil merebut Donetsk & Luhansk yang merupakan ibukota dari masing-masing oblast. Untuk mengatasinya, pasukan Ukraina kemudian fokus menguasai daerah-daerah di sekitar kedua ibukota oblast tadi supaya bisa menutup aliran listrik & air bersih yang menyokong kedua kota tersebut.

Suasana bandara Luhansk pasca
pertempuran. (Sumber)
Tanggal 29 Agustus, muncul lagi laporan - kali ini dengan tambahan foto satelit NATO - kalau Rusia mengirimkan tank & prajurit untuk membantu pihak separatis. Laporan yang kembali dibantah oleh pihak Rusia. Lepas dari benar tidaknya laporan tersebut, kenyataannya sejak periode ini peruntungan pasukan pemberontak memang berubah & mereka kini sukses membuat pasukan Ukraina kewalahan. Daerah-daerah di sekitar kota Donetsk & Luhansk yang awalnya dikuasai pasukan Ukraina berhasil dicaplok kembali oleh pasukan separatis steempat. Sementara kondisi di Donbass masih membara, perwakilan pemerintah Ukraina, Rusia, Donetsk, & Luhansk terlibat perundingan damai di Minsk, Belarusia.

Tanggal 5 September, pihak-pihak yang bertikai setuju untuk menandatangani kesepakatan damai yang dikenal sebagai "Protokol Minsk". Beberapa poin penting dari protokol tersebut adalah pihak-pihak yang bertikai harus berhenti melanjutkan pertempuran, bersedia melakukan pertukaran tahanan, & memberikan otonomi lebih luas untuk daerah Donetsk serta Luhansk. Ditandatanganinya Protokol Minsk diharapkan bisa menjadi akhir dari Perang Donbass. Namun sayang, harapan tinggal harapan karena pasca perundingan di Minsk, pertempuran masih tetap berlanjut di mana masing-masing pihak saling menuduh lawannya sebagai pihak yang lebih dulu melanggar kesepakatan damai.

Hingga akhir bulan September 2014, jumlah korban tewas akibat Perang Donbass dilaporkan sudah menembus angka 3.500 jiwa lebih. Perang tersebut juga membuat lebih dari 1 juta penduduk Ukraina timur mengungsi di mana mayoritas dari mereka mengungsi ke wilayah Rusia. Sementara itu di luar Ukraina, perang ini membuat hubungan antara Rusia & negara-negara Barat menegang di mana kedua belah pihak saling menjatuhkan sanksi ekonomi. Dengan masih belum adanya kejelasan mengenai kapan konflik ini akan segera berakhir, masa depan Ukraina dalam waktu dekat masih nampak suram.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG (HINGGA SEPTEMBER 2014)

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : April 2014 - sekarang
    - Lokasi : Donbass (Ukraina timur)

2. Pihak yang Bertempur
    (Negara)  -  Ukraina
    (Grup)  -  milisi pro-Ukraina
            melawan
    (Daerah)  -  Donetsk, Luhansk
    (Negara)  -  Rusia

3. Hasil Akhir
    Belum diketahui

4. Korban Jiwa
    Lebih dari 3.500 jiwa



REFERENSI

Al Jazeera - Ukraine says 15 rebels killed in border clash
AP News - UN : More than 3,500 killed in Ukraine conflict
BBC News - Ukraine crisis : Kiev forces win back Mariupol
BBC News - Ukraine crisis : Timeline
BBC News - Ukraine says forces retake two more rebel-held cities
CNN News - U.S. official says 1,000 Russian troops have entered Ukraine
Deutsche Welle - Russia's slow invasion of Ukraine
Kyiv Post - OSCE releases the 12-point protocol agreements reached...
News.com.au - Russia blames Ukraine for MH17 crash as families...
Reuters - Ukraine rebels speak of heavy losses in battle against government troops
RFE/RL - Ukrainian Forces Capture Kramatorsk Airport
RT News - Self-proclaimed Donetsk and Lugansk republics form ‘Novorossiya’ union
Telegraph - Ukraine's rebels in crisis after Donetsk 'coup' 
The Guardian - Putin's military exercises are more than a game
The Guardian - Ukraine civil war fears mount as volunteer units take up arms
The Moscow Times - UN Says More Than 1 Million Ukrainian...
The Washington Post - There are two competing stories about...


    

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

3 komentar:




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.