FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Daftar Delegasi Konferensi Asia-Afrika 1955




Gedung Merdeka, tempat dilangsungkannya
Konferensi Asia-Afrika I. (Sumber)

Jika para pengunjung kerap mengikuti berita-berita terkini, maka para pengunjung & loyalis Republik sekalian tentunya tahu kalau Indonesia sedang menjadi tuan rumah dari Konferensi Asia-Afrika (KAA). KAA yang diselenggarakan tahun ini sekaligus menjadi KAA edisi ke-3 sepanjang sejarahnya. Dua KAA sebelumnya diselenggarakan pada tahun 1955 & 2005. KAA di tahun 1955 merupakan yang paling penting karena selain statusnya sebagai KAA edisi pertama, KAA 1955 dilangsungkan di tengah-tengah memanasnya peta politik dunia akibat Perang Dingin.

KAA 1955 merupakan konferensi internasional yang diikuti oleh 29 negara merdeka Asia & Afrika pada tanggal 18 - 24 April 1955 di Jakarta & Bandung, Indonesia. Selain diikuti oleh negara-negara Asia & Afrika yang pada umumnya merupakan negara berkembang, KAA juga diikuti oleh delegasi Uni Soviet & Amerika Serikat (AS) di mana keduanya bertindak sebagai pengamat jalannya KAA. Jika Uni Soviet diwakili oleh Dmitri Zhukov, maka AS diwakili oleh Hugh Smith Cumming, Jr..

Mengenai siapa saja negara Asia & Afrika yang menjadi peserta KAA 1955 sudah menjadi pengetahuan umum & sudah sangat sering disinggung dalam buku-buku teks pelajaran sejarah. Tapi bagaimana dengan nama-nama delegasinya? Berhubung informasi soal itu masih minim & Indonesia sekarang masih larut dalam suasana penyelenggaraan KAA, maka artikel kali ini akan memaparkan tokoh-tokoh yang menjadi perwakilan negara-negara peserta KAA 1955. So, here we go...



SEKILAS TENTANG KAA 1955

Peta yang menampilkan wilayah Republik
Rakyat Cina (merah) & Taiwan (biru).
Pasca berakhirnya Perang Dunia II, peta politik dunia terpolar ke dalam 2 kubu utama, yaitu kubu Blok Timur (komunis) pimpinan Uni Soviet, serta Blok Barat (non-komunis) yang dipimpin oleh AS. Kemunculan 2 blok tersebut pada gilirannya memunculkan kekhawatiran kalau Perang Dunia akan kembali meletus begitu hubungan antara masing-masing Blok semakin panas. Salah satu contoh kasus tersebut bisa ditemukan di Asia Timur, tepatnya di daratan Cina. Daratan Cina pada saat itu sedang dikuasai oleh pemerintahan komunis, namun AS lebih memilih untuk mengakui rezim nasionalis Republik Cina yang sekarang bermarkas di Pulau Formosa / Taiwan sebagai penguasa berdaulat daratan Cina.

Berakhirnya Perang Dunia II juga diikuti dengan munculnya kemerdekaan massal koloni-koloni negara Eropa di Benua Asia & Afrika. Namun, belum semua koloni di Afrika diberi kemerdekaan oleh negara pemiliknya. Sebagai contoh, hingga tahun 1954 mayoritas wilayah di Afrika barat, tengah, & utara masih berstatus sebagai daerah bawahan Perancis. Sementara itu di Asia, Indonesia sedang mencari sekutu agar negara-negara lain bersedia membantu mendukung Indonesia untuk merebut Papua Barat, wilayah di Pulau New Guinea bagian barat yang sedang dikuasai oleh Belanda.

Kombinasi hal-hal tadi lantas memunculkan keprihatinan bersama dari para pemimpin negara-negara berkembang di Asia. Maka, pada tahun 1954, terjadi sejumlah pertemuan di Ceylon (sekarang Sri Lanka) & Indonesia di mana perwakilan Ceylon, Burma (Myanmar), India, Pakistan, & Indonesia terlibat di dalamnya. Berdasarkan pertemuan tersebut, negara-negara tadi sepakat untuk menyelenggarakan pertemuan lanjutan di Indonesia pada bulan April 1955 dengan jumlah peserta yang lebih banyak. Pertemuan itulah yang kelak dikenal dengan sebutan "Konferensi Asia-Afrika" (KAA; Afro-Asian Conference) atau "Konferensi Bandung".

Delegasi Cina (berdiri, paling kanan) ketika
sedang memberikan pidato. (Sumber)
Penyelenggaraan KAA sendiri tidak benar-benar mulus karena masing-masing negara yang notabene memiliki cara pandang & kepentingannya sendiri-sendiri juga terlibat silang pendapat, misalnya soal bahaya paham komunisme. Namun pada akhirnya, KAA berhasil menelurkan 10 poin kesepakatan bernama "Dasasila Bandung" yang pada intinya menunjukkan komitmen dari negara-negara peserta untuk saling menghormati & bekerja sama menciptakan perdamaian dunia. Komitmen yang sayangnya tidak benar-benar dipatuhi karena beberapa tahun sesudahnya, banyak negara peserta yang terjerumus ke dalam konfliknya masing-masing. Sebagai contoh, pada tahun 1965 India & Pakistan malah berperang satu sama lain.

Total, ada 29 negara merdeka di Asia & Afrika yang berstatus sebagai peserta dalam konferensi tersebut. Jika ditotal, luas wilayah dari negara-negara peserta mencakup sekitar 1/5 luas permukaan bumi. Negara mana sajakah yang menjadi peserta KAA & siapa saja orang-orang yang menjadi perwakilan / delegasi dari masing-masing negara? Jawabannya bisa pengunjung temukan di bawah ini.



DAFTAR DELEGASI NEGARA PESERTA

(Tulisan yang dicetak tebal menunjukkan nama negara yang diwakili, sementara tulisan di dalam kurung menunjukkan posisi atau jabatan yang sedang dipegang oleh delegasi yang bersangkutan)

  • Afganistan → Sardar Mohammed Naim Khan (menteri luar negeri) 
  • Arab Saudi → Amir Faisal (putera mahkota & menteri) 
  • Burma → U Nu (perdana menteri)
  • Ceylon → Sir John Kotelawala (perdana menteri)
  • Cina; Republik Rakyat → Zhou Enlai (menteri luar negeri)
  • Ethiopia → Yilma Deressa (duta besar Ethiopia untuk AS & PBB)
  • Filipina → Carlos Romulo
  • India → Jawaharlal Nehru (perdana menteri)
  • Indonesia → Ali Sastroamidjojo (perdana menteri), Sukarno (presiden), Sunario (menteri luar negeri)
  • Irak → Mohammed Fadhil Jamali (mantan perdana menteri)
    Delegasi India & Ceylon sedang
    berdiskusi. (Sumber)
  • Iran → Ali Amini (menteri keuangan)
  • Jepang → Tatsunosuke Takasaki (menteri negara)
  • Kamboja → Norodom Sihanouk (raja)
  • Laos → Katay Sasorith (perdana menteri)
  • Lebanon → Sami El Solh (perdana menteri)
  • Liberia → Momolu Dukuly (sekretaris negara)
  • Libya → Mahmud Bey Muntaseer (duta besar Libya untuk Inggris)
  • Mesir → Gamal Abdel Nasser (presiden)
  • Nepal → Sovag Jung Tahpa (sekretaris luar negeri)
  • Pakistan → Mohammed Ali (perdana menteri)
  • Pantai Emas / Ghana → Kojo Botsio (menteri negara)
  • Sudan → Ishmail El Azhari (perdana menteri)
  • Suriah → Khalid El Azm (menteri luar negeri)
  • Thailand → Wan Waithayako
  • Turki → Fatih Rustu Zorlu (wakil perdana menteri)
  • Vietnam Selatan → Nguyen Van Thoai (menteri pembangunan)
  • Vietnam Utara → Pham Van Dong (menteri luar negeri)
  • Yaman → Seif El Islam El Hassen
  • Yordania → Walid Salah (menteri luar negeri)

© Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

ANTARA News - Asia Africa Ministerial Meeting views....
SINDOnews - Sunario Sastrowardoyo, Sosok Penting di....
 - . 1955. "Life : Vol. 38 No. 18". Time Inc., New York, AS.
 - . 2008. "Bandung Conference". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.



COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

2 komentar:

  1. ah gak bisa di copy paste , percuma artikelnya di share buat anak sekolah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan anda lihat tulisan di atas kotak komentar. Di sana sudah saya cantumkan petunjuknya kalau anda ingin menyimpan artikelnya.

      Hapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.