FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Kelabang Raksasa Amazon, Sang Predator Berkaki Banyak




(Sumber)

Kelabang raksasa Amazon (Amazonian giant centipede; Scolopendra gigantea) adalah spesies kelabang / lipan yang memperoleh nama demikian sebagai akibat dari ukurannya yang besar. Bayangkan saja, kelabang ini panjang tubuhnya bisa mencapai 30 cm! Kendati besar, kelabang ini bukanlah spesies kelabang terbesar di dunia karena masih ada spesies kelabang goliath Darwin (Scolopendra galapagoensis) yang panjangnya bisa mencapai 40 cm. Sementara nama "Amazon" pada hewan ini merujuk pada habitat aslinya yang berupa hutan tropis & subtropis Amerika Selatan.

Di luar masalah seputar ukurannya, hewan yang dikenal dengan nama lain "kelabang raksasa Peru" ini pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan spesies kelabang lainnya. Tubuhnya panjang, berpenampang pipih, & terbagi ke dalam beberapa segmen yang berwarna gelap. Masing-masing segmen dilengkapi dengan sepasang kaki yang berwarna kekuningan. Di bagian kepalanya terdapat sepasang antena panjang yang beruas-ruas. Pasangan kaki pertama tubuhnya dilengkapi dengan kelenjar racun untuk membantu kelabang ini melumpuhkan mangsanya.

Bicara soal mangsa, kelabang raksasa Amazon adalah hewan predator yang ganas. Makhluk berbadan panjang ini pada dasarnya mau memakan hewan apapun yang berukuran lebih kecil atau sama dengan tubuhnya. Entah itu serangga, cacing tanah, siput, tarantula, reptil kecil, & bahkan tikus! Ketika berburu, kelabang raksasa Amazon menggunakan rahang bawahnya untuk memegangi mangsa & kaki beracunnya untuk melumpuhkan mangsa. Dengan racun atau bisanya pula, kelabang raksasa Amazon bisa melindungi dirinya dari makhluk-makhluk berukuran besar yang mencoba mangsanya.

Kelabang raksasa Amazon yang sedang
memakan kadal. (Sumber)
Kelabang raksasa Amazon adalah hewan yang menyukai suasana gelap & lembab untuk beraktivitas. Bukan tanpa alasan kelabang raksasa Amazon memiliki perilaku demikian. Kelabang ini memiliki lubang-lubang bernama spirakel di sepanjang tubuhnya untuk keperluan bernapas. Karena kelabang tidak bisa menutup spirakelnya sendiri, hewan yang bersangkutan sangat mudah kehilangan uap air melalui proses pernapasan & bisa mati akibat dehidrasi jika suhu lingkungannya terlampau tinggi.

Belum banyak yang diketahui mengenai perilaku reproduksi kelabang raksasa Amazon. Hal yang sudah diketahui adalah pejantan membuat semacam kantong sutra untuk menampung sperma yang dikeluarkannya. Betina lalu menggunakan sperma yang ada dalam kantong sutra tersebut untuk membuahi telur-telurnya sendiri. Sesudah itu, betina akan melingkari telur-telurnya untuk melindunginya dari jamur & hewan pemangsa telur. Sesudah menetas, betina akan tetap merawat anak-anaknya hingga mereka dianggap sudah cukup kuat untuk mencari makan sendiri. Seekor kelabang raksasa Amazon bisa hidup hingga usia 10 tahun.

Kelabang raksasa Amazon adalah hewan yang berbahaya bagi manusia & sebaiknya tidak dipegang sembarangan jika belum terlatih. Sebabnya tidak lain karena hewan ini bisa menggunakan racunnya untuk menyerang manusia. Untungnya, biarpun racun dari kelabang raksasa Amazon terasa menyakitkan & bisa membuat korbannya demam, racun dari kelabang raksasa Amazon tidak sampai mengakibatkan kematian. Selebihnya, kelabang raksasa Amazon adalah hewan yang sebaiknya dibiarkan jika tidak mengganggu karena lipan ini membantu mengontrol populasi serangga hama di habitatnya.

Kepala kelabang raksasa Amazon
dilihat dari dekat. (Sumber)
Kelabang raksasa Amazon belakangan menjadi salah satu hewan peliharaan eksotis sebagai akibat dari ukurannya yang besar & penampilannya yang cantik sekaligus menakutkan. Memelihara kelabang raksasa Amazon sendiri pada dasarnya tidak sulit karena hewan ini hanya memerlukan aquarium besar yang bagian dasarnya dilengkapi dengan tanah lembab sebagai tempat hidup. Sementara untuk makanannya, kelabang ini bisa diberi makan jangkrik setiap 1 minggu sekali. Wadah atau aquarium yang digunakan untuk memelihara kelabang raksasa Amazon juga tidak boleh terpapar sinar matahari langsung agar hewan yang bersangkutan tidak merasa gelisah akibat kepanasan.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



KLASIFIKASI

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Chilopoda
Ordo : Scolopendromorpha
Famili : Scolopendridae
Genus : Scolopendra
Spesies : Scolopendra gigantea



REFERENSI

Animal Diversity Web - Scolopendra gigantea : Information
eHow - How to Feed a Centipede
Petbugs - Peruvian Giant Centipede Care Sheet
The Earth Life Web - Chilopoda (Centipedes)



COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

1 komentar:

  1. Saya penasaran dgn kelabang ini krn kemarin tdk bisa tidur setelah disengat lipan yg msh muda krn berukuran 7 cm.

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.