FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Perang Sipil Sierra Leone, Bencana di "Negeri Pegunungan Singa"




Tentara anak-anak anggota RUF yang sedang
terlibat dalam baku tembak. (Sumber)

Sierra Leone adalah nama dari sebuah negara kecil di Afrika Barat. Nama "Sierra Leone" berasal dari bahasa Portugis yang jika diterjemahkan kurang lebih berarti "pegunungan singa". Walaupun kecil, Sierra Leone sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi negara yang makmur berkat tanahnya yang subur & kaya akan barang tambang semisal berlian. Namun kenyataannya, berlian tersebut justru ibarat menjadi kutukan bagi Sierra Leone karena akibat memperebutkan simpanan berlian yang dikandungnya, negara tersebut harus berkubang dalam perang saudara yang berlangsung selama 1 dekade lebih.

Perang Sipil Sierra Leone (Sierra Leonean civil war) adalah sebutan untuk perang saudara yang mengambil tempat di Sierra Leone antara tahun 1991 hingga 2002. Secara garis besar, perang ini membenturkan pasukan pemerintah Sierra Leone dengan pasukan pemberontak Revolutionary United Front (RUF). Perang ini kerap dikaitkan dengan Perang Sipil Liberia karena pihak-pihak yang terlibat dalam konflik di Liberia juga turut berpartisipasi dalam konflik di Sierra Leone. Di ranah media hiburan, perang ini merupakan sumber inspirasi utama dari film "Blood Diamond" yang dirilis pada tahun 2006 silam & dibintangi oleh aktor Leonardo DiCaprio.

Perang Sipil Sierra Leone memiliki peta konflik yang menarik karena tidak seperti perang saudara di negara-negara Afrika lainnya, faktor SARA bukanlah faktor yang signifikan dalam konflik ini. Sierra Leone merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan sebagian kecil penganut Kristen & animisme, namun hubungan antara masing-masing golongan agama bisa dikatakan harmonis. Pun dengan hubungan antar etnis, di mana komposisi kependudukan Sierra Leone didominasi oleh etnis Temne & Mende. RUF selaku pihak antagonis utama dalam konflik ini juga tidak memiliki kebijakan perekrutan berbasis golongan.

Aktivitas penambangan berlian
di Sierra Leone. (Sumber)
Bicara soal RUF, RUF juga terkenal karena kelompok ini kerap merekrut anak-anak sebagai prajuritnya. Untuk mencegah mereka meninggalkan RUF & kembali ke keluarganya, anak-anak yang baru direkrut akan diperintahkan untuk membunuh orang tuanya sendiri. Sesudah itu, dada para prajurit muda tadi akan diukir dengan inisial "RUF" & luka ukirannya diolesi dengan zat narkotik untuk membuat mereka semakin beringas di medan perang. Tindak tanduk mereka ketika sedang tidak berperang juga tidak kalah menakutkan. Sebagai contoh, ketika mereka sedang merasa bosan, mereka akan bertaruh mengenai jenis kelamin bayi dari wanita hamil yang sedang mereka tahan & kemudian membelah perut wanita tadi untuk menentukan pemenangnya. Perlu diperhatikan juga kalau selain RUF, militer pemerintah Sierra Leone juga ikut merekrut anak-anak sebagai prajuritnya.

Seperti halnya kelompok LRA di pedalaman Afrika bagian tengah, RUF juga memiliki kebiasaan memotong tangan dari orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka. Selain untuk menebar rasa takut di pihak lawan, praktik tadi juga memiliki fungsi jangka panjang. Sebagai contoh, jika yang dipotong adalah tentara pemerintah, maka tentara tersebut tidak bisa lagi memegang senjata & memerangi RUF di kemudian hari. Sementara jika yang dipotong adalah warga sipil biasa, maka orang yang bersangkutan tidak akan bisa bekerja untuk pemerintah ataupun berpartisipasi dalam acara-acara yang digelar pemerintah semisal pemilu.



LATAR BELAKANG

1. Faktor Internal

Sejak memperoleh kemerdekaannya dari tangan Inggris di tahun 1961, Sierra Leone awalnya merupakan negara yang relatif makmur dengan sektor pertambangan bijih besi & berlian sebagai sumber pendapatan utamanya. Namun masa-masa indah itu dengan cepat berlalu pasca meninggalnya perdana menteri Milton Margai di tahun 1964. Sejak itulah, Sierra Leone memasuki periode kekacauan politik & kediktatoran. Terhitung sejak tahun 1978, Sierra Leone menjadi negara dengan sistem partai tunggal di mana partai APC pimpinan Siaka Stevens menjadi satu-satunya partai politik yang diperbolehkan berdiri.

Peta lokasi Sierra Leone. (Sumber)
Berubahnya Sierra Leone menjadi negara kediktatoran turut berdampak pada kondisi domestik Sierra Leone. Aktivitas pembangunan nasional & modernisasi menjadi terbengkalai. Korupsi, kolusi, & nepotisme menggurita di institusi-institusi pemerintahan. Pegawai negeri & tentara kerap terlambat menerima gaji. Pendapatan dari sektor tambang hanya dinikmati oleh Stevens & orang-orang dekatnya. Buntutnya, rakyat Sierra Leone - khususnya yang bermukim di wilayah timur & selatan - mulai banyak yang terlibat dalam aktivitas penambangan ilegal & penyelundupan berlian demi memperbaiki tarah hidupnya.

Kombinasi dari buruknya taraf hidup rakyat Sierra Leone & sikap pemerintah yang melarang demonstrasi lantas membuat pihak-pihak yang menentang rezim APC berkesimpulan kalau kekerasan adalah satu-satunya cara untuk memperbaiki nasib Sierra Leone. Maka, pada tahun 1987-1988, puluhan pemuda Sierra Leone terbang ke Libya untuk menerima pelatihan militer di sana. Sepulangnya ke Sierra Leone, mereka lalu mendirikan kelompok bersenjata dengan nama Revolutionary United Front (RUF; Front Bersatu Revolusioner). Ketika pemerintah Sierra Leone mengakhiri kebijakan otoriternya di tahun 1991 & berencana menggelar pemilu multipartai, RUF memutuskan untuk mencuri start dengan cara memulai pemberontakan.


2. Faktor Eksternal

Sierra Leone berbatasan langsung dengan Liberia di sebelah timur. Sejak tahun 1989, Liberia dilanda perang saudara antara pihak pemerintah pimpinan Samuel Doe melawan kelompok pemberontak NPFL & INPFL. Akibat perang tersebut, puluhan ribu rakyat Liberia mengungsi ke Sierra Leone. Karena para pengungsi tersebut menetap di Sierra Leone dengan hanya membawa sedikit harta benda, RUF lantas memanfaatkan kondisi tersebut untuk merekrut anggota baru. Mereka menjanjikan kehidupan baru yang layak jika para pengungsi tadi mau bergabung dengan RUF. Namun jika para pengungsi tadi menolak, RUF tidak segan-segan beralih ke metode ancaman & kekerasan.

Pemimpin kelompok NPFL di Liberia,
Charles Taylor. (Sumber)
Sudah disinggung di paragraf sebelumnya kalau salah satu kelompok pemberontak yang terlibat dalam konflik di Liberia mengusung nama NPFL. NPFL dipimpin oleh Charles Taylor yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Libya. Dikombinasikan dengan posisi RUF & NPFL yang sama-sama dengan berupaya menggulingkan pemerintahan berkuasa di negaranya masing-masing, kedua kelompok tadi lantas terlibat dalam simbiosis mutualisme. Ketika Taylor akhirnya naik menjadi presiden baru Liberia di tahun 1997, Taylor membiarkan RUF menggunakan wilayah Liberia untuk melarikan diri & mendapatkan logistik. Sebagai gantinya, Taylor memperoleh berlian dari wilayah Sierra Leone yang sedang dikuasai RUF.



BERJALANNYA PERANG

Penjarah Berbaju Tentara

Bulan Maret 1991, pasukan RUF melakukan serangan ke kota-kota di Sierra Leone timur dari arah Liberia. Hanya dalam waktu 1 bulan, seluruh provinsi Kalaihun di Sierra Leone timur jatuh ke tangan RUF. Keberhasilan RUF tersebut tidak lepas dari bermasalahnya kondisi militer Sierra Leone itu sendiri. Sebagai akibat dari praktik KKN yang sudah berlangsung selama puluhan tahun, militer Sierra Leone tidak mendapatkan gaji & persenjataan yang layak. Bukan hanya itu, tentara Sierra Leone dalam perkembangannya ternyata juga kerap melakukan penjarahan ke rumah-rumah penduduk di medan konflik sebagai akibat dari tersendatnya gaji yang mereka terima. Kondisi yang lantas membuat tentara Sierra Leone mendapat julukan "sobel" (soldier by day, rebel at night; tentara di siang hari, pemberontak di malam hari).

RUF juga melakukan pembantaian kepada etnis-etnis minoritas dengan harapan peristiwa pembantaian tersebut akan membuat etnis-etnis minoritas tadi menyalahkan etnis lain, sehingga timbullah konflik antar etnis & RUF bisa memanfaatkan kondisi Sierra Leone yang semakin kacau balau untuk terus melakukan penjarahan & mengeruk berlian. Walaupun konflik antar etnis yang diharapkan RUF gagal terjadi, warga sipil setempat menjadi panik & kemudian beramai-ramai pengungsi. Untuk menormalkan situasi, pemerintah Sierra Leone lalu melakukan perekrutan massal kepada penduduk ibukota Freetown untuk dijadikan tentara. Namun masalah muncul karena banyak dari tentara rekrutan baru tersebut aslinya adalah gelandangan & preman yang memiliki tingkat disiplin rendah sehingga sulit dikendalikan.

Milisi Kamajor. (Sumber)
Gajah berperang dengan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah. Itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi warga sipil Sierra Leone yang menjadi korban penjarahan RUF & oknum tentara Sierra Leone. Merasa kalau bersikap pasrah hanya akan membuat mereka semakin menderita, warga sipil di sejumlah daerah lalu berinisiatif membentuk kelompok-kelompok bersenjata yang dikenal dengan sebutan "Kamajor". Berkat kemunculan Kamajor, RUF kini tidak bisa lagi leluasa melakukan penjarahan & perekrutan paksa. Belakangan, pasukan pemerintah Sierra Leone mendapat bala bantuan tambahan untuk memerangi RUF dalam wujud ULIMO, kelompok bersenjata yang terbentuk dari sisa-sisa pendukung presiden Samuel Doe yang tewas dalam perang saudara Liberia.

Bulan April 1992, sejumlah perwira militer Sierra Leone nekat melakukan kudeta karena merasa pemerintah Sierra Leone tidak bisa diandalkan lagi untuk memperbaiki nasib mereka & memenangkan perang saudara. Setahun berselang, pasukan organisasi multinasional Afrika Barat (ECOMOG) tiba di Sierra Leone untuk membantu melindungi kawasan perkotaan dari serangan RUF. Tahun 1995, giliran kelompok tentara bayaran Executive Outcomes (EO) yang berbasis di Afrika Selatan yang mendarat di Sierra Leone. Hasilnya, pasukan gabungan EO & Sierra Leone berhasil menguasai kembali wilayah-wilayah kaya berlian yang sebelumnya diduduki oleh RUF. Dengan melemahnya kekuatan RUF, Sierra Leone pun kini bisa menggelar pemilu multipartainya yang sudah tertunda sekian lama di tahun 1996.

Pemilu di tahun 1996 menelurkan Alhaji Ahmad Tejan Kabbah sebagai presiden baru Sierra Leone. Tak lama usai dilantik, Kabbah langsung terlibat perundingan damai dengan RUF di Abidjan, Pantai Gading. Hasilnya, dicapailah kesepakatan damai di mana RUF bersedia membiarkan senjatanya dilucuti jika para anggotanya mendapat pengampunan hukum. Kesepakatan damai tersebut juga mengharuskan pemulangan EO ke Afrika Selatan. Sayang, dicapainya kesepakatan damai tersebut ternyata gagal mengakhiri perang saudara seutuhnya. Para anggota RUF kerap mendapat serangan dari milisi-milisi Kamajor tanpa bisa dicegah oleh pemerintah Sierra Leone. Puncaknya adalah ketika pemimpin RUF, Foday Sankoh, ditangkap ketika sedang berada di Nigeria.


Bersatunya Kawan & Musuh Lama

Tentara pemerintah Sierra
Leone. (Sumber)
Bulan Mei 1997, militer Sierra Leone melakukan kudeta & presiden Kabbah terpaksa melarikan diri ke Guinea memakai helikopter. Para pelaku kudeta lalu mendirikan badan pemerintahan Armed Forces Revolutionary Council (AFRC; Dewan Revolusioner Angkatan Bersenjata). Mereka juga mengundang RUF untuk bergabung dengan mereka, sekaligus mengakhiri konflik bersenjata antara keduanya yang sudah berlangsung selama beberapa tahun. Namun kondisi domestik Sierra Leone justru malah semakin memburuk. Ibukota Freetown menjadi arena penjarahan massal. Mereka yang berseberangan dengan AFRC-RUF menghadapi bahaya penyiksaan hingga pembunuhan. Di luar Sierra Leone, dunia internasional juga enggan mengakui AFRC-RUF karena pemerintahan baru tersebut dibentuk melalui peristiwa kudeta.

Perang di Sierra Leone pun kembali meletus, namun kali ini perang tersebut membenturkan pasukan ECOMOG dengan pasukan AFRC-RUF. Bulan Oktober 1997, PBB akhirnya turun tangan secara tidak langsung dengan menjatuhkan sanksi embargo ekonomi & larangan bepergian kepada AFRC-RUF. Setahun kemudian atau tepatnya pada bulan Maret 1998, pasukan ECOMOG berhasil mengusir pasukan AFRC-RUF keluar Freetown. Di bulan yang sama, Kabbah kembali ke Sierra Leone & melanjutkan tugasnya sebagai presiden. Namun tugasnya sebagai presiden jauh dari kata mulus sebagai akibat dari masih gencarnya perlawanan yang dilakukan AFRC-RUF. Terlebih ketika pada awal tahun 1999, pasukan AFRC-RUF melakukan serangan besar-besaran ke Freetown & membantai serta memperkosa setiap warga sipil yang mereka temui.

Bulan Juli 1999, perwakilan pemerintah Sierra Leone & AFRC-RUF terlibat perundingan di Lome, Togo. Berdasarkan hasil perundingan tersebut, Foday Sankoh dibebaskan dari tahanan & diangkat menjadi wakil presiden sekaligus kepala pengawas aktivitas penambangan berlian di Sierra Leone. Sebagai gantinya, para milisi AFRC-RUF diminta membiarkan senjatanya dilucuti. Pendirian kamp-kamp pendidikan di Sierra Leone menyusul tak lama berselang sebagai bagian dari upaya untuk membantu para bekas milisi AFRC-RUF kembali membaur dengan kehidupan warga sipil Sierra Leone. Bulan Oktober 1999, pasukan perdamaian PBB yang mengusung nama akronim UNAMSIL diterjunkan ke Sierra Leone untuk membantu menormalkan kembali kondisi keamanan Sierra Leone.

Pasukan UNAMSIL. (Sumber)
Kondisi domestik Sierra Leone kenyataannya tetap tidak langsung membaik pasca perundingan damai di Togo & masuknya UNAMSIL. Bulan Mei 2000 contohnya, pasukan RUF menjadikan 500 personil UNAMSIL sebagai sandera & merampas alutsista mereka. Di tahun yang sama, pasukan RUF & Liberia menyerbu Guinea - negara tetangga Sierra Leone di sebelah utara - karena Guinea mendukung kelompok pemberontak yang berseberangan dengan rezim Taylor di Liberia. Tindakan yang belakangan berujung fatal bagi RUF karena pemerintah Guinea langsung membalasnya dengan cara membombardir desa-desa di sepanjang perbatasan Sierra Leone & Guinea. Sudah jatuh tertimpa tangga, UNAMSIL yang awalnya terlihat lunglai di hadapan RUF mendapat tambahan kekuatan dari Inggris yang berkomitmen melindungi Freetown & daerah sekitarnya.

Terpojok karena menghadapi musuh yang semakin banyak, RUF akhirnya mengibarkan bendera putih. Hasilnya, pada bulan Januari 2002 perwakilan RUF & pemerintah Sierra Leone mengeluarkan deklarasi resmi bersama untuk mengakhiri perang. Keluarnya deklarasi tersebut sekaligus menandai berakhirnya Perang Sipil Sierra Leone yang sudah berlangsung selama 1 dekade lebih. Pemilu nasional lalu digelar pada bulan Mei 2002 di mana Kabbah berhasil terpilih kembali menjadi presiden. Belasan ribu tentara UNAMSIL tetap disiagakan di Sierra Leone untuk membantu menjaga kondisi keamanan setempat di mana jumlah mereka secara berangsur-angsur dipangkas sebelum mereka akhirnya ditarik seluruhnya pada tahun 2005.



KONDISI PASCA PERANG

Perang Sipil Sierra Leone membawa dampak negatif yang sangat besar bagi negara yang bersangkutan. Selama perang, institusi negara mengalami kelumpuhan & Sierra Leone ibarat menjadi daerah tanpa aturan. Dikombinasikan dengan kondisi Sierra Leone yang sebenarnya merupakan salah satu negara termiskin di dunia sebelum perang meletus, Sierra Leone pun keluar dari api peperangan sebagai "negara gagal" (failed state). Akibat perang ini pula, sekitar 50.000 penduduk Sierra Leone harus kehilangan nyawanya. Sementara mereka yang masih hidup harus kehilangan tempat tinggal, sanak keluarga, & bahkan anggota tubuhnya sendiri. Jumlah tuna wima akibat Perang Sipil Sierra Leone dilaporkan mencapai 2,5 juta jiwa.

Foday Sankoh (depan). (Sumber)
Proses peradilan terhadap tokoh-tokoh yang terlibat dalam kejahatan perang di Sierra Leone menyusul tak lama berselang. Foday Sankoh selaku pemimpin RUF adalah salah satu di antaranya Namun sebelum Sankoh sempat dijatuhi vonis oleh komisi pengadilan yang dibentuk oleh PBB, Sankoh keburu meninggal di tahun 2003. RUF sendiri tidak dibubarkan seusai perang & kelompok tersebut melanjutkan sepak terjangnya sebagai partai politik legal. Di luar Sierra Leone, Charles Taylor selaku presiden Liberia merangkap sekutu RUF juga tidak luput dari tuntutan hukum. Setelah melalui proses yang panjang, Taylor akhirnya divonis bersalah pada tahun 2012 & dijatuhi hukuman penjara 50 tahun.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : 1991-2002
    - Lokasi : Sierra Leone

2. Pihak yang Bertempur
    (Negara)  -  Sierra Leone, ECOMOG (sejak 1993), UNAMSIL (sejak 1999)
    (Grup)  -  Kamajor, ULIMO (1991-1996), EO (1996)
        melawan
    (Grup)  -  RUF, NPFL (1991-1996), AFRC (sejak 1997)

3. Hasil Akhir
    Kemenangan pihak pemerintah Sierra Leone

4. Korban Jiwa
    Sekitar 50.000 jiwa



REFERENSI

BBC News - Liberia ex-leader Charles Taylor get 50 years in jail
GlobalSecurity.org - Liberia - First Civil War - 1989-1996
GlobalSecurity.org - Liberia - Second Civil War - 1997-2003
GlobalSecurity.org - Revolutionary United Front (RUF)
GlobalSecurity.org - Sierra Leone
Wikipedia - Revolutionary United Front
Wikipedia - Sierra Leone Civil War
Fyfe, C.. 2008. "Sierra Leone". Encylopaedia Britannica, Chicago, AS.
Silberfein, M.. 2004. "The Geopolitics of Conflict and Diamonds in Sierra Leone". (file PDF)



COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.