FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Tanegashima, Senapan Klasik Bangsa Jepang




Seorang pereka ulang sejarah (reenactor) yang sedang
menggunakan tanegashima. (Sumber)

Tanegashima adalah nama dari senapan yang lazim digunakan oleh pasukan Jepang di Abad Pertengahan hingga permulaan era Meiji. Nama "tanegashima" pada senapan ini berasal dari pulau bernama sama yang terletak di sebelah selatan Pulau Kyushu, di mana pulau tersebut menjadi tempat di mana senapan yang kelak menjadi cikal-bakal tanegashima pertama kali diperkenalkan oleh orang Portugis. Proses penciptaan tanegashima menjadi salah satu contoh mengenai bagaimana terampil & kreatifnya bangsa Jepang karena kendati pemahaman mereka mengenai senapan Eropa bisa dibilang sangat minim, mereka berhasil menciptakan tiruan dari senjata terkait dengan kualitas yang tidak kalah bagus.

Kisah penciptaan tanegashima bermula ketika pada pertengahan abad ke-16, kapal yang mengangkut sejumlah pelaut Portugis terpaksa berlabuh di Pulau Tanegashima karena cuaca buruk. Ketika bangsawan setempat melihat senapan tipe musket yang dibawa oleh para pelaut tadi, ia merasa tertarik & kemudian membeli 2 buah di antaranya. Bangsawan tersebut kemudian memerintahkan pandai besi di wilayahnya untuk meneliti & membuat replika dari senapan yang dibelinya. Hasilnya, walaupun pada awalnya kebingungan, para pandai besi tersebut sukses membuat tiruan dari senapan tadi sekaligus menandai lahirnya senapan tanegashima. Informasi mengenai teknik pembuatan tanegashima kemudian menjalar ke wilayah lain di Jepang & tanegashima mulai diproduksi secara massal dengan kaliber yang beragam.

Karena tanegashima pada dasarnya adalah sejenis musket, maka tanegashima pun memiliki metode penggunaan & cara kerja yang serupa. Mula-mula, pengguna tanegashima mengisi laras senapan dengan mesiu & peluru berbentuk bulat, lalu menyodok-nyodoknya dengan tongkat agar mesiu & peluru tercampur. Di bagian luar pangkal atas senapan, terdapat tali sumbu yang ujung bagian atasnya terbakar & terkait dengan batangan logam kecil berbentuk melengkung. Ketika pengguna tanegashima menekan picu senapan, logam kecil tadi akan berputar ke belakang sehingga ujung tali sumbu menyentuh bagian pangkal senapan yang berisi mesiu. Hasilnya, mesiu yang ada di dalam pangkal senapan akan meledak & ledakannya melontarkan peluru ke depan. Mekanisme senjata api macam ini dikenal dengan sebutan "matchlock" karena cara kerjanya yang menggunakan sundutan api (match = pemantik api).

Peluru tanegashima dengan ukuran
yang berbeda-beda. (Sumber)
Jika dibandingkan dengan busur panah (yumi), tanegashima sebenarnya bisa dikatakan sebagai senjata jarak jauh yang medioker karena jarak tembak & akurasinya yang lebih rendah. Bukan hanya itu, tanegashima juga tidak bisa digunakan dalam kondisi hujan ataupun berangin karena kondisi-kondisi tadi membuat api pada tali sumbu tanegashima menjadi padam sehingga tidak bisa digunakan untuk memantik mesiu & menembakkan peluru. Dan terakhir, jika seorang pemanah yang ahli bisa menembakkan anak panahnya secara berulang-ulang dalam jeda waktu relatif singkat, seorang pengguna tanegashima memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengisi laras dengan peluru & mesiu, mengaduknya dengan tongkat, menembakkan peluru, & mengisi ulang laras.

Melihat penjelasan di atas, apakah itu berarti tanegashima merupakan senjata yang merepotkan & tidak berguna? Kenyataannya justru sebaliknya. Dengan teknik penggunaan yang tepat, tanegashima adalah senjata yang sangat efektif di medan perang. Kelebihan utama tanegashima jika dibandingkan dengan panah adalah seseorang bisa menjadi ahli dalam mengoperasikan tanegashima hanya dengan berlatih selama beberapa hari, sementara seseorang baru bisa mahir menggunakan panah setelah berlatih selama berbulan-bulan. Kelebihan lainnya, jika seorang pemanah mengalami cedera pada tangannya, maka akurasi tembakannya akan langsung berkurang drastis. Namun masalah serupa tidak dijumpai pada tanegashima selama penggunanya masih bisa membidikkan ujung senapannya ke arah yang tepat.

Tanegashima tercipta ketika Kepulauan Jepang sedang berada dalam sengoku, periode kekacauan berskala nasional yang ditandai dengan seringnya timbul konflik antar klan & penguasa daerah (daimyo). Masih banyaknya konflik secara otomatis membuat permintaan senjata meningkat, sehingga tanegashima pun mulai diproduksi & digunakan secara besar-besaran bersama dengan senjata-senjata lainnya seperti pedang katana & tombak. Alasan lain di balik populernya penggunaan tanegashima tidak lepas dari sistem militer Jepang pada masa itu di mana selain prajurit profesional macam samurai, banyak tentara bawahan para daimyo aslinya merupakan petani yang direkrut untuk ikut berperang. Karena tanegashima mudah dipelajari & digunakan, tanegashima pun menjadi pilihan yang menjanjikan untuk mempersenjatai mereka.

Ilustrasi tanegashima yang dilengkapi
kotak pelindung dari air hujan. (Sumber)
Oda Nobunaga merupakan salah satu panglima militer dalam periode sengoku yang sukses memanfaatkan tanegashima secara optimal. Dengan bantuan perlengkapan-perlengkapan tambahan seperti perisai kayu & kotak kayu untuk melindungi tali sumbu dari angin serta air hujan, pasukan tanegashima pimpinan Nobunaga berhasil membukukan sejumlah kemenangan penting atas lawan-lawannya, misalnya saat terlibat pertempuran melawan pasukan berkuda klan Takeda di Nagashino pada tahun 1575. Di luar Jepang, tanegashima juga digunakan oleh pasukan Jepang ketika menginvasi wilayah Dinasti Joseon di Semenanjung Korea pada akhir abad ke-16. Admiral Joseon yang bernama Yi Sun Sin adalah salah satu tokoh paling terkenal di luar Jepang yang tewas akibat terkena tembakan senjata ini.

Ketika klan Tokugawa naik menjadi penguasa baru Jepang sejak permulaan abad ke-17, kondisi domestik Jepang sudah jauh lebih stabil sehingga tanegashima lebih jarang digunakan di medan perang & lebih sering digunakan untuk keperluan olah raga. Ratusan tahun berlalu, teknologi senjata api di Benua Eropa & Amerika Utara sudah jauh berkembang sehingga tanegashima pun menjadi senapan yang ketinggalan zaman. Itulah sebabnya menjelang pecahnya Perang Boshin antara pasukan Tokugawa melawan pasukan anti-Tokugawa di tahun 1868, kedua belah pihak sama-sama mengimpor senjata api dari Eropa dalam jumlah besar. Salah satu senjata impor tersebut adalah senapan Minie yang jarak tembak & akurasinya jauh lebih tinggi daripada tanegashima karena sudah menggunakan peluru berbentuk silinder. Walaupun tanegashima pada akhirnya harus tersingkir akibat perkembangan zaman, tanegashima tetap meninggalkan kesan tersendiri yang sangat kuat dalam sejarah teknologi militer Jepang.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

Japanese Weapons - Mechanisms
Nihonto.com - Matchlocks
Shawn Ford - The Failure of the 16th Century.... 
Wikipedia - Boshin War
 - . 2008. "Matchlock". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
C. I. Archer, dkk.. 2002. "World History of Warfare". University of Nebraska Press, Lincoln, AS.
Lidin, O. G.. 2002. "Tanegashima - The Arrival of Europe in Japan". Taylor & Francis, Abingdon, Inggris.
Perrin, N.. 1979. "Giving Up the Gun". David R. Godine, Inc., Boston, AS.


Video mengenai cara menggunakan senapan tipe matchlock.



COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

2 komentar:

  1. boleh request nggak tentang rangaku yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa eropa yang dibawa oleh belanda yang dipergunakan bangsa jepang, dan aku mau bertanya pada saat keshogunan tokugawa yang menjalankan politik isolasi, mengapa hanya pedagang belanda sebagai satu-satunya bangsa eropa yang diizikan berdagang dengan bangsa jepang dan mengapa pada saat itu belanda atau voc tidak pernah rencana untuk menjajah jepang layaknya Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditampung dulu ya usulnya. Kalau soal sejarah Jepang sih, rencananya kapan-kapan saya mau membahas soal detail modernisasi Jepang sesudah Restorasi Meiji.

      Soal kenapa hanya Belanda yang diperbolehkan berdagang di Jepang, penyebabnya adalah karena para pedagang Belanda tidak memiliki niat tambahan untuk menyebarkan agama. Sementara orang-orang Spanyol & Portugis ketika berdagang juga diboncengi oleh para misionaris yang berambisi menjadikan orang-orang Jepang sebagai penganut agama Katolik. Ketika terjadi Pemberontakan Shimabara di abad ke-17 oleh petani-petani lokal yang mayoritasnya sudah menganut agama Katolik, shogun menganggap kalau agama Katolik membuat penganutnya sulit diatur sehingga kemudian agama Katolik ditetapkan sebagai agama terlarang & orang-orang Spanyol serta Portugis tidak diperbolehkan lagi memasuki wilayah Jepang.

      Mengenai pertanyaan anda mengapa Belanda / VOC tidak tertarik menjajah Jepang, Jepang di masa itu tidak memiliki sumber daya alam yang menarik orang-orang Belanda untuk menguasai & memonopolinya. Berbeda dengan Nusantara yang oleh Belanda difungsikan sebagai penyuplai utama komoditas-komoditas berharga mahal seperti rempah-rempah & kopi. Dan tidak seperti Nusantara yang terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil yang berkonflik 1 sama lain, Jepang secara politis kondisinya jauh lebih solid karena hampir seluruh wilayahnya berada di bawah kendali shogun Tokugawa. Sehingga menggunakan jalur militer untuk menaklukkan Jepang dianggap terlalu sulit & potensi keuntungan yang didapat tidak akan bisa mengkompensasi kerugian yang harus ditanggung.

      Hapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.