FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Cacing Tanah, Sahabat Bumi yang Gemar Mengubur Diri




Cacing tanah dari spesies Lumbricus terrestris. (Sumber)

Cacing tanah (earthworm) adalah nama dari hewan yang pastinya sudah sangat akrab bagi kita semua. Hewan ini bisa ditemukan di seluruh dunia, kecuali di tempat yang bersuhu terlalu panas, terlalu dingin, atau lapisan tanahnya terlalu keras. Dari segi fisik, cacing tanah mudah dibedakan dari hewan-hewan kecil lainnya berkat tubuhnya yang panjang & dipenuhi garis-garis segmen yang menyerupai cincin. Kulitnya lunak & selalu diselubungi lendir sehingga sebagian orang merasa jijik untuk memegang cacing tanah. Bagian depan tubuhnya berbentuk mengerucut dengan tonjolan berbentuk melingkar & berwarna pucat di mana bagian tersebut dikenal dengan sebutan "klitelum" (clitellum). Mengenai klitelum akan dibahas di bagian lain artikel ini.

Ada lebih dari 3.000 spesies cacing tanah yang sudah teridentifikasi manusia & semuanya termasuk ke dalam kelas Oligochaeta. Karena spesiesnya sangat banyak, cacing tanah pun memiliki ukuran yang sangat beragam. Sebagai contoh, spesies Megascolides australis yang berasal dari Australia bisa tumbuh hingga sepanjang 3 m, sekaligus menjadikannya sebagai spesies cacing tanah terbesar di dunia. Sementara spesies Lumbricus terrestris ukuran maksimumnya hanya sekitar 30 cm. Selain dalam hal ukuran, cacing tanah juga memiliki warna yang bermacam-macam. Spesies Lumbricus rubellus contohnya, memiliki tubuh yang berwarna merah gelap. Sementara spesies Eutrigaster sporadonephra tubuhnya berwarna kebiruan.

Dibandingkan dengan invertebrata darat lainnya, cacing tanah memiliki morfologi yang sederhana. Tidak adanya mata, telinga, & organ pencium membuat cacing tanah sangat mengandalkan indra peraba untuk mengetahui kondisi di sekitarnya. Sementara dalam hal respirasi, cacing tanah menggunakan kulitnya yang lembab untuk bernapas di mana proses penyerapan oksigen berlangsung di seluruh permukaan tubuhnya. Proses tersebut hanya bisa berlangsung jika kulit cacing tanah berada dalam kondisi lembab, sehingga kulit cacing tanah selalu diselubungi lendir & hewan ini selalu menghindari paparan sinar matahari langsung. Dan berbeda dengan anggapan awam, memotong cacing tanah menjadi 2 tidak akan menghasilkan 2 ekor cacing tanah baru.

Cacing tanah dari spesies
Megascolides australis. (Sumber)
Cacing tanah memperoleh nama demikian jelas karena habitat utama hewan ini berada di tanah. Ketika berada di dalam tanah, cacing tanah bisa melindungi dirinya dari cuaca ekstrim & hewan-hewan predator yang ada di atas tanah. Tubuhnya yang lunak & berbentuk silindris membantu cacing tanah bergerak sambil membentuk terowongan di dalam tanah. Cacing tanah sendiri bergerak dengan cara mengulurkan tubuhnya ke depan, lalu mengerutkannya supaya bagian tubuh di belakangnya ikut terseret ke depan. Di masing-masing segmen tubuh cacing, terdapat rambut-rambut halus yang berguna untuk membantunya bergerak. Cacing tanah adalah hewan pengurai (detrivor) yang makanan utamanya terdiri dari sampah-sampah organik yang ada di tanah, khususnya sisa-sisa tumbuhan.

Berdasarkan perilaku & lokasi tinggal utamanya, cacing tanah dapat dikategorikan ke dalam 4 kelompok berbeda. Kelompok pertama adalah tipe kompos, di mana cacing tanah dalam kelompok ini sangat menyukai habitat lembab & banyak ditemukan dalam timbunan sampah organik yang ada di permukaan tanah. Kelompok kedua adalah epigeik yang juga hidup di permukaan tanah, namun dengan jumlah sampah organik yang tidak sebanyak kelompok tipe pertama. Kelompok ketiga adalah endogeik yang hidup membangun terowongan yang dekat dengan permukaan tanah. Kelompok terakhir adalah anesik (anecic) yang membangun terowongan berbentuk tegak & mengarah jauh ke dalam tanah. Cacing yang termasuk dalam tipe terakhir sangat jarang keluar dari terowongannya & makan dengan cara menarik masuk sampah organik ke dalam liangnya.

Pola hidup cacing tanah menjadikan hewan ini sangat penting untuk kesuburan tanah. Ketika bergerak, terowongan yang dibuat cacing tanah membantu menggemburkan tanah & memudahkan udara serta air merembes ke dalam tanah. Lalu ketika cacing tanah menghasilkan tinja, zat-zat hara yang ada di dalam tinja membantu meningkatkan kadar kesuburan tanah. Peran penting cacing tanah bagi kesuburan lantas mendorong manusia untuk membiakkan cacing tanah dalam suatu wadah khusus yang berisi tanah & sampah organik. Tanah yang sudah "diolah" oleh cacing tanah nantinya bisa dijual sebagai pupuk kompos, sementara cacingnya sendiri bisa dijual untuk dijadikan umpan ikan & pakan hewan peliharaan.

Sepasang cacing tanah yang sedang
melakukan perkawinan. (Sumber)
Cacing tanah adalah hewan hermafrodit alias memiliki organ kelamin ganda. Organ kelamin cacing tanah terletak di bawah klitelum & perkawinan terjadi ketika sepasang cacing tanah menyentuhkan klitelumnya dengan posisi kepala cacing tanah menghadap arah yang berlawanan satu sama lain. Ketika saling bersentuhan inilah, kedua cacing tanah tersebut saling bertukar sperma. Sesudah itu, cacing tanah akan mengeluarkan kantong lendir berisi sel-sel telur, di mana sel-sel telur tersebut dalam perjalanannya akan dibuahi oleh sperma yang ddapatnya dari cacing lain. Kantong lendir tersebut selanjutnya akan mengeras & telur-telur di dalamnya akan menetas sesudah 2 minggu lebih. Normalnya, seekor bayi cacing tanah memerlukan waktu 3 bulan untuk mengalami kematangan seksual & mencapai ukuran maksimum pada usia 1 tahun.

Cacing tanah adalah hewan yang lamban & lemah sehingga hewan ini sangat rentan dimakan oleh hewan-hewan lain. Mulai dari yang sekecil semut hingga yang sebesar babi hutan. Di sisi lain, banyaknya hewan yang memangsa cacing tanah menjadikan cacing tanah sebagai hewan yang penting bagi ekosistem & piramida makanan setempat. Cacing tanah sendiri sebenarnya bukanlah hewan yang tidak berdaya sama sekali. Selain bersembunyi di dalam tanah & onggokan sampah organik, cacing tanah juga bisa mengeluarkan cairan yang membantu mengusir hewan-hewan kecil. Namun, ancaman terbesar bagi cacing tanah sebenarnya bukan datang dari hewan pemangsa, melainkan dari limbah yang ditinggalkan manusia seperti pestisida & pupuk kimia.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



KLASIFIKASI

Kingdom : Animalia
Filum : Annelida
Kelas : Oligochaeta



REFERENSI

BBC News - Earthworms form herds and make "group decisions"
Earthworm Society of Britain - Earthworm biology
Earthworm Society of Britain - Earthworm diversity
Earthworm Society of Britain - Earthworm ecology
LiveScience - Will Two Worms Grow from a Worm Cut in Half?
 - . 2008. "Earthworm". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.



COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

1 komentar:




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.