FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Hun, Bangsa Pengembara yang Mengguncang Eropa




(Sumber)

Bagi para penggemar game strategi Age of Empires II (Aoe), nama "Huns" tentunya bukanlah nama yang asing. Ya, itu adalah nama dari salah satu peradaban yang bisa dimainkan di dalam game yang bersangkutan. Di dalam game AoE sendiri, Huns ditampilkan sebagai peradaban yang sangat cocok untuk taktik serangan cepat karena pemain Huns tidak memerlukan bangunan rumah & Huns memiliki kavaleri pemanah yang berharga murah, namun tidak ideal untuk permainan berdurasi panjang karena Huns lemah dalam teknologi perbentengan. Faktanya, peradaban atau bangsa yang bernama Hun ternyata memang benar-benar ada di dunia nyata & mereka kerap disebut-sebut salah satu alasan di balik runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5.

Hun adalah sebutan untuk bangsa yang diperkirakan berasal dari Asia utara, namun kemudian bermigrasi ke Eropa pada abad ke-4. Sejumlah sejarawan Romawi mendeskripsikan Hun sebagai bangsa barbar yang berperadaban rendah & gemar berperang. Deskripsi yang mengandung unsur rasis sekaligus kekaguman karena di masa jayanya, Hun memang kerap melakukan penyerbuan & penaklukkan ke daerah-daerah sekitarnya untuk mengumpulkan harta jarahan sebanyak mungkin tanpa bisa dihentikan. Ciri khas utama bangsa Hun yang membedakan mereka dari bangsa-bangsa Eropa lainnya pada periode yang sama adalah keterampilan mereka yang luar biasa ketika sedang berada di atas kuda. Hun kerap disinonimkan dengan salah satu rajanya yang bernama Attila karena di masa Attila-lah, Hun berada pada puncak kejayaannya.



SEJARAH

Asal-Usul

Tidak diketahui secara jelas mengenai asal-usul bangsa Hun selain fakta bahwa mereka berasal dari kawasan Asia utara. Adapun bangsa yang paling sering diklaim sebagai nenek moyang Hun adalah Xiongnu, bangsa pengembara di Asia utara yang membentuk konfederasi suku-suku di era sebelum Masehi & kerap terlibat konflik dengan Dinasti Han di Cina. Teori kalau Hun adalah keturunan Xiongnu pertama kali dicetuskan oleh sejarawan Joseph de Guignes pada abad ke-18. Dasar klaimnya adalah baik Hun maupun Xiongnu / Hsiung-nu sama-sama berbasis di Asia bagian utara, nama keduanya sama-sama memiliki huruf awal "H", & kedua suku bangsa tadi sama-sama memiliki pola hidup nomaden.

Fosil tengkorak bangsa Hun. (Sumber)
Teori yang diajukan Guignes tidak diakui oleh kebanyakan sejarawan di masa kini karena penelitiannya kurang memperhatikan aspek-aspek kultural yang lain. Dari segi bahasa contohnya, jika Xiongnu termasuk dalam rumpun bahasa Yeniseian di Siberia, maka bahasa Hun dikategorikan dalam rumpun Proto-Slavik atau Proto-Turk. Perbedaan lain antara Xiongnu & Hun adalah Xiongnu mengenal sistem pejabat yang saling berpasangan, sementara sistem demikian tidak digunakan oleh bangsa Hun. Lalu berdasarkan analisa pada lukisan & fosil yang ada, kaum pria Hun memiliki jenggot yang tipis & fosil tengkorak berbentuk lonjong akibat adanya praktik mengikat kepala di masa kecil, sementara Xiongnu memiliki jenggot yang lebat & tengkorak berbentuk normal.

Ada pula sejarawan yang mengajukan klaim alternatif kalau Hun awalnya memang merupakan bagian dari konfederasi Xiongnu, tapi kemudian memisahkan diri & bermigrasi ke barat. Dalam proses migrasi ini, bangsa Hun menyerap budaya-budaya di sepanjang daerah yang dilewatinya sehingga mereka pun selanjutnya memiliki kultur yang berbeda dengan bangsa Xiongnu tulen. Menurut kesaksian sejarawan Romawi Kuno yang bernama Jordanes, masyarakat Hun mengenal ritual membakar tulang bahu hewan ternak & membaca pola retakannya untuk meramal masa depan. Ritual yang lazim dijumpai di Asia Timur sejak era sebelum Masehi, tapi tidak dikenal di Eropa. Periuk masak yang digunakan oleh penduduk Hun juga memiliki bentuk yang serupa dengan periuk bangsa Xiongnu.


Proses Terbentuk & Runtuhnya Kekaisaran Hun

Hun pada awalnya merupakan kelompok-kelompok suku / klan dari kawasan Asia Tengah bagian utara yang menjalani migrasi secara perlahan ke arah barat (Eropa) & selatan (Suriah). Ketika mereka mulai bermukim Eropa Timur pada abad ke-4, sebagian dari mereka ada yang kemudian direkrut oleh Kekaisaran Romawi untuk menjadi tentara bayaran. Terhitung sejak abad ke-5, klan-klan Hun yang awalnya terpecah-pecah mulai bersatu padu di bawah kepemimpinan Oktar & Rugila. Berkat keberhasilan tersebut, semakin banyak wilayah di Eropa Timur yang berhasil dikuasai oleh bangsa Hun & Kekaisaran Romawi Timur sampai bersedia membayar upeti secara berkala agar aman dari serangan Hun.

Patung Attila di Turki. (Sumber)
Tahun 430, Oktar meninggal sehingga Rugila pun sejak itu menjadi pemimpin tunggal Kekaisaran Hun. Namun masa pemerintahan Rugila sebagai pemimpin tunggal tidak berlangsung lama setelah pada tahun 434, Rugila juga turut menghembuskan napas terakhirnya. Kursi tahta Hun selanjutnya dipegang oleh 2 keponakan Rugila yang bernama Attila & Bleda. Bersama, keduanya berhasil memaksa Romawi Timur untuk menambah jumlah setoran upeti. Ketika kiriman upeti dari Romawi Timur sempat tersendat, Hun meresponnya dengan cara melancarkan invasi militer ke Semenanjung Balkan bagian selatan pada tahun 441 & pulang dengan membawa harta jarahan yang besar. Empat tahun kemudian, Attila akhirnya menjadi pemimpin tunggal Hun setelah Bleda meregang nyawa.

Tahun 447, Hun di bawah pimpinan Attila kembali melakukan invasi ke ujung selatan Semenanjung Balkan. Romawi Timur sekali lagi hanya bisa terpana melihat Hun meluluh lantakkan wilayahnya karena pasukan mereka kewalahan meladeni taktik perang pasukan Hun yang sangat tidak lazim & menitikberatkan pada kecepatan. Tiga tahun kemudian, saudari kaisar Romawi Barat yang bernama Honoria mengirimkan cincin yang disisipi pesan kepada Attila & meminta Attila menggagalkan rencana pernikahan atas dirinya. Attila menganggap pesan tersebut sebagai tawaran pernikahan dari Honoria & ia pun memerintahkan pasukan Hun beserta bangsa-bangsa Eropa Timur taklukannya untuk menyerbu Gaul - wilayah Romawi Barat yang sekarang terletak di Perancis - karena ia berencana menjadikan wilayah tersebut sebagai mas kawinnya.

Pasukan Romawi Barat yang dipimpin oleh jenderal Flavius Aetius berusaha menghentikan laju pasukan Hun, namun gagal & kota-kota yang ada di sepanjang rute yang dilewati oleh Hun selanjutnya bertumbangan satu demi satu. Sadar kalau pasukannya tidak bisa menghentikan Hun sendirian, Aetius lalu mengajukan aliansi dengan Kerajaan Visigoth yang terletak di Semenanjung Iberia. Tawaran tersebut disetujui & pasukan gabungan keduanya lantas terlibat pertempuran melawan pasukan Hun & sekutunya pada bulan Juni 451 di Chalons (sekarang terletak di Perancis timur). Hasilnya manis. Pertempuran tersebut berakhir dengan kemenangan pasukan gabungan Romawi-Visigoth & terhentinya laju pasukan Hun ke Gaul. Namun dalam pertempuran tersebut, Visigoth juga harus kehilangan rajanya yang bernama Theodoric.


Peta Kekaisaran Hun & rute invasi militernya. (Sumber)

Bagi Romawi Barat sendiri, kemenangan dalam Pertempuran Chalons ternyata hanyalah bencana yang tertunda karena pasukan Hun kemudian malah bertolak menuju Semenanjung Italia pada tahun 452. Satu demi satu, kota-kota yang dilewati oleh pasukan Hun berubah menjadi puing-puing & padang mayat. Namun seiring dengan semakin lamanya ekspedisi militer berlangsung, persediaan makanan pasukan Hun juga semakin menipis & wabah penyakit mulai menerpa mereka. Maka, supaya bisa mendapatkan alasan untuk mundur secara terhormat, Attila kemudian pergi ke kota Roma untuk bertemu dengan Paus & pergi sambil menarik mundur seluruh pasukannya pasca pertemuan tersebut. Setahun kemudian, Atilla meninggal dunia setelah darah mengalir deras dari hidungnya.

Ketika upacara kematian Attila dilangsungkan, para prajurit Hun beramai-ramai melukai diri mereka sendiri karena berduka sambil mengeluarkan air mata dianggap sebagai ekspresi pengecut. Jasad Attila kemudian dikubur di sebuah dasar sungai yang rute alirannya sempat dialihkan sebelum kemudian diairi kembali. Sementara orang-orang yang ikut terlibat dalam proses penguburannya dibunuh secara massal supaya lokasi makam Attila benar-benar terjaga kerahasiaannya. Pasca wafatnya Attila, timbul konflik bermotifkan perebutan tahta di antara anak-anak Attila & para pengikutnya. Melemahnya kesatuan Hun kemudian dimanfaatkan oleh bangsa-bangsa bawahan Hun untuk memberontak & melepaskan diri. Hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat, Kekaisaran Hun yang awalnya sangat disegani kini harus runtuh & tercerai berai.



ASPEK-ASPEK DARI BANGSA HUN

Gaya Hidup

Yurt. (Sumber)
Masyarakat Hun memiliki pola hidup nomaden alias berpindah-pindah. Untuk mendukung pola hidup tersebut, masyarakat Hun jarang membangun rumah permanen & menggunakan tenda dengan pondasi melingkar yang bernama "yurt" sebagai tempat tinggalnya. Di bagian dalam yurt, penghuninya bisa beristirahat, menyimpan barang-barang, & bahkan menyalakan api unggun kecil. Masing-masing yurt memiliki desain yang berbeda-beda karena menyesuaikan fungsi, klan asal, & status sosial pemiliknya. Yurt umumnya terbuat dari kain & kulit hewan, namun jika suatu kelompok tinggal di suatu lokasi secara permanen, mereka juga menggunakan kayu sebagai bahan pembangun yurtnya. Yurt berbahan kayu utamanya dibangun oleh masyarakat Hun yang berasal dari golongan bangsawan, termasuk Attila.

Penggunaan yurt sebagai tempat tinggal tidak lepas dari gaya hidup masyarakat Hun sendiri yang menjadikan aktivitas penggembalaan & perburuan sebagai metode utama untuk mendapatkan makanan. Ketika persediaan air & rumput yang ada di suatu tempat menipis, kelompok masyarakat Hun tinggal mengepak barang-barangnya & kemudian pergi ke tempat lain yang kondisinya lebih menunjang bersama dengan hewan-hewan ternaknya. Adapun hewan-hewan yang diketahui kerap digembalakan oleh masyarakat Hun antara lain kuda, lembu, kambing, & domba. Kuda digunakan oleh orang-orang Hun sebagai hewan tunggangan & penarik kereta muatan, sementara hewan-hewan lainnya dipelihara untuk diambil daging, tulang, & kulitnya.

Salah satu fungsi utama dari kulit hewan bagi bangsa Hun adalah untuk dijadikan bahan pakaian. Pakaian khas masyarakat Hun terdiri dari topi berbentuk kerucut dengan bagian pangkal yang diselubungi bulu-bulu tebal, baju berlengan panjang serta celana panjang, & sepatu bot yang dikenal dengan nama "guttal". Desain pakaian macam itu membantu orang-orang Hun menunggangi kuda dengan mudah sambil bertahan dari cuaca dingin di kawasan pegunungan belahan bumi utara. Untuk variasi, kaum bangsawan Hun kerap melengkapi diri mereka dengan aksesoris emas & pakaian berbahan kain yang mahal, sementara kaum wanitanya memakai perhiasan yang umumnya berupa manik-manik. Selain pakaian & diri mereka sendiri, orang Hun juga kerap mendandani kuda & senjatanya.

Gelang emas khas bangsa
Hun. (Sumber)
Oleh bangsa-bangsa lainnya, bangsa Hun menyandang reputasi sebagai bangsa yang gemar menjarah perkampungan & menahan penduduknya. Rakyat jelata yang berhasil mereka tangkap akan dijual ke pasar budak, sementara tahanan dari golongan bangsawan akan dikurung hingga tebusannya dibayar. Reputasi menakutkan tersebut lalu dimanfaatkan secara tidak langsung oleh bangsa Hun untuk meminta upeti dari kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Namun Hun bukanlah bangsa pecinta kekerasan semata. Dalam kondisi damai & berkecukupan, bangsa Hun juga bisa melakukan hubungan dagang tanpa kekerasan dengan pedagang asing, di mana komoditas dagang utama yang ditawarkan oleh pedagang Hun terdiri dari kulit hewan, budak, & kuda. Sementara benda-benda yang banyak dicari oleh orang-orang Hun terdiri dari pakaian, senjata, & minuman keras.

Masyarakat Hun adalah penganut animisme alias kepercayaan bahwa semua benda di dunia ini memiliki roh. Aliran animisme yang dianut oleh masyarakat Hun & bangsa-bangsa nomaden Asia Utara sendiri dikenal dengan sebutan "Tengerisme". Salah satu contoh ritual keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat Hun adalah membakar tulang bahu hewan ternak & kemudian membaca pola retakannya untuk meramal masa depan. Roh-roh yang dipercaya oleh masyarakat Hun banyak yang terinspirasi dari hewan, sehingga aksesoris & jimat yang dibuat oleh masyarakat Hun pun banyak yang dibentuk menyerupai hewan semisal elang & kuda. Pasukan Hun juga memiliki kebiasaan menemui dukun (kam) sebelum pergi ke medan perang.


Politik & Militer

Masyarakat Hun adalah komunitas desentralistik yang terdiri dari beberapa kelompok suku / klan. Masing-masing klan memiliki kepala suku & wilayah kekuasaannya sendiri-sendiri, sehingga tidak jarang terjadi konflik antar kelompok suku ketika ada 2 kelompok / lebih yang kebetulan memperebutkan hal yang sama. Baru sesudah Rugila & para keturunannya diakui sebagai pemimpin tertinggi konfederasi suku-suku Hun, konflik antar sesama bangsa Hun berhasil diminimalkan walaupun tidak benar-benar menghilang sepenuhnya. Untuk menjaga agar klan-klan bawahannya tetap loyal, Rugila mengandalkan timbunan emas hasil upeti & penjarahan sebagai hadiah atas kesetiaan mereka.

Lukisan mengenai pasukan Hun. (Sumber)
Masyarakat Hun sudah mengenal penggunaan pijakan kaki pada pelana kudanya. Dikombinasikan dengan fakta bahwa orang Hun kerap menunggangi kuda untuk beragam aktivitas & sudah dididik untuk bisa mengendalikan kuda sejak masih kecil, masyarakat Hun pun menjadi pakar dalam hal menunggangi kuda pada masanya. Maka, bukan hal yang aneh kalau kemudian senjata & taktik militer Hun banyak didesain untuk keperluan bertempur di atas kuda. Senjata andalan prajurit Hun adalah panah karena senjata ini bisa digunakan untuk membunuh dari kejauhan & tidak memerlukan tenaga yang berlebihan jika dibandingkan dengan senjata jarak dekat, sehingga kaum perempuan Hun juga bisa ikut diterjunkan di medan perang dengan keterampilan yang tidak kalah dibandingkan kaum prianya. Untuk keperluan pertempuran jarak dekat, pasukan Hun juga dilengkapi dengan pedang, tombak, kapak, & laso.

Busur Hun terbuat dari campuran kayu, tanduk lembu, & serat otot hewan dengan gelembung renang ikan sturgeon sebagai bahan perekatnya. Seperti halnya keterampilan berkuda, seorang anggota masyarakat Hun juga sudah dilatih sejak kecil agar bisa mengoperasikan panah supaya bisa membantu klannya berburu & mempertahankan diri. Hasilnya, terciptalah sesosok manusia yang mahir menunggangi kuda sambil memanah dengan akurasi & kecepatan menembak yang luar biasa. Kombinasikan itu dengan fakta bahwa ada ratusan hingga ribuan kavaleri pemanah di setiap medan tempur yang diikuti oleh pasukan Hun, bukan hal yang aneh kalau kemudian pasukan Hun menjadi pasukan yang sangat ditakuti oleh lawan-lawannnya. Mereka datang begitu cepat, menyerang begitu cepat, & melarikan diri sama cepatnya.

Ketika suatu pasukan kavaleri Hun memasuki medan tempur, mereka biasanya ditemani oleh kereta-kereta kuda pembawa anak panah di belakangnya. Begitu terompet pemberi sinyal dibunyikan, pasukan kavaleri Hun segera berlari ke depan menuju pasukan lawannya. Ketika sudah berada dalam jarak kurang dari 200 m, para penunggang kuda tersebut langsung melepaskan anak panahnya ke arah lawan secara beramai-ramai. Hanya dalam kurun waktu beberapa detik, mereka mengulangi serangan serupa sambil memperpendek jaraknya dengan pasukan lawan. Bayangkan, bagaimana ngerinya prajurit lawan ketika mereka dihujani oleh ribuan anak panah setiap beberapa detik & teman-temannya bergelimpangan satu demi satu? Ketika mereka hendak menata ulang formasi & menyingkirkan mayat rekannya, mereka keburu dihujani oleh anak panah, lagi & lagi.

Panglima perang Hun kerap menggunakan
tengkorak lawannya sebagai cangkir. (Sumber)
Begitu pasukan kavaleri Hun sudah berada pada jarak kurang dari 100 m, formasi mereka akan membelah & kini pasukan musuh dihujani panah dari segala arah. Pada fase ini, biasanya formasi pasukan lawan sudah berantakan sehingga pasukan kavaleri Hun bisa menghabisi sisa-sisa prajurit lawan dengan kombinasi anak panah, terjangan kuda, & sabetan pedang. Kalaupun pasukan musuh sama-sama menggunakan kavaleri untuk menyerang pasukan Hun, pasukan Hun hanya perlu memerintahkan kuda-kudanya untuk mengubah manuver ke arah lain. Karena prajurit kavaleri Hun biasanya hanya memakai baju zirah ringan atau bahkan tidak memakai baju zirah sama sekali, pasukan kavaleri lawan akan merasa lelah lebih cepat & terpaksa mundur, sehingga mereka kemudian menjadi sasaran empuk anak panah Hun.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

Ancient History Encyclopedia - Huns
Horde Ernak - Hun Clothing
Horde Ernak - Hun Economy
Horde Ernak - Hun Warfare
Horde Ernak - Nomad Tents
Horde Ernak - Origin of the Huns
Horde Ernak - Religion of the Huns
 - . 2008. "Huns". Enclopaedia Britannica, Chicago, AS.
Thompson, E. A.. 2008. "Attila". Enclopaedia Britannica, Chicago, AS.



COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

3 komentar:

  1. Ulasan menarik . . .Tapi berdasar riset yang pernah saya baca,...Bangsa Xiong-Nu secara genealogy lebih terkait dengan bangsa Turki...dibanding terhadap bangsa Mongol...kemiripna turki dan mongol hanya dalam segi budaya dan bahasa, sementara terhadap bangsa Xiong-Nu , bangsa turki mirip secara genetika , budaya dan bahasa . . .

    BalasHapus
  2. terima kasih untuk artikel menarik nya

    BalasHapus
  3. Bangsa Hun mirip keganasannya dengan bangsa viking hingga ditakuti pada masa lalu

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.