FAUNA       SEJARAH       HIBURAN

"Pencurian" Kapal Cherbourg oleh Israel di Malam Natal




Salah satu kapal misil Israel yang dibuat di
galangan kapal Cherbourg. (Sumber)

Cherbourg atau lengkapnya Cherbourg-Octeville adalah nama dari kota pelabuhan yang terletak di Perancis utara. Di masa Perang Dunia II, kota ini menjadi arena pertempuran sengit antara pasukan Jerman yang sedang menguasai Perancis melawan pasukan gabungan AS & Inggris. Puluhan tahun berlalu, kota ini kembali menjadi sorotan dunia karena sejumlah kapal militer yang sedang diparkir di sana menghilang secara tiba-tiba pada akhir tahun 1969. Peristiwa tersebut lantas menjadi skandal internasional akibat adanya kecurigaan kalau Israel "mencuri" kapal-kapal tersebut tanpa sepengetahuan pihak Perancis.

Militer Israel faktanya memang bertanggung jawab atas lenyapnya kapal-kapal tadi dari pelabuhan Perancis. Secara teknis, apa yang dilakukan Israel bukanlah pencurian karena kapal-kapal dari kelas Sa'ar tersebut memang merupakan pesanan Israel & dibuat dengan menggunakan uang Israel. Namun memburuknya hubungan kedua negara membuat Israel terancam tidak bisa menerima barang pesanannya tersebut. Bak pepatah banyak jalan menuju Roma, Israel lebih memilih untuk memakai jalan sembunyi-sembunyi daripada pasrah pada nasib. Peristiwa ini sekaligus menjadi contoh mengenai kengototan Israel untuk menggunakan segala cara demi menggapai tujuannya.



LATAR BELAKANG

Sejak memproklamasikan pendiriannya secara sepihak pada tahun 1948, Israel berulang kali terlibat ketegangan & konflik bersenjata dengan negara-negara Arab tetangganya. Hal tersebut lantas memaksa Israel menjadikan sektor militernya sebagai prioritas. Karena wilayah Israel berbatasan langsung dengan Laut Mediterania di sebelah barat, maka Israel pun memiliki angkatan lautnya (AL) sendiri. Namun adanya AL tidak lantas membuat Israel merasa aman karena kapal-kapal menyusun AL Israel terdiri dari kapal-kapal warisan Perang Dunia II yang sudah ketinggalan zaman.

Peta lokasi Cherbourg. (Sumber)
Upaya AL Israel untuk memperbarui armada lautnya terkendala oleh terbatasnya anggaran yang dikucurkan oleh pemerintah Israel. Untuk mengakalinya, AL Israel pun berencana memperbarui armada lautnya dengan kapal-kapal patroli kecil yang dilengkapi dengan misil berpemandu. Awalnya misil tersebut didesain agar bisa dikendalikan dari jarak jauh oleh operator. Namun belakangan sistem navigasi misil yang bersangkutan dirombak total. Misil yang diberi nama "Gabriel" tersebut ditambahi radar & altimeter supaya bisa menghantam targetnya secara otomatis tanpa terdeteksi oleh radar musuh.

Soal misil Israel sudah bisa mengusahakannya sendiri. Sekarang hal berikutnya yang perlu dilakukan oleh AL Israel adalah mencari kapal patroli yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. AL Israel kemudian mengirimkan sejumlah personilnya ke Eropa & AS untuk mencari kapal yang dimaksud. Mereka akhirnya menemukan kapal patroli dengan desain yang mereka inginkan di Jerman. Karena Israel belum memiliki fasilitas yang memadai untuk memproduksi kapal tersebut, tiruan dari kapal yang bersangkutan lantas dibangun di pelabuhan Cherbourg, Perancis utara. Seluruh biaya pembuatan kapal-kapal tersebut ditanggung oleh Israel.

Tahun 1968, pasukan Israel menyerbu Bandara Internasional Beirut di Lebanon sebagai balasan atas serangan kelompok komunis PFLP. Karena Perancis memiliki hubungan dekat dengan Lebanon mengingat Lebanon dulunya adalah wilayah jajahan Perancis, Perancis pun menjatuhkan embargo militer kepada Israel. Pembangunan kapal-kapal pesanan Israel di Cherbourg memang tetap berjalan supaya para pekerja Perancis yang terlibat dalam proyek tersebut tidak terlantar. Namun embargo yang dilakukan oleh pemerintah Perancis membuat 5 kapal pesanan Israel terkatung-katung di pelabuhan Cherbourg.



BERJALANNYA "PENCURIAN"

Kapal-kapal pesanan Israel yang
terparkir di Cherbourg. (Sumber)
Militer Israel ngotot ingin mendapatkan seluruh kapal pesanan mereka dengan segala cara. Terlebih setelah mereka mendapat bocoran informasi kalau AL Mesir & Suriah menerima kiriman kapal misil dari Uni Soviet. Maka, Israel pun mulai merancang rencana untuk menyelundupkan kapal-kapal di Cherbourg ke Israel tanpa terendus oleh aparat Perancis. Tanggal 24 November 1969 dipilih sebagai waktu yang paling tepat untuk menyelundupkan kapal-kapal tersebut keluar Perancis karena momen tersebut bertepatan dengan malam Natal. Israel berharap banyaknya orang yang menghadiri kebaktian & perayaan di malam tersebut akan membuat tingkat pengawasan yang dilakukan oleh pihak keamanan Perancis di Cherbourg menjadi lebih minim.

Atas bantuan dari pengusaha Norwegia berdarah Yahudi yang bernama Martin Siem, Israel membuat perusahaan palsu di Norwegia. Tujuannya adalah untuk menimbulkan kesan kalau kapal-kapal di Cherbourg tidak ada lagi di tempatnya karena sudah dibeli oleh "perusahaan" tadi. Beberapa hari sebelum malam Natal di tahun 1969, Israel juga sudah menerbangkan sejumlah personilnya ke Perancis untuk mengemudikan kapal-kapal tersebut. Israel secara diam-diam juga menyiagakan kapal-kapalnya di perairan barat Perancis & Laut Mediterania untuk menyediakan bahan bakar bagi kapal-kapal tadi.

Hari yang sudah ditentukan akhirnya tiba. Awalnya rencana penyelundupan kapal-kapal tersebut terancam gagal akibat munculnya badai di sebelah selatan Inggris. Beruntung bagi mereka, siaran radio BBC memberitakan kalau cuaca sudah membaik pada pukul 2 dini hari sehingga rencana pelarian kapal-kapal itupun bisa dilanjutkan. Salah satu personil Israel yang bernama Mordecai Limon sengaja tetap tinggal di Cherbourg untuk membuat jejak palsu sehingga kapal-kapal tadi sempat dispekulasikan berlayar ke Benua Amerika. Dua hari kemudian, hilangnya kapal-kapal di Cherbourg akhirnya diketahui oleh wartawan lokal & langsung menghebohkan masyarakat internasional serta pemerintah Perancis.

Rute pelarian kapal Israel. (Sumber)
Militer Perancis awalnya berniat mengerahkan pesawatnya untuk menenggelamkan kapal-kapal tadi di tengah laut, namun niat tersebut dibatalkan oleh Perdana Menteri Jacques Chaban-Delmas yang tidak ingin memperkeruh keadaan. Sementara itu di Mediterania, pos militer Inggris di Gibraltar sempat mengontak kapal-kapal Israel yang melintas di dekatnya untuk mengumumkan identitasnya. Kendati kapal-kapal tadi tidak memberikan respon apa-apa, militer Inggris memutuskan untuk membiarkan armada kapal tadi pergi karena tidak menganggapnya sebagai ancaman. Tanggal 31 Desember, armada kapal tadi akhirnya tiba di pelabuhan Haifa di Israel setelah menempuh rute sejauh lebih dari 3.000 km.



SESUDAH "PENCURIAN"

Militer Israel tidak bisa langsung bersantai kendati sudah berhasil memastikan tibanya kapal-kapal tadi. Pekerjaan besar-besaran langsung dilakukan untuk memodifikasi kapal tadi supaya bisa memuat misil & perlengkapan militer lainnya. Beberapa tahun kemudian atau tepatnya pada bulan Oktober 1973, kapal-kapal tadi akhirnya mulai unjuk gigi dengan ikut terlibat dalam Perang Yom Kippur. Yang menjadi lawan mereka adalah armada kapal milik AL Suriah & Mesir yang dilengkapi dengan misil Styx buatan Uni Soviet.

Misil Gabriel milik Israel sebenarnya lebih inferior dalam hal jarak tembak kalau dibandingkan dengan misil Styx. Jika jangkauan misil Styx mencapai 45 km, maka jangkauan misil Gabriel tidak sampai separuhnya. Namun Israel dengan cerdik memodifikasi kapal-kapal miliknya supaya bisa mendakati kapal musuh tanpa terhantam oleh misil lawan. Hasilnya, armada kapal Israel berhasil menenggelamkan 6 kapal musuh dalam 2 pertempuran berbeda tanpa kehilangan kapal sama sekali. Berkat kesuksesan dalam rentetan pertempuran tadi, Israel berhasil mendapatkan logistik dari laut tanpa gangguan & AL Mesir serta Suriah tidak mau lagi bertindak terlalu agresif.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

GlobalSecurity.org - Sa'ar 1 / Sa'ar 2 / Sa'ar 3
J-Wire - Eyewitness account of Cherbourg
The Jerusalem Post - Escape from Cherbourg 



COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.