SEJARAH      FAUNA       HIBURAN

Kanem-Bornu, Monarki Bekas Penguasa Jantung Sahara




Ilustrasi mengenai suasana di lingkungan pemerintahan
Kanem-Bornu pada abad ke-18. (Sumber)

Sahara adalah nama dari padang gurun terbesar di dunia. Gurun tersebut terletak di bagian utara Benua Afrika & berbatasan dengan 3 lautan berbeda. Sebagai akibat dari iklimnya yang amat kering, Sahara pun menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kepadatan manusia terendah di dunia. Namun Sahara sendiri ternyata tidak benar-benar dihindari sepenuhnya oleh manusia. Pasalnya di wilayah ini pulalah, salah satu negara dengan riwayat terpanjang di Afrika pernah berdiri. Negara tersebut adalah Kekaisaran Kanem-Bornu.

Kanem-Bornu merupakan nama dari negara monarki yang pernah berdiri pada abad ke-8 hingga abad ke-19. Lokasinya berada di Gurun Sahara, tepatnya di sekeliling Danau Chad. Nama "Kanem" & "Bornu" pada kekaisaran ini berasal dari nama 2 kerajaan berbeda yang sejarahnya saling berkaitan. Awalnya Kanem-Bornu berdiri dengan nama Kanem saja. Ketika Kanem ditaklukkan oleh bangsa lain, keluarga kerajaan Kanem mengungsi & mendirikan negara baru yang bernama Bornu. Dari kerajaan baru itulah, mereka menaklukkan bekas wilayah Kanem & mendominasi wilayah Sahara tengah hingga keruntuhannya di tahun 1893.

Sumber utama yang digunakan para sejarawan untuk mempelajari sejarah Kekaisaran Kanem-Bornu adalah "diwan". Literatur resmi pemerintah Kanem-Bornu yang ditulis sejak abad ke-13 & berisi nama-nama raja di Kanem-Bornu beserta kisah-kisah terkait masa pemerintahan mereka. Keberadaan diwan sekaligus menjadikan Kanem-Bornu sebagai negara Sahara sebelum penaklukan bangsa Eropa dengan sumber sejarah tertulis yang paling melimpah. Selain dari diwan, informasi mengenai Kanem-Bornu juga datang dari cerita rakyat penduduk sekitar Danau Chad & catatan buatan penjelajah Arab di Abad Pertengahan.



SEJARAH

Berawal dari Perkampungan Suku Nomaden

Peta lokasi Danau Chad. (Sumber)
Bicara soal Kanem-Bornu, maka kita harus bicara soal asal-usul Kerajaan Kanem itu sendiri. Kerajaan Kanem diperkirakan pertama kali terbentuk pada abad ke-8 atau 9 di dekat Danau Chad. Menurut literatur Arab dari masa itu, Kanem didirikan oleh kelompok suku Zaghawa yang berhasil menyatukan kelompok-kelompok suku lain sekaligus melahirkan etnis baru yang bernama Kanembu. Dalam perkembangannya, masyarakat Kanembu secara berangsur-angsur meninggalkan pola hidup nomadennya & mendirikan kota Njimi di sebelah timur laut Danau Chad. Kota tersebut selanjutnya menjadi pusat pemerintahan Kanem.

Di masa-masa awal Kerajaan Kanem, dinasti yang berkuasa di kerajaan tersebut dikenal dengan sebutan Dinasti Duguwa & raja-rajanya menyandang gelar "mai". Namun sejak abad ke-11, Dinasti Duguwa digantikan oleh dinasti baru yang bernama Sayfawa. Menurut cerita rakyat & tulisan Ibnu Said di abad ke-13, pendiri Dinasti Sayfawa adalah orang Arab yang bernama Sayf ibn Dhi Yazan. Namun menurut versi yang lebih dipercaya oleh para sejarawan, yang merintis berdirinya Dinasti Sayfawa adalah Humai / Hummay, tokoh asli Kanem yang berpindah agama ke Islam.

Sejak Dinasti Sayfawa mulai berkuasa, praktik menulis memakai aksara Arab digunakan di sektor tata negara sehingga peristiwa-peristiwa yang terjadi di kerajaan tersebut menjadi lebih terdokumentasi. Kanem di bawah Dinasti Sayfawa juga semakin giat melakukan perluasan wilayah. Di masa pemerintahan Mai Dunama Dabbalemi pada tahun 1221 - 1259, wilayah Kanem sudah membentang hingga sejauh Fezza (Libya selatan) di sebelah utara, Kano (Nigeria timur) di sebelah barat, Wadai (Chad tengah) di sebelah timur, serta Adamawa (Kamerun) di sebelah selatan.

Setelah Dabbalemi wafat, konflik perebutan tahta mulai menggerogoti Kanem dari dalam. Tidak stabilnya kondisi pemerintah pusat lantas membuat daerah-daerah di luar Njimi berhenti membayar upeti. Ancaman bagi Kanem juga datang dari luar, tepatnya dari suku bangsa Bulala yang bermukim di sebelah timur Kanem. Antara tahun 1376 hingga 1400, Kanem dipimpin oleh 6 mai berbeda karena 5 di antaranya tewas dalam konflik melawan Bulala. Puncaknya adalah ketika pada tahun 1396, Mai Umar Idrismi terpaksa meninggalkan Njimi & mendirikan kerajaan baru di sebelah barat Danau Chad : Kerajaan Bornu / Borno.

Peta negara-negara pribumi yang pernah
berdiri di Sahara barat & tengah. (Sumber)
Seolah tidak mau belajar pengalaman, Bornu di masa-masa awal pembentukannya juga diguncang oleh konflik perebutan tahta. Di sepanjang abad ke-15, ada setidaknya 15 mai berbeda yang pernah memegang tahta. Periode ketidakstabilan tersebut baru berakhir setelah pada tahun 1472, Ali Dunamami menjadi mai Bornu yang baru usai menyingkirkan rival-rivalnya. Di bawah masa pemerintahannya pulalah, Bornu yang awalnya merupakan negara kacau bertransformasi menjadi kekuatan regional baru. Ia mendirikan Ngazargamu (sekarang terletak di Niger selatan) sebagai ibukota Bornu & menaklukkan kembali wilayah Kanem, sekaligus menandai dimulainya periode Kekaisaran Kanem-Bornu.


Masa Keemasan & Kemerosotan

Kendati sudah berhasil mendapatkan kembali wilayah Kanem, Dunamami tidak memindahkan pusat pemerintahan ke Kanem karena Bornu memiliki tanah yang lebih subur & Ngazargamu dilindungi oleh sistem perbentengan yang kuat. Sejak tahun 1571, Kanem-Bornu dipimpin oleh Mai Idris Aluma & di bawah pemerintahannya Kanem-Bornu mencapai masa keemasannya. Masjid-masjid dibangun & ia sendiri sempat melakukan perjalanan haji ke Mekkah. Para budak direkrut & dididik di lingkungan kekaisaran supaya nantinya bisa menjadi pejabat yang kompeten. Aliansi dengan klan-klan setempat diamankan melalui pernikahan antar klan & dilibatkannya tokoh-tokoh klan terkait ke dalam dewan penasihat.

Aluma juga dikenang berkat kehebatannya di sektor militer. Salah satu syair klasik bahkan menggambarkan Aluma sebagai tokoh yang memenangkan 330 perang & lebih dari 1.000 pertempuran. Kehebatan Aluma tidak lepas dari inovasi yang digunakannya di bidang militer. Pos-pos militer yang dilindungi oleh tembok didirikan. Taktik bumi hangus digunakan oleh pasukan Kanem-Bornu di sepanjang jalur yang mereka lewati. Berkat militernya yang kuat, Kanem-Bornu memperoleh pemasukan yang tidak sedikit dari penarikan upeti & harta rampasan perang.

Ilustrasi budak yang hendak
diperdagangkan. (Sumber)
Sumber pendapatan lain datang dari sektor perdagangan mengingat Kanem-Bornu terletak di antara jalur dagang yang menghubungkan Afrika Utara dengan Gurun Sahara timur. Komoditas ekspor utama Kanem-Bornu terdiri dari budak kulit hitam, natron (sejenis garam pengawet), kapas, biji kola, gading gajah, bulu burung unta, lilin, & kulit hewan. Sementara komoditas impornya mencakup kuda, garam, senapan, persenjataan logam, sutra, kaca, & tembaga. Untuk memudahkan para pedagang menempuh perjalanan jauh, sumur & oasis didirikan di sepanjang jalur antara Libya selatan dengan Danau Chad.

Aluma wafat pada tahun 1603. Namun berkat sistem kompleks yang sudah ia bangun, Kanem-Bornu bisa tetap mempertahankan statusnya sebagai negara adidaya di Gurun Sahara hingga abad ke-17. Hal yang bahkan tidak bisa dicapai oleh negara-negara Sahara tetangganya seperti Mali & Songhai. Namun sesudah periode tersebut, Kanem-Bornu mengalami penurunan kekuatan akibat gelombang bencana kelaparan, konflik dengan etnis-etnis luar seperti etnis Tuareg & Tudu, serta lepasnya wilayah-wilayah yang awalnya tunduk pada pemerintah pusat.

Memasuki permulaan abad ke-19, ancaman baru bagi Kanem-Bornu datang dari arah barat. Tepatnya dari etnis Fulani yang mendirikan Kesultanan Sokoto di wilayah modern Nigeria utara. Tahun 1808, pasukan Sokoto bahkan berhasil menaklukkan ibukota Ngazargamu. Mai Muhammad Al-Kanemi kemudian menjadikan Kukawa sebagai ibukota baru Kanem-Bornu sejak tahun 1814. Namun Kanem-Bornu pada periode ini sudah tidak lebih dari kerajaan kecil yang mendiami tepian Gurun Sahara. Tahun 1893, Kanem-Bornu akhirnya runtuh untuk selamanya usai ditaklukkan oleh pasukan pimpinan panglima Rabih Az-Zubayr yang berasal dari Sudan.



ASPEK-ASPEK DALAM KEKAISARAN

Politik & Administrasi

Sejak masa Kerajaan Kanem, raja / mai bertindak sebagai pemimpin tertinggi Kekaisaran Kanem-Bornu. Konsep pergantian tahta di Kanem-Bornu secara umum menggunakan sistem berbasis garis keturunan. Normalnya yang bertindak sebagai mai adalah putra tertua dari generasi keluarga tersebut. Mai memiliki beberapa istri di mana istri pertamanya dikenal dengan istilah "gumsu" & bertugas menangani urusan rumah tangga istana. Ibu mai dikenal dengan sebutan "magira" & memiliki kekuasaan atas sejumlah daerah bawahan / vassal.

Suasana kota Kukawa berdasarkan
ilustrasi penjelajah Jerman. (Sumber)
Mai juga memiliki dewan penasihat di mana praktik ini sudah berjalan sejak permulaan Dinasti Sayfawa. Keanggotaan dewan penasihat diisi oleh tokoh-tokoh yang tidak memiliki hubungan darah langsung dengan keluarga mai, namun memiliki pengaruh kuat di lingkungan kekaisaran (misalnya karena mereka berasal dari klan sekutu mai). Dua di antara anggota dewan penasihat yang diketahui adalah "mainin kenandi" (penasihat untuk bidang agama Islam) & "kaigama" (penasihan untuk bidang militer).

Kanem-Bornu menggunakan sistem pemerintahan yang berbeda untuk wilayah Bornu & wilayah luarnya. Di Bornu, sistem yang digunakan adalah sistem menyerupai feodalisme yang dikenal sebagai "chima". Daerah-daerah di Bornu masing-masingnya dikelola oleh seseorang yang menyandang sebutan "chima chidibe". Chima chidibe ini pada gilirannya tunduk pada "chima jilibe". Seorang chima jilibe bisa berkuasa atas beberapa chima sidibe sekaligus. Di luar Bornu, raja-raja lokal yang sudah berkuasa sejak sebelum ditaklukkan Kanem-Bornu tetap diperbolehkan bertahta selama mereka bersedia mengakui mai Kanem-Bornu sebagai atasannya.

Sebagai bagian dari masyarakat internasional, sudah barang tentu Kanem-Bornu menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan lain. Sejak masa pemerintahan Idris Aluma, Kanem-Bornu memiliki hubungan yang dekat dengan Kekaisaran Ottoman Turki. Kota Tripoli yang sekarang termasuk wilayah modern Libya menjadi lokasi di mana Kanem-Bornu menempatkan duta besarnya. Ottoman di lain pihak sempat mengirimkan 200 utusan diplomatiknya ke ibukota Kanem-Bornu. Hubungan dekat antara Ottoman & Kanem-Bornu berlangsung hingga runtuhnya Kanem-Bornu di abad ke-19.


Militer

Sebelum masa pemerintahan Idris Aluma, Kanem-Bornu tidak memiliki prajurit profesional. Pasukannya terdiri dari penduduk biasa yang hanya bisa diterjunkan saat musim kering tiba karena saat itu mereka sedang tidak sibuk mengurus ladangnya. Namun sejak Aluma berkuasa di tahun 1571, struktur militer Kanem-Bornu mengalami reformasi supaya bisa menjalankan fungsinya untuk menjaga keamanan & melakukan penaklukan ke wilayah sekitar. Selain untuk mendapatkan wilayah strategis & harta jarahan, kampanye militer Kanem-Bornu juga bertujuan untuk mendapatkan budak-budak kulit hitam yang nantinya bisa dijual.

Pasukan Kanem-Bornu. (Sumber)
Pasukan Kanem-Bornu di masa Idris Aluma secara garis besar terdiri pasukan infantri & kavaleri. Mereka berada di bawah kendali mai yang dibantu oleh kaigama. Infantri mereka berjumlah banyak & dilengkapi dengan tombak, perisai, serta panah. Lalu antara abad ke-16 hingga 17, Kanem-Bornu juga diperkuat oleh pasukan senapan didikan Ottoman. Kavaleri Kanem-Bornu jumlahnya mencapai 10.000 & terbagi menjadi kavaleri ringan serta berat yang dibedakan berdasarkan kelengkapan baju zirah yang digunakannya. Selain kuda, kavaleri Kanem-Bornu juga diperkuat oleh pasukan unta suku Berber yang berasal dari Afrika Utara.

Pasukan kavaleri memiliki peran yang amat vital dalam kampanye-kampanye militer Kanem-Bornu. Mobilitas mereka yang tinggi menjadikan pasukan kavaleri cocok untuk keperluan perang maupun patroli. Namun ketergantungan tinggi Kanem-Bornu terhadap pasukan berkuda juga memiliki dampak negatifnya sendiri. Seluruh kuda yang dimiliki oleh militer Kanem-Bornu harus diimpor dari luar. Pasukan kavaleri juga kurang cocok digunakan di wilayah hutan rimbun akibat medannya yang dipenuhi pepohanan & ancaman penyakit tidur dari lalat tse-tse. Itulah sebabnya batas wilayah kekuasaan Kanem-Bornu di sebelah selatan tidak pernah mencapai wilayah modern Afrika Tengah.

Kanem-Bornu bukan hanya memiliki pasukan darat. Mereka juga memiliki armada perahu kendati wilayahnya terletak jauh dari laut. Penyebabnya tidak lain karena di wilayah kekuasaan Kanem-Bornu, terdapat Danau Chad beserta rawa & sungai yang terhubung langsung dengan danau tadi. Keberadaan perairan darat di wilayah Kanem-Bornu tidak bisa dipandang remeh karena perairan tersebut tersebut berguna sebagai jalur transportasi & pemukiman padat penduduk banyak dijumpai di sekitar perairan. Pasukan perahu suku Kotoko menjadi andalan Kanem-Bornu di perairan darat, di mana mereka menggunakan perahu dayung berbentuk panjang.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



BIODATA NEGARA

Nama resmi : Kanem (hingga 1396), Bornu (sejak 1396)
Tahun aktif : > 701 - 1893
Ibukota : Njimi (hingga 1396), Ngazargamu (1396 - 1808), Kukawa (1814 - 1893)
Bentuk pemerintahan : monarki
Luas wilayah : bervariasi
Bahasa nasional : Kanembu, Kanuri



REFERENSI

Sam Houston State University - Early Chad and Kanem-Bornu
Hiribarren, V..2016. "Kanem-Bornu Empire". (file PDF)
Lange, D.. 1984. "General History of Africa" (hal. 238-251). UC Press, AS.
Watts, M.J.. 1983. "Silent Violence" (hal. 101-102). UC Press, AS.


COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

1 komentar:

  1. Bermanfaat sekali.. dari dulu suka penasaran dengan sejarah daerah terpencil di sahara, ternyata ada kerajaan dgn sejarah panjang jg disana

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.