SEJARAH      FAUNA       HIBURAN

Hajduk Split, Klub Pengibar Identitas Kroasia




Lukisan dinding yang menampilkan logo Hajduk Split. (Sumber)

Kroasia di ajang sepak bola dikenal sebagai pencetak pemain-pemain berbakat. Kendati sepanjang sejarahnya belum pernah memenangkan Piala Dunia maupun Piala Eropa, negara yang timnasnya mengenakan seragam bermotif kotak-kotak ini pernah menjadi juara ke-3 di Piala Dunia 1998. Dan seperti halnya negara-negara lain, Kroasia juga memiliki klub-klub sepak bolanya sendiri. Salah satu klub asal Kroasia yang cukup terkenal di dalam & di luar Kroasia adalah Hajduk Split.

HNK Hajduk Split adalah nama dari klub sepak bola yang bermarkas di kota Split, Kroasia selatan. Nama klub ini terinspirasi dari hajduk, sebutan untuk kawanan milisi yang aktif melakukan pemberontakan saat wilayah pesisir barat Kroasia masih dikuasai oleh Venezia & kemudian Austria-Hongaria. Dalam cerita-cerita rakyat setempat, hajduk kerap dicitrakan bak Robin Hood yang aktif melawan penguasa & merampok orang-orang kaya untuk membagi-bagikan hasil jarahannya kepada orang miskin.

Ide mengenai pembentukan Hajduk Split dimulai saat wilayah Kroasia masih berstatus sebagai bagian dari Kekaisaran Austria-Hongaria. Pada awal abad ke-20, sejumlah mahasiswa kelahiran Split yang mengenyam pendidikan di Praha (sekarang termasuk dalam wilayah Ceko) berminat untuk mendirikan klub sepak bola sendiri yang berbasis di kota Split usai menyaksikan pertandingan yang dimainkan oleh klub Slavia Praha.

Peta lokasi Split.
Awalnya para mahasiswa tadi kebingungan menentukan nama untuk klub baru mereka. Atas usulan dari Profesor Josip Barac, klub baru tersebut lantas mengadopsi nama "Hajduk" untuk menyimbolkan perjuangan rakyat Kroasia dalam mendapatkan kemerdekaan & membela yang lemah. Tanggal 13 Februari 1911, Hajduk Split resmi berdiri setelah pemerintah daerah Zadar memberikan persetujuan resmi. Hajduk Split memainkan pertandingan pertamanya melawan sesama klub lokal Calcio Spalato. Pertandingan tersebut berakhir dengan kemenangan 9-0 untuk Hajduk.

Tahun 1918, Kroasia menjadi bagian dari Yugoslavia menyusul runtuhnya Austria-Hongaria di akhir Perang Dunia I. Sejak tahun 1923, Hajduk mengikuti Turnamen Nasional yang diikuti oleh tim-tim dari seantero Yugoslavia. Di musim keduanya, Hajduk nyaris saja memenangkan trofi perdananya, namun mereka gagal menjadi juara usai dikalahkan Jugoslavija di partai final. Kegagalan tersebut berhasil ditebus Hajduk beberapa tahun kemudian dengan menggondol trofi Turnamen Nasional di tahun 1927. Setelah kembali menjadi juara ke-2 di tahun 1928, Hajduk kembali berhasil memenangkan turnamen musim berikutnya.

Tahun 1941, Yugoslavia ditaklukkan oleh Blok Poros yang terdiri dari Jerman & sekutunya. Pasca penaklukan, wilayah Yugoslavia kemudian dipecah-pecah & kawasan pesisir Dalmatia (termasuk Split) berada di bawah kendali Italia. Hajduk kemudian diundang untuk ikut serta dalam turnamen Liga Italia. Karena Hajduk didirikan atas sentimen kemerdekaan, tawaran tersebut ditolak oleh petinggi Hajduk. Pemerintah Italia lantas membalasnya dengan cara membubarkan Hajduk, mengambil alih stadionnya, & mendirikan klub baru yang bernama SC Spalato.



MENCARI PELITA DALAM PERANG

Para pemain Hajduk (baju putih) jelang
pertandingan melawan tim militer
Inggris di Bari. (Sumber)
Hajduk sendiri tidak benar-benar menghilang sepenuhnya pada periode ini. Pemain-pemain Hajduk yang berhasil melarikan diri keluar Kroasia mencoba melanjutkan aktivitas klub ini. Saat pasukan Sekutu berhasil menduduki wilayah Italia selatan di tahun 1944, Hajduk melakukan pertandingan persahabatan melawan tim militer Inggris di kota Bari. Pertandingan tersebut secara spektakuler berhasil menarik 40.000 penonton sekaligus kian melambungkan reputasi Hajduk di Eropa.

Tahun 1945, Perang Dunia II berakhir dengan kekalahan Blok Poros & dikuasainya Yugoslavia oleh kelompok komunis Partisan. Pemimpin Yugoslavia lantas mengundang Hajduk ke ibukota Beograd untuk menjadi sayap olah raga resmi militer Yugoslavia. Namun tawaran tersebut lagi-lagi ditolak oleh petinggi Hajduk. Sementara itu di luar Yugoslavia, Charles De Gaulle selaku pemimpin pasukan Sekutu Perancis menganugerahi Hajduk sebagai "Tim Kehormatan Perancis Merdeka" pasca pertandingan persahabatan di Lebanon (saat itu masih berstatus sebagai koloni Perancis).

Tahun 1946, Hajduk menjuarai turnamen sepak bola negara bagian Kroasia, sehingga Hajduk berhak ikut serta dalam musim perdana Liga Federal Yugoslavia yang dimulai di tahun yang sama. Hajduk harus menunggu hingga tahun 1950 untuk menjadi juara Liga Yugoslavia. Penantian yang cukup panjang tersebut kian terasa manis karena Hajduk secara fenomenal berhasil menjadi juara liga tanpa menelan 1 pun kekalahan.

Tanggal 28 Oktober 1950, para suporter Hajduk mendirikan organisasi suporter dengan nama "Torcida". Organisasi tersebut sekaligus menjadi organisasi suporter tertua di Eropa yang masih berdiri hingga sekarang. Ide untuk mendirikan Torcida sendiri muncul setelah sejumlah pemuda asal Split menyaksikan Piala Dunia 1950 Brazil. Merasa terkesan dengan antusiasme suporter Brazil dalam turnamen tersebut, mereka pun kemudian berinisiatif mendirikan organisasi suporter untuk klub kota mereka sendiri.

Torcida di tahun 2016. (Sumber)
Musim 1952/53 oleh Hajduk dianggap sebagai musim yang paling kontroversial. Kondisi yang dispekulasikan tercipta karena Hajduk & suporternya dianggap sebagai ancaman bagi pemerintah pusat Yugoslavia yang ingin membungkam fanatisme etnis & golongan. Berawal dari berlangsungnya jeda kompetisi musim dingin, Hajduk terbang ke Argentina untuk melakukan rangkaian pertandingan persahabatan di sana. Atas permintaan dari pemerintah Argentina & Yugoslavia, masa tur yang dijalani Hajduk diperpanjang menjadi beberapa pertandingan.

Otoritas sepak bola Yugoslavia di lain pihak ternyata menolak untuk memberikan dispensasi kepada Hajduk. Mereka tetap menggelar paruh kedua liga sesuai jadwal awal sehingga Hajduk harus melakukan pertandingan di Yugoslavia dengan hanya bermodalkan pemain-pemain tim junior. Dampaknya Hajduk gagal meraih kemenangan di saat tim utamanya masih absen. Ketika liga musim 1952/53 berakhir, Red Star Beograd / Crvena Zvezda keluar sebagai juara liga dengan keunggulan 2 poin atas Hajduk.



PERIODE KEEMASAN PASCA SKANDAL

Keanehan kembali berlanjut di musim berikutnya. Di musim tersebut, sejumlah pemain kunci Hajduk dijatuhi larangan bertanding selama beberapa pekan dengan alasan keduanya terlambat mengikuti sesi latihan timnas Kroasia. Dampaknya, performa Hajduk di liga kembali terganggu & Dinamo Zagreb pada akhirnya berhasil keluar sebagai juara liga di musim 1953/54. Merasa begitu geram akan kondisi ini, Frane Matosic selaku mantan pemain Hajduk nekat menerobos masuk ke ruang rapat federasi sepak bola Yugoslavia & mengecam mereka semua.

Skuad Hajduk di musim 1973/74. (Sumber)
Hajduk kembali tertimpa musibah di musim 1965/66, namun kali ini penyebabnya adalah akibat ulah mereka sendiri. Di musim tersebut, poin Hajduk di klasemen liga dipangkas sebanyak 5 poin karena Hajduk ketahuan menyogok klub Zelzjeznicar supaya klub asal Bosnia tersebut bersedia mengalah dalam pertandingan melawan Hajduk di musim 1963/64. Larangan berpartisipasi dalam semua kegiatan sepak bola juga diterima oleh para petinggi klub, sehingga performa masing-masing klub ikut terpengaruh & keduanya mengakhiri musim dengan hanya berjarak tipis dari zona degradasi.

Dekade 1970-an kerap dianggap sebagai periode keemasan Hajduk. Selama periode ini, Hajduk berhasil menyabet 4 gelar liga & 5 trofi Piala Yugoslavia. Yang lebih fenomenal lagi adalah semua trofi piala yang dimenangkan pada periode ini berhasil diraih selama 5 musim berturut-turut. Tahun 1979, Hajduk yang selama ini menggunakan Stari Plac sebagai stadion kandangnya memutuskan untuk pindah ke Poljud. Sekarang, Poljud masih menjadi stadion kandang Hajduk & stadion berkapasitas 35.000 penonton tersebut kini menjadi salah satu stadion terbesar di Kroasia.

Tahun 1991, Hajduk maju ke final Piala Yugoslavia untuk menantang Red Star. Di atas kertas, Red Star lebih diunggulkan karena tim asal kota Beograd tersebut baru saja berhasil memasuki babak final Piala Champions Eropa. Namun hal tersebut toh tidak membuat Hajduk merasa gentar. Mereka berhasil mengalahkan Red Star dengan skor tipis 1-0. Trofi ini sekaligus menjadi trofi terakhir yang diraih oleh Hajduk sebagai bagian dari Yugoslavia. Pasalnya di tahun yang sama, Kroasia memerdekakan diri dari Yugoslavia sebelum kemudian terjerumus ke dalam perang.

Stadion Poljud. (Sumber)
Untuk merayakan kemerdekaan Kroasia sekaligus menghidupkan kembali identitas lama klub, Hajduk melakukan penggantian pada logo klubnya. Jika sebelumnya Hajduk menggunakan simbol bintang merah, maka sejak periode ini Hajduk menggunakan motif papan catur berwarna merah & putih yang juga merupakan motif khas bangsa Kroasia. Sejak periode ini pulalah, Hajduk tampil dalam kompetisi Liga Kroasia & tidak pernah keluar dari posisi 2 besar hingga tahun 1997.

Memasuki permulaan abad ke-20, Hajduk masih menunjukkan keperkasaannya dengan menjuarai liga di tahun 2001, 2004, serta 2005. Namun sesudah itu, kesalahan manajemen & krisis finansial berdampak pada merosotnya performa klub. Dengan bermodalkan suntikan dana dari perusahaan lokal & asosiasi suporter Hajduk, klub yang bersangkutan perlahan-lahan mencoba bangkit & meraih kembali kejayaan lamanya. Sekarang Hajduk menjadi contoh nyata mengenai bagaimana sebuah klub sepak bola mengusung identitas daerahnya sambil beradaptasi dengan gejolak sosial politik di sekitarnya.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

HNK Hajduk Split - 1911-1920
HNK Hajduk Split - 1921-1930
HNK Hajduk Split - 1941-1950
HNK Hajduk Split - 1951-1960
HNK Hajduk Split - 1971-1980
HNK Hajduk Split - 2001-present
Rough Guides - Hajduk Split
Royal Blue Mersey - Hajduk Split : A History.... 
RSSSF - Yugoslavia - List of Final Tables 
The Stadium Guide - Stadion Poljud
Wikipedia - 1965-66 Yugoslav First League
Wikipedia - HNK Hajduk Split
B. Perasovic & M. Mustavic. "Football, Politics, and Cultural Memory". (file PDF)


COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.