SEJARAH      FAUNA       HIBURAN

Perang Anglo-Zulu, Kerikil Tajam Inggris di Afrika Selatan




Lukisan mengenai Pertempuran Isandlwana. (Sumber)

Zulu adalah nama dari kelompok etnis yang berasal dari Afrika Selatan (Afsel) & sekitarnya. Di masa silam, mereka juga terkenal karena pernah memiliki negara kerajaan sendiri yang bernama Zulu / Zululand. Dari segi luas wilayah, Kerajaan Zulu memang terbilang kecil. Namun mereka memiliki reputasi yang sangat disegani di dalam & luar Afrika berkat ketrampilan prajuritnya di medan tempur. Bahkan negara macam Inggris yang memiliki banyak wilayah jajahan di seluruh dunia sempat dibuat kewalahan oleh pasukan Zulu.

Konflik antara militer Inggris & Zulu dikenal dengan istilah Perang Anglo-Zulu (Anglo-Zulu War). Perang yang berlangsung pada tahun 1879 ini dipicu oleh keinginan Inggris untuk menjadikan wilayah ujung selatan Afrika sebagai wilayah kekuasaannya. Awalnya rencana tersebut nyaris saja berantakan, setelah pasukan mereka yang sudah dilengkapi dengan senjata api berhasil dikalahkan oleh pasukan Zulu yang hanya menggunakan persenjataan tradisional. Namun seiring berjalannya waktu, keadaan di medan perang berbalik & Inggris akhirnya berhasil keluar sebagai pemenang.



LATAR BELAKANG

Wilayah Afsel di tahun 1870-an terdiri dari daerah-daerah koloni Inggris (salah satunya Cape Colony), negara-negara bentukan imigran Boer, & kerajaan-kerajaan pribumi Afrika. Zulu yang terletak di wilayah timur Afsel adalah nama dari salah satu kerajaan pribumi tersebut. Bagi Inggris, Afrika Selatan merupakan wilayah yang cukup penting karena tanahnya kaya akan berlian & lokasinya strategis dalam jalur pelayaran yang menghubungkan Samudera Atlantik dengan Hindia.

Peta Afrika Selatan di abad ke-19.
Lokasi Kerajaan Zulu ditandai
dengan tulisan Zululand. (Sumber)
Tahun 1877, Sir Bartle Frere ditunjuk menjadi gubernur baru Cape Colony. Ia diminta menyatukan negara-negara di Afsel supaya tunduk kepada pemerintah Inggris. Batu sandungan terbesar bagi Frere dalam mewujudkan ambisi tadi adalah Kerajaan Zulu yang kekuatan militernya begitu disegani oleh negara-negara tetangganya. Kebetulan Zulu sendiri saat itu tengah terlibat sengketa perbatasan dengan Transvaal, negara Boer yang sejak tahun 1877 bersedia menjadi negara bawahan Inggris.

Tanggal 11 Desember 1878, Inggris mengirimkan surat peringatan kepada Cetshwayo - raja Zulu - supaya ia membubarkan militernya & meletakkan mahkotanya. Inggris juga memberikan tenggat waktu hingga tanggal 11 Januari 1879 supaya Cetshwayo mematuhi peringatan tersebut. Namun deklarasi peringatan tersebut sebenarnya hanyalah taktik untuk mengesankan kalau Inggris tidak serta merta menggunakan jalur militer untuk memerangi Zulu. Selama periode pergantian tahun, Inggris secara diam-diam mempersiapkan militernya untuk menaklukkan Zulu. Ketika batas waktu tadi sudah lewat, militer Inggris memulai invasinya ke wilayah Zulu.



BERJALANNYA PERANG

Senapan Dilawan Tombak


Di atas kertas, pasukan Inggris nampaknya bakal menang mudah atas pasukan Zulu. Sebabnya adalah jika pasukan Inggris sudah dilengkapi dengan senapan Martini-Henry & meriam artileri, maka prajurit Zulu hanya dilengkapi dengan tombak pendek (iklwa) & tameng yang terbuat dari kulit hewan. Pasukan Inggris juga sudah makan asam garam dalam perang-perang besar yang terjadi di Benua Eropa & Amerika. Namun Perang Anglo-Zulu adalah perang yang sama sekali berbeda karena wilayah Afsel merupakan wilayah yang masih asing bagi pasukan Inggris.

Untuk keperluan invasinya, Inggris memecah pasukannya menjadi 3 kolom yang bergerak dari arah berbeda. Pertempuran pertama terjadi pada tanggal 12 Januari ketika kolom tengah pasukan Inggris berpapasan dengan pasukan Zulu di Lembah Batshe. Pasukan Zulu sempat mencoba membela diri dengan cara menjatuhkan batu-batu besar dari puncak tebing, namun pada akhirnya mereka terpaksa mundur setelah 30 prajuritnya tewas. Kolom tengah pasukan Inggris lalu melanjutkan perjalanan ke arah Zulu & mendirikan perkemahan di Bukit Isandlwana pada tanggal 20 Januari.

Raja Zulu, Cetshwayo. (Sumber)
Tanggal 22 Januari, pasukan kolom tengah Inggris diserang oleh sejumlah prajutit Zulu. Mengira kalau serangan tersebut dilakukan oleh pasukan inti Zulu, sebagian pasukan Inggris kemudian mengejar pasukan Zulu tadi. Alangkah terkejutnya pasukan tersebut ketika yang mereka temukan kemudian ternyata adalah pasukan Zulu berjumlah 20.000 personil yang sedang beristirahat. Jauh lebih banyak dibandingkan pasukan kolom tengah Inggris yang jumlah personilnya tidak sampai 2.000 personil.

Salah seorang prajurit Inggris tadi kembali ke perkemahannya untuk melaporkan apa yang sudah mereka lihat. Namun bukannya membangun barikade pertahanan di sekeliling perkemahan, komandan pasukan di perkemahan Inggris malah kembali mengirimkan sebagian pasukannya ke lokasi pasukan Zulu tadi. Kalah jauh dalam hal jumlah, pasukan bala bantuan tadi berhasil dikalahkan & jumlah prajurit Inggris yang masih tersisa semakin menyusut.

Pasukan Zulu yang berjumlah setidaknya 10.000 personil akhirnya tiba di dekat perkemahan Inggris. Saat menyerbu perkemahan pasukan musuhnya, pasukan Zulu menggunakan formasi "tanduk kerbau". Bagian "tanduk" alias sisi kiri & kanan formasi pasukan Zulu melaju lebih dulu untuk memecah konsentrasi pasukan Inggris & mencegah mereka melarikan diri. Di saat pasukan Inggris sibuk menahan serangan dari bagian "tanduk", bagian "kepala" alias sisi tengah formasi pasukan Zulu melaju ke depan untuk melancarkan serangan pamungkasnya.

Kalah jumlah & terjepit dari segala arah, yang terjadi selanjutnya adalah pembantaian pasukan Inggris oleh para prajurit Zulu. Sebanyak lebih dari 1.300 prajurit Inggris tewas dalam pertempuran ini. Pasukan Zulu sebenarnya menderita korban tewas yang jumlahnya lebih banyak (sekitar 2.000 jiwa). Namun karena sedari awal pasukan mereka berjumlah lebih banyak, Pertempuran Isandlwana berakhir dengan kemenangan gemilang pasukan Zulu


Peta Pertempuran Isandlwana. (Sumber)


Zulu yang Tidak Lagi Beruntung

Sebanyak 4.000 prajurit Zulu yang tidak ikut bertempur di Isandlwana kemudian dikirim ke wilayah Natal, koloni Inggris yang berada tepat di sebelah selatan Kerajaan Zulu. Di perbatasan, mereka berpapasan dengan pos militer Rorke's Drift yang hanya dilindungi oleh 150 prajurit Inggris. Pasukan Zulu mencoba menaklukkan pos militer tersebut. Namun karena pasukan Zulu tidak bisa mengalahkan pasukan senapan Inggris yang menembaki mereka dari balik tembok penghalang, pasukan Zulu terpaksa mundur.

Sementara itu di luar Natal, begitu kabar mengenai Pertempuran Isandlwana sampai ke pasukan kolom kiri, Kolonel Evelyn Wood selaku komandan pasukan tersebut memerintahkan pasukannya untuk menghentikan invasi & mendirikan perkemahan sementara di Kraal yang posisinya relatif mudah dipertahankan. Di kolom kanan, kendati mereka tidak sampai dibantai seperti pasukan kolom tengah, perkemahan yang mereka dirikan di Eshowe & berjarak tidak jauh dari pantai timur Afrika berada dalam kondisi terkepung.

Pasukan Zulu. (Sumber)
Pemerintah pusat Inggris baru menerima kabar mengenai kekalahan di Pertempuran Isandlwana pada tanggal 11 Februari. Merasa tertampar karena kerajaan kecil yang mereka anggap primitif ternyata bisa mengalahkan negara sebesar Inggris, pemerintah Inggris pun memerintahkan pengiriman bala bantuan ke Afsel. Bala bantuan tersebut baru tiba di Afsel pada awal bulan Maret. Namun kedatangan mereka tidak serta merta mengubah keadaan karena pasukan Zulu masih memberikan perlawanan gigih di Pertempuran Intombe & Hlobane.

Titik balik bagi pasukan Inggris baru terjadi pada tanggal 29 Maret di Kambula. Pada tanggal tersebut, pasukan Inggris yang hanya berjumlah 2.000 prajurit berhasil melindungi perkemahannya dari serbuan lebih dari 20.000 prajurit Zulu. Pasukan tersebut kemudian dikirim ke Eshowe untuk membantu pasukan Inggris yang terkepung di sana sejak bulan Januari. Mereka sempat dicegat oleh pasukan Zulu di Gingindlovu, namun serangan tadi berhasil dipatahkan & pengepungan pasukan Zulu di Eshowe berhasil dihentikan.

Rentetan kemenangan yang berhasil diraih oleh pasukan Inggris membuat raja Zulu mulai berkeringat dingin. Maka, pada bulan Juni ia berulang kali menawarkan perundingan damai kepada Bartle Frere selaku gubernur Cape Colony. Namun tawaran perundingan damai tersebut tidak diindahkan oleh Frere, yang hendak mendongkrak reputasinya sendiri pasca kekalahan memalukan di Isandlwana. Sementara itu di medan konflik, pasukan Inggris sudah berhasil menerobos masuk ke wilayah Zulu & siap melancarkan serangan penghabisan.

Tanggal 4 Juli, pasukan Zulu yang berkekuatan 15.000 personil menyerang pasukan Inggris di Ulundi sebagai bentuk perlawanan terakhir. Namun bak laron yang terbang beramai-ramai ke arah api, prajurit Zulu bertumbangan 1 demi 1 usai menerima hujan tembakan dari pasukan Inggris yang sudah dilengkapi dengan senapan mesin Gatling. Cetshwayo selaku raja Zulu sempat melarikan diri ke hutan seusai pertempuran, namun ia berhasil ditangkap pada bulan Agustus. Ditangkapnya Cetshwayo sekaligus menandai berakhirnya perlawanan Zulu.



KONDISI PASCA PERANG

Meriam senapan Gatling. (Sumber)
Inggris tidak berniat membubarkan Kerajaan Zulu seusai perang. Namun Inggris juga sadar kalau Zulu bakal kembali memberontak di kemudian hari jika tidak ada tindakan yang diambil. Maka, Inggris pun menggunakan taktik pecah belah untuk memastikan agar Zulu tetap lemah & mudah dikendalikan. Wilayah Zulu dibagi ke dalam 13 daerah yang masing-masingnya dipimpin oleh kepala suku dengan kemandirian memerintah yang luas. Rencana Inggris tersebut berjalan terlalu lancar. Tanpa butuh waktu lama, Zulu langsung terjerumus ke dalam perang saudara.

Saat Inggris merasa tidak sanggup lagi meredakan konflik di Zulu, Inggris membebaskan Cetshwayo dari penjara & membiarkannya kembali menjadi raja Zulu pada tahun 1883. Namun tindakan ini gagal meredakan konflik di Zulu karena sekarang tokoh-tokoh penentang Cetshwayo sudah terlanjur memiliki kedudukan kuat di wilayah Zulu. Akibatnya, saat Cetshwayo belum lama menjabat sebagai raja, ia sudah menjadi sasaran percobaan pembunuhan & terpaksa melarikan diri keluar Zulu sebelum kemudian wafat di tahun berikutnya.

Posisi Cetshwayo sebagai raja kemudian digantikan oleh putranya, Dinuzulu. Untuk melindungi dirinya dari pihak-pihak yang menentang kekuasaannya, Dinuzulu menjalin kesepakatan dengan negara Transvaal. Transvaal bersedia memberikan bantuan militer kepada Dinuzulu. Sebagai gantinya, sebagian wilayah Zulu harus diserahkan kepada Transvaal. Namun dijalankannya kesepakatan tersebut ganti menuai rasa tidak suka dari Inggris yang ingin menjaga supaya negara-negara Boer tetap lemah & tidak memiliki akses ke laut. Maka, pada tahun 1887 Inggris menaklukkan Zulu & meleburnya dengan daerah koloni Natal.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : 1879
    - Lokasi : Afrika Selatan

2. Pihak yang Bertempur

    (Negara)  -  Inggris
          melawan
    (Negara)  -  Zulu

3. Hasil Akhir
    Kemenangan pihak Inggris

4. Korban Jiwa
    - Inggris : 1.902 jiwa
    - Zulu : 6.930 jiwa



REFERENSI

BritishBattles.com - Battle of Isandlwana
GlobalSecurity.org - Anglo-Zulu War - 1879
Historic UK - Timeline of the Anglo-Zulu War
Old British Guns - The Gatling Gun
South African History Online - Anglo-Zulu Wars 1879-1896
Wikipedia - Anglo-Zulu War
 - . 2008. "Cetshwayo". Encylopaedia Britannica, Chicago, AS.


COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.