SEJARAH      FAUNA       HIBURAN

Sejarah Kampanye Pemusnahan Burung Gereja di Cina




Poster pemerintah Cina yang mengilustrasikan
suasana perburuan burung gereja. (Sumber)

Siapa yang tidak kenal dengan burung gereja (sparrow)? Burung kecil yang masih tergolong dalam keluarga burung pipit ini sangat mudah ditemukan di mana-mana. Di sejumlah tempat, orang bahkan dengan sengaja membuatkan bangunan kecil supaya bisa digunakan oleh burung ini untuk makan, minum, & bahkan mandi. Kendati perilaku burung ini terlihat menggemaskan, burung ini juga dibenci oleh kaum petani karena kebiasaannya hinggap di padi untuk memakan bulirnya. Atas pertimbangan inilah, burung ini sempat dibasmi hingga nyaris punah di daratan Cina.

Untuk mengetahui bagaimana fenomena tersebut bisa terjadi, maka kita harus mundur dulu hingga beberapa dekade silam. Pada tahun 1950, perang sipil di Cina daratan berakhir dengan kemenangan pihak komunis. Rezim komunis Cina yang baru berdiri memiliki ambisi mengubah Cina menjadi negara yang mandiri di segala bidang & memiliki sektor industri yang maju. Untuk mewujudkan hal tersebut, pada tahun 1958 pemimpin Cina mengumumkan rencana pembangunan jangka panjang yang dikenal dengan sebutan "Lompatan Jauh ke Depan" (Da Yuejin; Great Leap Forward).

Poster yang menampilkan hewan-hewan
sasaran pembasmian dalam "Kampanye
Empat Hama". (Sumber)
Sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang coba dipacu oleh pemerintah Cina. Selain mengubah sistem kepemilikan lahan & menambah jam kerja para petani, Mao Zedong selaku pemimpin Partai Komunis Cina (PKC) juga memerintahkan pembasmian hewan-hewan yang dianggapnya sebagai hama. Burung gereja menjadi salah satu hewan yang menjadi sasaran pembasmian. Pasalnya menurut perhitungan ilmuwan Cina pada masa itu, setiap ekor burung gereja mengkonsumsi 4,5 kg biji gandum setiap tahunnya. Mereka lantas menyimpulkan bahwa jika setidaknya 1 juta ekor burung gereja berhasil dibunuh, bakal tersedia cukup makanan untuk 60.000 orang.

Hasil penelitian tersebut lantas dijadikan patokan oleh pemerintah Cina untuk menyatakan "perang" terhadap burung gereja. Namun burung gereja sendiri bukanlah satu-satunya hewan yang menjadi sasaran pembasmian pemerintah Cina. Mao juga memerintahkan supaya tikus, nyamuk, & lalat dibasmi secara massal. Kampanye pembasmian keempat hewan tersebut kemudian dikenal dengan sebutan "Kampanye Empat Hama" (Da Maque Yundong; Four Pests Campaign). Supaya kampanye ini bisa terlaksana sebaik mungkin, semua orang - termasuk anak-anak sekolah - dikerahkan untuk membantu kegiatan pembasmian.



DIMULAINYA PEMBUNUHAN MASSAL

Anda tentu sudah tahu kalau burung gereja memiliki kebiasaan untuk terbang jika merasa terganggu. Lantas, bagaimana cara mereka membasmi burung gereja? Jawabannya adalah dengan memakai bunyi-bunyian keras. Penduduk di seantero Cina diminta pergi ke luar sambil membawa panci & wajan, lalu memukulnya keas-keras supaya burung gereja menjadi takut & tidak berani hinggap di tempat tersebut. Karena kelelahan akibat dipaksa terbang terus-menerus, burung-burung itupun jatuh ke tanah sehingga lebih mudah untuk dibunuh.

Menggunakan bunyi-bunyian keras bukanlah satu-satunya cara yang digunakan untuk memusnahkan burung-burung gereja di Cina daratan. Penelusuran juga dilakukan untuk menemukan sarang-sarang burung gereja supaya telurnya bisa dihancurkan & anaknya bisa dibunuh. Jebakan yang dilengkapi dengan umpan & racun dipasang sambil diawasi oleh anak-anak & orang lanjut usia. Selain mengawasi jebakan, anak-anak juga berpatroli sambil membawa ketapel untuk menembak jatuh burung. Sementara mereka yang sudah dewasa bersiaga di lokasi-lokasi tertentu sambil memegang senapan.

Bangkai burung gereja korban
pembasmian. (Sumber)
Kampanye pembasmian tersebut berjalan dengan sangat lancar karena adanya iming-iming kalau hasil panen akan meningkat jika populasi burung gereja berhasil dilenyapkan. Menurut salah satu artikel yang diterbitkan oleh surat kabar Shanghai, lebih dari 190 ribu ekor burung gereja mati hanya dalam kurun waktu sehari pada tanggal 13 Desember. Diperkirakan sebanyak ratusan juta ekor burung gereja mati selama program pembasmian berlangsung. Namun antusiasme tersebut nantinya tidak berlangsung lama karena sesudah itu, bencana yang jauh lebih besar sudah siap menerkam.

Burung gereja memang gemar memakan biji-bijian. Namun ternyata itu bukanlah satu-satunya makanan mereka. Burung gereja juga gemar memakan serangga, khususnya pada musim kawin & pada saat burung gereja memerlukan makanan yang kaya protein untuk anak-anaknya. Di sinilah masalah mulai timbul. Karena populasi burung gereja yang ada di Cina sudah menurun tajam, maka tidak ada lagi hewan predator bagi serangga-serangga yang biasa memakan tanaman pangan manusia. Sebagai akibatnya, populasi serangga hama tersebut meledak tak terkendali.



MENJADI SENJATA MAKAN TUAN

Dampak dari fenomena tersebut sudah bisa ditebak. Sejak awal dekade 1960-an, lahan-lahan pertanian di seantero Cina menjadi korban amukan serangga hama semisal belalang. Padahal sektor pertanian Cina sendiri pada waktu itu sedang mengalami masa-masa sulit. Pasalnya sebagai bagian dari kebijakan Lompatan Jauh ke Depan, Mao memerintahkan supaya sebagian petani beralih profesi menjadi pandai besi & melebur alat-alat pertaniannya untuk dijadikan bijih besi. Bencana kekeringan yang terjadi di tahun 1960 kian memperparah situasi, sehingga bencana kelaparan pun timbul di kawasan pedesaan.

Tidak diketahui berapa jumlah persis bencana kelaparan yang terjadi di Cina pada awal dekade 1960-an. Menurut taksiran resmi pemerintah Cina, bencana kelaparan yang terjadi selama periode tersebut menewaskan 15 juta jiwa. Namun menurut sumber-sumber lain, bencana kelaparan tersebut aslinya menewaskan lebih banyak orang. Menurut laporan jurnalis Cina yang bernama Yang Jisheng, ada setidaknya 36 juta orang yang tewas akibat kelaparan. Estimasi lain menyebut kalau jumlah korban mencapai lebih dari 70 juta jiwa.

Warga korban bencana
kelaparan. (Sumber)
Timbulnya fenomena kelangkaan bahan pangan tersebut lantas membuat mereka yang masih hidup mencoba bertahan dengan segala cara. Menurut penjelasan Yang seperti yang dikutip oleh situs NPR, orang-orang sampai nekat memakan anggota keluarganya sendiri di sejumlah tempat. Hal yang lebih memilukan lagi adalah, jumlah korban tewas akibat bencana ini sebenarnya bisa dikurangi secara signifikan karena pemerintah Cina masih memiliki timbunan benih tanaman pangan di gudangnya. Namun pemerintah Cina justru lebih memilih untuk mengekspor stok benih tersebut untuk mengisi kas negara.

Sadar kalau gerakan pembasmian burung gereja ternyata malah menjadi senjata makan tuan, Mao pun memerintahkan supaya burung-burung gereja di Cina berhenti diburu. Kendati demikian, Kampanye Empat Hama sendiri tetap dilanjutkan hingga tahun 1962, di mana tungau kini menjadi 1 dari 4 hewan hama yang harus dibasmi. Pasca berhentinya perburuan massal, populasi burung gereja di Cina secara berangsur-angsur kembali meningkat. Sementara hubungan Mao dengan tokoh-tokoh PKC mengalami ketegangan akibat kegagalan program Lompatan Jauh ke Depan, sehingga Mao kemudian mengumandangkan "Revolusi Budaya" di tahun 1966 untuk memperkuat kembali kedudukannya di dalam negeri.   -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

Animal Diversity Web - Passeriedae : Information
Chinese Posters - Eliminate the Four Pests
io9 - China’s Worst Self-Inflicted Environmental Disaster
Mother Nature Network - The Great Sparrow Campaign was....
2008. "Great Leap Forward". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.


COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.