SEJARAH      FAUNA       HIBURAN

Laba-Laba Pasir, Pembunuh Manusia yang Mahir Berkamuflase




(Sumber)

Laba-laba & racun adalah 2 hal yang tak terpisahkan. Pola pikir yang sungguh wajar, mengingat hampir seluruh spesies laba-laba menghasilkan racun. Alasan laba-laba memiliki racun erat kaitannya dengan perilaku makan laba-laba itu sendiri. Saat hendak makan, laba-laba akan menggunakan racunnya tersebut untuk membunuh mangsanya & melelehkan jaringan tubuh mangsanya mengingat laba-laba tidak bisa mencerna makanan dalam wujud padat. Selain untuk makan, laba-laba juga bisa menggunakan racunnya untuk melindungi diri dari musuhnya.

Kendati hampir semua laba-laba memiliki racun, hanya sebagian kecil di antaranya yang berbahaya bagi manusia. Satu dari sedikit laba-laba tersebut adalah laba-laba pasir bermata 6 (six-eyed sand spider; Sicarius hahni). Nama itu sendiri diberikan karena laba-laba ini memang memiliki 6 bintik mata & hidup di habitat yang dipenuhi pasir. Selain dengan nama tadi, spesies laba-laba ini juga dikenal dengan nama lain "laba-laba kepiting bermata 6" (six-eyed crab spider) karena tubuhnya yang pipih & kakinya yang memanjang ke samping bak kaki kepiting.

Laba-laba pasir saat memakan
serangga. (Sumber)
Laba-laba pasir hanya ditemukan di kawasan gurun Afrika bagian selatan. Panjang tubuhnya mencapai hampir 2 cm dengan rentang kaki mencapai 5 cm. Jika dibandingkan dengan spesies laba-laba lain semisal janda hitam (black widow) atau tarantula, laba-laba pasir memang kalah terkenal. Namun jangan sekali-kali meremehkan laba-laba ini. Pasalnya menurut hasil studi toksikologi, laba-laba pasir merupakan salah satu laba-laba paling beracun di dunia! Jika seseorang sampai tergigit oleh laba-laba ini, maka sel-sel darah korban bakal terurai & jaringan tubuhnya bakal mengalami pembusukan (nekrosis). Jika racun yang masuk sudah mencapai dosisi tertentu, maka orang yang bersangkutan bisa kehilangan nyawanya.

Sejauh ini baru ada 2 kasus gigitan pada manusia yang diduga kuat dilakukan oleh laba-laba pasir. Kendati terlihat sedikit, kedua kasus tersebut sama-sama menunjukkan bagaimana mengerikannya efek gigitan laba-laba pasir. Dalam kasus pertama, korban harus kehilangan salah satu lengannya akibat pembusukan usai digigit. Sementara dalam kasus kedua, korban meninggal dunia akibat mengalami pendarahan internal. Hal yang lebih memusingkan lagi adalah tidak seperti racun laba-laba janda hitam, racun laba-laba pasir masih belum ada penawarnya.

Kendati laba-laba pasir sepintas terlihat sungguh menakutkan, manusia tidak perlu terlalu khawatir pada laba-laba ini. Pasalnya laba-laba pasir hanya mendiami kawasan gurun & daerah berpasir yang jarang dihuni oleh manusia. Saat merasa terganggu, laba-laba ini lebih memilih untuk diam sambil memanfaatkan warnanya yang serupa dengan lingkungan sekitar untuk berkamuflase. Kalaupun laba-laba ini menggigit, gigitannya tidak selalu berdampak fatal karena kadang laba-laba ini hanya sekedar menggigit tanpa menyuntikkan racunnya.

Selain untuk melindungi diri, laba-laba pasir juga memanfaatkan teknik kamuflasenya untuk berburu. Jika dibandingkan dengan spesies laba-laba lain, teknik berburu laba-laba pasir bisa dikatakan "malas" karena saat hendak berburu, laba-laba ini hanya sekedar mengubur dirinya di bawah permukaan pasir dengan memanfaatkan tubuhnya yang pipih. Untuk membuat kamuflasenya kian sempurna, sekujur tubuh laba-laba pasir dipenuhi oleh rambut kecil bernama "setae". Berkat keberadaan setae, partikel-partikel pasir yang berukuran mini bakal tetap menempel pada tubuh laba-laba kendati ia tidak sedang mengubur diri.

Laba-laba pasir dilihat dari dekat. (Sumber)
Laba-laba pasir mendapatkan makanannya dengan cara menunggu sambil bersembunyi. Saat mangsanya melintas, laba-laba pasir secara tiba-tiba muncul ke permukaan tanah & menyergap mangsanya. Mangsa laba-laba pasir sendiri terdiri dari hewan-hewan invertebrata kecil seperti serangga & kalajengking. Karena habitat utama laba-laba pasir adalah kawasan gurun yang notabene jarang dihuni oleh makhluk hidup & pasokan airnya terbatas, laba-laba pasir pun harus bisa beradaptasi dalam kondisi ekstrim. Saat makanan tengah sulit didapat, laba-laba pasir bisa hidup tanpa makan & minum hingga berbulan-bulan.

Masa perkawinan adalah masa yang mendebarkan bagi laba-laba jantan karena ia beresiko dimakan oleh betina pasangannya saat melakukan perkawinan. Oleh karena itulah, saat hendak melakukan perkawinan, laba-laba jantan bakal mendekati betina sambil mengendap-endap. Lalu sesudah menyalurkan spermanya, laba-laba jantan bakal segera pergi secepat mungkin. Sesudah kawin, betina akan menyimpan telur-telurnya dalam semacam kantong yang terbuat dari benang. Di dalam kantong itulah, telur-telur tersebut bakal menetas menjadi laba-laba muda. Seekor laba-laba pasir bisa hidup hingga usia 15 tahun. Usia yang tergolong amat panjang untuk ukuran laba-laba.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



KLASIFIKASI

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Arachnida
Ordo : Araneae
Famili : Sicariidae
Genus : Sicarius
Spesies : Sicarius hahni / Hexophthalma hahni



REFERENSI

Animal Corner - Six Eyed Sand Spider
Biodiversity Explorer - Sicarius


COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.