Jangkrik Lava, Serangga Penunggu Gunung Berapi



Jangkrik lava di atas lahar yang sudah membeku. (Alan Cressler / atlasobscura.com)

Magma adalah sebutan untuk lumpur atau batuan cair panas yang terletak di bawah permukaan Bumi. Saat magma merembes keluar permukaan Bumi lewat kawah gunung berapi, magma tersebut dikenal dengan sebutan lava / lahar. Karena suhunya yang amat tinggi, lava bisa merusak apapun di sepanjang jalur yang dilewatinya. Jika lava sudah mendingin, maka lava tersebut akan berubah menjadi batuan beku.

Dengan melihat sifat destruktif yang dimiliki oleh lava, tidak mengherankan jika hewan-hewan yang ada di jalur aliran lava akan langsung melarikan diri ke tempat lain. Kemudian saat lava sudah membeku, kawasan tersebut akan tetap nampak seperti lingkungan yang mati akibat tidak adanya hewan & tumbuhan yang nampak. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk hewan yang satu ini. Pasalnya bukannya menjauh, hewan ini justru menjadikan lava sebagai tempat tinggalnya.

Hewan yang dimaksud di sini adalah jangkrik lava (lava cricket; Caconemobius fori). Sesuai dengan namanya, jangkrik lava adalah sejenis jangkrik yang menjadikan lava gunung berapi sebagai habitat utamanya.

Membaca kalimat di atas, mungkin anda bakal langsung mengerutkan kening. Lava merupakan material yang amat panas, jadi bagaimana caranya jangkrik ini bisa hidup di sana? Jawabannya adalah jangkrik ini memang tidak hidup pada lava yang masih membara, melainkan pada lava yang sudah mendingin.

Jangkrik lava hanya dapat ditemukan di Kepulauan Hawaii, khususnya di sekitar gunung berapi aktif. Penduduk Hawaii sendiri menyebut jangkrik ini dengan nama "uhini nene pele". Kendati serangga ini sudah lama diketahui oleh penduduk lokal, keberadaan jangkrik ini baru diketahui oleh kalangan ilmuwan pada tahun 1974. Di tahun tersebut, rombongan ilmuwan yang dipimpin oleh Frank Howarth berpapasan dengan kawanan jangkrik lava ketika sedang menyusuri lava beku di sekitar Gunung Kilauea.

Merasa tertarik untuk mempelajari serangga tersebut, mereka kemudian memasang jebakan berupa botol kosong yang diisi dengan umpan keju. Hasilnya, setelah menunggu selama 6 hari, Frank & rekan-rekannya berhasil menangkap 153 ekor jangkrik lava. Empat tahun kemudian alias pada tahun 1978, jangkrik lava akhirnya selesai diidentifikasi & diberi nama ilmiahnya sendiri : Caconemobius fori.

Lava yang sudah membeku di Taman Nasiona Gunung Berapi Hawaii. (istockphoto.com)

Keunikan dari jangkrik lava bukan hanya ada pada habitatnya. Serangga ini juga memiliki penampilan yang tidak kalah unik. Jika jangkrik pada umumnya memiliki sayap, maka jangkrik lava dewasa tidak memilikinya sehingga serangga ini pun tidak bisa terbang. Dan karena tidak memiliki sayap, jangkrik jantan nampaknya juga tidak bisa menyanyi / mengerik karena jangkrik jantan biasanya membuat nyanyian dengan cara menggesek-gesekkan sayapnya.

Siklus hidup jangkrik lava erat kaitannya dengan aktivitas vulkanis di kawasan setempat. Saat gunung berapi baru saja meletus, aliran lavanya akan menghancurkan apapun yang dilintasinya. Sesudah itu, lavanya secara perlahan-lahan akan membeku. Saat itulah, jangkrik lava akan menampakkan diri di tempat tersebut untuk memakan tumbuhan yang sudah mati. Selain sisa-sisa tanaman, serangga ini juga hidup dari memakan buih lautan yang banyak mengandung protein.

Jangkrik lava adalah hewan nokturnal yang berarti hewan ini baru aktif pada malam hari. Populasi jangkrik lava cenderung terkonsentrasi di cekungan darat karena di lokasi macam itu, makanan lebih mudah ditemukan akibat terkumpul usai terbawa angin.

Jangkrik lava hanya dapat ditemukan maksimum 3 bulan sesudah gunung berapi meletus. Periode di mana belum ada tanaman yang tumbuh di lokasi bekas letusan. Saat tanaman mulai bersemi kembali di lokasi bekas letusan, jangkrik lava menghilang kembali ke persembunyiannya.

Keunikan jangkrik lava bukan hanya ada pada habitatnya yang ekstrim & wujudnya yang tidak bersayap. Jangkrik lava juga memiliki perilaku kawin yang bisa dibilang sadis. Saat melakukan perkawinan, jangkrik lava betina akan menggigit kaki pejantan & menghisap cairan tubuhnya. Jumlah cairan tubuh pejantan yang dihisap oleh betina bisa mencapai 8 persen dari berat tubuh pejantan.

Tindakan sadis betina mungkin dimaksudkan untuk memberikan nutrisi tambahan bagi betina sebelum mengeluarkan telur-telurnya. Dan karena jangkrik lava pada dasarnya adalah sejenis jangkrik, hewan ini menjalani metamorfosis tidak sempurna yang berarti siklus hidupnya hanya terdiri dari 3 fase : telur, nimfa, & dewasa. Selebihnya, masih belum banyak yang diketahui ilmuwan mengenai jangkrik ini, termasuk mengenai usia maksimumnya.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



KLASIFIKASI

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Orthoptera
Famili : Gryllidae
Genus : Caconemobius
Spesies : Caconemobius fori



REFERENSI

 - . 2008. "Lava". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

Howart, F.G.. 1979. "Neogeoaeolian Habitats on Hawaiian Lava Flows".
(hbs.bishopmuseum.org/pi/pdf/20%282%29-133.pdf)

Imbler, S.. 2019. "A Peek Inside the Extremely Metal Life of Lava Crickets".
(www.atlasobscura.com/articles/extreme-life-lava-cricket)

P. Myers, dkk.. "Caconemobius fori".
(animaldiversity.org/accounts/Caconemobius_fori/classification/)

Price, M.. 2019. "For these intrepid crickets, Hawaii's lava is home sweet home".
(www.science.org/content/article/these-intrepid-crickets-hawaii-s-lava-home-sweet-home)
  





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.