SEJARAH  •  FAUNA  •  HIBURAN





6 April 2019


Kepiting Petinju, Cheerleader dari Bawah Laut



(Sumber)

Kepiting petinju (boxer crab) adalah nama dari sejenis kepiting laut yang berukuran kecil. Kepiting ini memperoleh nama demikian berkat keahlian uniknya dalam membela diri (mengenai kemampuan bela dirinya tersebut akan dibahas di bagian lain artikel ini). Ada 10 spesies kepiting petinju yang sudah diketahui oleh manusia & mereka semua digolongkan dalam genus Lybia. Dalam artikel ini sendiri, pihak Republik akan fokus membahas kepiting petinju dari spesies Lybia tesselata. Spesies kepiting petinju yang juga dikenal dengan nama "kepiting petinju mosaik" (mozaic boxing crab).

Kepiting petinju mosaik memiliki persebaran habitat yang luas. Mereka dapat ditemukan di Samudera Hindia & Pasifik. Mulai dari perairan Mozambik di sebelah barat hingga Kepulauan Cook di sebelah timur. Serta mulai dari perairan sekitar Jepang & Hawaii di sebelah utara, hingga perairan Indonesia di sebelah selatan. Perairan yang dihuni oleh kepiting ini biasanya memiliki suhu rata-rata 24 derajat Celcius dengan kedalaman maksimum 20 m & dipenuhi oleh terumbu karang.

Walaupun memiliki persebaran yang luas & tubuh yang berwarna mencolok, kepiting petinju merupakan hewan yang cukup sulit untuk ditemukan di habitat aslinya. Selain karena kepiting ini memang berukuran kecil (panjang maksimumnya hanya sekitar 2,5 cm), alasan kenapa kepiting ini jarang terlihat adalah karena kepiting ini baru aktif dalam kondisi cahaya redup & bersikap sangat waspada terhadap kondisi sekitarnya. Pada habitat tertentu, coraknya yang berbentuk belang-belang juga menyebabkan kepiting ini jadi sulit dibedakan dari lingkungan sekitarnya.

Kepiting petinju yang sedang tidak
membawa anemon. (Sumber)
Sekarang mari kita membahas soal alasan mengapa hewan ini diberi nama "kepiting petinju". Sebagai akibat dari ukurannya yang kecil, kepiting petinju nampak tidak berdaya saat harus melindungi dirinya sendiri dari ancaman hewan predator yang berukuran lebih besar. Untuk mengakalinya, kepiting petinju lantas menempelkan anemon kecil pada masing-masing capitnya. Karena anemon pada capit kepiting nampak seperti pom-pom yang biasa dibawa oleh pemandu sorak / cheerleader, kepiting petinju juga dikenal dengan nama lain "kepiting pom-pom" (pom-pom crab).

Pengunjung tentunya sudah tahu kalau anemon memiliki tentakel yang beracun di bagian atasnya. Tentakel inilah yang digunakan oleh kepiting petinju untuk melindungi dirinya. Saat hewan pemangsa kepiting mendekat, kepiting petinju akan langsung menyerang hewan tadi dengan memakai anemon di capitnya. Begitu terkena racun anemon, hewan yang tadinya hendak memakan kepiting petinju akan langsung merasa kesakitan & kemudian membatalkan niatnya. Dan karena gerakan kepiting ini saat menyerang musuhnya terlihat seperti orang yang sedang meninju, kepiting ini pun mendapatkan sebutan "kepiting petinju".

Bukan hanya kepiting petinju yang mendapatkan manfaat dari kebiasaannya memegang anemon memakai capitnya. Anemon yang dipegang oleh kepiting juga mendapatkan keuntungan tersendiri. Pasalnya karena kepiting ini memiliki kebiasaan membawa anemon di capitnya ke manapun ia pergi, anemon yang bersangkutan akan selalu dibawa ke tempat yang makanannya masih melimpah & kualitas airnya masih bagus. Karena keduanya sama-sama diuntungkan, hubungan antara kepiting petinju & anemon bisa dikategorikan sebagai simbiosis mutualisme.



ANEMON YANG SERBA GUNA

Kepiting petinju adalah hewan omnivora alias pemakan segala. Namun makanan favorit kepiting ini biasanya berupa bangkai hewan yang teronggok di dasar laut. Untuk menemukan lokasi makanannya, kepiting petinju mengandalkan senyawa bau yang terbawa oleh arus air. Selain hewan yang sudah mati, kepiting ini juga bisa menangkap hewan kecil dengan cara melumpuhkannya memakai anemon yang ia bawa di capitnya. Bak petinju yang memukul korbannya hingga tak sadarkan diri.

Spesies Lybia edmondsoni di atas
 tangan manusia. (Sumber)
Kepiting petinju bukan hanya bisa menggunakan anemonnya untuk menangkap mangsa & melindungi diri. Ia juga bisa menggunakan anemonnya untuk memegang serpihan makanan & memasukannya ke mulut. Jika makanannya berukuran terlalu besar, kepiting petinju akan menggunakan pasangan kaki terdepannya untuk mencabik-cabik makanan. Dengan cara itu, kepiting petinju bisa makan tanpa harus melepaskan anemon dari capitnya.

Kepiting petinju jantan & betina dapat dibedakan dengan melihat bagian bawah tubuhnya. Jika pejantan memiliki pleon / lempeng perut berbentuk sempit & menyerupai segitiga, maka betina memiliki pleon berbentuk lebar & menyerupai setengah lingkaran. Alasan mengapa betina memiliki pleon yang ukurannya lebih lebar adalah karena betina menggunakan pleonnya untuk mengangkut telur. Perkawinan antar kepiting petinju terjadi ketika pejantan melepaskan spermanya ke arah betina yang sedang mengangkut telur. Jika spermanya bertabrakan dengan telur, telur yang bersangkutan selanjutnya akan mengalami perkembangan.

Waktu yang dibutuhkan oleh telur kepiting petinju untuk menetas setelah dibuahi oleh sperma adalah sekitar 2 minggu. Selama periode tersebut, betina akan makan seperti biasa sambil membawa telur-telurnya. Namu dalam kurun waktu 3 hari sebelum telurnya menetas, betina akan mencari tempat yang tersembunyi untuk berlindung. Saat waktu bagi telur-telurnya menetas sudah tiba, betina akan mencari permukaan yang tinggi di bawah air & kemudian melepaskan larva yang sudah menetas secara beramai-ramai. Waktu yang dibutuhkan oleh betina untuk melepaskan seluruh larvanya bisa sampai berjam-jam, di mana setiap jamnya jumlah larva yang dilepaskan bisa mencapai 250 ekor.

Larva kepiting / zoea yang baru menetas selanjutnya akan hidup terombang ambing mengikuti arus laut layaknya plankton. Sesudah mencapai tahap pertumbuhan tertentu, zoea akan berubah menjadi larva megalop yang bentuknya menyerupai kepiting berekor sebelum kemudian berubah menjadi kepiting muda. Karena cangkang kepiting petinju tidak ikut bertambah besar saat kepitingnya bertumbuh, anak kepiting petinju harus melakukan pergantian kulit secara teratur. Saat berganti kulit, kepiting petinju juga bisa menumbuhkan kembali anggota badannya yang terputus.

Kepiting petinju dari spesies
Lybia tesselata. (Sumber)
Sebagai akibat dari warnanya yang terkesan indah & perilakunya yang unik, kepiting petinju pun mulai banyak dipelihara oleh hobiis akuarium air asin. Memelihara kepiting ini sendiri pada dasarnya tidaklah sulit karena kepiting ini tidak memerlukan akuarium yang luas selama akuarium tempatnya dipelihara memiliki pencahayaan yang redup, suhu yang stabil, & dilengkapi dengan bebatuan. Namun karena kepiting petinju memiliki ukuran yang kecil, kepiting ini sebaiknya tidak dipelihara bersama dengan ikan-ikan laut yang ukurannya lebih besar & bersifat karnivora.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



KLASIFIKASI

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Subfilum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Famili : Xanthidae
Genus : Lybia
Spesies : Lybia tesselata



REFERENSI

Blue Zoo Aquatics - Lybia tessellata - Pom Pom Crab
Maidenhead Aquatics - Boxer Crab
Science Learning Hub - Crab life cycle
Tropical Fish Hobbyist Magazine - A Champion Fighter
Wikipedia - Lybia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.