Perang Sipil Aljazair, Bergolaknya Negara Raksasa Afrika Utara



Suasana ibukota Aljir pasca kerusuhan di tahun 1998. (Sumber)

Jika kita melihat peta Benua Afrika yang dibuat sesudah tahun 2011, maka kita akan mendapati Aljazair sebagai negara terbesar di benua tersebut. Selain berkat wilayahnya yang luas, Alljazair juga terkenal karena orang-orang keturunan negara ini banyak yang sukses menjadi pesepak bola papan atas dengan memegang kewarganegaraan Perancis, contohnya Karim Benzema. Namun, Aljazair juga memiliki sejarah gelapnya sendiri karena negara ini pernah diguncang oleh perang saudara yang berlangsung selama 1 dasawarsa.

Perang sipil Aljazair (Algeria civil war; guerre civile Algerienne) adalah perang saudara yang terjadi di negara Aljazair pada tahun 1992 hingga 2002. Konflik ini mempertemukan militer Aljazair melawan kelompok-kelompok pemberontak anti-pemerintah yang berhaluan Islamisme. Selain berkonflik melawan pemerintah, kelompok-kelompok pemberontak ini juga saling terlibat konflik satu sama lain. Akibat perang ini, ratusan ribu penduduk Aljazair dilaporkan kehilangan nyawanya & negara ini sempat dijauhi oleh warga asing yang khawatir akan menjadi sasaran penculikan serta pembunuhan.



LATAR BELAKANG

Tahun 1963, Aljazair yang selama ini berada di bawah jajahan Perancis akhirnya berhasil meraih kemerdekaannya. Pasca merdeka, Aljazair menjadi negara dengan gaya pemerintahan yang menjurus otoriter karena Aljazair hanya mengizinkan 1 partai politik untuk eksis, yaitu partai Front de Liberation Nationale (FLN; Front Pembebasan Nasional). Namun menyusul timbulnya krisis ekonomi & demonstrasi nasional, pemerintah Aljazair terpaksa melakukan perubahan konstitusi pada tahun 1989.

Poin terpenting dari perubahan konstitusi Aljazair pada tahun 1989 adalah diperbolehkannya partai-partai politik selain FLN untuk berdiri. Situasi tersebut tidak disia-siakan oleh kubu Islamis setempat yang merupakan salah satu kubu paling vokal dalam kegiatan demonstrasi menuntut perbaikan ekonomi & perubahan politik.

Peta Aljazair / Algeria. (Sumber)

Maka, pada tanggal 18 Februari 1989 berdirilah partai politik berhaluan Islam dengan nama Front Islamique du Salut (FIS; Front Penyelamatan Islam). Hanya dalam waktu yang sangat singkat, FIS berhasil tumbuh menjadi partai berbasis agama terbesar di Aljazair. Tahun 1990, pemilu daerah multipartai berdasarkan konstitusi baru akhirnya digelar. Hasilnya, FIS berhasil memenangkan pemilu dengan perolehan suara lebih dari 50%.

Setahun kemudian, FIS kembali keluar sebagai pemenang - kali ini dalam pemilu legislatif nasional putaran pertama. Kemenangan beruntun FIS tersebut langsung mengundang kekhawatiran dari FLN yang dipastikan gagal melanjutkan hegemoninya sebagai kubu paling berkuasa di Aljazair jika hasil pemilu ini jadi diterapkan.

Bulan Januari 1992, militer Aljazair yang selama ini dikenal sebagai pendukung utama FLN memutuskan untuk membatalkan penyelenggaraan pemilu putaran kedua. Presiden Chadli Bendjedid dipaksa mengundurkan diri & posisi kepala pemerintahan dipegang oleh para petinggi militer. FIS lalu ditetapkan sebagai kelompok terlarang & status darurat militer diberlakukan di seantero negeri. Merasa tidak memiliki pilihan lain, para simpatisan FIS lantas beralih ke metode kekerasan bersenjata sehingga pecahlah perang saudara di Aljazair.


Logo FIS. (Sumber)


BERJALANNYA PERANG

Kekerasan Dibalas Kekerasan

Tidak lama sesudah FIS ditetapkan sebagai kelompok terlarang, ribuan anggota kelompok tersebut ditangkap oleh aparat Aljazair. Masjid menjadi salah satu gedung publik yang menjadi sasaran utama penyerbuan aparat Aljazair. Begitu banyaknya anggota FIS yang ditangkap sehingga kamp-kamp konsentrasi harus didirikan khusus untuk menampung mereka.

FIS lantas membalasnya dengan menyerang gedung-gedung milik pemerintah, khususnya gedung kepolisian & kantor militer. Selain anggota FIS, aparat Aljazair juga menangkap puluhan wartawan. Di tahun yang sama dengan penetapan FIS sebagai kelompok terlarang, beberapa anggota Islamis Aljazair yang memiliki pengalaman tempur di Afganistan memutuskan untuk membentuk kelompok perlawanan baru yang bernama Groupe Islamique Arme (GIA; Tentara Bersenjata Islam).

Dibandingkan dengan FIS, sepak terjang GIA terkesan lebih membabi buta karena mereka tidak hanya menargetkan anggota pemerintahan, tapi juga penduduk sipil (termasuk anak-anak sekolah) yang tidak sejalan dengan mereka. Dan tidak seperti FIS yang aktivitasnya terkonsentrasi di kawasan timur & barat Aljazair, aktivitas GIA terkonsentrasi di sekitar ibukota Aljir.

Tahun 1993, para simpatisan bersenjata FIS & kelompok-kelompok milisi anti-pemerintah lainnya setuju untuk melebur membentuk kelompok baru yang bernama Arme Islamique du Salut (AIS; Tentara Penyelamatan Islam). Tujuan utama pembentukan AIS adalah agar FIS bisa memperjuangkan kepentingan mereka lewat jalur diplomasi, sementara AIS yang difungsikan sebagai sayap militer dari FIS bisa membantu menekan pemerintah Aljazair lewat jalur perjuangan bersenjata.

AIS juga dibentuk untuk memerangi GIA karena metode perjuangan GIA sudah dianggap kelewat batas. Munculnya GIA & semakin terorganisirnya para milisi non-GIA membuat intensitas perang sipil Aljazair semakin meningkat. Berdasarkan pernyataan resmi pemerintah, lebih dari 200 anggota pemberontak tewas setiap bulannya sepanjang tahun 1994.

Anggota GIA. (Sumber)

Di tahun yang sama atau tepatnya pada bulan Desember 1994, dunia juga sempat dikejutkan oleh aksi pembajakan pesawat maskapai Perancis oleh anggota GIA. Pembajakan tersebut berhasil diatasi oleh pasukan anti-teror GIGN di Marseille, Perancis. Namun akibat peristiwa tersebut, tidak ada lagi maskapai penerbangan asing yang mau melayani rute ke Aljazair.

Semakin kacaunya kondisi dalam negeri Aljazair memaksa pemerintah Aljazair untuk segera melakukan sesuatu demi memperbaiki situasi. Maka, pada tahun 1995 pemerintah Aljazair menggelar pemilu presiden yang nantinya berhasil dimenangkan oleh Lamine Zeroual, tokoh militer senior Aljazair.

Penyelenggaraan pemilu itu sendiri ditentang oleh sejumlah partai politik karena tidak mengikutsertakan FIS. Kendati demikian, kemenangan Zeroual tetap dianggap sah & ia kini menjadi presiden baru Aljazair.


Terpecahnya GIA & Terbukanya Jalan Menuju Perdamaian

Kembali ke medan konflik. Tindakan GIA yang menargetkan warga sipil sebagai sasaran pembantaian membuat kelompok tersebut mulai dilanda konflik internal. Sebagai akibatnya, pada tahun 1998 para anggota GIA yang tidak setuju dengan kebijakan membantai warga sipil lantas menarik diri & membentuk kelompok baru yang bernama Groupe Salafiste pour la Predication et le Combat (GSPC; Kelompok Salafis untuk Khotbah & Pertempuran) dengan Hassan Hattab sebagai pemimpinnya.

Tahun 1999, Aljazair kembali menggelar pemilu presiden - lebih cepat 2 tahun dari jadwal yang seharusnya. Seperti halnya pemilu di tahun 1995, pemilu di tahun 1999 ini juga diwarnai kontroversi karena adanya tuduhan kecurangan dari sejumlah partai politik. Sebagai tindak lanjut atas tuduhan tersebut, para calon presiden Aljazair - kecuali Abdelaziz Bouteflika - beramai-ramai menarik diri dari pemilu.

Abdelaziz Bouteflika.

Kendati demikian, pelaksanaan pemilu presiden tetap dilanjutkan tanpa perubahan di mana Bouteflika berhasil keluar sebagai pemenang & naik sebagai presiden baru Aljazair. Tidak lama usai terpilih, Bouteflika mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mengakhiri perang sipil & menstabilkan kembali kondisi dalam negeri Aljazair.

Salah satu kebijakan terpenting Bouteflika adalah mengeluarkan amnesti (pengampunan hukum) kepada para anggota pemberontak jika mereka bersedia menyerahkan senjatanya & kembali ke kehidupan normal. Hasilnya efektif. Sekitar 85% anggota pasukan pemberontak dilaporkan setuju untuk menerima amnesti.

Bouteflika juga membentuk komisi nasional untuk memperbaiki sistem pengadilan & birokrasi dalam negeri. Pasca keluarnya kebijakan amnesti massal, masih ada sebagian kecil anggota GIA & GSPC yang aktif beroperasi. Mereka inilah yang kemudian menjadi sasaran operasi militer Aljazair.

Upaya Aljazair menjadi semakin mudah setelah Amerika Serikat (AS) memberikan bantuan perangkat militer & membekukan aset milik GIA serta GSPC di luar negeri sebagai bagian dari kampanye "Perang Melawan Teror". Bulan Februari 2002, militer Aljazair dilaporkan berhasil menewaskan pemimpin GIA, Antar Zouabri. GIA memang sempat mengangkat pemimpin baru sesudah itu, namun aktivitas bersenjata GIA bisa dikatakan sudah tidak terlihat lagi.


Militer Aljazair yang sedang berpatroli. (Sumber)


KONDISI PASCA PERANG

Sebagai tindak lanjut untuk mengatasi dampak perang sipil, pemerintah Aljazair mengajukan proposal piagam perdamaian & rekonsiliasi nasional. Beberapa poin penting dari piagam tersebut adalah pengampunan hukum kepada semua anggota pemberontak serta aparat yang terlibat dalam kejahatan perang & pemberian uang ganti rugi kepada keluarga korban.

Referendum nasional untuk menentukan pengesahan piagam tersebut digelar pada bulan September 2005. Hasilnya, lebih dari 97% rakyat Aljazair menyetujui pengesahan piagam tersebut & poin-poin dalam piagam itupun mulai dijalankan.

Perang sipil Aljazair yang berlangsung selama 10 tahun membawa korban jiwa yang tidak sedikit. Sekitar 200.000 orang dilaporkan kehilangan nyawanya & 15.000 lainnya dilaporkan menghilang akibat diculik.

Tingginya korban tewas salah satunya disebabkan oleh taktik GIA yang secara sengaja menjadikan warga sipil sebagai sasaran pembantaian. Taktik yang juga turut berkontribusi atas berkurangnya dukungan kepada GIA sehingga kelompok tersebut terus melemah & akhirnya bisa ditumpas oleh militer Aljazair.

Kendati perang sipil Aljazair sudah berakhir sejak tahun 2002, pemerintah Aljazair masih enggan mencabut status darurat militer negara. Sebagai akibatnya, pemerintah Aljazair (utamanya militer) memiliki keleluasaan untuk melarang aktivitas demonstrasi & membatasi kebebasan berpendapat rakyatnya. Baru pada tahun 2011, pemerintah Aljazair bersedia mencabut status darurat militer menyusul timbulnya gelombang aksi demonstrasi "Musim Semi Arab" yang juga turut merambat ke Aljazair.

Pasukan GSPC / AQIM. (Sumber)

Baik AIS maupun GIA sudah tidak aktif lagi sesudah perang sipil Aljazair. Namun lain halnya dengan GSPC yang masih aktif melakukan perlawanan bersenjata kendati mereka hanya melakukannya dalam intensitas yang rendah.

Tahun 2003, GSPC bahkan mendeklarasikan dirinya sebagai salah satu cabang jaringan ekstrimis internasional Al-Qaeda & mengganti namanya menjadi "Al-Qaeda in the Islamic Maghreb" (AQIM; Al-Qaeda di Maghrib Islam). Sejauh ini, aktivitas AQIM didominasi oleh penculikan warga asing untuk mendapatkan tebusan.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

Waktu & Lokasi Pertempuran
- Waktu : 1992 - 2002
- Lokasi : Aljazair

Pihak yang Bertempur
(Negara)  -  Aljazair
         melawan
(Grup)  -  AIS, milisi-milisi pro-FIS
        melawan
(Grup)  -  GIA, GSPC

Hasil Akhir
- Kemenangan pihak Aljazair
- Konflik skala kecil masih berlanjut hingga sekarang oleh GSPC / AQIM

Korban Jiwa
Sekitar 200.000 jiwa



REFERENSI

Algeria-Watch - Chronologie d’une tragedie cachee - 1992
Algeria-Watch - Chronologie d’une tragedie cachee - 1994
Al-Jazeera - Uncovering Algeria's civil war
GlobalSecurity.org - Algerian Insurgency
GlobalSecurity.org - Islamic Salvation Movement (FIS)
Reuters - Algeria lifts 19-year-old state of emergency
Wikipedia - Algerian national reconciliation referendum, 2005
Wikipedia - Al-Qaeda in the Islamic Maghreb
Wikipedia - Armed Islamic Group of Algeria

 




COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

6 komentar:

  1. terimakasih..
    infonya cukup lengkap. tapi knapa nggak bs di copy yak ? hehe

    BalasHapus
  2. Konflik sipil di afrika selalu punya kesamaan,membentuk kelompok milisi bersenjata,ada yg pecah membentuk kelompok baru. Heran nya dapat senjata & amunisi dari mana ya kok gak habis konflik nya.

    BalasHapus
  3. Apa yg mereka perebut kan di tanah tandus ?kekuasaan seperti apa yang mereka inginkan?Apakah karena kebodohan,sehingga mereka saling bunuh antar saudara.zaman sudah modern,tetapi otak dan akal mereka selamanya jahiliyah.hanya Allah s.w.t yang akan memberi petunjuk dan kedamain untuk mereka sumua.Amin.....

    BalasHapus
  4. Memang perang itu bikin sengsara manusia,tapi tanpa perang manusia mau makan apa????perang tak ada di dunia, industri mobil,besi, pupuk dan lain lain akan bangkrut karena tak ada permintaan produk alat perang.

    BalasHapus
  5. Request, admin RET untuk membuat artikel mengenai sepak terjang Front Islamique du Salut (FIS) atau Groupe Islamique Arme (GIA). Seperti artikel RET mengenai Katipunan (Filiphina), MILF (Filiphina), Pathet Lao (Laos), Khmer Rouge (Kamboja), Anshar Dine (Mali), Al Qaeda, ISIS dan lain-lain

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.