CARI

Perang Somaliland, Ketika Somalia Utara Ingin Merdeka



Somaliland war memorial
Tugu peringatan Perang Somaliland di kota Hargeisa. (joepyrek / wikimedia.org)

Pernah mendengar nama "Somaliland"? Sebagian dari pengunjung mungkin akan mengerutkan kening saat membaca kata tadi & mengira kalau kata tersebut adalah hasil salah tulis dari kata "Somalia".

Nama Somaliland & Somalia terdengar mirip karena keduanya memang memiliki kaitan yang erat. Jika Somalia adalah nama dari sebuah negara yang terletak di Afrika, maka Somaliland adalah nama dari sebuah wilayah di Somalia utara yang mengklaim dirinya sebagai negara merdeka.

Somaliland bisa memiliki status yang demikian unik sebagai dampak dari Perang Somaliland yang pernah melanda wilayah tersebut. Perang Somaliland - atau kadang disebut juga sebagai Perang Kemerdekaan Somaliland - adalah sebutan untuk konflik bersenjata yang mengambil tempat di Somalia utara pada tahun 1982 hingga 1991.

Dalam Perang Somaliland, kelompok pemberontak Somali National Movement (SNM) terlibat konflik bersenjata melawan pasukan pemerintah Somalia. Seusai perang, SNM memproklamasikan berdirinya negara merdeka yang bernama "Somaliland". Sementara Somalia terjerumus ke dalam perang saudara yang masih berlanjut hingga sekarang.


Somaliland within Somalia map
Peta Somalia & Somaliland. (Adebayo Adeboye Fashina / researchgate.net)


LATAR BELAKANG

1. Dominannya Klan Isaaq di Wilayah Somalia Utara

Dari segi kependudukan / demografi, Somalia terlihat memiliki komposisi penduduk yang homogen. Hampir semua penduduknya berasal dari suku Somali, berbahasa Somali, & memeluk agama Islam.

Namun faktanya, Somalia aslinya memiliki komposisi kependudukan yang jauh lebih beragam. Pasalnya penduduk Somalia terbagi ke dalam sejumlah marga / klan (kelompok yang memiliki kesamaan berdasarkan garis keturunan).

Keberadaan klan dalam kehidupan bermasyarakat Somalia sama sekali tidak bisa dipandang remeh. Pasalnya penduduk Somalia cenderung menempatkan kepentingan klannya sendiri di atas segalanya.

Penduduk Somalia kebetulan banyak yang bekerja sebagai penggembala tradisional. Sementara Somalia sendiri tidak memiliki banyak lahan subur & mudah terkena bencana kekeringan.

Somali goat herder
Di Somalia, banyak warga lokal yang bekerja sebagai penggembala. (G.D. Robinson / wikimedia.org)

Tidak jarang para penggembala Somalia terlibat konflik 1 sama lain akibat masalah perebutan lahan subur yang jumlahnya terbatas. Dalam situasi seperti inilah, penduduk Somalia kerap meminta bantuan kepada anggota klannya yang lain supaya bisa memenangkan konflik.

Satu dari sekian banyak klan yang menyusun populasi Somalia adalah klan Isaaq / Isaak. Populasi mereka terkonsentrasi di Somalia utara yang kelak menjadi cikal bakal wilayah Somaliland.

Somalia clans map
Peta klan-klan di Somalia utara & tengah. (Markus Hoehne / africanarguments.org)

Karena wilayah Somalia utara berada jauh dari Mogadishu - ibukota negara Somalia - yang letaknya berada di Somalia selatan, komunitas Isaaq di Somalia pun tidak merasa memiliki ikatan kuat dengan pemerintah pusat Somalia.

Selain karena faktor geografis, faktor historis juga memiliki peran besar. Sebelum menjadi negara merdeka, wilayah Somalia awalnya dijajah oleh 2 negara Eropa berbeda.

Jika Somalia utara dulunya merupakan wilayah jajahan Inggris dengan nama "Somaliland Inggris" (British Somaliland), maka Somalia selatan dulunya merupakan bekas jajahan Italia dengan nama "Somaliland Italia" (Italian Somaliland; Somalia Italiana).

Karena Somalia utara & selatan dulunya dijajah oleh 2 negara berbeda, masing-masing wilayah pun menggunakan sistem hukum & pendidikan yang berbeda. Penduduk dari masing-masing wilayah juga sangat jarang berinteraksi 1 sama lain akibat adanya perbatasan di antara kedua wilayah.

British and Italian Somaliland
Peta Somaliland Inggris & Somaliland Italia. (britishempire.co.uk)

Tahun 1960, Inggris & Italia sama-sama setuju untuk memberikan kemerdekaan pada Somalia. Tidak lama sesudah Somaliland Inggris & Italia merdeka, keduanya menyatu menjadi negara baru yang tidak lain adalah "Somalia".

Tidak lama seusai penyatuan, masalah mulai timbul. Karena penduduk Somalia utara & selatan di era penjajahan sangat jarang berinteraksi 1 sama lain, muncullah kesan kalau Somalia utara sedang diperintah oleh "orang asing" yang berbasis di Somalia selatan.

Bukan hanya itu, di masa penjajahan Inggris, banyak anggota klan Isaaq yang bisa menempati jabatan tinggi di sektor pemerintahan lokal karena mereka adalah klan mayoritas di wilayah setempat.

Namun sejak Somalia merdeka, kini klan Isaaq harus rela melihat orang-orang dari klan non-Isaaq ikut menempati jabatan tinggi di lembaga-lembaga pemerintahan yang terletak di Somalia utara.

Lepas dari hal tersebut, penduduk Somalia utara pada awalnya tetap bersedia untuk hidup sebagai bagian dari negara Somalia. Pasalnya mereka merasa tertarik dengan ide solidaritas etnis Somali, di mana semua etnis Somali hidup dalam negara yang sama.


2. Munculnya Arus Pengungsi Akibat Perang Ogaden

Tahun 1969, Muhammad Siad Barre naik menjadi presiden baru Somalia melalui kudeta militer. Sejak mulai menjabat, Barre mengusung ambisi untuk menyatukan semua wilayah yang dihuni oleh etnis Somali ke dalam 1 negara (Pan-Somalisme).

Barre memendam ambisi demikian karena di sebelah barat Somalia, terdapat wilayah bernama "Ogaden" yang mayoritas penduduknya berasal dari etnis Somali, namun wilayah yang bersangkutan sedang berada di bawah kendali Ethiopia.

Ogaden map
Peta lokasi Ogaden. (britannica.com)

Demi mewujudkan ambisi Pan-Somalisme tersebut, Somalia pun pada tahun 1977 melancarkan invasi militer besar-besaran ke wilayah Ogaden. 

Ethiopia pada awalnya merasa kewalahan karena diserang dalam kondisi tidak siap. Namun berkat bantuan militer dari Uni Soviet & Kuba, pasukan Ethiopia berhasil membalikkan keadaan & ganti mengalahkan pasukan Somalia di tahun 1978.

Kekalahan Somalia dalam Perang Ogaden membawa dampak negatif yang begitu besar bagi Somalia. Pasalnya selain harus kehilangan banyak prajurit & kendaraan tempurnya, banyak warga sipil etnis Somali di Ogaden yang mengungsi ke Somalia seusai perang.

Mereka beramai-ramai mengungsi ke Somalia karena khawatir bakal menjadi sasaran balas dendam oleh pasukan Ethiopia yang curiga kalau etnis Somali di Ogaden adalah pengkhianat. 

Jumlah para pengungsi dari Ogaden dilaporkan mencapai lebih dari setengah juta jiwa. Wilayah Somalia utara yang berlokasi tepat di sebelah utara Ogaden juga turut menerima banjir pengungsi dari wilayah Ogaden.

Untuk memberdayakan para pengungsi supaya mereka tidak terlalu membebani negara, pemerintah Somalia lantas membagi-bagikan senjata kepada para pengungsi supaya mereka bisa melanjutkan konflik di wilayah Ogaden melalui taktik perang gerilya.

Milisi pro-Somalia di Ogaden. (militaryimages.net)

Namun masalah baru langsung timbul karena para pengungsi tersebut juga memanfaatkan senjata baru mereka untuk bertindak semaunya sendiri. Mereka kerap menyerang & menodong warga lokal di Somalia utara supaya warga setempat bersedia menyerahkan ternak & harta bendanya.

Situasi ini langsung menimbulkan kegusaran di antara komunitas Isaaq di Somalia utara. Mereka merasa sedang diinjak-injak & dipermalukan di tanah mereka sendiri. Dampaknya, sentimen kebencian warga klan Isaaq terhadap pemerintah pusat Somalia pun semakin lama semakin menguat.



BERDIRINYA KELOMPOK-KELOMPOK PERLAWANAN

Pada awal dekade 1980-an, sejumlah warga lokal di kota Hargeisa, Somalia utara, berinisiatif mendirikan organisasi yang bernama "Uffo" (bahasa Somali yang berarti "angin sepoi-sepoi"). Mereka yang mendirikan Uffo diketahui berasal dari kalangan terdidik seperti dokter, guru, hingga pedagang.

Alasan kenapa Uffo didirikan adalah karena para pendirinya merasa kalau pemerintah pusat Somalia sudah tidak bisa lagi diandalkan. Aktivitas modernisasi di wilayah Somalia utara berjalan sangat lambat. Sebagai akibatnya, banyak penduduk Somalia utara yang terpaksa bermigrasi ke luar Somalia utara supaya bisa hidup lebih sejahtera.

Di lain pihak, mereka yang tetap tinggal di Somalia utara harus hidup dalam kondisi serba terbatas & menerima perlakuan kasar dari aparat serta milisi pro-pemerintah. Atas dasar itulah, tokoh-tokoh klan Isaaq yang berasal dari kalangan terdidik berinisiatif mendirikan Uffo.

Salah satu aktivitas pertama yang dilakukan Uffo adalah melakukan pengumpulan dana untuk memperbaiki rumah sakit di kota Hargeisa. Namun, aktivitas Uffo yang nampak tidak berbahaya tersebut ternyata dipandang secara berbeda oleh pemerintah pusat Somalia.

Peta lokasi Hargeisa / Hargeysa. (wikimedia.org)

Rezim Barre merasa bahwa jika Uffo dibiarkan tumbuh tanpa diusik, Uffo kelak bakal memberontak secara terang-terangan. Kebetulan sejak akhir dekade 1970-an, Somalia memang sedang dilanda rentetan peristiwa yang membahayakan kelangsungan rezim Barre.

Pada tahun 1978 contohnya, sejumlah tentara Somalia mencoba melakukan kudeta, namun berhasil ditumpas. Kemudian hanya berselang 2 tahun kemudian, muncul kelompok pemberontak bernama SSDF yang mayoritas anggotanya berasal dari klan Majertin.

Pemerintah Somalia merasa kalau Uffo adalah upaya dari klan Isaaq untuk mendirikan SSDF versi mereka. Maka, aparat Somalia pun melakukan penangkapan besar-besaran kepada para anggota Uffo di tahun 1981.

Tindakan yang dilakukan aparat Somalia kepada para anggota Uffo tak pelak langsung menyita perhatian orang-orang klan Isaaq yang sedang bermukim di luar negeri. Maka, mereka pun melakukan pertemuan di Inggris untuk membahas langkah berikutnya.

Berdasarkan pertemuan tersebut, pada bulan April 1981, sebanyak lebih dari 400 tokoh klan Isaaq di London, Inggris, mengumumkan berdirinya organisasi yang bernama Somali National Movement (SNM; Gerakan Nasional Somali). 

Tujuan pendirian SNM adalah untuk menggulingkan rezim Siad Barre lewat jalur pemberontakan supaya komunitas Isaaq di Somalia tidak lagi ditindas. Berdirinya SNM sekaligus menandai dimulainya fase perjuangan bersenjata klan Isaaq di Somalia.


Fighters of SNM (Somali National Movement)
Pasukan SNM. (Axmed Maxamed Diiriye / wikipedia.org)


BERJALANNYA PERANG

Berjuang dari Wilayah Negara Tetangga

Saat kabar pendirian SNM akhirnya sampai ke telinga para tentara Somalia dari klan Isaaq, mereka beramai-ramai membelot & melarikan diri ke Ethiopia sambil membawa stok persenjataan. Sesampainya di Ethiopia, mereka mendirikan 3 kamp militer sebagai markas untuk melancarkan pemberontakan.

Di lain pihak, pemerintah Ethiopia ternyata tidak keberatan membiarkan SNM beroperasi di wilayahnya. Pasalnya akibat meletusnya Perang Ogaden, Ethiopia kini menaruh rasa curiga berlebihan pada rezim Barre.

Ethiopia khawatir kalau rezim Barre bakal kembali mencoba menginvasi Ethiopia & mencaplok Ogaden di kemudian hari. Atas sebab itulah, Ethiopia pun memberikan dukungannya pada SNM supaya konsentrasi rezim Barre terpecah.

Sementara itu di Somalia, pada tanggal 22 Februari 1982, pengadilan Somalia menjatuhkan vonis hukuman panjang kepada para anggota Uffo. Kabar tersebut langsung ditanggapi dengan penuh amarah oleh warga kota Hargeisa. Mereka beramai-ramai turun ke jalanan & menggelar aksi protes besar-besaran.

Pemerintah Somalia lantas menanggapi aksi tersebut dengan cara menerjunkan pasukan yang dilengkapi dengan kendaraan lapis baja. Bentrokan hebat pun tak terelakkan. Warga lokal melempari tentara Somalia dengan batu. 

Tentara Somalia lantas membalasnya dengan cara melakukan penangkapan massal, memberlakukan jam malam, & menutup jalan raya yang menghubungkan Djibouti dengan Hargeisa. 

Horn of Africa map
Hargeisa & Djibouti seperti yang terlihat pada peta. (theeconomist.com)

Tindakan yang terakhir tadi membawa dampak negatif yang begitu besar bagi penduduk Hargeisa. Pasalnya sebagai kota yang jauh dari pantai, warga Hargeisa mengandalkan jalan menuju Djibouti sebagai jalur utama untuk mendapatkan kebutuhan pokok & menjual hasil usaha mereka.

Akibat ditutupnya jalan tadi, jumlah warga Hargeisa yang hidup dalam kemiskinan & kelaparan pun semakin banyak. Sentimen kebencian warga Hargeisa kepada pemerintah pusat Somalia semakin meningkat. Dampaknya, semakin banyak dari mereka yang menaruh simpati & dukungan kepada SNM.

Di pihak SNM sendiri, karena mereka kalah jauh dalam hal persenjataan dibandingkan dengan pasukan Somalia, mereka lantas mengandalkan taktik gerilya saat melakukan pemberontakan. Mereka akan melakukan serangan mendadak ke markas pasukan Somalia di Somalia utara, lalu kabur kembali ke markas mereka di Ethiopia sambil membawa stok senjata hasil rampasan.

Di pihak lawan, karena mereka tidak bisa seenaknya masuk ke wilayah Ethiopia untuk mengejar SNM, pasukan Somalia pun lantas melampiaskan rasa frustrasinya kepada warga sipil di Somalia utara. Dengan dalih mencari prajurit SNM yang sedang bersembunyi, pasukan Somalia melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah & menjarah harta benda milik warga.


Warga klan Isaaq yang sedang diikat & disarungi kepalanya sebelum hendak dieksekusi oleh prajurit Somalia. (Hussein Abdilahi Bulhan / wikimedia.org)


Habis-Habisan di Burao & Hargeisa

Pemerintah Somalia sendiri sadar bahwa selama SNM bisa leluasa bersembunyi di Ethiopia, maka selama itu pula SNM bakal terus merepotkan Somalia. Maka, pemerintah Somalia pun memutuskan untuk melakukan pertemuan dengan pemerintah Ethiopia.

Hasilnya pada bulan Maret 1988, pemerintah Ethiopia sepakat untuk berhenti mendukung SNM. Sebagai gantinya, pemerintah Somalia bakal menghentikan dukungannya pada kelompok pemberontak anti-Ethiopia di Ogaden, Ethiopia.

Dicapainya kesepakatan tersebut bak petir di siang bolong bagi SNM. Awalnya mereka berniat untuk menghentikan pemberontakan terlebih dahulu sampai mereka bisa menemukan markas baru yang aman.

Namun rencana tersebut tidak disukai oleh para petinggi SNM yang lain. Pasalnya jika mereka berhenti sekarang, mereka khawatir dukungan dari warga Somalia utara kepada SNM lama kelamaan akan memudar.

Setelah melalui silang pendapat yang rumit, para petinggi SNM akhirnya sepakat untuk menempuh opsi yang bisa dibilang berani jika mau tidak dibilang nekat. Mereka bakal melakukan serangan besar-besaran untuk menduduki kota Burao & Hargeisa.

Somaliland cities
Peta lokasi Burao & Hargeisa.

Rencana yang dimaksud akhirnya dilaksanakan pada bulan Mei 1988. Pasukan Somalia yang sedang menjaga Burao & Hargeisa jelas merasa kaget bukan main. Pasalnya sebelum ini, pasukan SNM hanya berani melakukan serangan dalam skala kecil.

Meskipun kaget, bukan berarti pasukan Somalia tidak bisa melawan balik sama sekali. Pasalnya pasukan Somalia dilengkapi dengan aneka persenjataan berat seperti tank, peluncur roket, & meriam artileri.

Namun pasukan SNM tidak kalah cerdik. Karena medan tempur mengambil tempat di kota yang notabene penuh dengan bangunan, mereka bisa memanfaatkan bangunan-bangunan tersebut sebagai tempat bersembunyi, sekaligus sebagai  tabir untuk mengendap-endap mendekati pasukan Somalia tanpa ketahuan.

Saat pasukan Somalia yang ditempatkan di darat semakin banyak yang tewas bergelimpangan, pasukan Somalia lantas beralih ke taktik membabi buta. Pesawat & meriam artileri Somalia membombardir bagian perkotaan yang diduga sedang dikuasai oleh SNM. 

Pesawat MiG-17 milik angkatan udara Somalia yang jatuh semasa perang melawan SNM. Seusai perang, bangkai pesawat ini kemudian dijadikan tugu peringatan oleh pemerintah Somaliland. (Ursula / atlasobscura.com)

Waktu berlalu, taktik bumi hangus yang dilakukan oleh pasukan Somalia mulai membuahkan hasil. Banyak prajurit SNM yang harus meregang nyawa. Stok amunisi & perbekalan yang dimiliki SNM juga semakin menipis.

Atas pertimbangan tersebut, SNM pun memutuskan untuk mundur dari Burao & Hargeisa setelah 3 bulan berjuang di sana. Selain mereka, ada pula ratusan ribu warga sipil di perkotaan yang turut mengungsi ke luar Somalia karena khawatir bakal menjadi sasaran aksi balas dendam oleh pasukan Somalia.


Berjaya di Utara, Merana di Selatan

Perginya SNM beserta warga sipil di Burao & Hargeisa secara otomatis membuat kedua kota tersebut kini tak ada bedanya dengan kota hantu yang tak berpenghuni & penuh dengan puing-puing. Namun, pemerintah Somalia masih belum puas. Mereka ingin memastikan kalau kedua kota tersebut tidak akan pernah bisa ditinggali lagi di masa depan.

Untuk mewujudkan ambisi tersebut, pasukan Somalia kini melakukan penggeledahan ke bangunan-bangunan yang masih berdiri. Mereka lalu menjarah semua harta benda yang dapat mereka temukan.

Jika itu masih belum cukup, para prajurit Somalia juga mempreteli jendela, engsel, & pintu bangunan supaya bisa dijual kembali. Sesudah itu, mereka meninggalkan ranjau darat di seantero kota supaya tempat yang dulunya ramai dengan manusia ini benar-benar tidak bisa lagi dihuni kembali.

Pada tahap ini, nampaknya riwayat perjuangan SNM harus berakhir secara mengenaskan. Mereka berhasil dipukul mundur oleh pasukan Somalia. Ratusan ribu warga sipil klan Isaaq harus mengungsi keluar Somalia. Kemudian kota Burao & Hargeisa juga sudah rata dengan tanah.

Hargeisa in ruins
Kondisi kota Hargeisa sesudah konflik antara pasukan SNM & Somalia. (Catherine Pellissier / icrc.org)

Namun bak pelangi yang muncul sesudah badai, masih ada secercah harapan bagi SNM untuk membalikkan keadaan & menggulingkan rezim Barre. Dan secercah harapan tersebut ada dalam wujud United Somali Congress (USC; Kongres Somali Bersatu).

USC adalah kelompok pemberontak Somalia yang baru terbentuk pada akhir dekade 1980-an. Tidak seperti SNM yang keanggotaannya didominasi oleh klan Isaaq, keanggotaan USC didominasi oleh klan Hawiye. 

Sebelum mendirikan USC, orang-orang Hawiye pada awalnya bertempur sebagai bagian dari kelompok SSDF yang para pendirinya berasal dari klan Majertin. Namun akibat maraknya konflik internal dalam tubuh SSDF, para anggota SSDF yang berasal dari klan Hawiye lantas beramai-ramai keluar & mendirikan kelompok baru yang tidak lain adalah USC.

Dengan memanfaatkan fakta bahwa Hawiye adalah salah satu klan dengan populasi terbesar di Somalia, USC dengan cepat berhasil tumbuh menjadi salah satu kelompok pemberontak terkuat di Somalia. Mereka berhasil menorehkan rentetan kemenangan demi kemenangan, hingga akhirnya mereka semakin dekat dengan ibukota Mogadishu di Somalia selatan. 

Milisi Somalia (kemungkinan dari kelompok USC) di ibukota Mogadishu. (Francois De Sury / icrc.org)

Pasukan USC akhirnya berhasil memasuki kota Mogadishu pada akhir tahun 1990. Baku tembak hebat pun pecah di seantero kota. Namun pada akhinya, USC berhasil memenangkan pertempuran pada awal tahun 1991.

Barre sendiri berhasil melarikan diri keluar Mogadishu tepat sebelum seluruh Mogadishu berhasil dikuasai seutuhnya oleh pasukan USC. Dengan kaburnya Barre, berakhir pulalah masa pemerintahannya yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Kemenangan USC di Mogadishu turut disambut dengan penuh sukacita oleh SNM.



KONDISI PASCA PERANG

Perang Somaliland membawa dampak kerusakan yang begitu masif bagi wilayah Somalia utara. Diperkirakan ada lebih dari 150 ribu korban tewas di pihak Somalia utara / Somaliland. Di Hargeisa saja, jumlah warga sipil setempat yang tewas akibat perang ini mencapai 50 ribu jiwa. 

Tingginya korban jiwa tidak lepas dari taktik membabi buta yang digunakan oleh pasukan Somalia. Mereka tidak segan-segan menjatuhkan bom ke kawasan padat penduduk & menembak mati tahanan tanpa melalui proses peradilan. 

Selain untuk menghabisi lawannya sebanyak mungkin, taktik macam itu banyak digunakan oleh pasukan Somalia supaya warga sipil klan Isaaq yang masih hidup menjadi takut saat ingin memberikan dukungannya pada SNM. Namun kenyataannya, taktik brutal tersebut malah semakin memperkuat sentimen kalau kekerasan aparat Somalia hanya bisa dihentikan dengan kekerasan juga.

Selain korban tewas, Perang Somaliland juga menyebabkan sekitar 400 ribu warga sipil Somalia utara kehilangan tempat tinggalnya. Ketika perang sudah berakhir & para pengungsi kembali ke Somalia utara, lokasi yang dulunya menjadi tempat tinggal mereka tidak bisa langsung dihuni akibat masih adanya ranjau yang berserakan di sana. 

Saat SNM pertama kali didirikan pada tahun 1981, kelompok yang bersangkutan awalnya tidak memiliki rencana untuk menjadikan Somalia utara sebagai negara sendiri. Namun memanasnya hubungan antar klan akibat perang & masih kacaunya kondisi ibukota Mogadishu pasca tumbangnya rezim Barre menyebabkan wacana kemerdekaan semakin banyak diminati oleh warga klan Isaaq

Atas dasar itulah, pada tanggal 18 Mei 1991, pemimpin SNM memproklamasikan berdirinya negara Somaliland dengan Hargeisa sebagai ibu kotanya. Wilayah yang diklaim sebagai wilayah negara baru tersebut mencakup seluruh wilayah Somalia utara di masa penjajahan Inggris.

Lautan massa yang sedang mengibarkan bendera negara Somaliland. (Farhan Aleli / rnz.co.nz)

Deklarasi kemerdekaan Somaliland ternyata tidak ditanggapi secara positif oleh pihak-pihak lain. USC selaku kelompok yang sedang menguasai ibukota Mogadishu menolak mengakui kemerdekaan Somaliland karena mereka ingin supaya Somalia tetap berada dalam kondisi utuh.

USC juga sempat mengundang perwakilan SNM dalam rapat yang digelar pada bulan Juli 1991, sambil mengajukan tawaran kalau posisi Perdana Menteri Somalia kelak boleh ditempati oleh tokoh dari Somalia utara. Namun tawaran tersebut ditolak oleh SNM yang bersikukuh ingin mempertahankan status Somaliland sebagai negara tersendiri.

Penolakan juga datang dari SSDF yang keanggotaannya didominasi oleh klan Majertin. Kebetulan wilayah Somaliland timur memang banyak dihuni oleh klan Majertin. Mereka curiga kalau Somaliland bakal dimanfaatkan oleh klan Isaaq untuk menindas klan-klan minoritas di Somalia utara.

Sebagai tindak lanjut atas penolakan tersebut, pada tahun 1998 SSDF memproklamasikan berdirinya negara tandingan yang bernama "Puntland". Tidak seperti Somaliland yang mengklaim dirinya sebagai negara merdeka, Puntland mengklaim dirinya sebagai bagian dari negara Somalia, namun dengan otonomi / kemandirian memerintah yang luas.

Somaliland, Puntland, Somalia
Peta Somaliland & Puntland. (aljazeera.com)

Pemerintah Puntland juga mengklaim wilayah Somaliland bagian timur sebagai bagian dari wilayah Puntland. Akibat perbedaan pendapat ini, Somaliland & Puntland pun terlibat sengketa wilayah yang kadang-kadang membesar menjadi konflik bersenjata dalam skala kecil.

Karena pemerintah pusat Somalia menolak mengakui kemerdekaan Somaliland, Somaliland pun sulit mendapatkan pengakuan diplomatik dari negara-negara berdaulat lainnya. Mayoritas negara menolak mengakui Somaliland karena khawatir tindakan macam itu hanya akan membuat situasi keamanan di Somalia & sekitarnya menjadi semakin tak terkendali.

Situasi tersebut pada gilirannya turut berdampak pada perekonomian Somaliland. Kendati Somaliland dari segi keamanan jauh lebih stabil dibandingkan wilayah Somalia lainnya, Somaliland memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi. Buntutnya, mereka terpaksa mengandalkan sektor peternakan tradisional & kiriman uang dari orang-orang Somaliland di luar negeri supaya bisa tetap bertahan.

Tidak ada negara anggota PBB yang bersedia mengakui Somaliland hingga kemudian pada bulan Desember 2025, Israel menjadi negara anggota PBB pertama yang mengakui kedaulatan Somaliland. Peristiwa tersebut sekaligus menandai dimulainya hubungan diplomatik resmi antara Israel & Somaliland.

Kemauan Somaliland untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pada gilirannya memunculkan pertanyaan di kalangan pengamat. Apakah tindakan Somaliland ini tidak beresiko menjadi senjata makan tuan? Pasalnya reputasi Israel di dunia internasional tengah merosot tajam akibat tindakan mereka di Palestina, Lebanon, & Iran. 

Dugaan pun merebak kalau Israel mengakui Somaliland supaya bisa memanfaatkan wilayah Somaliland untuk kepentingan militer Israel. Di lain pihak, kelompok Houthi di Yaman sudah mewanti-wanti kalau mereka tidak segan-segan menggempur Somaliland jika militer Israel sampai berani menginjakkan kakinya di Somaliland. 

Wilayah Somaliland sendiri kebetulan memang berseberangan langsung dengan wilayah Yaman di sebelah utara. Pada akhirnya, hanya waktu yang akan menunjukkan apakah Somaliland bisa terus memperkuat statusnya supaya bisa diterima oleh lebih banyak negara, atau mereka justru bakal lenyap akibat gejolak lintas negara yang ada di luar kendali mereka.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

Waktu & Lokasi Pertempuran
-  Waktu : 1982 - 1991
-  Lokasi : Somalia utara

Pihak yang Bertempur
(Grup)  -  SNM
     melawan
(Negara)  -  Somalia
(Grup)  -  milisi pro-Somalia

Hasil Akhir
- Kemenangan SNM & sekutunya
- Tumbangnya rezim Muhammad Siad Barre di Somalia selatan oleh kelompok bersenjata lain
- Somalia utara menjadi negara tanpa pengakuan internasional dengan nama "Somaliland" sejak tahun 1991
- Somalia selatan dilanda konflik susulan

Korban Jiwa
Lebih dari 150.000 jiwa



REFERENSI

Al Jazeera. 2025. "Any Israeli presence in Somaliland will be a ‘target’: Houthi leader".
(www.aljazeera.com/news/2025/12/28/any-israeli-presence-in-somaliland-will-be-a-target-houthi-leader)

I.I. Ahmed & R.H. Green. 1999. "The heritage of war and state collapse in Somalia and Somaliland: local-level effects, external interventions and reconstruction" dalam "Third World Quarterly, Volume 20, Issue 1" (hal. 113 - 127).
(www.tandfonline.com/doi/epdf/10.1080/01436599913947?needAccess=true)

Kapteijns, L.. 2013. "Clan Cleansing in Somalia: The Ruinous Legacy of 1991". University of Pennsylvania Press, AS.

Metz, H.C.. 1992. "Somalia: A Country Study".
(countrystudies.us/somalia/)

Omaar, R.. 2010. "Seizing  the  Moment:  A  Case  Study  of  Conflict  and  Peacemaking  in  Somaliland".
(www.future.edu/wp-content/uploads/2018/06/2010.01-Seizing-the-Moment-A-Case-Study-on-Conflict-and-Peacemaking-in-Somaliland-Occassional-Paper.pdf)

Refworld. 1993. "Somalia. Things Fall Apart".
(www.refworld.org/reference/countryrep/uscis/1993/93809)

   





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.