SEJARAH FAUNA HIBURAN Cari.Artikel..



C-130 Hercules, Pesawat Megah yang Nyaris Batal Dibuat



(Sumber)

C-130 Hercules adalah nama dari pesawat angkut yang seharusnya familiar bagi siapapun, termasuk bagi mereka yang tidak terlalu mendalami dunia penerbangan. Pasalnya pesawat ini amat sering muncul di lokas-lokasi konflik & bencana. Daya angkutnya yang besar & fungsinya yang serba guna menjadi penyebab mengapa pesawat ini amat sering digunakan untuk beragam keperluan.

Ada beberapa varian pesawat Hercules yang pernah dibuat, di mana varian terbarunya menyandang nama C-130J Super Hercules & pertama kali dibuat pada tahun 1996. Pesawat tersebut memiliki panjang badan pesawat 29 meter, rentang sayap 40 meter, & kapasitas angkut hingga 18 ribu kilogram. Hingga bulan Februari 2018, sudah ada 17 negara yang mengoperasikan pesawat Hercules varian ini.

Kelebihan utama pesawat Hercules jika dibandingkan pesawat angkut biasa adalah pesawat Hercules memiliki daya angkut yang besar, namun bisa beroperasi di landas pacu yang kecil & permukaannya tidak rata. Pesawat Hercules hanya perlu melaju di atas darat sejauh 1 km sebelum kemudian lepas landas. Jarak yang tergolong amat pendek untuk ukuran pesawat sebesar Hercules.


ASAL-USUL

Pesawat Hercules merupakan buah karya dari Lockheed Martin, perusahaan penerbangan yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Ide untuk menciptakan pesawat Hercules bermula ketika AS tengah terlibat dalam Perang Korea. Saat perang berlangsung, AS kewalahan saat harus mengirim perbekalan serta komponen tank & artileri yang notabene berbobot amat berat ke garis depan dengan memakai pesawat.

Untuk mencari jalan keluar atas permasalahan tersebut, pada tahun 1951 Angkatan Udara AS menggelar sayembara kepada perusahaan-perusahaan yang memproduksi pesawat militer, termasuk Lockheed. Pihak Angkatan Udara menginginkan pesawat yang cukup kuat untuk mengangkut muatan seberat 11 ton sambil menempuh jarak sejauh 1.800 km lebih.

Logo Lockheed Martin, perusahaan yang memproduksi pesawat Hercules. (Sumber)

Persyaratan yang ditetapkan oleh Angkatan Udara AS belum berhenti sampai di sana. Mereka juga ingin supaya pesawat tersebut bisa mendarat & lepas landas di landas pacu yang ukurannya tidak begitu besar. Pesawat yang sama diharapkan juga bisa terbang lambat supaya bisa digunakan untuk menerjunkan pasukan penerjun payung (paratrooper). Angkatan Udara juga meminta supaya pesawatnya bisa tetap terbang saat 1 mesin pesawatnya sedang tidak bisa menyala.

Hall J. Hibbard yang menjabat sebagai kepala insinyur perusahaan Lockheed meminta kepada Willis Hawkins - kepala desainer di perusahaan Lockheed - untuk membuatkan desain pesawat angkut yang diminta oleh Angkatan Udara AS. Maka, dengan dibantu oleh rekan-rekan 1 timnya, Hawkins pun kemudian menciptakan rancangan pesawat bermesin baling-baling dengan panjang 12 meter & pintu utama yang ditempatkan di bagian belakang pesawat.

Atas perintah Hibbard, Hawkins kemudian menunjukkan rancangan pesawatnya ini ke hadapan Clarence "Kelly" Johnson, asisten Hibbard. Saat Johnson melihat rancangan pesawat tersebut, Johnson sama sekali tidak menunjukkan rasa antusias. Ia bahkan memperingatkan Hibbard bahwa jika rancangan ini sampai diproduksi menjadi pesawat sungguhan oleh Lockheed, maka Lockheed hanya akan mengalami kebangkrutan.

Willis Hawkins (tengah). (Sumber)

Hawkins menduga kalau Johnson tidak tertarik akan rancangan pesawat karena pesawat Hercules bukanlah pesawat tempur & bentuknya terlihat kuno. Sementara Lockheed sebelum ini pernah meluncurkan aneka macam pesawat tempur yang bentuknya terlihat futuristik pada masanya. Mulai dari P-38 Lightning, P-80 Shooting Star, hingga F-94 Starfire. Singkatnya, Johnson ingin supaya Lockheed fokus membuat pesawat tempur saja.

Pesawat Hercules juga tidak bisa terbang hingga kecepatan Mach 3 (sekitar 3.600 km/jam) karena hanya menggunakan mesin baling-baling. Namun penolakan yang ditunjukkan Johnson tidak membuat Hawkins patah semangat. Ia berusaha meyakinkan Hibbard supaya bersedia menyetujui rancangan pesawat yang diusulkannya. Kegigihan Hawkins akhirnya terbayar setelah Hibbard setuju untuk mengabulkan rancangan pesawat usulan Hawkins.

Saat pihak Angkatan Udara AS melihat rancangan pesawat yang diajukan oleh Lockheed, mereka menyetujuinya & kemudian mengontrak Lockheed untuk membuat 2 pesawat C-130 pada tanggal 2 Juli 1951. Hanya berselang setahun kemudian, Angkaran Udara meminta 7 unit pesawat lagi. Memasuki tahun 1955, jumlah pesawat C-130 yang dipesan oleh Angkatan Udara sudah mencapai 84 unit!



MUNCULNYA NAMA HERCULES

Pembuatan pesawat C-130 dilakukan oleh Lockheed di kompleks pabrik di Marietta, negara bagian Georgia. Sembari mengerjakan pesawat pesanan Angkatan Udara, Lockheed pada musim gugur 1954 juga mencari nama yang cocok untuk menyebut pesawat baru mereka ini. Pada awalnya, nama "Griffin" - makhluk mitologi Eropa yang berwujud setengah elang & setengah singa - menjadi nama yang hendak dipilih untuk pesawat baru ini karena nama tersebut banyak disukai oleh para pekerja di Marietta.

Nama "Griffin" di lain pihak ternyata tidak begitu disukai oleh manajemen Lockheed. Mereka lebih menyukai nama "Hercules", tokoh pahlawan setengah dewa dalam mitologi Romawi & Yunani Kuno yang terkenal akan kekuatannya yang perkasa. Setelah para anggota manajemen Lockheed melakukan jajak pendapat internal, nama "Hercules" akhirnya terpilih sebagai nama baru pesawat ini. Karena nama Hercules terlalu panjang untuk ditulis, media-media AS juga kerap menyebut pesawat yang bersangkutan dengan nama "Herk".

Pesawat Hercules saat melakukan penerbangan pertamanya. (Sumber)

Pesawat C-130 Hercules melakukan penerbangan uji coba perdananya pada tanggal 23 Agustus 1954 di negara bagian California. Kendati pesawat ini pada awalnya diciptakan untuk membantu pasukan AS dalam Perang Korea, pesawat ini pada akhirnya tidak pernah ikut terlibat dalam Perang Korea karena fase konflik bersenjata dalam perang tersebut keburu selesai pada tahun 1953.

Pesawat Hercules akhirnya mendapat kesempatan untuk unjuk gigi dalam Perang Vietnam. Pada awal tahun 1968, pasukan komunis Vietnam Utara mengepung markas pasukan AS di Khe Sanh yang terletak di perbatasan Vietnam Utara & Selatan. Karena pasukan AS tidak bisa lagi menerima logistik dari jalur darat, pesawat Hercules kemudian dikirim ke Khe Sanh untuk menjatuhkan muatan perbekalan dari udara.

Menjatuhkan muatan dari udara tetap memiliki resiko jika dilakukan di lokasi yang sedang dilanda perang. Jika muatan dijatuhkan dengan memakai parasut, payung parasutnya bisa berlubang akibat terkena tembakan musuh. Akibatnya, muatan akan jatuh terlalu cepat & malah hancur saat sudah menyentuh tanah. Namun jika pesawat menjatuhkan muatan beserta parasut dari posisi yang terlalu tinggi dengan maksud menghindari tembakan musuh, muatannya bisa jatuh di lokasi yang salah karena parasutnya terdorong oleh angin.

Untuk mengatasi hal tersebut, militer AS pun mengembangkan teknik khusus yang dikenal sebagai LAPES (Low-Altitude Parachute Extraction System; Sistem Pengeluaran Parasut di Ketinggian Rendah). Saat melakukan LAPES, pesawat Hercules akan terbang hingga ketinggian beberapa meter di atas permukaan tanah. Begitu pesawat sudah mencapai ketinggian yang demikian rendah, pintu di bagian belakang pesawat akan membuka. Muatan yang diangkut oleh pesawat kemudian akan didorong keluar.

Supaya muatannya tidak membentur tanah terlalu keras, bagian sisi belakang kargo akan dilengkapi dengan parasut. Saat muatannya sudah keluar dari badan pesawat, parasut akan membuka & mendarat dengan aman di tanah. Sementara pesawat yang menjatuhkan muatan kargo tadi bisa kembali naik ke ketinggian. Dengan cara inilah, pesawat Hercules bisa membantu memasok perbekalan ke pasukan AS di Khe Sanh, sehingga pasukan AS di Khe Sanh bisa tetap bertahan hingga berbulan-bulan kemudian.


Pesawat Hercules yang sedang menjatuhkan muatan dengan memakai teknik LAPES. (Sumber)


RAKSASA TERBANG YANG SERBA BISA

Pesawat Hercules bukan hanya bisa digunakan untuk mengangkut & menjatuhkan perbekalan. Pesawat ini juga sempat dimodifikasi & dipasangi dengan beragam perangkat tambahan untuk menyesuaikan kebutuhan terkini pasukan AS. Sebagai contoh, jika bagian samping pesawat Hercules dipasangi senapan mesin, pesawatnya bisa digunakan untuk menembaki prajurit musuh sambil terbang. Varian ini di kemudian hari dikenal sebagai AC-130.

Jika pesawat Hercules dipasangi dengan tangki cairan kimia & alat penyemprot, pesawat yang bersangkutan bisa digunakan untuk menyemprotkan Agent Orange. Fungsi utama Agent Orange adalah untuk membunuh tanaman supaya pasukan komunis Vietnam tidak bisa memanfaatkan kerimbunan tanaman untuk bersembunyi. Penyemprotan Agent Orange di kemudian hari menjadi sumber kontroversi baru karena air yang tercemar oleh Agent Orange dilaporkan menjadi penyebab lahirnya bayi-bayi dengan cacat fisik di Vietnam.

Pesawat Hercules juga bisa digunakan untuk menjatuhkan bom. Untuk keperluan ini, pesawat Hercules hanya perlu membuka pintu belakangnya supaya bom yang diangkutnya bisa didorong keluar & jatuh ke bawah. Saat Perang Vietnam masih berlangsung, pesawat Hercules juga pernah digunakan untuk mengangkut BLU-82, salah satu bom pesawat terbesar yang pernah dibuat oleh militer AS. Bom tersebut pernah dijatuhkan pada tahun 1971 di Laos, negara tetangga Vietnam di sebelah barat.

Di luar medan perang, pesawat Hercules juga bisa digunakan untuk memantau pusaran badai. Pesawat Hercules untuk keperluan ini sudah dilengkapi dengan aneka macam perangkat elektronik untuk memantau cuaca & dikenal dengan nama WC-130 &  Saat ada pusaran badai yang terbentuk di tengah laut, pesawat akan terbang menuju pusat badai sambil mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai karakteristik badai tersebut.

AC-130, varian pesawat Hercules yang dilengkapi dengan senjata
di bagian samping badan pesawat. (Sumber)

LC-130, varian pesawat Hercules yang bisa mendarat di permukaan bersalju. (Sumber)

Jika pesawat Hercules harus melakukan pendaratan di lokasi yang permukaannya ditutupi oleh es & salju, maka bagian roda pesawat Hercules akan dilengkapi dengan papan ski. Varian pesawat Hercules yang 1 ini dikenal dengan nama LC-130. Pesawat inilah yang digunakan untuk mengangkut perbekalan ke markas penelitian milik AS di Antarktika, Kutub Selatan. LC-130 juga bisa melakukan pendaratan memakai roda layaknya pesawat biasa saat harus mendarat di permukaan yang tidak bersalju.

Sekarang, sudah ada lebih dari 2.400 unit pesawat Hercules yang diproduksi. Penggunanya pun bukan lagi terbatas oleh militer AS, tapi juga oleh negara-negara lain (termasuk Indonesia). Saat terjadi bencana alam, pesawat inilah yang menjadi andalan utama untuk mengirimkan petugas & bantuan kemanusiaan ke lokasi-lokasi. Kemudian saat terjadi wabah Covid-19 yang melumpuhkan industri penerbangan, pesawat Hercules menjadi 1 dari sedikit pesawat yang masih sering terlihat mengudara karena pesawat ini banyak digunakan untuk mengangkut petugas kesehatan & perlengkapan medis.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

Air & Space Magazine - 50 Years of Hercules
Arizona State University - Agent Orange Birth Defects
Code One Magazine - C-130 Hercules Aerial Spraying
FlightGlobal - Picture : Lockheed delivers 400th C-130J
GlobalSecurity.org - C-130J Specifications and Performance
History - Khe Sanh
Hurricanes : Science and Society - Hurricane Hunters
Lockheed Martin - C-130 Hercules
National Science Foundation - LC-130 Hercules
Puspen TNI - Pesawat Hercules C-130 Bawa Alat Kesehatan....
McGowan, S.. 2016. "Herculean Ordnance". (file PDF)

 





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.