SEJARAH FAUNA HIBURAN Cari.Artikel..



Sejarah Perang Nagorno-Karabakh Kedua (2020)



Kendaraan peluncur roket Azerbaijan. (Sumber)

Armenia & Azerbaijan adalah 2 negara kecil yang terletak di Kaukasus, daratan sempit yang terletak di antara Laut Hitam & Laut / Danau Kaspia. Meskipun Armenia & Azerbaijan saling bertetangga, hubungan antara keduanya jika diibaratkan bak air & minyak. Pasalnya sejak sama-sama merdeka dari Uni Soviet pada awal dekade 90-an, kedua negara tersebut sudah beberapa kali terlibat perang.

Perang terbaru antara Armenia & Azerbaijan terjadi pada bulan Juli hingga November 2020 lalu. Perang tersebut juga dikenal dengan nama "Perang Nagorno-Karabakh Kedua" karena perang yang bersangkutan dipicu oleh masalah sengketa Nagorno-Karabakh, suatu wilayah di Azerbaijan barat yang berpenduduk mayoritas etnis Armenia & mengklaim dirinya sebagai negara merdeka, namun kemerdekaannya tidak diakui dunia internasional.

Sebutan "Kedua" pada perang ini diberikan untuk membedakannya dari Perang Nagorno-Karabakh Pertama yang terjadi pada akhir dekade 80-an hingga awal dekade 90-an. Akibat Perang Nagorno-Karabakh Pertama, wilayah Nagorno-Karabakh berhasil mengukuhkan statusnya sebagai wilayah yang beroperasi secara terpisah dari Azerbaijan. Kemudian terhitung sejak tahun 2017, kelompok separatis yang tengah menguasai Nagorno-Karabakh mengubah nama wilayahnya menjadi Artsakh.

Karena Azerbaijan bersikeras tidak mau mengakui kemerdekaan Nagorno-Karabakh / Artsakh, perang pun kembali meletus di kawasan tersebut sejak pertengahan 2020 lalu. Kali ini, Azerbaijan dilengkapi dengan persenjataan yang jauh lebih lengkap & berhasil menguasai kembali sebagian besar wilayah Artsakh. "Negara" Artsakh sendiri masih tetap berdiri seusai perang, namun kini wilayahnya sudah jauh menyusut.

Perang Nagorno-Karabakh Kedua juga kerap dipandang sebagai sebagai upaya Turki untuk memperkuat pengaruhnya di Kaukasus dengan cara menggandeng Azerbaijan sebagai negara sekutunya. Pasalnya dalam perang ini, Azerbaijan menerima banyak bantuan militer dari Turki. Kemudian saat Azerbaijan menggelar parade militer seusai perang, presiden & tentara Turki juga turut ambil bagian dalam parade tersebut.


Peta lokasi Kaukasus (kotak merah).


LATAR BELAKANG

Nagorno-Karabakh adalah kawasan dataran tinggi yang terletak di tengah-tengah Kaukasus. Nama "Nagorno" pada daerah ini berasal dari bahasa Rusia yang berarti "pegunungan", sementara "Karabakh" berasal dari bahasa Turko-Persia yang berarti "taman hitam". Etnis Armenia di lain pihak lebih suka menyebut Nagorno-Karabakh dengan nama "Artsakh" (hutan yang kuat).

Dari segi demografis / komposisi penduduk, mayoritas penduduk Nagorno-Karabakh berasal dari suku / etnis Armenia. Namun secara geografis, wilayah Nagorno-Karabakh dikelilingi oleh wilayah yang didominasi oleh etnis Azerbaijan, etnis yang dari segi sosial budaya termasuk dalam rumpun etnis Turk. Pada awalnya, wilayah Armenia, Azerbaijan, & Nagorno-Karabakh sama-sama berada di bawah kendali Kekaisaran Rusia.

Namun menyusul bubarnya Kekaisaran Rusia yang diikuti dengan pecahnya perang saudara Rusia, Armenia & Azerbaijan memanfaatkan momen tersebut untuk memerdekakan diri. Tidak lama berselang, kedua negara muda tersebut langsung terlibat perang pada tahun 1918 akibat masalah perebutan wilayah (salah satunya Nagorno-Karabakh).

Tahun 1920, wilayah Armenia & Azerbaijan sama-sama ditaklukkan oleh pasukan komunis Bolshevik. Tidak lama sesudah itu, Armenia & Azerbaijan dijadikan 2 negara bagian yang menyusun wilayah Uni Soviet. Wilayah Nagorno-Karabakh sendiri dimasukkan ke dalam wilayah negara bagian Azerbaijan. Untuk meredam penolakan dari etnis Armenia di Nagorno-Karabakh, wilayah yang bersangkutan diberikan otonomi luas.

Selain untuk memuaskan etnis Armenia & Azerbaijan, alasan lain mengapa pemerintah pusat Uni Soviet memasukkan wilayah Nagorno-Karabakh ke dalam wilayah Azerbaijan adalah untuk mengadu domba kedua belah pihak. Harapannya, jika suatu hari nanti etnis Armenia atau Azerbaijan mencoba membangkang, mereka bakal langsung terlibat konflik 1 sama lain karena sama-sama ingin memegang kendali atas Nagorno-Karabakh. Pada momen itulah, pemerintah pusat Uni Soviet bisa memposisikan dirinya sebagai penengah sambil menumpas perlawanan.

Peta Armenia, Azerbaijan, & Nagorno-Karabakh. (Sumber)

Berkat kebijakan tersebut, Nagorno-Karabakh menjadi wilayah yang sepi dari konflik. Namun situasinya mulai berubah ketika pada tahun 1985, Mikhail Gorbachev menjadi Sekretaris Jenderal baru Partai Komunis Uni Soviet. Karena sistem pemerintahan terpusat dianggap tidak bisa lagi mengatasi masalah sosial & ekonomi yang tengah melanda Uni Soviet, Gorbachev mengeluarkan kebijakan "glasnost" (keterbukaan).

Via kebijakan glasnost, rakyat Uni Soviet kini memiliki kebebasan berpendapat yang lebih luas. Namun keluarnya kebijakan baru tersebut juga membawa dampak negatif. Sentimen nasionalisme berbasis etnis kini semakin menjamur di negara-negara bagian Uni Soviet, termasuk di Armenia & Azerbaijan.

Etnis Armenia & Azerbaijan sama-sama ingin menjadikan wilayah Nagorno-Karabakh berada di bawah kendalinya. Dampaknya, kerusuhan etnis pun kini mulai timbul di masing-masing negara bagian. Di kota-kota besar Azerbaijan, etnis Armenia setempat menjadi sasaran pengeroyokan & pembunuhan massal oleh warga etnis Azerbaijan. Sementara di wilayah Armenia & Nagorno-Karabakh, etnis Armenia setempat yang melakukan pengeroyokan kepada warga etnis Azerbaijan.



PERANG NAGORNO-KARABAKH I & KELANJUTANNYA

Saat Armenia & Azerbaijan akhirnya merdeka dari Uni Soviet, kedua negara tersebut langsung terlibat perang memperebutkan Nagorno-Karabakh. Perang baru berakhir pada tahun 1994 dengan kemenangan pihak Armenia. Seusai perang, wilayah Nagorno-Karabakh & sekitarnya menjadi negara merdeka yang tidak diakui oleh dunia internasional. Kemenangan pihak Armenia dalam Perang Nagorno-Karabakh Pertama juga diikuti dengan terusirnya ratusan ribu etnis Azerbaijan yang selama ini tinggal di Nagorno-Karabakh.

Alasan mengapa pihak Armenia bisa memenangkan Perang Nagorno-Karabakh Pertama adalah karena wilayah tersebut berpenduduk mayoritas etnis Armenia & Nagorno-Karabakh memiliki kondisi geografis yang bergunung-gunung serta banyak dipenuhi jalur sempit. Sebagai akibatnya, meskipun pasukan Azerbaijan lebih unggul dalam hal jumlah personil, mereka tidak bisa memaksimalkan faktor keunggulan tersebut.

Setiap kali Azerbaijan melakukan serangan besar-besaran, pasukan mereka tidak bisa maju secara serempak karena jalur yang hendak dilewati terlalu sempit. Pasukan Armenia di lain pihak hanya perlu bersiaga di sekitar jalur-jalur yang hendak dilewati pasukan Azerbaijan. Begitu pasukan Azerbaijan menampakkan diri, pasukan Armenia bakal langsung menggempur pasukan Azerbaijan dengan memakai senjata api & artileri.

Pasukan Armenia dalam Perang Nagorno-Karabakh Pertama. (Sumber)

Saat pasukan Azerbaijan sudah kehabisan tenaga, barulah pasukan Armenia ganti bertindak sebagai pihak penyerbu & memperluas wilayah kekuasaanya sejengkal demi sejengkal. Dengan cara tersebut, pasukan etnis Armenia bukan hanya berhasil menguasai wilayah Nagorno-Karabakh, tapi juga wilayah-wilayah Azerbaijan yang ada di sekitar Nagorno-Karabakh. Timbulnya kudeta di Azerbaijan pada tahun 1993 hanya membuat kondisi Azerbaijan semakin memburuk, karena kudeta tersebut menunjukkan kalau Azerbaijan dilanda perpecahan internal.

Meskipun mengalami kekalahan dalam Perang Nagorno-Karabakh Pertama, Azerbaijan tetap enggan mengakui kemerdekaan Republik Nagorno-Karabakh. Di pihak berseberangan, meskipun pemerintah Armenia memiliki hubungan yang amat dekat dengan pemerintah Republik Nagorno-Karabakh (atau Republik Artsakh sejak tahun 2017), pemerintah Armenia tetap enggan mengakui kemerdekaan Nagorno-Karabakh secara resmi karena khawatir bakal dikucilkan oleh dunia internasional.

Armenia & Azerbaijan tidak pernah lagi menjalin hubungan diplomatik akibat perang ini. Kedua negara juga terus menyiagakan pasukannya di sepanjang perbatasan & wilayah sengketa. Dampaknya, pasukan kedua negara pun sempat beberapa kali terlibat konflik perbatasan. Pada bulan April 2016 misalnya, timbul pertempuran sengit di perbatasan Nagorno-Karabakh yang menewaskan lebih dari 200 tentara Armenia & Azerbaijan.

Dunia internasional sendiri bukannya diam saja melihat tegangnya hubungan antara 2 negara tetangga tersebut. Pada tahun 1992, lembaga internasional Minsk Group yang beranggotakan perwakilan dari Amerika Serikat, Rusia, & Perancis giat menjalin pembicaraan dengan perwakilan Armenia & Azerbaijan. Namun keberadaan Minsk Group dianggap tidak banyak membantu karena Armenia ingin supaya Artsakh diakui sebagai negara merdeka, sementara Azerbaijan ingin supaya Artsakh kembali menjadi wilayah Azerbaijan.


Peta Republik Artsakh / NKR. (Sumber)


PERBANDINGAN KEKUATAN MENJELANG PERANG

Azerbaijan

Seusai Perang Nagorno-Karabakh Pertama, Azerbaijan memilih untuk fokus menstabilkan kondisi dalam negerinya sambil menghindari konflik berskala besar dengan negara tetangganya. Berkat pendapatan melimpah dari sektor minyak & sistem pemerintahan menejurus otoriter yang diterapkan oleh rezim keluarga Aliiyev, Azerbaijan secara perlahan berhasil tumbuh menjadi salah satu negara termakmur di Kaukasus.

Saat kondisi domestik Azerbaijan sudah jauh membaik, Azerbaijan kemudian memanfaatkan pendapatan dari sektor minyaknya untuk memperbarui stok alutsista yang dimilikinya. Rusia, Turki, & Israel menjadi negara pemasok utama alutsista Azerbaijan. Karena Azerbaijan & Rusia di masa lampau pernah menyatu sebagai bagian dari Uni Soviet, stok persenjataan & kendaraan tempur milik Azerbaijan mayoritasnya merupakan buatan Rusia.

Israel di lain pihak menjual drone kamikaze IAI Harop kepada Azerbaijan. Drone tersebut memiliki fungsi menyerupai peluru kendali (rudal) karena bakal meledak begitu mengenai targetnya. Namun tidak seperti rudal, IAI Harop bisa mengubah arah terbangnya secara otomatis & bisa kembali ke markas dalam kondisi utuh jika sasarannya batal dihancurkan.

Drone IAI Harop. (Sumber)

Drone Bayratkar TB2 beserta para teknisinya. (Sumber)

Turki diketahui menjual drone Bayraktar TB2 kepada Azerbaijan. Drone tersebut memiliki peran layaknya pesawat tempur tanpa awak yang bisa digunakan untuk mengintai & melakukan serangan udara. Selain menjual drone, Turki juga mengirimkan sejumlah pakar militer & intelijen miliknya untuk membantu melatih pasukan Azerbaijan. Keberadaan mereka sama sekali tidak bisa dipandang sebelah mata karena mereka sudah berpengalaman dalam konflik melawan PKK & pasukan pemerintah Suriah.

Media-media internasional seperti Haaretz & BBC juga mengabarkan kalau Azerbaijan dibantu oleh ribuan tentara bayaran asal Suriah yang direkrut & dilatih oleh Turki. Klaim serupa turut dilontarkan oleh Duta Besar Armenia untuk Rusia pada tanggal 28 September 2020. Kemudian menurut pengamat militer Michael Kofman, para tentara bayaran tersebut dikerahkan supaya menjadi sasaran tembak musuh saat pasukan Azerbaijan memulai serangan. Di pihak berseberangan, klaim mengenai pengerahan tentara bayaran tersebut dibantah oleh pemerintah Azerbaijan & Turki.


Armenia

Meskipun Armenia berhasil memenangkan Perang Nagorno-Karabakh Pertama & mempertahankan wilayah tersebut sebagai wilayah yang terpisah dari Azerbaijan, Armenia berada dalam kondisi yang cukup memprihatinkan menjelang Perang Nagorno-Karabakh Kedua. Alutsistanya banyak yang merupakan alutsista warisan Uni Soviet yang notabene sudah ketinggalan zaman.

Armenia tidak bisa memperbarui alutsista miliknya secara besar-besaran karena tidak seperti Azerbaijan yang wilayahnya kaya akan minyak, Armenia adalah salah satu negara termiskin di Kaukasus akibat luas wilayahnya yang kecil & lokasinya yang jauh dari laut. Meskipun begitu, karena Armenia memiliki perjanjian militer dengan Rusia, Armenia bisa menerima pasokan senjata baru dari Rusia secara cuma-cuma.

Pasukan tank Artsakh.

Armenia juga nampak inferior jika melihat kekuatan militer di atas kertas. Menurut situs Global Fire Power, jika Azerbaijan memiliki jumlah tentara aktif 67.000 personil & tentara cadangan 307.000 personil, Armenia hanya memiliki tentara aktif sebanyak 45.000 personil & tentara cadangan berjumlah 171.000 personil. Kemudian dari segi jumlah kendaraan tempur, jika Azerbaijan memiliki 1.451 kendaraan lapis baja & 135 unit pesawat, maka Armenia hanya diperkuat oleh 747 kendaraan lapis baja & 64 unit pesawat.

Jika itu masih belum cukup, kondisi domestik Armenia juga tidak bisa dikatakan stabil. Pada tahun 2018, Armenia sempat diguncang oleh aksi protes berskala nasional karena rakyat Armenia tidak mau lagi dipimpin oleh Serzh Sargsyan, presiden Armenia sejak tahun 2009. Akibat aksi protes tersebut, Sargsyan yang sempat terpilih menjadi perdana menteri pada tahun 2018 terpaksa mundur dari jabatannya.

Nikol Pashinyan kemudian naik menjadi perdana menteri Armenia yang baru di tahun yang sama. Meskipun ia bisa terpilih atas kemauan mayoritas rakyat Armenia, Pashinyan juga dimusuhi oleh tokoh-tokoh berpengaruh di Armenia yang masih loyal kepada Sargsyan. Masih belum stabilnya kondisi domestik Armenia & semakin meningkatnya kekuatan militer Azerbaijan lantas membuat Armenia berada dalam posisi yang kurang menguntungkan menjelang meletusnya Perang Nagorno-Karabakh Kedua.

Lepas dari semua hal tersebut, bukan berarti Armenia hanya akan menjadi bulan-bulanan jika perang benar-benar meletus. Karena yang sedang menguasai wilayah Artsakh adalah komunitas Armenia, mereka memiliki waktu & persiapan yang lebih dari cukup untuk membangun sistem pertahanan sekokoh mungkin. Jika diperlukan, Armenia & Artsakh juga bisa menerjunkan lebih dari 1 juta tentara sekaligus lewat kebijakan wajib militer kepada warganya.


Infografik mengenai perbandingan kekuatan Armenia & Azerbaijan. (Sumber)


BERJALANNYA PERANG

Juli & September

Tanggal 11 Juli 2020, timbul konflik di perbatasan Armenia & Azerbaijan, tepatnya di wilayah Tavush (Armenia) & Tovuz (Azerbaijan) yang lokasinya jauh di sebelah utara Artsakh. Dalam konflik tersebut, pasukan tank & artileri milik kedua belah pihak saling terlibat baku tembak. Tidak diketahui siapa yang menyerang lebih dulu karena baik Armenia & Azerbaijan sama-sama menyalahkan negara tetangganya sebagai pihak yang memulai serangan.

Hari demi hari berlalu, konflik tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Korban pun mulai berjatuhan di kedua belah pihak Jumlah korban tewas pada tanggal 15 Juli dilaporkan sudah mencapai 15 jiwa, di mana 11 di antaranya merupakan tentara Azerbaijan. Sehari berselang, juru bicara Kementerian Luar Negeri Azerbaijan mengeluarkan ancaman kalau negaranya siap menghancurkan reaktor nuklir Armenia jika diperlukan.

Memasuki tanggal 20 Juli, kedua belah pihak akhirnya melakukan gencatan senjata atas tekanan dunia internasional. Namun gencatan senjata tersebut terancam batal setelah Azerbaijan mengklaim kalau Armenia menembakkan 4 roket artileri Tochka ke Mingecevir, kota terbesar ke-4 di Azerbaijan. Armenia balik membela diri dengan menyatakan Azerbaijan-lah yang melanggar gencatan senjata dengan melakukan 137 insiden penembakan.

Lepas dari insiden tersebut, kedua belah pihak tetap berkomitmen untuk tetap menjaga gencatan senjata. Namun realita di lapangan menunjukkan kalau konflik-konflik sporadis masih tetap berlangsung. Pada tanggal 23 Juli contohnya, Azerbaijan mengklaim kalau pihaknya berhasil menembak jatuh drone pengintai X-55 milik Armenia di dekat Agdam, Azerbaijan barat laut. Armenia di hari yang sama mengklaim kalau Azerbaijan sudah melakukan 47 insiden penembakan selama 24 jam terakhir.

Meriam artileri Azerbaijan.

Beberapa pekan berlalu, ketegangan di antara kedua negara yang tadinya mulai mereda secara tiba-tiba meledak menjadi perang berskala besar. Pada tanggal 27 September, pasukan artileri Azerbaijan melepaskan tembakan ke kota Stepanakert, ibukota Artsakh. Di hari yang sama, Armenia menembak jatuh 2 helikopter milik Azerbaijan & melepaskan tembakan artileri ke Terter, kota milik Azerbaijan yang terletak di sebelah timur Artsakh.

Tindakan Azerbaijan menyerang Stepanakert lantas mendorong PM Armenia, Nikol Pashinyan, untuk mengumumkan darurat perang & wajib militer kepada rakyatnya. Sementara itu di Artsakh, pasukan Azerbaijan melakukan invasi ke arah Artsakh tenggara pada tanggal 28 September. Dalam invasi tersebut, pasukan Azerbaijan mengklaim kalau pihaknya berhasil merebut sejumlah desa di Artsakh tenggara.

Azerbaijan juga mengklaim kalau pihaknya berhasil menewaskan lebih dari 550 tentara Armenia, serta menghancurkan 22 unit tank, 15 instalasi pertahanan anti-udara, & 3 gudang senjata milik Armenia / Artsakh. Armenia di lain pihak mengklaim kalau pihaknya berhasil menewaskan lebih dari 200 tentara Azerbaijan, serta menghancurkan 30 kendaraan lapis baja & 20 drone milik Azerbaijan.

Tank Azerbaijan yang terbakar akibat serangan pasukan Armenia. (Sumber)

Tanggal 29 September, konflik antara pasukan Azerbaijan melawan pasukan Armenia / Artsakh akhirnya turut menjalar ke bagian tengah & timur Artsakh. Di Artsakh tengah, pasukan Azerbaijan menembakkan artileri ke kota Martuni. Di Artsakh utara, pasukan Armenia & Azerbaijan terlibat pertempuran di Mataghis. Azerbaijan juga mengklaim kalau pasukan Armenia menembakkan artileri ke Dashkesan, kota milik Azerbaijan yang lokasinya berada jauh di sebelah utara Artsakh.

Tanggal 30 September, konflik di Artsakh utara akhirnya turut menjalar ke arah timur setelah pasukan Armenia & Azerbaijan terlibat pertempuran sengit di dekat Terter / Tartar, kota milik Azerbaijan yang berjarak tidak jauh dari Mataghis, Artsakh. Sementara di Artsakh tengah, pasukan Armenia mengaku berhasil menembak jatuh 2 drone milik Azerbaijan di Stepanakert / Xankandi.


Oktober

Jatuhnya drone Azerbaijan tidak membuat penduduk Stepanakert bisa bernafas lega. Pasalnya memasuki tanggal 1 Oktober, pasukan Azerbaijan menembakkan artilerinya ke arah Stepanakert. Pasukan Armenia lantas mencoba memecah konsentrasi pasukan Azerbaijan yang tengah menggempur Stepanakert dengan cara menembakkan artilerinya ke lokasi-lokasi pasukan Azerbaijan di Artsakh utara & tenggara.

Tanggal 4 Oktober, di saat pertempuran di Artsakh utara masih berlangsung, pasukan Azerbaijan di Artsakh tenggara berhasil merebut kota Jebrayil & memperluas wilayah taklukannya. Namun saat pasukan Azerbaijan di Jebrayil mencoba melaju lebih jauh ke arah utara, pasukan Armenia berhasil membendung laju pasukan Azerbaijan tersebut.

Peta lokas-lokasi pertempuran dalam Perang Nagorno-Karabakh Kedua. (Sumber)

Saat pasukan Armenia mulai kewalahan meladeni laju pasukan Azerbaijan di Artsakh selatan & tenggara, mereka lantas menembakkan artileri secara membabi buta ke kota-kota milik Azerbaijan yang terletak di sebelah timur laut Artsakh. Kota-kota yang menjadi sasaran penyerangan Armenia di antaranya adalah Agcabedi, Terter, & Barda.

Tindakan pasukan Armenia menyerang kota-kota milik Azerbaijan yang terletak di luar Artsakh terbilang membingungkan. Pasalnya kota-kota tersebut terletak di luar wilayah sengketa & tidak memiliki nilai penting dari segi militer. Namun kuat dugaan kalau Armenia sengaja menyerang kawasan padat penduduk milik Azerbaijan supaya Azerbaijan merasa marah & akhirnya balik menyerang kota-kota di wilayah Armenia secara membabi buta. Jika hal tersebut benar-benar terjadi, maka Rusia bakal membantu Armenia karena Rusia & Armenia memiliki perjanjian militer.

Jika tujuan Armenia melakukan serangan artileri ke wilayah Azerbaijan adalah untuk memancing keterlibatan Rusia, maka Armenia harus gigit jari karena nyatanya Azerbaijan tidak terpancing untuk menyerang wilayah Armenia secara langsung. Kemudian pada tanggal 7 Oktober, Vladimir Putin selaku presiden Rusia menyatakan kalau pihaknya tidak akan melakukan intervensi militer selama konfliknya hanya berlangsung di wilayah Artsakh & tidak menjalar hingga ke wilayah Armenia.

Tanggal 10 Oktober, Armenia & Azerbaijan sepakat melakukan gencatan senjata. Gencatan senjata tersebut dicapai setelah perwakilan kedua belah pihak melakukan perundingan di kota Moskow atas mediasi Rusia. Namun gencatan senjata tersebut tidak berlangsung lama setelah kedua belah pihak saling melontarkan tuduhan kalau pihak lawannya melanggar gencatan senjata lebih dulu.

Armenia mengklaim kalau pasukan Azerbaijan masih menembakkan artileri ke kota Stepanakert & melanjutkan pergerakannya di Artsakh tenggara. Azerbaijan di lain pihak mengklaim kalau Armenia menembakkan artileri ke kota Ganja / Ganca yang terletak di sebelah utara Artsakh. Azerbaijan juga mengklaim kalau serangan tersebut mengakibatkan tewasnya 7 warga sipil Ganja. Sebelumnya pada bulan September, Armenia mengklaim kalau ada pesawat tempur F-16 Turki yang bersiaga di bandara Ganja.

Kondisi kota Ganja sesudah terkena serangan misil Armenia. (Sumber)

Lepas dari aksi saling tuduh tersebut, gagalnya gencatan senjata menyebabkan perang di Artsakh pada akhirnya terus berlanjut. Pada tanggal 14 Oktober, wilayah taklukan pasukan Azerbaijan di Artsakh selatan semakin bertambah setelah mereka berhasil menguasai desa-desa di sebelah utara Jebrayil. Tiga hari kemudian, Armenia mencoba memecah konsentrasi pasukan Azerbaijan di Artsakh selatan dengan cara menembakkan roket artileri Elbrus ke kota Ganja, sebelah utara Artsakh, di mana serangan tersebut menewaskan setidaknya 35 orang.

Tanggal 19 Oktober, pesawat militer Iran menembak jatuh drone Armenia yang terbang memasuki wilayahnya, namun insiden tersebut tidak sampai membuat Iran turut melibatkan diri dalam perang. Di Artsakh sendiri, pasukan Azerbaijan masih menunjukkan tren positif karena kini semakin banyak wilayah di Artsakh selatan yang berhasil dikuasai oleh Azerbaijan. Pasukan Armenia mencoba mendesak balik pasukan Azerbaijan dengan cara melakukan serangan ke Khudaferin, Artsakh selatan, namun mereka berhasil dipukul mundur oleh pasukan Azerbaijan.

Masih di tanggal yang sama, Azerbaijan mengklaim kalau pihaknya berhasil menangkis roket artileri yang ditembakkan pasukan Armenia ke arah pipa minyak yang menghubungkan ibukota Baku dengan Novorossiysk (Rusia). Tuduhan Azerbaijan tersebut langsung dibantah oleh pihak Armenia. Namun jika memang benar Armenia menyerang pipa minyak Azerbaijan, maka tindakan tersebut diduga dilakukan untuk melumpuhkan perekonomian Azerbaijan mengingat minyak merupakan sumber ekonomi utama Azerbaijan.

Tanggal 24 Oktober, sebagian besar wilayah Artsakh selatan kini berada di tangan pasukan Azerbaijan. Bahkan pasukan mereka kini berada tepat di sebelah tenggara perbatasan Armenia dengan Artsakh. Akibatnya, pada tanggal 25 Oktober pasukan Armenia & Azerbaijan sempat terlibat bentrokan di perbatasan tenggara Armenia. Sementara itu, jauh di sebelah timur perbatasan Armenia, pasukan Azerbaijan berhasil menguasai kota Hadrut, Nagorno-Karabakh selatan.


Peta wilayah taklukan pasukan Azerbaijan pada tanggal 3 Oktober (warna kuning).

Peta wilayah taklukan pasukan Azerbaijan pada tanggal 17 Oktober.

Peta wilayah taklukan pasukan Azerbaijan pada tanggal 1 November.


November

Setelah berhasil menguasai Hadrut, pasukan Azerbaijan kemudian menyusup ke arah utara menuju Shusha, Nagorno-Karabakh tengah. Pada tanggal 1 November, pertempuran sengit antara pasukan Armenia & Azerbaijan akhirnya pecah di dekat Shusha. Bagi Armenia, Shusha adalah segalanya karena kota tersebut merupakan kota terbesar kedua di Artsakh & posisinya amat strategis di tengah-tengah Artsakh.

Di sebelah utara Shusha, terdapat Stepanakert yang berstatus sebagai kota terbesar sekaligus ibukota Artsakh. Sementara di sebelah barat Shusha, terdapat kota Lachin yang menjadi jalur penghubung utama antara wilayah Armenia dengan Nagorno-Karabakh. Oleh karena itulah, kedua belah pihak bertempur habis-habisan memperebutkan kota ini.

Saat pertempuran berlangsung semakin sengit, pemerintah Artsakh terpaksa menutup jalan yang menghubungkan kota Shusha dengan Lachin pada tanggal 5 November. Tanggal 9 November, kota Shusha akhirnya benar-benar jatuh ke tangan pasukan Azerbaijan. Jatuhnya Shusha membuat pasukan Azerbaijan kini berada tepat di sebelah selatan ibukota Stepanakert.

Peta lokasi Shusha / Shushi. (Sumber)

Saat konflik antara Armenia & Azerbaijan tengah sengit-sengitnya berlangsung, terjadi insiden yang nyaris membuat Rusia ikut terseret ke dalam perang. Pada tanggal 9 November, pasukan Azerbaijan tanpa sengaja menembak jatuh helikopter Mi-24 milik Rusia yang sedang terbang di wilayah Armenia. Peristiwa tersebut terjadi tidak jauh dari Nakhchivan, wilayah milik Azerbaijan yang terletak di antara Turki & Armenia.

Begitu Azerbaijan menyadari tindakan yang mereka lakukan, Kementerian Luar Negeri Azerbaijan langsung merilis permintaan maaf secara resmi sambil berjanji bakal memberikan ganti rugi. Beruntung bagi Azerbaijan, Rusia menerima permintaan maaf tersebut sehingga bayang-bayang ketakutan kalau Rusia bakal turut campur dalam perang ini tidak sampai terwujud.

Sementara itu di Armenia, pemerintah setempat pada awalnya membantah kalau pasukan Azerbaijan berhasil merebut Shusha. Namun selihai apapun pemerintah Armenia mencoba menutup-nutupi informasi, penduduk Stepanakert sudah terlanjur dilanda gelombang kepanikan. Mereka beramai-ramai mengungsi ke negara Armenia karena khawatir mereka bakal dibantai oleh pasukan Azerbaijan jika tetap tinggal di Stepanakert.

Pemerintah Azerbaijan sendiri mencoba menghilangkan kesan kalau pasukannya ingin membantai habis etnis Armenia dengan menyatakan bahwa yang dimusuhi oleh Azerbaijan bukanlah etnis Armenia, melainkan rezim yang sedang berkuasa di Armenia & Artsakh. Di Armenia sendiri, jatuhnya Shusha ke tangan Azerbaijan membuat pemerintah Armenia berkesimpulan kalau melanjutkan perang hanya akan membuat Stepanakert bakal bernasib seperti Shusha.

Presiden Rusia & Azerbaijan saat menandatangani kesepakatan damai. (Sumber)

Atas pertimbangan tersebut, pemerintah Armenia pun bersedia melakukan perundingan damai dengan difasilitasi oleh Rusia. Hasilnya, pada tanggal 10 November pemerintah Armenia & Azerbaijan setuju untuk menandatangani kesepakatan damai. Berdasarkan perjanjian damai ini, semua wilayah sengketa di wilayah sekitar Nagorno-Karabakh bakal menjadi milik Azerbaijan.

Wilayah Nagorno-Karabakh utara & selatan yang sedang dikuasai oleh Azerbaijan juga diakui sebagai wilayah milik Azerbaijan. Sementara wilayah Nagorno-Karabakh yang masih dikuasai oleh pemerintah separatis Artsakh bakal dijaga oleh pasukan perdamaian Rusia. Pasukan perdamaian Rusia juga bakal ditempatkan di Koridor Lachin yang menghubungkan wilayah Armenia dengan sisa-sisa wilayah Nagorno-Karabakh milik Artsakh.

Perjanjian damai ini bukan hanya mengatur soal masalah status wilayah Nagorno-Karabakh. Lewat perjanjian damai yang sama, jalur darat / koridor yang menghubungkan wilayah Nakhcivan & Azerbaijan timur juga bakal dibuat melintasi wilayah Armenia selatan. Dengan dicapainya kesepakatan damai ini, Perang Nagorno-Karabakh Kedua pun berakhir dengan keberhasilan Azerbaijan mendapatkan kembali mayoritas wilayah sengketanya.


Peta pembagian wilayah Nagorno-Karabakh berdasarkan kesepakatan damai. (Sumber)


PENYEBAB KEMENANGAN AZERBAIJAN

Perang Nagorno-Karabakh Kedua memiliki hasil akhir yang jauh berbeda dibandingkan Perang Nagorno-Karabakh Pertama. Keunggulan alutsista menjadi faktor kunci mengapa Azerbaijan yang menjadi pecundang dalam perang pertama kini bisa berbalik keluar sebagai pemenang. Berkat keberadaan drone, pasukan Azerbaijan bisa melakukan pengintaian terlebih dahulu sebelum melakukan serangan lewat jalur darat.

Pasukan Azerbaijan juga menggunakan drone untuk menghancurkan sasaran-sasaran seperti kendaraan tempur & basis pertahanan milik pasukan Armenia. Banyaknya kendaraan tempur Armenia yang menjadi korban serangan drone tidak lepas dari kesalahan taktik yang digunakan oleh pasukan Armenia.

Dalam perang ini, pasukan Armenia memiliki kebiasaan untuk menyiagakan armada tank & kendaraan tempur miliknya dalam kondisi menggerombol tanpa dilengkapi dengan kamuflase yang memadai. Taktik itu sendiri digunakan karena sebelum ini, perang di kawasan Nagorno-Karabakh umumnya berupa pertempuran darat memakai tank & artileri.

Pasukan Armenia tidak menyangka kalau pasukan udara bakal memiliki peran yang semakin penting di pihak Azerbaijan. Sebagai akibatnya, saat drone-drone Azerbaijan melakukan serangan udara ke arah kerumunan tank Armenia, pasukan tank Armenia tidak bisa berbuat banyak untuk menangkal serangan tersebut.

Saat menyerang basis pertahanan udara, pasukan Azerbaijan bakal mengerahkan drone dalam jumlah besar untuk menyerang suatu sasaran. Kewalahan karena harus menembak jatuh banyak drone sekaligus, hanya masalah waktu sebelum basis pertahanan tersebut hancur. Kalaupun ada drone yang berhasil ditembak jatuh, Azerbaijan tidak perlu khawatir soal korban jiwa karena drone tidak sama dengan pesawat yang dinaiki oleh manusia.

Rekaman drone Azerbaijan saat menyerang bunker pasukan Armenia. (Sumber)

Tidak jarang pasukan Azerbaijan merasa kebingungan saat harus menghancurkan instalasi pertahanan udara Armenia karena instalasi tersebut berada dalam kondisi tersamar. Untuk mengatasinya, militer Azerbaijan memodifikasi pesawat Antonov AN-2 - pesawat tua buatan Uni Soviet yang di masa kini lebih sering digunakan untuk menyemprotkan air & pestisida - supaya bisa dikendalikan dari jauh layaknya drone. Pesawat tersebut juga didandani sedemikian rupa hingga nampak seperti drone modern.

Pesawat hasil modifikasi tadi kemudian diterbangkan ke lokasi-lokasi yang diduga dijaga oleh pasukan Armenia. Sementara jauh di ketinggian, drone pengintai Azerbaijan terbang lambat sambil mengawasi pesawat tersebut. Saat pesawat yang bersangkutan akhirnya ditembak jatuh oleh sistem pertahanan anti-udara Armenia yang keberadaannya tersamar, drone pengintai tadi akan langsung mendeteksi sumber tembakan sehingga posisi instalasi anti-udara Armenia bisa langsung ketahuan.

Pasukan Azerbaijan juga lihai memecah konsentrasi pasukan Armenia. Di hari-hari awal peperangan, pasukan Azerbaijan melakukan serangan dari arah utara & selatan sekaligus. Akibatnya, pasukan Armenia kebingungan harus mengkonsentrasikan pasukannya di sisi sebelah mana. Saat perang memasuki fase krusial, barulah pasukan Azerbaijan memfokuskan serangannya dari arah selatan.

Berkat latihan khusus yang mereka terima dari instruktur militer Turki, pasukan darat Azerbijan juga semakin mahir dalam melakukan taktik gerilya & sabotase. Mereka akan bergerak dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelinap masuk ke dalam kota atau desa sasarannya. Sesampainya di sana, pasukan Azerbaijan akan memberikan koordinat lokasi musuh supaya bisa dihancurkan secara akurat memakai artileri & serangan udara.

Lewat taktik serupa, pasukan Azerbaijan berhasil menguasai Shusha tanpa harus repot-repot mengerahkan persenjataan beratnya. Saat pasukan Armenia tengah sibuk meladeni pasukan Azerbaijan di luar Shusha, pasukan khusus Azerbaijan secara diam-diam menyelinap masuk ke dalam Shusha. Saat sudah berada di dalam kota, mereka kemudian membunuhi tentara Armenia & berhasil menguasai kota tersebut dari dalam.


Pasukan khusus Azerbaijan yang sedang berparade.


KONDISI PASCA PERANG

Perang Nagorno-Karabakh Kedua merupakan salah satu perang paling berdarah di tahun 2020. Jumlah korban tewas dalam perang ini mencapai lebih dari 5.000 jiwa dengan rincian 2.425 korban tewas di pihak Armenia, 2.783 korban tewas di pihak Azerbaijan, & 143 warga sipil tewas di kedua belah pihak.

Meskipun Azerbaijan gagal menguasai kembali seluruh wilayah Nagorno-Karabakh, perang ini tetap dianggap sebagai kesuksesan besar oleh pihak Azerbaijan. Pasalnya seusai perang, mayoritas wilayah sengketa yang selama ini dikuasai oleh kubu Armenia kembali berada di bawah pengelolaan Azerbaijan. Berkat perang ini pulalah, wilayah Nakhcivan & Azerbaijan yang selama ini terpisah akhirnya terhubung lewat jalur darat.

Untuk merayakan keberhasilan tersebut, pemerintah Azerbaijan menggelar parade militer di ibukota Baku pada tanggal 10 Desember. Parade militer tersebut juga turut dihadiri oleh Recep Erdogan, presiden Turki. Antusiasme juga ditunjukkan oleh rakyat Azerbaijan yang sesudah Perang Nagorno-Karabakh Pertama terpaksa mengungsi. Pasalnya setelah sekian lama, mereka bisa kembali ke tanah asalnya.

Kondisi yang berbeda 180 derajat terjadi di Armenia. Tidak lama setelah isi perjanjian damai ini tersiar ke Armenia, demonstrasi & kerusuhan pecah di ibukota Yerevan hingga berhari-hari kemudian. Para demonstran & kubu oposisi beramai-ramai menuntut PM Nikol Pashinyan supaya segera mundur dari jabatannya. Pashinyan menolak tuntutan tersebut sambil berkata bahwa jika perang tetap dilanjutkan, justru Artsakh bakal kehilangan wilayah lebih banyak lagi.

Massa di Armenia yang menggelar aksi protes menentang kesepakatan damai.

Hanya berselang beberapa jam setelah perjanjian damai antara Armenia & Azerbaijan dicapai, pasukan perdamaian Rusia yang berkekuatan 2.000 personil dikirim ke wilayah Artsakh untuk mencegah timbulnya kembali konflik di wilayah tersebut. Turki juga berniat mengirimkan personilnya untuk mengawasi jalannya perdamaian di Artsakh, namun belum diketahui seperti apa keterlibatan Turki nantinya karena Rusia melarang keberadaan pasukan Turki di wilayah Artsakh.

Di hari-hari terakhir perang, penduduk kota Stepanakert yang jumlahnya mencapai 55.000 jiwa berbodong-bondong pergi mengungsi ke Armenia karena khawatir akan dibunuh oleh pasukan Azerbaijan. Namun saat pasukan perdamaian Rusia sudah mulai bertugas, sebanyak 26.000 di antara para pengungsi tadi sudah mulai berani untuk kembali ke Stepanakert & memulai aktivitasnya seperti sedia kala.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



DAFTAR PERANG NAGORNO-KARABAKH

- Perang Nagorno-Karabakh I
- Perang Nagorno-Karabakh II (artikel ini)



RINGKASAN PERANG

Waktu & Lokasi Pertempuran
- Waktu : Juli - November 2020
- Lokasi : Artsakh, Azerbaijan

Pihak yang Bertempur
(Daerah)  -  Artsakh
(Negara)  -  Armenia
         melawan
(Negara)  -  Azerbaijan
(Grup)  -  milisi pro-Azerbaijan

Hasil Akhir
- Kemenangan pihak Azerbaijan
- Mayoritas wilayah Artsakh menjadi milik Azerbaijan
- Wilayah Artsakh menyusut hingga tinggal menyisakan sebagian wilayah Nagorno-Karabakh
- Pasukan perdamaian Rusia ditempatkan di Koridor Lachin & Artsakh

Korban Jiwa
- Armenia : 2.425 jiwa
- Azerbaijan : 2.783 jiwa
- Warga sipil : 143 jiwa



REFERENSI

Al Jazeera - Azerbaijan says 2,783 soldiers killed in Nagorno-Karabakh clashes
BBC News - Armenia, Azerbaijan and Russia sign Nagorno-Karabakh peace deal
BBC News - Nagorno-Karabakh conflict killed 5,000 soldiers
BBC News - The Syrian mercenaries used as 'cannon fodder' in Nagorno-Karabakh
Carnegie Endowment for International Peace - A Former Official’s Unsettling Death....
Country Studies - Azerbaijan - The Coup of June 1993
Eurasianet - Azerbaijani president calls into question negotiations with Armenia
Eurasianet - Fears of civilian exodus rise as Azerbaijan advances in Karabakh
GlobalSecurity.org - Nagorno-Karabakh
GlobalSecurity.org - Nagorno-Karabakh / Republic of Artsakh - 2020
Haaretz - War Tore Their Country Apart. Now It's Sending Young Syrians to Fight....
OC Media - Azerbaijan holds victory parade in Baku
OC Media - Live updates : Fighting continues despite second ceasefire
Radio Free Europe - Life Returns To Stepanakert
Radio Free Europe - Technology, Tactics, And Turkish Advice Lead Azerbaijan To....
SouthFront - #Nagorno-Karabakh War Archives
The Defense Post - Drone Effectiveness Against Air Defenses, Not Tanks, Is the....
Wikipedia - Battle of Shusha (2020)
Cornell, S.E.. 1999. "The Nagorno-Karabakh Conflict". Uppsala University, Swedia.

 





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

2 komentar:

  1. Allahu Akbar! Luar biasa Azer. Armenia lagian mau maling di tanah orang, berharap bantuan Om Rusky, mau perang gak ada modal

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.