FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Angola, Negeri Berlian yang Penuh Pergolakan




Tentara Angola di depan kendaraan peluncur misil. (Sumber)

Pernah menonton film "Blood Diamond" yang dirilis tahun 2006? Film bergenre action yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio itu pada intinya bercerita tentang perjalanan seorang pengumpul berlian ilegal yang sedang mencari berlian legendaris bernama "berlian darah" (blood diamond) di Sierra Leone. Percaya atau tidak, situasi Sierra Leone yang dalam film tersebut digambarkan penuh dengan intrik & kekacauan memang benar-benar ada di dunia nyata. Namun artikel kali ini bukan ingin membahas soal Sierra Leone, tapi soal negara Afrika lain bernama Angola yang tanahnya juga kaya akan berlian - serta pergolakan.

Sebagai sebuah negara beriklim tropis yang terletak di pantai barat daya Afrika, Angola sebenarnya memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi negara makmur. Tanahnya subur & dipenuhi oleh aneka tumbuhan tropis yang bermanfaat bagi manusia. Bahan-bahan tambang berharga tinggi seperti minyak bumi & berlian juga tersimpan di bawah tanahnya. Sayang, semua kekayaan yang dimiliki Angola justru bagaikan kutukan karena akibat perebutan kekayaan yang dikandung tanahnya, Angola terjerumus dalam konflik berkepanjangan selama puluhan tahun. Baik konflik antara sesama rakyat Angola sendiri, maupun konflik antara pasukan-pasukan asing yang ingin menancapkan pengaruhnya di Angola.



SEJARAH SEBELUM KEMERDEKAAN

Abad ke-15, untuk pertama kalinya penjelajah Portugis (Portugal) menginjakkan kaki di wilayah Angola. Sejak itu, semakin banyak orang-orang Portugis yang datang & bermukim di Angola. Dalam perkembangannya, wilayah Angola kemudian menjadi sentra perdagangan budak bagi Portugal. Ketika sejak abad ke-19 praktik perdagangan budak dilarang di berbagai negara, Portugal mulai menerapkan sistem kerja paksa kepada penduduk lokal untuk membuka lahan-lahan perkebunan komersial di Angola. Kebijakan baru Portugal tersebut lalu menimbulkan reaksi perlawanan dari penduduk lokal, namun Portugal berhasil meredam aksi-aksi perlawanan yang timbul.

(Atas-bawah) Lambang dari
MPLA,  FNLA, & UNITA.
Kendati Portugal berhasil mempertahankan kekuasaannya di Angola, perlawanan dari penduduk lokal tidak pernah benar-benar berhenti menyusul semakin merebaknya gerakan nasionalisme di Angola. Sejak dekade 1950-an, muncul kelompok-kelompok milisi lokal yang ingin mengenyahkan Portugal dari tanah mereka. Kelompok pertama yang terbentuk adalah Movimento Popular de Libertaçcão de Angola (MPLA; Gerakan Kemerdekaan Populer untuk Angola) pada tahun 1956 di mana para pendirinya adalah anggota partai komunis Portugal & didukung oleh Uni Soviet.

Setahun kemudian, muncul lagi kelompok milisi baru bernama Frente Nacional de Libertação de Angola (FNLA; Front Nasional Pembebasan Angola) yang disokong oleh Amerika Serikat (AS). Kelompok milisi terakhir yang terbentuk adalah União Nacional para a Independência Total de Angola (UNITA; Persatuan Nasional untuk Kemerdekaan Total Angola) yang didirikan pada tahun 1966 oleh Jonas Savimbi yang sempat menimba ilmu di Cina. Ketiga kelompok tersebut lalu bekerja sama untuk memerdekakan Angola dari tangan Portugal. Portugal lantas merespon aksi perlawanan tersebut dengan menerjunkan pasukan ke Angola secara besar-besaran sejak tahun 1961.

Portugal sendiri pada periode itu sedang dalam posisi yang tidak menguntungkan karena sebagai negara otoriter yang tidak memihak blok manapun dalam Perang Dingin, Portugal dikucilkan oleh banyak negara. Operasi militer mereka di Angola juga dipersulit oleh membanjirnya bantuan dari negara-negara luar kepada milisi-milisi Angola. Upaya Portugal untuk meredam aksi pemberontakan di Angola akhirnya berakhir dengan sendirinya ketika pada tahun 1974, muncul gerakan revolusi di Portugal yang dikenal dengan nama "Revolusi Anyelir" & pemerintahan pasca revolusi tersebut tidak tertarik untuk memperpanjang kekuasaan mereka di negara-negara jajahannya (termasuk Angola).

Berakhirnya operasi militer Portugal ternyata tidak serta merta mengakhiri konflik bersenjata di Angola karena ketiga milisi yang semula bekerja sama melawan Portugal tersebut mulai bertempur satu sama lain untuk menjadi pihak paling berkuasa di Angola. Pemerintah Portugal sempat turun tangan dengan mengundang perwakilan dari ketiga milisi untuk berunding di Portugal pada bulan Januari. Hasilnya, ketiga milisi tersebut sepakat untuk membentuk pemerintahan transisi di Angola melalui perjanjian yang dikenal dengan nama "Persetujuan Alvor". Angola pun kemudian resmi dimerdekakan pada tanggal 11 November 1975.



MERDEKANYA ANGOLA & DIMULAINYA PERANG SAUDARA

Usai perundingan yang dilakukan di Portugal, situasi Angola tidak segera membaik karena timbul kembali perpecahan dalam pemerintahan transisi yang baru terbentuk. MPLA yang sedang menguasai ibukota Luanda langsung mendeklarasikan berdirinya Republik Rakyat Angola yang berideologi komunis. FNLA & UNITA lantas meresponnya dengan membentuk pemerintahan tandingan yang beribukota di Huambo pada tanggal 23 November 1975. Sejak saat itu, Angola pun seperti terbelah 2 antara pemerintahan komunis milik MPLA di pantai barat Angola & pemerintahan campuran FNLA-UNITA di wilayah Angola timur.

Peta wilayah Angola. (Sumber)
Perkembangan situasi Angola dengan cepat menarik perhatian negara-negara besar. AS yang khawatir bahwa Angola bisa menjadi negara komunis seutuhnya mulai menambah dukungannya pada pemerintahan koalisi milik MPLA & UNITA dengan jalan mengirimkan persenjataan dalam jumlah besar melalui wilayah Zaire, salah satu sekutu AS di Afrika saat itu. Pihak FNLA lebih lanjut juga meminta bantuan Afrika Selatan (Afsel) untuk menempatkan pasukannya di Angola.

Bulan Maret 1975, pasukan FNLA akhirnya melakukan serangan ke markas milik MPLA di Luanda dari sebelah utara Angola. Serangan tersebut lalu diikuti dengan gelombang serangan kedua pada bulan April. Sebulan kemudian, pasukan Zaire ikut terjun ke medan perang dengan menyerang Angola dari perbatasan utara kedua negara. Situasi semakin runyam bagi MPLA setelah pasukan UNITA & Afsel melakukan serangan dari selatan Angola sehingga MPLA dipaksa mundur ke ibukota Luanda.

Di tengah kondisi yang serba sulit bagi MPLA, Uni Soviet mengirimkan bantuan persenjataan ke Luanda sehingga MPLA kini mendapat suntikan kekuatan untuk memukul mundur pasukan FNLA. Lebih lanjut, Uni Soviet juga meminta negara sekutunya di Amerika Tengah, Kuba, untuk ikut mengirimkan bantuan yang mencakup pasukan berjumlah belasan ribu & tenaga medis ke Angola. Hasilnya efektif. Pasukan gabungan Kuba & Angola (MPLA) berhasil mengusir pasukan Afsel & UNITA keluar wilayah selatan Angola pada tahun 1976.



MERAMBATNYA PERANG KE ZAIRE & NAMIBIA

Bulan Maret 1977, provinsi Shaba di sebelah tenggara Zaire diserang oleh kelompok milisi anti-pemerintah FNLC yang didukung oleh Angola (MPLA). Penyebab utama mengapa Angola mendukung FNLC adalah karena pemerintah Zaire mendukung kelompok UNITA & FNLA. Serangan FNLC tersebut berhasil dipatahkan oleh Zaire setelah pasukan FNLC gagal mengalahkan pasukan gabungan Zaire-Maroko-UNITA. Setahun kemudian, FNLC kembali menyerang provinsi Shaba, namun kembali berhasil dipukul mundur. Angola & Zaire akhirnya sepakat menjalin kesepakatan damai pada tahun 1979 di mana keduanya sepakat untuk menghentikan dukungannya kepada milisi-milisi anti-pemerintah di masing-masing negara.

Peta serangan SWAPO ke Afrika
Barat Daya (Namibia). (Sumber)
Memasuki dekade 1980-an, MPLA sudah berhasil menguasai sebagian besar wilayah Angola & mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa berdaulat Angola. FNLA di lain pihak semakin kehilangan pengaruh & kekuatannya sehingga sejak periode ini, perang sipil Angola tinggal menjadi perang antara pemerintah Angola (MPLA) melawan UNITA. Pertempuran di Angola pada periode ini juga mulai merambat ke wilayah Afrika Barat Daya (sekarang Namibia) sebagai akibat dari semakin meningkatnya aktivitas pasukan milisi South West Africa People's Organization (SWAPO) yang berbasis di Angola & ingin memerdekakan wilayah Afrika Barat Laut dari tangan Afsel. Pemerintah Afsel lantas meresponnya dengan kembali mengirim pasukan dalam jumlah besar ke Angola.

Sejak tahun 1980, pasukan militer Afsel secara aktif menyerang wilayah-wilayah di selatan Angola dengan dalih memberangus pasukan SWAPO yang bermarkas di Angola. Pemerintah Angola memprotes tindakan Afsel tersebut sebagai bentuk pelanggaran kedaulatan. Serangan Afsel lantas direspon Uni Soviet dengan menambah bantuan & mengirimkan penasihat militer ke Angola. Kuba juga menambah jumlah pasukannya di Angola sehingga sejak tahun 1982, jumlah pasukan Kuba di Angola membengkak menjadi 30.000 personil lebih. AS di lain pihak terus menambah bantuan finansial & persenjataan kepada UNITA dengan harapan bisa membendung pengaruh komunis dari Uni Soviet & Kuba di kawasan tersebut.

Tahun 1988, terjadi salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah Afrika antara pasukan Kuba & Angola (MPLA) melawan pasukan UNITA & Afsel di kota Cuito Cuavanale, provinsi Cuando Cubango, Angola tenggara. Dalam pertempuran itu, kedua belah pihak sama-sama mengerahkan tank, artileri, & pesawat tempur. Pasukan Afsel pada awalnya menjadi pihak penyerbu & berhasil mendesak mundur pasukan gabungan Kuba-Angola, namun mereka pada akhirnya dipaksa mundur kembali setelah persenjataan usang milik mereka gagal mengimbangi peralatan tempur termutakhir milik Kuba & Angola. Usai pertempuran, area dekat Cuito Cuvanale menjadi salah satu ladang ranjau terbesar di Angola.

Sejak awal tahun 1988, perundingan antara Kuba & milisi-milisi Angola dilakukan dengan difasilitasi oleh PBB untuk membahas penarikan mundur pasukan Kuba dari Angola. Selama ini UNITA mengklaim bahwa penyebab utama kenapa mereka terus bertempur adalah karena pasukan Kuba ikut campur dalam perang sipil di Angola & adanya kecurigaan Kuba ingin menyebarkan paham komunis di kawasan tersebut. Afsel kemudian ikut serta dalam perundingan pasca pertempuran di Cuito Cuavanale setelah mereka merasa tidak bisa lagi bertempur lebih lama melawan pasukan Angola, Kuba, & milisi SWAPO.

Tentara Kuba di Angola. (Sumber)
Perundingan yang dilakukan tersebut kemudian menghasilkan beberapa kesepakatan : Kuba akan menarik mundur seluruh pasukannya dari Angola, Afsel akan menarik pasukannya dari Afrika Barat Daya, & wilayah Afrika Barat Daya sendiri akan dimerdekakan kemudian dengan nama "Namibia". 3 tahun kemudian melalui perundingan yang dilakukan di Portugal, pemerintah Angola (MPLA) sepakat untuk meninggalkan ideologi komunis Marxis-Leninis mereka selama ini & memberlakukan sistem pemilu multipartai. Sikap MPLA itu kemudian diikuti dengan kemauan UNITA untuk mengakhiri perjuangan bersenjata & mengikuti pemilu.



MELETUSNYA KEMBALI PERANG SIPIL

Pemilu multipartai yang direncanakan akhirnya dilaksanakan pada tahun 1992 di mana pemimpin MPLA Eduardo Dos Santos dalam pemilu berhasil meraih 49 % suara, sementara pemimpin UNITA Jonas Savimbi hanya meraih 40 % suara. Savimbi menuduh adanya kecurangan dalam pemilu sehingga sejak bulan Oktober 1992, ia memerintahkan UNITA untuk kembali mengangkat senjata sehingga situasi di Angola pun kembali memanas & perang sipil antara UNITA dengan pemerintah Angola (MPLA) kembali meletus.

Keputusan UNITA untuk kembali mengangkat senjata di tahun 1992 ternyata ditentang oleh AS - negara pendukung UNITA sejak kelompok itu pertama kali berdiri - yang menganggap keputusan UNITA tersebut mencederai proses demokrasi di wilayah Angola. Berubahnya sikap AS tersebut sangat mungkin juga karena sejak tahun 1991, Uni Soviet sudah tumbang & MPLA meninggalkan ideologi komunisnya sehingga AS tidak punya alasan lagi untuk tetap menyokong UNITA. Selama ini, alasan utama AS untuk mendukung UNITA - beserta FNLA - adalah untuk membendung penyebaran paham komunisme di wilayah tersebut.

Berlian, sumber pendapatan UNITA. (Sumber)
Kendati tidak lagi didukung AS, UNITA nyatanya tetap memiliki cukup kekuatan untuk kembali memulai perlawanan bersenjata. Secara mengejutkan mereka berhasil menguasai wilayah-wilayah Angola satu demi satu sehingga pada tahun 1993, UNITA diketahui sudah menguasai 70 % dari total wilayah Angola. Keberhasilan UNITA tersebut tidak lepas dari fakta bahwa sejak perang sipil pertama kali dimulai, UNITA menguasai tambang-tambang berlian di Angola sehingga mereka selalu memiliki cukup uang untuk membeli persenjataan & merekrut tentara bayaran. Angola sendiri memang sudah sejak lama dikenal sebagai negara penghasil berlian kualitas terbaik di Afrika (dikenal juga dengan nama "berlian darah" alias "blood diamond").

Kegemilangan pasukan UNITA di medan perang Angola tidak berlangsung lama. Pasukan Angola yang sempat kewalahan dengan perlawanan dari UNITA berhasil menemukan kembali momentumnya sehingga pada tahun 1994, Angola berbalik menguasai kembali sebagian besar wilayah negaranya. Setahun sebelumnya, PBB akhirnya menjatuhkan sangsi embargo senjata & minyak bumi kepada UNITA karena dianggap menyebabkan timbulnya krisis kemanusiaan berkepanjangan di Angola. Dalam posisi yang terdesak itu, UNITA akhirnya sepakat untuk kembali berunding dengan pemerintah Angola.

Perundingan damai antara pemerintah Angola dengan UNITA dilakukan pada bulan Oktober 1994 di Lusaka, Zimbabwe. Hasilnya, kedua belah pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata, membentuk pemerintahan koalisi, & menghentikan impor persenjataan asing dalam perjanjian yang dikenal sebagai "Protokol Lusaka". Setahun kemudian, PBB mengirimkan pasukan perdamaian ke Angola untuk memonitor pelaksanaan perjanjian. Perjanjian tersebut sayangnya lagi-lagi tidak bertahan lama setelah UNITA menolak menyerahkan kendali wilayah-wilayah kaya berlian di Angola ke tangan pemerintah pusat & kedua belah pihak kembali mengimpor persenjataan asing secara besar-besaran.



INVASI KE ZAIRE & GENCATAN SENJATA PERMANEN

Peta dari Angola & Zaire
(DR Congo). (Sumber)
Tahun 1997-1998, PBB kembali menjatuhkan sangsi pengucilan & pembekuan aset milik UNITA di bank menyusul penolakan UNITA untuk menyerahkan kendali wilayah-wilayah kaya berlian yang mereka kuasai ke pemerintahan pusat Angola. Setahun kemudian menyusul rasa gerah atas sikap UNITA yang terkesan tidak ingin melaksanakan Protokol Lusaka secara penuh, pemerintah Angola akhirnya melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah-wilayah kekuasaan UNITA. Akibat serangan tersebut, UNITA kehilangan sebagian besar prajurit & stok persenjataannya sehingga mereka dipaksa kembali menggelar taktik perang gerilya untuk bertempur melawan pasukan Angola.

Perang sipil Angola yang kembali meletus pada periode itu pada gilirannya merambat ke negara tetangganya, Zaire. Angola yang melihat kondisi internal Zaire sedang goyah akibat perang melawan Rwanda & Uganda berusaha memanfaatkan kondisi tersebut untuk menumbangkan pemerintahan berkuasa Zaire. Selama ini Zaire memang diketahui merupakan sekutu dekat UNITA di mana selama perang sipil Angola, Zaire menyediakan suplai logistik & markas persembunyian untuk para pejuang UNITA.

UNITA dalam pertempuran di Kongo memang sempat ikut terjun membantu pasukan Zaire menghadapi lawan-lawannya (termasuk Angola), namun kekuatan yang tidak berimbang menyebabkan pihak lawan pada akhirnya berhasil menduduki ibukota Zaire & memenangkan perang. Usai perang, kondisi Zaire tidak langsung membaik, bahkan semakin parah setelah setahun berikutnya perang kembali meletus dalam skala lebih besar & melibatkan lebih banyak negara. Dalam perang fase kedua di Kongo ini, pasukan Angola kembali terlibat, namun kali ini mereka bersekutu dengan pasukan milik pemerintah Kongo (Zaire).

Kembali ke Angola, pasukan Angola semakin menemukan momentum dalam peperangan setelah mereka berhasil merebut beberapa wilayah kaya berlian yang menjadi sumber pendapatan UNITA. Kondisi internal UNITA di lain pihak semakin melemah setelah semakin banyak prajuritnya yang membelot & berkurangnya dukungan penduduk lokal kepada UNITA. Salah satu penyebab utamanya adalah karena seringnya UNITA melakukan serangan secara sengaja ke pemukiman sipil & kendaraan pengangkut bantuan kemanusiaan milik PBB. Meskipun demikian, pasukan Angola masih belum berhasil memberangus UNITA seutuhnya.

Jonas Savimbi, pemimpin
dari UNITA. (Sumber)

Keinginan Angola untuk segera mengakhiri perlawanan UNITA akhirnya terwujud setelah pada bulan April 2002, pasukan Angola berhasil membunuh pemimpin UNITA, Jonas Savimbi. 6 minggu pasca kematian Savimbi, UNITA akhirnya sepakat untuk mengakhiri perlawanan bersenjatanya & pada bulan Agustus, mereka mengumumkan bahwa mereka hanya akan memperjuangkan kepentingannya lewat jalur damai (jalur politik). Sejak itu, perang sipil Angola yang sudah berlangsung sejak tahun 1975 pun secara resmi berakhir.

Perang sipil yang terjadi di Angola membawa dampak kerusakan yang hebat bagi negara tersebut. Sedikitnya 500.000 anggota milisi & tentara tewas dalam perang panjang tersebut. Jumlah tersebut belum ditambah ratusan ribu penduduk sipil Angola yang kehilangan nyawa atau cacat seumur hidup. Lebih lanjut, perang tersebut juga mengakibatkan sekitar 4 juta lebih penduduk Angola - sekitar 1/3 dari total jumlah penduduk Angola - kehilangan tempat tinggal. Selama perang, pihak UNITA juga diketahui memaksa penduduk pria setempat menjadi prajurit & wanita menjadi budak seks.



PERKEMBANGAN TERAKHIR

Sejak perang berakhir, Angola mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat di mana mayoritas dari sumber pendapatan Angola tersebut berasal dari sumber minyak & berlian. Pertumbuhan ekonomi yang cepat tersebut ditunjang oleh kondisi Angola yang sudah jauh lebih kondusif pasca perang sipil & tanahnya yang memang kaya akan minyak bumi. Bahkan Angola kini menjadi negara penyuplai minyak bumi terbesar untuk Cina, raksasa Asia yang industrinya sedang tumbuh pesat. Untuk membangun kembali infrastrukturnya, Angola juga meminjam uang sebesar 2 milyar dollar AS pada tahun 2004 dari sebuah bank Cina.

Kendati Angola mengalami kemajuan yang positif dalam beberapa tahun terakhir, Angola juga belum lepas dari sejumlah masalah sosial. Sekitar 37% dari total penduduk Angola masih terjebak dalam kemiskinan. Pembangunan di Angola juga belum merata di mana aktivitas ekonomi Angola umumnya hanya terkonsentrasi di ibukota Luanda & sekitarnya. Lebih lanjut, Angola juga kini terpaksa bergantung pada impor untuk mencukupi kebutuhan pangannya karena tanah-tanah pertanian yang ada di Angola tidak bisa ditanami akibat banyaknya ranjau darat yang tertanam di sana.

Peta dari Cabinda.
Masalah lain yang menimpa Angola adalah soal masih adanya konflik bersenjata bersenjata di provinsi Cabinda yang secara geografis terpisah dari daratan Angola lainnya. Daerah Cabinda sejak lama dikenal dengan pantainya yang indah, tanahnya yang subur, & adanya simpanan minyak bumi di lautnya. Cabinda - seperti wilayah lain Angola - pada awalnya merupakan bagian dari kekuasaan Portugal. Usai perundingan yang dilakukan antara Portugal dengan milisi-milisi Angola, Cabinda kemudian dimerdekakan sebagai salah satu provinsi Angola. Sebuah keputusan yang konon bertentangan dengan keinginan masyarakat Cabinda sendiri sehingga memicu kelahiran kelompok bersenjata bernama FLEC yang ingin mendirikan negara Cabinda merdeka.

Hingga sekarang, pemerintah Angola belum berhasil meredam konflik bersenjata di Cabinda kendati sudah menerjunkan pasukan di sana. Contoh terakhir mengenai konflik yang terjadi di daerah itu adalah saat Angola menjadi tuan rumah Piala Afrika 2010, iring-iringan kendaraan timnas Togo diserang oleh anggota FLEC yang mengakibatkan 3 orang tewas. Usai serangan tersebut, FLEC mengaku bertanggung jawab sambil menyatakan ucapan bela sungkawa kepada Togo karena mereka mengaku niat utama mereka menyerang iring-iringan tersebut adalah untuk membunuh prajurit-prajurit Angola yang mengawal iring-iringan, bukan untuk membunuh anggota timnas Togo.

Mari berharap agar Angola bisa segera menyelesaikan masalah-masalahnya agar bisa terus berkembang demi kesejahteraan rakyatnya. Dan yang terpenting, semoga pemerintah Angola juga bisa menemukan solusi yang saling menguntungkan dengan pihak pemberontak di Cabinda sesegera mungkin sehingga perdamaian yang diimpikan pun bisa terwujud tanpa ada yang merasa dirugikan. Perang sipil yang sudah berlangsung selama puluhan tahun sebelumnya seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa perang tanpa henti hanya akan mendatangkan kerugian dan penderitaan berkepanjangan.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : 1975 - 2002
    - Lokasi : Angola, Namibia, Zaire (sekarang RD Kongo)

2. Pihak yang Bertempur
    (Grup)  -  MPLA
    (Negara)  -  Kuba, Uni Soviet
        melawan
    (Grup)  -  UNITA, FNLA
    (Negara)  -  Afrika Selatan, Zaire
        melawan
    (Grup)  -  milisi-milisi separatis Cabinda

3. Hasil Akhir
    - Kemenangan pihak MNLA
    - Konflik skala kecil masih berlanjut di Cabinda hingga sekarang

4. Korban Jiwa
    Lebih dari 500.000 jiwa



REFERENSI

American University Washington D.C. - Angola Diamond Mining and War
History World - History of Angola
The Heritage Foundation - Into Africa : China's Grab for Influence and Oil
Wikipedia - Angola
Wikipedia - Angolan Civil War
Wikipedia - Cabinda Province
Wikipedia - Cuban intervention in Angola
Wikipedia - UNITA


           

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

5 komentar:

  1. ga beesa klik kanan :mad:

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Silakan ikuti instruksi yang ada di atas kotak komentar kalau anda ingin menggunakan artikel ini

      Hapus
  3. minta footnotenya bisa gak? thanks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan lihat di bagian "REFERENSI"

      Hapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.