FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Derg, Rezim Junta Militer dari Ethiopia




Lencana yang menampilkan bendera Ethiopia di era Derg. (Sumber)

Ethiopia. Itulah nama sebuah negara yang terletak di wilayah timur Benua Afrika. Kebanyakan dari kita umumnya mengenal Ethiopia sebagai negara miskin yang pernah dilanda bencana kekeringan & kelaparan. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah karena pada dekade 1980-an, Ethiopia memang pernah dilanda bencana kelaparan yang mengakibatkan 1 juta penduduknya harus meregang nyawa & jutaan lainnya harus mengalami aneka penyakit kronis semisal busung lapar. Begitu parahnya bencana kelaparan tersebut sehingga penyanyi kawakan Iwan Fals pun sempat membuat lagu yang berjudul "Ethiopia".

Oke, itu tadi sedikit soal Ethiopia. Dalam artikel kali ini, pihak Republik akan mencoba membahas soal Derg. Apa itu Derg? Derg / Dergue (bahasa Ge'ez - bahasa lokal Ethiopia - dari "dewan") adalah suatu kelompok junta militer berhaluan kiri (komunis) yang menguasai Ethiopia antara tahun 1974 - 1987. Anggotanya terdiri dari perwira-perwira militer Ethiopia yang berhasil meraih pucuk pemerintahan usai melakukan kudeta yang mengubah sistem pemerintahan negara tersebut dari kekaisaran menjadi republik.

Mungkin ada yang mulai merasa bingung, apa hubungan antara Derg dengan bencana kelaparan Ethiopia yang dibahas di paragraf awal artikel ini? Jawabannya adalah karena rezim Derg disebut-sebut bertanggung jawab secara tidak langsung atas timbulnya bencana kelaparan di era 80-an itu. Meskipun musim kemarau berkepanjangan yang melanda Ethiopia memang merupakan salah satu faktor utama penyebab timbulnya bencana kelaparan, meletusnya perang sipil di Ethiopia & kebijakan-kebijakan rezim Derg juga dianggap turut berkontribusi besar dalam memperparah efek yang diakibatkan oleh bencana kelaparan tersebut.



LATAR BELAKANG & PEMBENTUKAN

Peta dari Ethiopia & bekas
provinsinya, Eritrea. (Sumber)
Di masa pemerintahan Raja Haile Selassie I yang sudah berkuasa sejak tahun 1930, militer Ethiopia terbagi-bagi menjadi banyak cabang. Tujuan pembagian tersebut adalah untuk mencegah adanya pihak dalam militer Ethiopia yang menjadi terlampau kuat. Kondisi militer Ethiopia sendiri pada masa itu bisa dibilang memprihatinkan karena para tentara seringkali hanya menerima gaji rendah & suplai makanan yang minim. Dikombinasikan dengan kondisi sosial Ethiopia yang berkubang dalam kemiskinan berkepanjangan, rasa tidak puas terhadap raja pun muncul.

Ketidak puasan para tentara terhadap Raja Haile Selassie I akhirnya memuncak menjadi pemberontakan di Provinsi Sidamo pada bulan Januari 1974. Hanya dalam waktu singkat, pemberontakan itu menyebar ke wilayah-wilayah lain di Ethiopia & bahkan mulai diikuti pula oleh profesi-profesi lainnya semisal guru serta kaum pekerja. Semakin berlarut-larutnya keadaan internal Ethiopia pada gilirannya membuat parlemen Ethiopia mengalami guncangan & sempat mengalami 2 kali pergantian perdana menteri hingga bulan Juli 1974.

Di tubuh militer Ethiopia sendiri, timbul benih-benih perpecahan menyusul munculnya sejumlah kelompok yang masing-masing mengklaim dirinya sebagai perwakilan resmi dari seluruh komponen militer Ethiopia. Beberapa kelompok tersebut antara lain kelompok Pengawal Kekaisaran (Imperial Bodyguard) yang merupakan salah satu cabang militer terpenting di Ethiopia, kelompok yang isinya para perwira junior yang cenderung radikal, & kelompok beranggotakan para personil militer serta polisi pimpinan Kolonel Alem Zewde Tessema. Dalam perkembangannya, kelompok pimpinan Kolonel Alem-lah yang kemudian menjadi perwakilan resmi dari militer setelah sang kolonel mendapat instruksi dari Perdana Menteri (PM) Endelkachew Makonnen.

Mengistu H. Mariam. (Sumber)
Perkembangan tersebut nyatanya mendapat tentangan dari sejumlah perwira militer junior yang menginginkan perubahan tatanan pemerintahan yang lebih ekstrim karena mereka menganggap kelompok pimpinan Kolonel Alem masih terlalu patuh kepada pemerintah Ethiopia. Maka pada tanggal 28 Juni 1974, para perwira militer junior tersebut bersama para personil militer lainnya yang memiliki kesamaan pandangan dengan mereka pun membentuk kelompok baru yang bernama Dewan Penyelaras Angkatan Bersenjata, Polisi, & Tentara Wilayah - atau secara singkat biasa dikenal sebagai organisasi "Dewan" (Derg).

Derg dalam perkembangannya menunjukkan sepak terjang yang semakin radikal & berdarah. Sebagai contoh, sejak organisasi itu terbentuk pada bulan Juni 1974, jumlah anggotanya terus menyusut sebagai akibat dari aksi-aksi pengusiran & pembunuhan semasa periode perebutan kekuasaan dalam tubuh Derg. Derg juga semakin dominan dalam tubuh pemerintahan Ethiopia & berhasil mendapatkan kepercayaan dari Raja Haile Selassie I untuk menahan para anggota parlemen. Ironisnya, pada bulan September, Derg justru berbalik menahan sang raja di kediamannya sehingga Derg akhirnya keluar sebagai penguasa baru Ethiopia. Setahun kemudian, sistem kekaisaran Ethiopia dibubarkan & sebuah republik berhaluan komunis didirikan di atas Ethiopia dengan Mayor Mengistu Haile Mariam sebagai pemimpinnya.



ETHIOPIA DI BAWAH DERG

Menurunnya Pamor Derg & Meletusnya Pemberontakan

Setelah berhasil meraih tampuk kepemimpinan Ethiopia, Derg lalu melakukan kebijakan berupa menasionalisasi sektor-sektor industri Ethiopia, menghapus sistem sewa tanah, & membagi-bagikan lahan pertanian untuk digarap para petani. Kebijakan tersebut pada awalnya mendapatkan sambutan yang baik dari para penduduk. Sayang, korupsi & kesalahan pengelolaan menyebabkan rencana perubahan yang diinginkan Derg tidak berjalan sebagaimana mestinya. Akibatnya, popularitas Derg pun mulai merosot di mata rakyat Ethiopia.

Sejak Derg berhasil menumbangkan sistem monarki & mendirikan sistem republik di Ethiopia, kelompok-kelompok lain juga turut bermunculan di mana masing-masing kelompok sama berambisinya untuk menjadi penguasa Ethiopia. Seiring waktu menyusul semakin tingginya ketidakpuasan terhadap rezim Derg, banyak dari rakyat Ethiopia yang akhirnya bergabung dengan kelompok-kelompok tersebut. Derg lantas meresponnya dengan jalan menculik, menyiksa, & membunuh orang-orang yang berasal dari kelompok-kelompok saingannya. Periode tersebut lantas dikenal dengan nama "Teror Merah".

Bangkai tank milik pasukan Derg di
tengah-tengah kota. (Sumber)
Semakin gencarnya upaya Derg untuk membungkam lawan-lawan politiknya justru berdampak negatif bagi Derg sendiri karena citra mereka di mata rakyat semakin memburuk & kelompok-kelompok pesaing Derg jadi semakin gencar melakukan perlawanan bersenjata. Maka sebagai akibatnya, timbullah perang sipil di tanah Ethiopia di mana kelompok-kelompok tersebut saling bersekutu untuk menumbangkan rezim Derg. Di antara kelompok-kelompok tersebut, ada pula kelompok bersenjata dari Provinsi Eritrea yang berambisi memerdekakan wilayah Eritrea dari tangan Ethiopia. Seolah itu belum cukup, pada tahun 1977 pasukan Somalia menyerbu Ethiopia dengan tujuan merebut wilayah Ogaden yang ada di perbatasan Ethiopia & Somalia.

Timbulnya perang sipil di Ethiopia lantas diikuti dengan mulai masuknya pengaruh negara-negara adidaya. Uni Soviet selaku induk negara-negara komunis menganggap Ethiopia sebagai sekutu strategisnya di Afrika sehingga Uni Soviet pun mengirim bantuan uang & persenjataan dalam jumlah besar untuk membantu rezim Derg mempertahankan kekuasaannya. Tak hanya itu, negara-negara komunis lain seperti Korea Utara & Jerman Timur juga ikut mengirimkan bantuan pasukan ke Ethiopia. Dengan modal bantuan finansial & militer itulah, Ethiopia dalam perkembangannya tumbuh menjadi negara dengan kekuatan militer terkuat di kawasan setempat pada masanya.


Mewabahnya Bencana Kelaparan di Ethiopia

Di sela-sela perang sipil yang berlangsung di Ethiopia, timbul wabah kelaparan pada pertengahan dekade 1980-an. Penyebab wabah kelaparan itu sendiri merupakan gabungan dari banyak faktor seperti minimnya curah hujan pada periode itu & kurangnya cadangan makanan yang tersedia sebagai akibat dari kebijakan pemerintah Ethiopia yang memprioritaskan anggaran negara untuk menumpas para pemberontak. Dampak dari wabah kelaparan itu begitu besar karena diperkirakan, ada sekitar 8 juta rakyat Ethiopia yang terpengaruh oleh bencana tersebut di mana sekitar 1 jutanya harus tewas.

Suasana di kamp pengungsian
Ethiopia. (Sumber)
Pemerintah Ethiopia merespon wabah kelaparan tersebut bukan dengan cara mengirimkan bantuan makanan ke wilayah bencana, melainkan dengan cara memindahkan para penduduk di zona bencana kelaparan ke wilayah-wilayah pemukiman yang sudah disediakan oleh pemerintah. Kebijakan pemerintah Ethiopia itu lantas memunculkan anggapan bahwa pemerintah Ethiopia ingin mengosongkan wilayah zona bencana kelaparan agar bisa melakukan relokasi paksa & kelompok pemberontak yang bermarkas di sana menjadi kekurangan dukungan. Kebetulan beberapa wilayah yang bencana kelaparannya paling parah memang merupakan wilayah yang menjadi markas sejumlah kelompok pemberontak.

Para penduduk di daerah zona bencana kelaparan sendiri banyak yang menolak dipindahkan karena merasa pemukiman yang disediakan pemerintah berada di lokasi yang tidak layak & rentan oleh wabah penyakit malaria. Merespon fenomena penolakan tersebut, pemerintah Ethiopia pun akhirnya melakukan cara-cara paksaan kepada para penduduk yang tidak mau dipindahkan. Kebijakan pemerintah Ethiopia yang tidak populer itu lantas dimanfaatkan oleh sebuah kelompok pemberontak yang bernama Tigray People's Liberation Front (TPLF; Front Pembebasan Rakyat Tigray) untuk menggalang dukungan. Hasilnya efektif. Banyak penduduk Ethiopia yang tidak menyukai kebijakan pemerintah lantas memutuskan untuk bergabung atau menjadi simpatisan TPLF.

Di lain pihak seiring dengan semakin gencarnya pemberitaan internasional mengenai bencana kelaparan di Ethiopia, bantuan kemanusiaan ke Ethiopia pun berdatangan. Namun, muncul kontroversi baru menyusul beredarnya kabar bahwa bantuan kemanusiaan yang tiba di Ethiopia ada yang disalahgunakan oleh pemerintah Ethiopia untuk kebijakan pemindahan paksa para penduduk di zona bencana kelaparan. Pemerintah Ethiopia juga melarang distribusi bantuan ke wilayah-wilayah bencana kelaparan yang dikuasai oleh para pemberontak dengan harapan bisa mengisolasi para pemberontak & memaksa para penduduk di wilayah tersebut untuk pindah dengan sendirinya.



BERAKHIRNYA RIWAYAT DERG

Kendati tidak lagi mendapat simpati dari rakyat Ethiopia sendiri & banyaknya kelompok bersenjata yang menentang keberadaannya, Derg tetap bisa bertahan sebagai penguasa Ethiopia selama belasan tahun karena derasnya bantuan militer serta finansial dari Uni Soviet untuk Ethiopia. Namun situasinya mulai berubah setelah menjelang akhir dekade 1980-an, Uni Soviet menghentikan aliran bantuan ke Ethiopia menyusul krisis internal yang terjadi dalam tubuh Uni Soviet. Berhentinya aliran bantuan dari Uni Soviet ke Ethiopia terbukti berpengaruh besar karena Derg kini dipaksa berjuang sendirian melawan para pemberontak di berbagai penjuru Ethiopia.

Monumen peringatan tumbangnya
rezim Derg di Ethiopia. (Sumber)
Seolah sadar bahwa rezim Derg tak bisa bertahan lebih lama lagi, pada bulan September 1987, Mengistu selaku pemimpin Ethiopia memutuskan untuk melakukan perubahan besar-besaran. Sistem pemerintahan Ethiopia yang pada awalnya merupakan republik komunis otoriter diubah menjadi republik demokratik & organisasi Derg sendiri dirombak menjadi partai politik baru yang bernama Partai Pekerja Ethiopia. Perubahan-perubahan tersebut sekaligus menandai berakhirnya rezim Derg di Ethiopia yang sudah berkuasa selama 13 tahun.

Kendati sistem pemerintahan baru sudah didirikan & Derg sudah resmi dibubarkan, perang sipil di Ethiopia masih tetap berlanjut. Perang sipil tersebut akhirnya selesai dengan kemenangan kelompok TPLF & sekutunya, kelompok Ethiopian People's Revolutionary Democratic Front (EPRDF; Front Demokratik Revolusioner Rakyat Ethiopia) pada tahun 1991. Kelompok TPLF & EPRDF selaku penguasa baru Ethiopia lantas membubarkan Partai Pekerja Ethiopia & menangkap sisa-sisa anggota Derg. Namun, Mengistu selaku bekas pemimpin tertinggi Derg sendiri berhasil melarikan diri ke Zimbabwe tepat sebelum kelompok TPLF & EPRDF menduduki ibukota Ethiopia.

Proses pengadilan lalu dilakukan untuk mengadili para bekas anggota Derg tak lama berselang. Hasilnya, pada tahun 2006 pengadilan memutuskan bahwa sekitar 73 bekas anggota Derg - termasuk Mengistu - terbukti bersalah atas kasus kejahatan kemanusiaan yang dilakukan selama Derg masih berkuasa. Kini, rezim Derg dikenang oleh rakyat Ethiopia sebagai salah satu lembaran kelam sejarah negara tersebut & sejumlah monumen peringatan didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Ethiopia dalam melawan rezim Derg.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



BIODATA

Nama resmi : Derg / Dergue
Tahun aktif : 1974 - 1991 (berubah nama di tahun 1987)
Area operasi : Ethiopia
Ideologi : militerisme, komunisme



REFERENSI

Country Studies - The Establishment of the Derg
Ethiopian Treasures - The Derg (1974-1991)
Mongabay.com - Ethiopia - The Foreign Policy of the Derg 
Wikipedia - 1984–1985 famine in Ethiopia
Wikipedia - Derg
Wikipedia - Ethiopia


         

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

1 komentar:

  1. 73 anggotanya telah diadili dan terbukti bersalah. Semoga tidak terjadi di Indonesia kita.

    >>>Nitip pesan buat semua:
    Saya ada tantangan buat para blogger Indonesia, ki. Yang siap bisa langsung ceck TKP di blog saya.

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.