FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Invasi Amerika Serikat ke Panama




Suasana ibukota Panama yang terbakar saat
pasukan AS melakukan penyerbuan. (Sumber)

Panama, ada yang pernah dengar nama itu? Itu adalah nama sebuah negara kecil di Amerika Tengah yang berbatasan dengan Kosta Rika di sebelah barat & Kolombia di sebelah timur. Walaupun hanya berukuran kecil, Panama sangat terkenal di dunia karena adanya kanal (terusan) yang menghubungkan Samudra Atlantik dengan Samudra Pasifik di negara tersebut. Kendati di satu sisi kanal tersebut membantu mendongkrak perekonomian & popularitas Panama, di sisi lain kanal tersebut juga membuat negara tersebut sempat terjerembab ke dalam aneka pergolakan.

Dari sekian banyak pergolakan yang terjadi akibat sengketa seputar Terusan Panama, salah satu yang paling terkenal adalah ketika Panama diserang oleh pasukan Amerika Serikat (AS) pada tahun 1989 - 1990. Penyerbuan tersebut juga disebut-sebut sebagai pengerahan terbesar pasukan AS ke negara lain sejak Perang Vietnam yang berakhir di tahun 1975. Akibat serangan militer tersebut, ribuan penduduk Panama harus kehilangan nyawa & negara tersebut juga sempat terjun bebas ke dalam krisis sosial selama beberapa tahun sesudahnya.



LATAR BELAKANG

Kawasan Panama sejak lama sudah menjadi target kepentingan tersendiri bagi AS karena AS melihat wilayah Panama cocok digunakan sebagai tempat dibangunnya kanal penghubung antara Samudra Pasifik dengan Samudra Atlantik. Wilayah Panama sendiri sejak akhir abad ke-19 masih menjadi bagian dari Kolombia. Ketika parlemen Kolombia menolak keinginan AS untuk memiliki sebagian tanah Panama sebagai cikal bakal pembangunan Terusan Panama, AS pun kemudian mendukung kelompok pro-kemerdekaan Panama. Buntutnya, sejak tahun 1903 Panama pun menjadi negara baru yang terpisah dari Kolombia & AS mulai menempatkan pasukannya secara permanen di negara tersebut.

Peta dari Terusan Panama / Panama Canal
(klik gambar untuk perbesar). (Sumber)
Tahun 1914, Terusan Panama yang sudah dibangun oleh AS sejak tahun 1901 akhirnya dibuka untuk umum di mana hak pengelolaan Terusan menjadi milik AS. Wilayah sekitar Terusan juga menjadi semacam "teritori seberang lautan" (overseas territory) bagi AS di mana warga Panama yang ingin memasuki kawasan sekitar Terusan harus mendapatkan izin dari pasukan AS di kawasan tersebut. Tak hanya itu, pekerja di Terusan Panama yang berkewarga negaraan AS juga menerima gaji 2 kali lebih tinggi ketimbang pegawai lokal.

Tahun 1968, tentara nasional Panama yang dipimpin oleh Jenderal Omar Torrijos yang memiliki banyak pendukung dari golongan penduduk asli Panama melakukan kudeta & berhasil meraih tampuk kepemimpinan Panama. Naiknya Torrijos sebagai pemimpin Panama lalu diikuti dengan meningkatnya pemerataan kesejahteraan rakyat Panama & menguatnya dorongan untuk menasionalisasi Terusan Panama. Keinginan tersebut mulai menemukan titik terang setelah pada tahun 1977, Torrijos & Jimmy Carter - presiden AS saat itu - menandatangani kesepakatan di mana dalam kesepakatan itu, AS sepakat menyerahkan hak pengelolaan Terusan ke tangan Panama pada akhir tahun 1999.

Tahun 1981, Ronald Reagan terpilih sebagai Presiden AS di mana Reagan berkomitmen untuk mencegah lepasnya hak pengelolaan Terusan ke tangan Panama. Pemerintahan AS pimpinan Reagan sempat berusaha mengajak Torrijos berunding kembali, namun Torrijos menolak. Tanpa diduga-duga, tahun 1983 Torrijos meninggal akibat kecelakaan pesawat. Kematian Torrijos yang mendadak lantas memunculkan dugaan bahwa ia sengaja dibunuh oleh AS. Di luar misteri seputar kematian Torrijas, usai kematiannya Jenderal Manuel Noriega - bawahan Torrijos yang dekat dengan AS - naik menjadi pemimpin baru Panama & hubungan Panama dengan AS mulai dekat kembali.

Jenderal Manuel Noriega. (Sumber)
Hubungan mesra yang baru terjalin kembali antar keduanya tidak berlangsung lama. Sejak tahun 1986, hubungan AS dengan rezim Noriega di Panama mulai retak setelah AS meminta Noriega untuk mundur menyusul munculnya laporan bahwa Noriega secara diam-diam menyuplai informasi ke negara Kuba yang berhaluan komunis & terlibat dalam skandal penjualan senjata Iran-Contra. AS juga berencana mengadili Noriega dengan tuduhan terlibat dalam kegiatan pencucian uang & perdagangan narkoba. Namun AS saat itu merasa kesulitan menarik Noriega ke AS untuk diadili karena lemahnya perjanjian pertukaran buronan (ekstradisi) antara AS dengan Panama.

Hal yang menarik & perlu diperhatikan adalah menurut artikel dari situs Third World Traveler yang mengutip tulisannya dari buku Noam Chomsky - seorang intelektual Yahudi anti-Israel yang sangat vokal mengkritik kebiijakan luar negeri AS - berjudul "What Uncle Sam Really Wants", AS sebenarnya sudah tahu bahwa Noriega sudah terlibat dalam kegiatan pencucian uang & perdagangan narkoba sejak tahun 1972. Namun AS tidak melakukan tindakan apapun saat itu karena berpikir Noriega bisa digunakan sebagai boneka AS dalam membendung penyebaran paham komunisme di Amerika Tengah.

Ketika Noriega menolak himbauan dari AS untuk mengundurkan diri, AS pun mulai menjatuhkan embargo ekonomi ke Panama dengan tujuan melumpuhkan perekonomian negara tersebut. Lebih lanjut, AS juga menyokong sejumlah upaya kudeta militer di mana semua upaya kudeta tersebut berakhir dengan kegagalan. Di lain pihak, Noriega mulai merespon balik tekanan AS dengan mengintimidasi tentara & warga AS yang bermukim di Panama. Merasa frustrasi dengan sikap Noriega, AS pun mulai menyiapkan pasukannya untuk menyerang Panama & menurunkan Noriega dari kursi pemerintahan Panama secara paksa....



BERJALANNYA INVASI

"Hujan Tentara" di Atas Panama

Ada 5 tujuan dari AS saat melakukan serangan ke Panama : melindungi nyawa warga AS beserta fasilitas-fasilitas kunci di Panama, menangkap Noriega untuk diadili, melumpuhkan kekuatan tentara nasional Panama beserta cabang-cabang komandonya, mendukung didirikannya pemerintahan pro-AS di Panama, & menata ulang struktur ketentaraan Panama. Serangan AS ke Panama sendiri awalnya diberi nama dengan kode sandi "Operasi Sendok Biru" (Operation Blue Spoon), namun namanya kemudian diubah di saat-saat akhir oleh presiden AS & markas Pentagon menjadi "Operasi Hanya Karena" (Operation Just Cause).

Kendaraan lapis baja milik AS di
jalanan Panama City. (Sumber)
Invasi militer AS ke Panama dimulai pada tanggal 20 Desember 1989. Mula-mula, pasukan AS melakukan pemboman besar-besaran ke daratan Panama. Serangan udara tersebut lalu diikuti dengan penerjunan tentara infantri melalui parasut ke Panama City - ibukota dari Panama - beserta kota-kota sekitarnya. Dalam waktu yang kurang lebih bersamaan, pasukan darat AS juga didaratkan di sisi utara Terusan Panama. Hanya dalam waktu singkat, wilayah utara Terusan sudah berhasil diamankan & pasukan AS yang diterjunkan dari Atlantik mulai bergerak ke sebelah barat Panama - menuju ibukota Panama.

Meskipun pasukan AS di medan perang terlihat terlalu tangguh bagi pasukan Panama, namun bukan berarti pasukan AS tidak menemui kesulitan sama sekali. Kesulitan terbesar mereka utamanya adalah ketika melakukan pertempuran di wilayah padat penduduk. Sebagai contoh, ketika pasukan AS harus menghancurkan dinding & aneka bangunan penghalang lainnya untuk membuka jalan, mereka harus memakai teknik-teknik yang kurang efektif & berbahaya semisal menggunakan tembakan senapan, granat, & bahkan roket anti tank. Tak hanya itu, pasukan AS juga sempat terlibat baku tembak dengan sesama rekannya sendiri karena adanya miskomunikasi & salah mengidentifikasi pasukan yang berada di dalam bangunan.

Invasi AS ke Panama sendiri bukan tanpa kontroversi. Banyak negara yang mengecam invasi AS ke Panama karena menganggapnya sebagai bentuk pelanggaran kedaulatan suatu negara. Dalam sidang Majelis Umum PBB di tahun 1989 misalnya, sekitar 75 negara sepakat bahwa tindakan AS tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional. Sebuah resolusi sempat dibuat oleh PBB untuk menghentikan aksi AS tersebut, namun resolusi tersebut gagal terlaksana setelah AS beserta Perancis & Inggris memveto resolusi tersebut. Selain PBB, Organization of American States (OAS) yang anggotanya terdiri dari negara-negara di Benua Amerika juga menentang invasi yang dilakukan oleh AS tersebut.


Memburu Kepala Noriega

Kembali ke medan perang. Pasukan AS dalam serangan pendahuluannya memprioritaskan target-target tertentu seperti bandara Punta Paitillia di Panama City & pangkalan militer tentara Panama di Rio Hato, lokasi dari salah satu kediaman Noriega. Tujuan utamanya untuk mencegah Noriega sebagai target buruan utama dari operasi militer ini melarikan diri. Saat menyerang kediaman Noriega di Rio Hato, pasukan AS berhasil menghancurkan pesawat jet pribadi milik Noriega & secara otomatis melenyapkan satu-satunya jalur bagi Noriega untuk bisa melarikan diri keluar negeri dengan cepat.

Tentara AS dalam baku tembak
di dekat ibukota Panama. (Sumber)
Kendati berhasil mencegah Noriega untuk melarikan diri keluar Panama, pasukan AS belum berhasil menangkap Noriega maupun mengendus jejaknya. Sebagai antisipasi, militer AS pun mengepung kedutaan besar milik Libya, Kuba, & Nikaragua selama beberapa hari karena mengira Noriega mungkin bersembunyi di dalam sana. AS menduga bahwa perwakilan negara-negara tersebut mungkin mau membantu Noriega karena buruknya hubungan antara AS dengan negara-negara yang bersangkutan. Keputusan AS mengepung kedutaan milik Nikaragua & menahan para dubes di dalamnya pada gilirannya sempat mengundang kecaman dari organisasi multinasional OAS.

Noriega sendiri belakangan diketahui tidak ada di kedutaan-kedutaan besar negara yang bersangkutan, namun sedang bersembunyi di gedung milik wakil diplomatik Vatikan di ibukota Panama. Begitu mendengar kabar mengenai lokasi persembunyian Noriega yang sebenarnya, AS pun mulai melakukan negosiasi dengan pihak perwakilan Vatikan agar mereka mau menyerahkan Noriega ke tangan AS.

Hal yang menarik adalah selama negosiasi dengan pihak diplomatik Vatikan, AS sempat menyetel musik rock keras-keras di wilayah padat penduduk. Ada dugaan bahwa AS sengaja melakukan itu untuk membuat Noriega stress karena Noriega diketahui membenci musik rock, namun belakangan diketahui bahwa AS melakukan itu untuk mencegah pihak-pihak lain menyadap pembicaraan antara militer AS dengan pihak diplomat Vatikan. Tak lama kemudian, Noriega akhirnya menyerahkan dirinya ke AS pada tanggal 3 Januari 1990. Tertangkapnya Noriega sekaligus mengakhiri operasi militer AS di Panama & pasukan AS sedikit demi sedikit mulai ditarik mundur.



KONDISI PASCA INVASI

Guillermo Endara, pemimpin baru Panama
pasca ditangkapnya Noriega. (Sumber)
Setelah berhasil menangkap Noriega, militer AS segera mengirimkan Noriega ke AS di mana di AS, dia diadili atas beberapa tuduhan seperti soal kasus perdagangan narkoba & pencucian uang. Namun belakangan salah satu tuduhan soal keterlibatan Noriega dalam kasus narkoba dicabut karena barang bukti yang dikira adalah narkoba ternyata adalah tamale (semacam tepung bahan makanan lokal Panama). Beberapa tahun pasca sidangnya dimulai atau tepatnya tahun 2010, Noriega dipindahkan ke Paris, Perancis, di mana sidang untuk membahas kasus pencucian uangnya dilanjutkan di sana.

Di Panama sendiri, ditangkapnya Noriega secara otomatis membuat kursi penguasa di Panama lowong selama beberapa waktu. Namun lowongnya kursi penguasa ternyata hanya berlangsung dalam waktu sangat singkat karena AS belakangan diketahui sudah menyiapkan pengganti Noriega sejak jauh-jauh hari. Adalah Guillermo Endara yang kemudian naik menjadi pengganti Noriega di mana beberapa jam setelah serangan pendahuluan AS di Panama, Endara diam-diam disumpah sebagai presiden baru Panama di salah satu pangkalan militer AS di dekat Terusan Panama.

Invasi militer AS di Panama total berlangsung selama 2 minggu lebih di mana invasi dimulai pada tanggal 20 Desember 1989 & berakhir pada tanggal 3 Januari 1990. Bagi Panama sendiri, dampak pasca invasi yang paling terasa adalah tewasnya ribuan warga sipil & luluh lantaknya kondisi ibukota Panama. Jumlah tentara AS yang tewas di medan perang sendiri dilaporkan sekitar 23 orang, sementara jumlah tentara Panama yang tewas hampir 10 kali lipatnya.

Dampak jangka panjang lain yang begitu terasa adalah lumpuhnya aktivitas perekonomian skala menengah & besar di Panama sebagai akibat dari hancurnya sarana-prasarana di Panama City, ibukota Panama. Buntutnya, angka pengangguran meroket & aksi-aksi penjarahan pun sempat marak di Panama selama beberapa waktu pasca invasi. Lebih lanjut, banyak perusahaan asuransi yang kliennya berbasis di Panama yang gulung tikar karena tidak sanggup memperbaiki kerusakan akibat perang yang diderita perusahaan kliennya.

Perkampungan nelayan kumuh di
tepi ibukota Panama. (Sumber)
Pemerintahan baru Panama sendiri dengan bantuan AS berusaha keras untuk membenahi kembali kondisi negaranya yang porak-poranda usai invasi. Sarana-prasarana yang hancur dibangun kembali & mereka yang rumahnya hancur akibat perang mendapat santunan. Hasilnya, di tahun 1993 pendapatan nasional Panama berhasil pulih kembali & menyamai level angka pendapatan nasional sebelum perang. Bahkan Panama disebut-sebut sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia pada dekade 90-an di mana AS menjadi salah satu mitra dagang terdekatnya. Di luar aneka pencapaian positif yang berhasil dibuat Panama, Panama sendiri masih memiliki setumpuk masalah pasca perang yang belum selesai hingga sekarang. Masih kurang stabilnya kondisi politik dalam negeri & tingginya kesenjangan sosial antar golongan adalah sebagian di antaranya.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : Desember 1989 - Januari 1990
    - Lokasi : Panama

2. Pihak yang Bertempur
    (Negara)  -  Amerika Serikat
          melawan
    (Negara)  -  Panama

3. Hasil Akhir
    Kemenangan pihak Amerika Serikat

4. Korban Jiwa
    Antara 250 - 4.000 jiwa



REFERENSI

GlobalSecurity.org - Operation Just Cause
Rutgers - Panama Invasion by United States in 1989 : Background and Chronology
Wikipedia - Panama
Wikipedia - United States invasion of Panama


       

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

4 komentar:

  1. aaaaaahhh...
    amerika selalu menginvasi kemana-mana
    baik secara militer
    maupun ekonomi
    politik juga

    BalasHapus
  2. baru tahu ane gan kalo amerika juga menginvasi panama,
    amerika memang pengen nguasain smua, pngennya jadi super power slamanya dan g da yg nandingin,,

    BalasHapus
  3. Thax informasinya kawan, membantu saya yang sedang mencari informasi tentang negara panama, hal ini untuk verifikasi, sebab di Blog saya ( Panduan Belajar Trading Forex), saya sedang mencari informasi berkaitan dengan Broker MasterForex yang alamat webnya di Rusia tapi Rekening BankNya di panama.

    Ternyata malah dapat info lainnya, thax sekali lagi bisa nambahin pengetahuan,
    BTW, mo nanya nih, cara bikin related post kya diatas itu manual apa bukan ya?
    gimana caranya??

    thax sebelumnya...

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.