FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Anggang-Anggang, Ahlinya Bergerak di Atas Air




(Sumber)

Kolam adalah sebutan untuk cekungan di daratan yang terisi oleh air tawar & biasanya hanya berukuran kecil. Walaupun kecil, namun kolam juga dihuni oleh makhluk hidup di mana makhluk hidup yang menghuni habitat kolam biasanya berukuran kecil, misalnya serangga air. Nah, salah satu serangga air yang cukup umum ditemui di kawasan kolam - beserta perairan air tawar lainnya - adalah anggang-anggang, topik pembahasan dalam artikel kali ini.

Anggang-anggang atau pejalan air (water strider) adalah serangga air yang terkenal karena kemampuannya untuk "berjalan" di atas permukaan air. Ada sekitar 1.700 spesies anggang-anggang yang sudah dikenal manusia di mana semuanya termasuk ke dalam famili Gerridae & tersebar di seluruh dunia, kecuali di wilayah kutub. Selain ditemukan di perairan tawar, sebagian kecil spesies anggang-anggang juga bisa ditemukan di perairan air asin di mana spesies-spesies penghuni air asing tersebut termasuk ke dalam genus Halobates & Rhemautobates.

Secara fisik, semua spesies anggang-anggang pada dasarnya memiliki ciri-ciri utama berupa tubuh yang ramping & kaki yang panjang. Ukuran mereka bervariasi, mulai dari yang berukuran hanya beberapa milimeter hingga yang mencapai 20 cm. Dan karena anggang-anggang tergolong ke dalam keluarga kepik sejati (ordo Hemiptera), anggang-anggang juga memiliki sifat-sifat umum kepik, yaitu memiliki mulut berbentuk jarum, 2 pasang sayap bening yang bisa dilipat, & mengalami metamorfosis tidak sempurna.



BERBURU & DIBURU DI ATAS AIR

Anggang-anggang yang sedang
memakan lalat lebah. (Sumber)
Anggang-anggang adalah hewan karnivora yang berarti mereka hidup dari memakan hewan lain di mana hewan-hewan makanannya umumnya adalah serangga & hewan-hewan kecil yang jatuh di atas air. Spesies-spesies yang hidup di air asin makanannya sedikit berbeda di mana mereka juga memakan zooplanton yang kebetulan berada di dekat permukaan air. Anggang-anggang juga diketahui memiliki sifat kanibal di mana anggang-anggang yang berukuran besar mau memakan anggang-anggang yang lebih muda & berukuran lebih kecil. Bila lingkungan perairanya hanya menyediakan sedikit makanan, anggang-anggang juga bisa terbang untuk kemudian berpindah ke perairan lain yang makanannya lebih melimpah.

Anggang-anggang mengandalkan kemampuannya mendeteksi getaran di atas permukaan air untuk mengetahui posisi mangsanya. Sebagai gambaran, bila ada hewan yang jatuh di atas air, maka benturannya dengan air akan menimbulkan semacam getaran & gelombang kecil ke sekitarnya. Anggang-anggang yang merasakan getaran tersebut selanjutnya akan bergerak ke arah sumber getaran alias di posisi di mana mangsanya jatuh. Begitu anggang-anggang sudah menemukan mangsanya, ia akan memegang mangsanya dengan kaki depannya, menancapkan mulutnya yang berbentuk seperti jarum ke tubuh mangsanya, & kemudian mulai menghisap cairan tubuhnya.

Sebagai bagian dari ekosistem yang penuh dengan aktivitas memakan & dimakan, anggang-anggang juga memiliki musuh di mana musuh dari anggang-anggang adalah hewan-hewan air yang berukuran lebih besar semisal ikan, burung air, & kodok. Serangga air lain semisal kepik perenang punggung (backswimmer) juga diketahui memburu anggang-anggang dengan cara menyergapnya dari bawah permukaan air & kemudian memeganginya hingga mati tenggelam. Sebagai pertahanan diri yang paling dasar, anggang-anggang bisa menghasilkan senyawa berbau busuk di mana senyawa tersebut efektif untuk mencegah ikan memakan dirinya, kecuali bila ikan tersebut sudah sangat lapar. Jika pertahanan bau tersebut tidak berfungsi, anggang-anggang juga bisa terbang menghindar atau menyelam untuk sementara waktu agar tdak tertangkap oleh musuhnya.



SEMAKIN HANGAT, SEMAKIN NYAMAN

Sepasang anggang-anggang yang sedang
melakukan perkawinan. (Sumber)
Anggang-anggang memiliki musim kawin yang berbeda berdasarkan persebaran & suhu lingkungannya. Jenis anggang-anggang yang hidup di kawasan tropis disebut-sebut bisa kawin sepanjang tahun, sementara jenis yang hidup di wilayah 4 musim hanya kawin pada musim semi & panas. Saat musim kawin tiba, anggang-anggang jantan akan membentuk wilayahnya sendiri-sendiri di mana anggang-anggang betina dibiarkan masuk, sementara anggang-anggang jantan lain akan diusir. Untuk mengetahui apakah yang memasuki wilayahnya adalah anggang-anggang jantan atau betina, anggang-anggang pemilik wilayah akan menciptakan sinyal getaran khusus di permukaan air & menunggu getaran balasan yang timbul dari anggang-anggang yang diajaknya berkomunikasi.

Bila anggang-anggang yang memasuki wilayahnya adalah betina, maka anggang-anggang jantan pemilik wilayah & betina akan melakukan perkawinan. Pejantan selanjutnya akan menahan betina untuk tetap berada di wilayahnya hingga bertelur untuk memastikan bahwa keturunan dari betina adalah keturunan hasil perkawinan dengan dirinya. Jika waktu bertelur sudah tiba, betina akan menaruh telur-telurnya pada benda-benda di permukaan air, misalnya di permukaan batu atau tanaman air. Jumlah telur yang dikeluarkan anggang-anggang bervariasi di mana semakin melimpah makanan di lingkungan tersebut, maka semakin banyak pul jumlah telurnya.

Waktu yang diperlukan oleh telur anggang-anggang untuk menetas tidak tentu di mana telur biasanya akan menetas lebih cepat bila suhu lingkungannya cukup hangat. Tahap perkembangan berikutnya dari anggang-anggang setelah menetas dari telur adalah tahap nimfa di mana ada 5 fase pergantian kulit (instar) yang perlu ditempuh nimfa anggang-anggang sebelum mencapai kedewasaan. Nimfa sangat mirip dengan anggang-anggang dewasa, namun ukurannya jauh lebih kecil & warna tubuhnya lebih terang. Waktu yang diperlukan seekor nimfa anggang-anggang dari saat baru menetas untuk mencapai kedewasaan adalah sekitar 2 bulan.



BERJALAN ATAU MENDAYUNG?

Perhatikan riak-riak di permukaan air.
Itu adalah jejak yang dibuat oleh
anggang-anggang saat bergerak.
Hal yang paling menarik dari anggang-anggang tentunya adalah kemampuannya untuk "berjalan" di atas air tanpa tenggelam. Sebenarnya jika dilihat secara seksama, anggang-anggang tidak berjalan saat berada di permukaan air, melainkan meluncur karena saat bergerak, anggang-anggang tidak pernah mengangkat kakinya & hanya sebatas mengayunkan kakinya sambil tetap menempelkan bagian bawah kakinya di atas permukaan air (lihat video). Gerakan dari ayunan kaki anggang-anggang sendiri begitu cepat karena mereka bisa bergerak dengan kecepatan 1 m/detik & tidak terlihat oleh mata telanjang manusia!

Sekarang pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana anggang-anggang bisa bertengger & bergerak di atas permukaan air tanpa tenggelam? Rahasianya terletak pada keistimewaan fisik dari anggang-anggang yang sanggup membantunya untuk tetap mengapung. Bagian kaki anggang-anggang diselimuti bulu-bulu halus & kedap air di mana bulu-bulu tersebut menjaga agar partikel-partikel air tidak menempel di kaki anggang-anggang karena bila sampai ada molekul-molekul air yang menempel pada kakinya, berat tubuh anggang-anggang akan bertambah & permukaan air yang ditapakinya juga akan rusak sehingga anggang-anggang bisa tenggelam.

Saat dalam posisi diam, anggang-anggang biasa melipat kaki depannya & menempatkan kaki tengah serta belakangnya dalam bentuk menyerupai trapesium sama kaki. Dengan posisi tersebut, berat tubuh dari anggang-anggang akan terdistribusi secara merata di atas permukaan air. Jika ingin bergerak, anggang-anggang hanya akan menggerakkan kaki tengahnya seperti dayung, sementara kaki depan & kaki belakangnya tidak digerakkan karena berfungsi sebagai semacam penyangga. Gerakan kaki tengah dari anggang-anggang tersebut selanjutnya akan menciptakan semacam gelombang di permukaan air yang mendorong anggang-anggang ke depan.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



KLASIFIKASI

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hemiptera
Subordo : Heteroptera
Infraordo : Gerromorpha
Famili : Gerridae (Leach, 1815)



REFERENSI

The Washington Post - Row, Row, Row Your Bug
Wikipedia - Gerridae
Stonedahl, G. M. & J. D. Lattin. 1982. "The Gerridae or Water Striders of Oregon and Washington". (file PDF)
Oda, H., H. Kubo, & J. Nanao. 1997. "Seri Misteri Alam 38 : Serangga Kolam". PT Elex Media Komputindo, Jakarta.


       

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

6 komentar:

  1. subhanallah, hebat bisa berjalan dan mengapung di air, manusia perlu belajar dari anggang-anggang

    BalasHapus
  2. Kemampuan hewan2 Arthropoda sering kali mempesona saya. Sayangnya saya justru awam di bidang ini :(

    Maaf, Alamendah baru sempat posting dan jalan-jalan kembali. Karena kelamaan istirahat, blogwalkingnya mungkin belum bisa kenceng. :)

    BalasHapus
  3. @alamendah
    Nggak apa-apa. Santai aja, mas. Kalau emang kondisinya ga memungkinkan ya ga usah memaksakan diri sering-sering blogwalking :)

    BalasHapus
  4. anggang anggang selalu ada pada setiap genangan air.... kenapa begitu ya ???

    BalasHapus
  5. @harun ar
    Mungkin ya karena kemampuan anggang-anggang untuk terbang & karena anggang-anggang sendiri memang mudah beradaptasi pada perairan-perairan berarus tenang

    BalasHapus
  6. jadi inget film yang di bintangi jackie chan,, ada ginianya nih,,, di film itu namanya water spider

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.