SEJARAH FAUNA HIBURAN Cari.Artikel..



Orong-Orong, Serangga Penakluk Segala Medan





(Sumber)

Orong-orong adalah nama dari serangga yang harusnya tidak asing bagi mereka yang gemar berkebun atau bertani. Ya, itulah nama dari sejenis serangga kecil yang terkenal akan keahliannya menggali tanah. Karena kemampuannya itu pula, serangga yang bersangkutan dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama "mole cricket" (jangkrik tikus tanah). Kalau di Indonesia sendiri, selain dengan nama orong-orong, serangga ini juga dikenal dengan banyak nama. Mulai dari anjing tanah, gangsir tanah, ga'ang, singke, & lain sebagainya.

Semua spesies orong-orong digolongkan dalam famili Gryllotalpidae. Ada setidaknya 65 spesies orong-orong yang sudah diketahui oleh manusia. Mereka dapat ditemukan di seluruh dunia, kecuali di Benua Antarktika yang notabene bersuhu amat dingin. Karena terdiri dari banyak spesies, orong-orong pun memiliki ukuran yang bervariasi. Mulai dari yang panjangnya kurang dari 2 cm, hingga yang panjangnya mencapai 5 cm (Gryllotalpa major).

Walaupun memiliki ukuran yang beragam, masing-masing spesies orong-orong tetap memiliki kesamaan fisik satu sama lain. Semua spesies orong-orong memiliki tubuh yang berbentuk lonjong & kaki yang berjumlah 6, di mana pasangan kaki depannya berbentuk pendek & besar. Berkat kaki depannya yang mirip mata cangkul tersebut, orong-orong bisa menggali tanah dengan mudah.

Orong-orong bukan hanya mahir bergerak di dalam tanah. Saat sedang berada di permukaan tanah, hewan ini bisa melompat jauh berkat pasangan kaki belakangnya yang panjang & kuat layaknya kaki belakang belalang. Bukan hanya itu, orong-orong juga pandai berenang. Tubuhnya yang lonjong bak torpedo memudahkan hewan ini berenang dengan lincah di permukaan air.

Berkat bulu-bulu kecil (setae) yang ada di sekujur kulitnya, tidak semua bagian tubuh orong-orong menjadi basah saat terkena air. Pasalnya bulu-bulu kecil tadi menciptakan semacam lapisan udara di sekeliling tubuh orong-orong, sehingga air tidak akan langsung bersentuhan dengan kulit orong-orong. Dengan begitu, orong-orong jadi tidak mudah tenggelam saat terjatuh ke kolam atau sungai.

Bangkai orong-orong dengan sayap yang terentang. (Sumber)

Kehebatan orong-orong masih belum berhenti sampai di sana. Serangga ini juga bisa terbang dengan mengepak-ngepakkan sayapnya yang besar & transparan. Saat sedang tidak terbang, sayap tersebut akan berada dalam posisi terlipat di atas punggungnya. Dengan kemampuannya terbang itulah, orong-orong bisa pindah ke lokasi lain jika lokasi tinggalnya sekarang sudah tidak lagi menguntungkan.

Orong-orong normalnya hanya akan terbang dalam jarak dekat. Namun dalam kasus tertentu, orong-orong bisa terbang menempuh jarak hingga sejauh 8 km. Tidak semua spesies orong-orong memiliki kemampuan untuk terbang. Orong-orong dari spesies Neoscapteriscus abbreviatus adalah contoh dari spesies orong-orong yang tidak bisa terbang karena ia hanya memiliki sayap yang pendek.



SERANGGA PEMAKAN SEGALA

Karena orong-orong memiliki kebiasaan hidup di dalam tanah, orong-orong pun menjadikan kawasan yang tanahnya lunak & subur sebagai habitat favoritnya. Orong-orong memiliki perilaku nokturnal yang berarti hewan ini baru aktif mencari makan & keluar dari liangnya pada malam hari. Pada siang hari, orong-orong lebih suka bersembunyi di bawah tanah.

Semua spesies orong-orong adalah omnivora alias pemakan segala, namun masing-masing spesies memiliki makanan favorit yang berbeda-beda. Sebagian orong-orong lebih sering mengkonsumsi serangga & hewan kecil, namun sebagian lainnya (misalnya spesies N. abbreviatus) lebih tertarik mengkonsumsi tumbuhan, khususnya bagian akar.

Seperti halnya jangkrik, orong-orong jantan juga memiliki kebiasaan bernyanyi pada malam hari (kecuali spesies N. abbreviatus). Orong-orong jantan bernyanyi dengan cara menggerak-gerakkan sayapnya. Orong-orong betina tidak pernah bernyanyi, namun ia bisa menghasilkan suara untuk berkomunikasi.

Orong-orong yang sedang berenang. (Sumber)

Organ pendengaran orong-orong terletak di kaki belakangnya. Supaya suara nyanyian yang dibuatnya bisa terdengar sejauh mungkin, orong-orong jantan akan bernyanyi di mulut terowongan yang sudah diperlebar hingga menyerupai corong (horn). Tujuannya tidak lain supaya suara nyanyian yang dibuatnya terpantul oleh dinding lorong sebelum kemudian menyebar ke luar.

Jika betina merasa tertarik akan nyanyian pejantan, betina akan mendatangi sumber nyanyian tersebut. Betina sendiri biasanya lebih tertarik untuk kawin jika pejantan membuat sarang di lokasi yang tanahnya lembab. Pasalnya lokasi macam itu merupakan lokasi yang disukai oleh betina untuk menaruh telur-telurnya. Sesudah melakukan perkawinan dengan pejantan, betina akan mengeluarkan telur-telurnya di dalam bilik khusus yang terletak antara 10 hingga 30 cm di bawah permukaan tanah.

Orong-orong betina dari spesies tertentu (misalnya genus Neoscapteriscus) akan menutup pintu biliknya & kemudian pergi meninggalkan bilik tersebut beserta telur di dalamnya. Namun orong-orong betina dari spesies lain (misalnya genus Gryllotalpa) akan kembali mengunjungi telurnya secara berkala untuk memastikan kalau telur-telurnya bisa menetas. Saat telurnya sudah menetas, ia juga akan merawat anak-anaknya hingga usia tertentu.

Orong-orong menjalani metamorfosis sempurna yang berarti hewan ini menjalani 3 tahapan / fase dalam siklus hidupnya : fase telur, nimfa, & dewasa. Waktu yang diperlukan oleh telur orong-orong untuk menetas adalah sekitar 3 minggu. Nimfa orong-orong bentuknya mirip dengan orong-orong dewasa, namun ukurannya lebih kecil & masih belum memiliki sayap. Nimfa orong-orong harus berganti kulit sebanyak antara 6 - 8 kali sebelum mencapai fase dewasa. Orong-orong diketahui bisa hidup hingga usia 2 tahun.


Orong-orong saat diserang oleh tawon Larra bicolor. (Sumber)


MUSUH ORONG-ORONG

Berkat kebiasaannya untuk tinggal di dalam tanah & kemampuannya untuk melarikan diri dengan cepat di segala medan, orong-orong normalnya aman dari hewan-hewan pemakan serangga berukuran besar yang banyak berkeliaran di permukaan tanah. Meskipun begitu, hewan ini tetap memiliki musuh alamiah dari golongan serangga.

Hewan-hewan parasit semisal lalat tachinid Ormia depleta, tawon Larra bicolor, & tawon tak bersayap Diamma bicolor diketahui menyerang orong-orong supaya larvanya bisa memakan daging orong-orong tersebut. Larva kumbang tanah dari genus Stenaptinus diketahui menjadikan telur orong-orong sebagai makanan utamanya.

Orong-orong bukanlah hewan yang berbahaya bagi manusia karena hewan ini tidak beracun & hanya berukuran kecil. Jika dipegang oleh manusia, orong-orong memang bisa melawan dengan cara menusukkan kaki depannya, namun serangan yang dilakukannya tersebut jarang sampai membuat manusia mengalami luka. Di negara-negara tertentu semisal di Filipina, orong-orong bahkan sengaja ditangkap supaya bisa dijadikan makanan.

Meskipun tidak berbahaya, orong-orong kerap dianggap sebagai hama oleh manusia akibat seringnya hewan ini memakan tanaman. Jenis orong-orong yang makanan utamanya adalah daging juga tetap dianggap sebagai gangguan jika orong-orong tersebut kebetulan tinggal di lapangan rumput buatan manusia, misalnya di lapangan golf. Sebabnya adalah saat ia membuat terowongan di bawah, terowongan yang ditinggalkannya menyebabkan permukaan tanah di atasnya menjadi tidak rata.

Membasmi orong-orong tergolong sebagai hal yang sulit karena hewan ini memiliki kebiasaan untuk tinggal jauh di bawah tanah. Meskipun sulit, orong-orong masih bisa dibasmi dengan memakai insektisida / racun serangga yang disemprotkan ke tanah. Tanah yang hendak disemprot dengan insektisida idealnya dibasahi terlebih dahulu supaya orong-orongnya mau berada di dekat permukaan tanah. Selain dengan menyemprotkan racun ke tanah, orong-orong juga bisa ditangkap memakai jebakan yang dilengkapi dengan umpan lampu pada malam hari.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



KLASIFIKASI

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Orthoptera
Famili : Gryllotalpidae



REFERENSI

BugGuide.net - Family Gryllotalpidae
Detik News - Di Filipina Ada Sajian Serangga Anjing Tanah....
Home & Garden Information Center - Mole Cricket....
The Australian Museum - Blue Ant
The Australian Museum - Mole Cricket
University of Florida - Basic Biology of Mole Crickets
University of Florida - Biological Control by Bombardier Beetles
University of Florida - Biological Control by Crabronid Wasps
University of Florida - Biological Control by Tachinid Flies
University of Florida - Prairie Mole Cricket
University of Florida - Shortwinged Mole Cricket 
Urban Ecology Center - Native-Non-Native Animal of the....
What's That Bug - Swimming Mole Cricket
 - . 2008. "Mole cricket". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

 




Download PDF

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA.

Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk menyimpan artikel ini, silakan klik tombol "Download PDF" yang terletak di bawah artikel.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.