FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Lord's Resistance Army (LRA), Kelompok Pemberontak dari Belantara Uganda




(Sumber)

Lord's Resistance Army, pernah mendengar nama itu? Itu adalah nama dari sebuah kelompok pemberontak dari Uganda, suatu negara kecil yang berlokasi di Afrika bagian timur. Pendiri dari Lord's Resistance Army (LRA; Tentara Perlawanan Tuhan) adalah Joseph Kony yang mengklaim bahwa dirinya mendapat perintah dari roh halus kiriman Tuhan untuk mengangkat senjata demi mewujudkan berdirinya rezim teokratis - pemerintahan berbasis agama - di Uganda yang berfondasikan pada 10 Perintah Tuhan (Ten Commandments). Dalam kesempatan lain, LRA juga mengaku bahwa mereka bertempur untuk memperjuangkan hak-hak etnis Acholi di Uganda utara, etnis yang merupakan penyusun utama kekuatan LRA di awal-awal berdirinya.

Klaim dari LRA yang mengaku bahwa mereka berjuang atas nama agama pada gilirannya membuat banyak orang kerap menyebut LRA sebagai kelompok ekstrimis Kristen. Namun, klaim tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh para pengamat politik luar negeri, salah satunya karena LRA kerap melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan ajaran agamanya semisal merampok, memperkosa penduduk sipil, & membakar gereja setempat. Joseph Kony selaku pendiri LRA sendiri belakangan sempat mengakui bahwa walaupun sebagian besar anggota LRA adalah pemeluk Kristen, ia tidak pernah memaksa para anggotanya untuk menjadi Kristen fanatik. Sebagai akibatnya, sejumlah pengamat pun lebih suka menyebut LRA sebagai kelompok bersenjata yang agenda & motif politiknya tidak jelas.

Sejak pertama kali berdiri, LRA juga diketahui kerap melakukan serangan-serangan ke pemukiman penduduk sipil & membantai atau melukai penghuninya secara sadis. Fenomena tersebut lantas membuat masyarakat luas menuding LRA sebagai kelompok bandit & pengacau. Namun, LRA balik membela diri dengan menyatakan bahwa tindakan mereka menyerang pemukiman sipil adalah sebagai akibat dari kebiasaan tentara Uganda untuk membaur dengan penduduk sipil saat melakukan kontak senjata dengan LRA. Pihak LRA juga mengklaim bahwa nama mereka kerap dicatut oleh kelompok-kelompok bersenjata setempat untuk melakukan aksi-aksi kriminal & media-media Uganda hanya memberitakan sisi buruk LRA karena ketatnya kontrol pemerintah Uganda atas media, sementara media internasional hanya mengandalkan pemberitaan dari media Uganda untuk mengorek info soal LRA.

Bendera dari kelompok LRA. (Sumber)
LRA juga terkenal karena kebiasaannya untuk menculik anak-anak di bawah umur dari pemukiman penduduk yang mereka serang di mana anak-anak lelaki dijadikan tentara & kuli angkut, sementara anak-anak perempuannya dijadikan budak seks. Penyebab mengapa LRA menculik anak-anak sendiri adalah karena anak-anak relatif jauh lebih mudah didoktrin untuk menjadi anggota baru LRA ketimbang orang dewasa. Selain itu, Joseph Kony juga memiliki impian untuk menggeser generasi tua di Uganda dengan generasi muda yang memiliki cara pandang yang sejalan dengannya. Sebagai akibat dari tindakan LRA tersebut, banyak dari anak-anak di pedesaan Uganda yang setiap malam pergi meninggalkan desanya untuk tidur di pusat-pusat keramaian di perkotaan agar terhindar dari tangkapan LRA yang biasa menyerang kawasan pedesaan di malam hari.



LATAR BELAKANG & PEMBENTUKAN

Di tahun 1979, Idi Amin - diktator Uganda yang sangat terkenal di seantero dunia karena perilaku nyentriknya - dipaksa turun dari tahtanya setelah pasukan militer negaranya dikalahkan oleh pasukan militer Tanzania & kelompok-kelompok pemberontak Uganda yang tidak menyukai kepemimpinannya. Pasca lengsernya Amin, Uganda dilanda perang sipil di mana masing-masing pihak berambisi untuk menjadi penguasa baru Uganda. Pihak-pihak tersebut adalah tentara nasional Uganda pasca rezim Amin dengan nama resmi Uganda National Liberation Army (UNLA; Tentara Pembebasan Nasional Uganda) yang bertempur melawan kelompok pemberontak National Resistance Army (NRA; Tentara Perlawanan Nasional).

Selama perang berlangsung, UNLA sebenarnya merupakan pihak yang dominan. Namun sejak tewasnya Jenderal Oyite Ojok pada akhir tahun 1983 akibat kecelakaan helikopter, UNLA terbelah 2 menjadi pasukan yang didominasi etnis Acholi & pasukan yang didominasi oleh etnis Lango. Perpecahan internal dalam tubuh UNLA tersebut tidak disia-siakan oleh NRA yang mulai berhasil mengumpulkan kembali kekuatannya. Hasilnya, pada awal tahun 1986, pihak NRA berhasil memenangkan peperangan. Yoweri Museveni - pemimpin dari NRA - lalu naik menjadi presiden baru Uganda & NRA dirombak ulang menjadi tentara nasional baru Uganda dengan nama Uganda People's Defence Force (UPDF; Pasukan Pertahanan Rakyat Uganda).

Peta dari Uganda. (Sumber)
Pasca kemenangan kubu NRA, komunitas Acholi yang bermukim di Acholiland, Uganda utara, merasa takut & khawatir kalau mereka akan menjadi sasaran kekerasan dari pemerintah pusat Uganda pasca perang sipil. Sebab dari ketakutan tersebut tidak lain karena saat perang sipil, orang-orang Acholi umumnya membela pasukan UNLA yang menjadi lawan dari pasukan NRA yang kini berhasil menjadi penguasa baru Uganda. Selain karena faktor kekhawatiran akan adanya aksi balas dendam, etnis Acholi juga tidak menyukai pemerintahan pusat karena wilayah mereka cenderung dianaktirikan sebagai akibat dari minimnya aktivitas pembangunan & pengembangan infrastruktur di kawasan Uganda utara.

Memanfaatkan kegelisahan komunitas Acholi tersebut, Alice Lakwena (atau Alice Lauma) lalu membentuk kelompok pemberontak bernama Holy Spirit Movement (HSM; Gerakan Roh Kudus) pada tahun 1986 & mengklaim bahwa dirinya mendapat pesan dari Tuhan yang memintanya untuk merebut Kampala - ibukota Uganda - agar bisa mendirikan firdaus di atas bumi. HSM terbilang unik karena mereka memiliki sejumlah praktik unik yang terlihat seperti campuran antara agama Kristen dengan ritual klenik lokal : melumuri tubuh dengan minyak khusus yang dipercaya bisa membuat pemakainya kebal peluru bila hatinya bersih, melarang anggotanya membunuh ular atau lebah, bergerak dalam formasi salib, & sebagainya . Dengan modal tersebut, HSM nyatanya berhasil mencetak sejumlah kemenangan penting di awal-awal sepak terjangnya.

Masa kejayaan HSM tidak berlangsung lama karena selain harus bertempur melawan pasukan milik pemerintah Uganda, mereka juga harus bertempur melawan kelompok-kelompok pemberontak lain yang memiliki agendanya sendiri-sendiri. Puncaknya adalah ketika pada tahun 1987, HSM menderita kekalahan telak setelah pasukan mereka dihajar oleh pasukan Uganda yang didukung oleh persenjataan artileri di dekat Kampala. Pasca kekalahan tersebut, Lakwena melarikan diri ke Kenya & HSM terpecah menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil. Salah satu kelompok pecahan tersebut adalah Lord's Resistance Army (LRA; Tentara Perlawanan Tuhan) yang dipimpim Joseph Kony, keponakan dari Alice Lakwena.



AKTIVITAS LRA

Munculnya "Tentara Tuhan" di Uganda Utara

Joseph Kony. (Sumber)
Bulan Januari 1987 alias tak lama sesudah HSM bubar, Joseph Kony mengklaim bahwa dirinya juga dirasuki oleh roh halus kiriman Tuhan yang memintanya untuk melanjutkan perjuangan HSM dalam menumbangkan rezim berkuasa Uganda yang sekuler & menggantinya dengan sistem berbasis teokrasi. Dengan modal klaim tersebut, Kony berhasil menarik simpati masyarakat Acholi setempat & mengumpulkan sisa-sisa pasukan HSM beserta kelompok pemberontak lokal lainnya yang anti pemerintah Uganda. Salah satu tokoh penting dari kelompok pemberontak di luar HSM tersebut adalah Odong Latek yang menganjurkan Kony untuk mengadopsi taktik perang gerilya & serangan-serangan mendadak ke desa-desa, taktik yang kelak menjadi taktik favorit LRA.

Sejak pertama kali berdiri, LRA banyak melakukan penyerangan ke desa-desa terpencil di kawasan Uganda utara untuk memperoleh perbekalan yang mereka butuhkan & menunjukkan ketidakmampuan pemerintah Uganda dalam melindungi rakyatnya sendiri. Awalnya pemerintah Uganda menganggap bahwa serangan-serangan yang dilakukan LRA tidak lebih sebagai serangan bermotif ekonomi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok bandit setempat sehingga respon mereka pun cenderung lamban & seadanya. Sikap pasif pemerintah pusat yang dikombinasikan dengan perilaku kasar tentara-tentara Uganda kepada masyarakat etnis Acholi pada giliranya membuat LRA tetap bisa mendapatkan simpati dari komunitas Acholi setempat.

Bulan Maret 1991, pemerintah Uganda akhirnya mulai menaruh perhatian lebih dalam upaya pemberangusan LRA. Untuk mewujudkan keberhasilan dari upaya tersebut, pemerintah Uganda melancarkan sebuah operasi militer bernama "Operasi Utara" (Operation North) di mana dalam operasi militer tersebut, wilayah utara Uganda yang menjadi lokasi aktifnya LRA diisolasi dari dunia luar, sementara orang-orang yang dianggap sebagai simpatisan LRA akan ditangkap untuk kemudian diinterogasi atau langsung dieksekusi. Sebagai tindakan lebih lanjut, militer Uganda juga mempersenjatai penduduk-penduduk lokal dengan panah & busur agar para penduduk tersebut bisa membela diri bila pemukiman mereka diserang oleh LRA.

Korban serangan LRA yang
kehilangan lengannya. (Sumber)
Operasi militer yang dirancang pemerintah Uganda tersebut nyatanya gagal menghabisi LRA. Salah satu sebabnya adalah karena para penduduk lokal yang dipersenjatai dengan panah gagal mengimbangi pasukan LRA yang dilengkapi dengan persenjataan modern. Yang terjadi justru adalah sejak operasi militer tersebut dilaksanakan, pasukan LRA malah bertindak semakin beringas karena mereka tak segan-segan memutilasi bibir, telinga, & anggota tubuh dari para penghuni desa yang mereka serang. Kony sendiri mengklaim bahwa tindakan pemotongan anggota tubuh tersebut adalah hukuman setimpal bagi mereka yang berani melawan LRA & bekerja sama dengan musuh-musuh LRA. Tindakan brutal LRA tak pelak membuat mereka semakin ditakuti, namun sebagai akibatnya para penduduk etnis Acholi juga tidak lagi menaruh simpati pada perjuangan LRA.


Sudan & LRA versus Uganda & SPLA

Pasca gagalnya Operasi Utara, pemerintah Uganda lantas berusaha menghentikan aktivitas pemberontakan LRA lewat jalur diplomasi. Sejak tahun 1993, perwakilan dari pemerintah Uganda & LRA melakukan perundingan beberapa kali di mana pihak LRA mau menghentikan kegiatan bersenjatanya kalau para anggotanya mendapatkan pengampunan hukum. Kegiatan perundingan & pembicaraan awalnya berjalan relatif lancar. Namun memasuki tahun 1994, kegiatan perundingan berubah menjadi alot setelah beredar kabar bahwa Kony sedang bernegosiasi secara diam-diam dengan pemerintah Sudan di mana pemerintah Sudan berjanji akan membantu menyuplai LRA dengan perbekalan & persenjataan bila mereka mau melanjutkan kegiatan pejuangan bersenjatanya.

Janji Sudan untuk membantu LRA sendiri tidak lepas dari fakta bahwa Sudan & Uganda memiliki hubungan yang buruk karena saat perang sipil di Sudan masih berlangsung, pemerintah Uganda malah mendukung kelompok separatis Sudan People's Liberation Army (SPLA; Tentara Pembebasan Rakyat Sudan) yang beroperasi di wilayah selatan Sudan. Ketika Sudan melihat bahwa LRA sedang berkonflik dengan pemerintah pusat Uganda, Sudan pun berusaha menggandeng LRA untuk membantu memerangi SPLA & menggoyang stabilitas Uganda. Keinginan Sudan itu akhirnya terwujud setelah perundingan antara perwakilan LRA & Uganda berakhir tanpa hasil di bulan November 1994. Tak lama sesudah gagalnya perundingan, sejumlah besar anggota LRA mulai menyebrang masuk ke wilayah selatan Sudan.

Peta dari Sudan Selatan. Uganda
berlokasi di bawahnya. (Sumber)
Munculnya Sudan sebagai sekutu baru LRA membawa keuntungan besar bagi pihak kedua karena selain menerima kiriman perbekalan secara konsisten, LRA juga menerima suplai persenjataaan modern seperti senapan serbu AK-47 & senjata peluncur roket. Selain mengirimkan bantuan logistik, Sudan juga diketahui melatih para tentara LRA & bahkan merekrut sebagian dari mereka untuk ditempatkan di Darfur, wilayah di Sudan barat yang juga sedang dilanda konflik. Di lain pihak, masuknya LRA ke wilayah Sudan membuat pasukan SPLA semakin kesulitan menjaga keselamatan penduduk sipil simpatisannya karena menurut mereka, gerak-gerik pasukan LRA sangat sulit ditebak. Sebagai contoh, pasukan LRA bisa menyerang suatu desa, namun kemudian tidak lagi menampakkan diri selama beberapa bulan sebelum kemudian kembali melancarkan serangan secara mendadak.

Uganda yang merasa khawatir dengan kerja sama antara Sudan dengan LRA lantas nekat mengirimkan pasukannya untuk menerobos masuk ke wilayah selatan Sudan pada pertengahan dekade 1990-an. Namun, sepak terjang pasukan Uganda justru menuai kritikan dari penduduk setempat karena menurut kesaksian mereka, pasukan Uganda yang ada di wilayah selatan Sudan justru malah melakukan penebangan pohon secara ilegal & mengangkutnya ke wilayah Uganda alih-alih memerangi pasukan LRA yang bermarkas di sana. Peristiwa ini lantas menuai spekulasi bahwa Uganda sebenarnya sedang "menjaga" pasukan LRA untuk tetap berada di wilayah Sudan agar pemerintah Uganda tetap punya alasan untuk terus menempatkan pasukannya di wilayah Sudan sambil terus mengeksploitasi SDA di sana secara diam-diam.

Lepas dari spekulasi mengenai motif asli dari pasukan Uganda di wilayah Sudan, kerja sama antara Sudan & LRA terbukti membuat sepak terjang LRA di tanah Uganda jadi semakin berbahaya. Hal tersebut bisa dilihat di mana pada tahun 1996, tercatat lebih dari 500 orang tewas akibat serangan-serangan LRA. Jumlah yang jauh lebih tinggi dibandingkan saat LRA masih belum menjalin kerja sama dengan Sudan. Pemerintah Uganda lantas mengantisipasinya dengan cara merelokasi para penduduk sipil ke kompleks pondok pengungsian dengan harapan bisa melindungi para penduduk sipil dengan lebih mudah & memutus akses para personil LRA ke pemukiman penduduk sipil. Namun, masalah baru muncul karena pondok-pondok pengungsian tersebut dianggap tidak layak huni karena fasilitas & jumlah pondoknya yang terbatas.


Hantaman "Tinju Besi" di Sudan Selatan

Iring-iringan tentara Uganda di
wilayah Sudan selatan. (Sumber)
Menjelang akhir dekade 1990-an, Sudan yang mengalami pergantian susunan pemerintahan & mendapatkan tekanan dari negara-negara Barat akhirnya mulai mengubah kebijakannya soal LRA. Hasilnya, melalui perundingan yang dilakukan di Nairobi, Kenya, pemerintah Sudan & Uganda sepakat untuk berhenti mendukung kelompok-kelompok pemberontak di masing-masing negara & mulai kembali menjalin hubungan diplomatik 2 tahun kemudian. Tercapainya perjanjian tersebut lantas membuat LRA secara resmi tidak lagi disokong oleh pemerintah Sudan. Namun, beberapa elemen dalam militer Sudan diyakini masih menyokong LRA secara diam-diam karena tak lama setelah Sudan mencabut dukungan resminya pada LRA, LRA malah menyerang fasilitas-fasilitas milik pemerintah Sudan.

Bulan Maret 2002 setelah menerima izin dari pemerintah Sudan, pasukan Uganda menggelar operasi militer dengan kode sandi "Operasi Tinju Besi" (Operation Iron Fist). Dalam operasi militer tersebut, pasukan Uganda yang didukung oleh helikopter tempur melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Sudan selatan untuk menghancurkan markas LRA yang ada di sana. Namun, serangan tersebut lagi-lagi berakhir dengan kegagalan karena para personil LRA tetap mampu bersembunyi di wilayah selatan Sudan hingga beberapa tahun berikutnya. Yang terjadi justru adalah LRA semakin sering melancarkan serangan-serangan brutal ke pemukiman penduduk sipil & daerah-daerah yang menjadi sasaran serangan LRA - baik yang berlokasi di Sudan maupun Uganda - juga meluas.

Kegagalan Uganda dalam memberangus LRA & mengakhiri konflik lantas membuat kinerja pasukan negara tersebut dipertanyakan oleh dunia internasional. Isu korupsi & penyalahgunaan anggaran kemiliteran pun merebak karena walaupun anggaran militer Uganda terbilang tinggi, namun nyatanya pasukan negara tersebut gagal menghabisi LRA yang sudah melakukan pemberontakan selama nyaris 2 dekade. Tak hanya itu, militer Uganda juga dikecam oleh LSM internasional karena mereka juga merekrut anak-anak secara diam-diam untuk dijadikan tentara - aktivitas yang selama ini identik dengan LRA, namun sebenarnya cukup umum digunakan dalam perang di negara-negara dunia ketiga di Afrika.

Di medan perang, LRA banyak memakai
anak-anak sebagai prajuritnya. (Sumber)
Memasuki tahun 2005, sebagian pasukan LRA bergerak memasuki Republik Demokratik Kongo (RDK) yang letaknya memang berbatasan langsung dengan wilayah barat Uganda. Bagi LRA sendiri, RDK dianggap cocok untuk dijadikan basis militer baru karena kondisi internal negara tersebut yang masih rapuh setelah beberapa tahun sebelumnya diguncang oleh perang dahsyat yang melibatkan sejumlah negara Afrika. Masuknya LRA ke wilayah RDK lantas membuat Uganda berencana untuk mengirimkan tentaranya ke sana, namun rencana tersebut ditentang oleh pemerintah RDK yang menolak mengizinkan pasukan Uganda bergerak seenaknya di wilayahnya. Kedua negara pun sempat terlibat ketegangan diplomatik sebelum kemudian PBB turun tangan untuk mendamaikan keduanya.

Tahun 2007, RDK, Sudan Selatan, & Uganda sepakat untuk melakukan kerja sama militer bersama dengan tujuan menghabisi pasukan LRA yang masih tersisa. Namun, operasi-operasi militer gabungan yang mereka lakukan gagal membawa perubahan signifikan & seringkali malah memancing serangan-serangan balasan yang mengerikan dari LRA. Operasi militer yang dilakukan PBB untuk membunuh Joseph Kony setahun sebelumnya juga berakhir dengan kegagalan setelah puluhan pasukan spesial dari Guatemala yang dikirim oleh PBB dibunuh oleh para tentara LRA yang mengawal Kony. Belakangan, pada tahun 2010 pasukan LRA juga dilaporkan mulai menampakkan diri di Republik Afrika Tengah.



PERKEMBANGAN TERAKHIR

Hingga sekarang, pasukan LRA masih aktif di 4 negara Afrika : Uganda, Sudan Selatan, RD Kongo, & Republik Afrika Tengah. Menurut laporan yang dirilis PBB, sejak pertama kali berdiri LRA telah menculik 25.000 anak untuk dijadikan anggota pasukannya. Tak hanya itu, LRA juga diperkirakan telah membuat 12.000 orang kehilangan nyawa & 2 juta lainnya kehilangan tempat tinggal. Jumlah korban tewas tersebut masih belum termasuk mereka yang meninggal kemudian akibat kelaparan & penyakit. Aksi-aksi vandalisme yang dilakukan LRA juga menyebabkan Uganda harus menanggung kerugian materiil sebesar 100 juta dollar AS, jumlah yang sangat besar untuk ukuran negara berpendapatan rendah seperti Uganda.

Suasana di kompleks pondok
pengungsian Uganda. (Sumber)
Upaya-upaya militer yang dilakukan oleh pasukan PBB & negara-negara Afrika tempat aktifnya LRA masih belum berhasil meredam aktivitas kelompok tersebut, namun para pengamat yakin bahwa saat ini kekuatan LRA telah mengalami penurunan signifikan karena tewasnya sejumlah pemimpin penting mereka & tercerai berainya kelompok tersebut yang masing-masingnya terisolasi satu sama lain. Terakhir, pada bulan Desember 2011 lalu, AS mengirimkan 100 personil militer untuk membantu pasukan Uganda menangkap Joseph Kony & mengakhiri perlawanan LRA. Namun seberapa efektifnya aneka upaya tersebut untuk meredam sepak terjang LRA, hanya waktu yang kelak akan membuktikannya.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



BIODATA

Nama resmi : Lord's Resistance Army
Tahun aktif : 1987 - sekarang
Area operasi : Uganda, Sudan Selatan, RD Kongo, Republik Afrika Tengah
Ideologi : nasionalisme Acholi, Kristen garis keras



REFERENSI

GlobalSecurity.org - Lord's Resistance Army (LRA)
IRIN - In-depth: Life in northern Uganda
IRIN Africa - Central Africa Republic : LRA still blocking access to thousands of IDPs
ISVG VKB - Lord's Resistance Army
Wikipedia - Holy Spirit Movement
Wikipedia - Joseph Kony
Wikipedia - Lord's Resistance Army
Wikipedia - Lord's Resistance Army insurgency
Wikipedia - Lord's Resistance Army insurgency (1987 - 1994)
Wikipedia - Lord's Resistance Army insurgency (1994 - 2002)
Wikipedia - Ugandan Bush War
Schomerus, M.. 2007. "The Lord’s Resistance Army in Sudan: A History and Overview". (file PDF)


       

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

4 komentar:

  1. ...kasihan ya, penduduk yang di sana... :(

    Tak bisa saya bayangkan, masih satu benua dengan Uganda, tahun 2010 lalu terselenggara hingar bingar meriahnya Piala Dunia... :( Sangat berlawanan. :(

    BalasHapus
  2. Ini menunjukan ketidakadilan pengamat,,mereka menyebutkan bahwa LRA bukan kelompok ekstrimis kristen karena bertentangan dengan nilai agama,,tapi kenapa dengan kelompok islam seperti al qaeda,ISIS,atau Al shabab,,para pengamat dengan enaknya menamai mereka "kelompok islam ekstrimis",bisa tolong dijelaskan dan klarifikasi,,bang tawon saya minta tolong klarifikasi

    Kevin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya kalau anda coba mencari di internet, ada kok artikel yang menyebut LRA sebagai "Christian rebel". Tapi karena daerah operasi LRA berada di pedalaman Afrika yang notabene jarang menarik perhatian masyarakat di luar Afrika & intensitas aktivitasnya yang kian hari kian menurun, LRA jadi terkesan kalah pamor & kurang terekspos jika dibandingkan dengan kelompok-kelompok ekstrimis dari agama lain yang kebetulan sekarang memang sedang aktif-aktifnya.

      Hapus
  3. Makasih bang atas klarifikasinya bang tawon


    Kevin

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.