FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Eritrea & Ethiopia, Tetangga di Afrika Timur yang Sulit Akur




Meriam-meriam artileri milik pasukan Eritrea
yang sedang melepaskan tembakan. (Sumber)

Eritrea & Ethiopia adalah 2 negara bertetangga yang terletak di Afrika Timur. Banyak pihak yang menyebut kedua negara ini sebagai "saudara" karena kalau dilihat dari sejarahnya, Eritrea & Ethiopia memang pernah menjadi 1 negara. Namun sayang, persaudaraan antara keduanya ternyata tidak lantas membuat keduanya memiliki hubungan yang baik karena faktanya, hingga sekarang Eritrea & Ethiopia kerap terlibat perselisihan. Tidak main-main, perselisihan antara keduanya telah mengakibatkan ribuan orang dari kedua negara harus kehilangan nyawa.

Eritrea & Ethiopia dalam sejarahnya memang memiliki sejarah perselisihan yang panjang. Terhitung sejak dekade 1960-an, Eritrea yang saat itu masih menjadi bagian dari Ethiopia mulai melakukan perlawanan bersenjata agar bisa melepaskan diri dari negara induknya & menjadi negara mandiri. Setelah Eritrea berhasil mendapat kemerdekaannya pada tahun 1991, hubungan antara kedua negara bukannya membaik, tapi justru malah semakin panas. Puncaknya adalah ketika menjelang akhir abad ke-20, pasukan kedua negara terlibat dalam salah satu perang paling berdarah di Afrika Timur.

Perang antara Eritrea & Ethiopia terjadi antara tahun 1998 hingga tahun 2000 di kawasan perbatasan kedua negara. Selama perang berlangsung, masing-masing pihak mengerahkan ratusan ribu tentara beserta persenjataan-persenjataan berat termutakhirnya - suatu fenomena yang cukup menarik sekaligus ironis mengingat baik Eritrea & Ethiopia sebenarnya sama-sama merupakan negara miskin. Akibat perang tersebut, antara puluhan hingga ratusan ribu orang dari kedua belah harus kehilangan nyawa. Walaupun konflik bersenjata antara Eritrea & Ethiopia sudah berakhir sejak tahun 2000, ketegangan & perang urat saraf antara keduanya masih terus berlanjut hingga sekarang.



LATAR BELAKANG

1. Sentimen Negatif Masyarakat Eritrea terhadap Ethiopia

Peta dari Ethiopia & Eritrea. (Sumber)
Sejarah dari Eritrea & Ethiopia bila disandingkan ibarat bumi & langit. Jika Ethiopia adalah 1 dari sedikit dari negara Afrika yang tidak pernah dijajah oleh kekuatan asing (kecuali oleh Italia pada tahun 1936 - 1941), Eritrea dalam sejarahnya sudah beberapa kali dijajah oleh pihak asing, mulai dari Turki Ottoman, Abyssinia (Ethiopia), Italia, & Inggris. Karena pernah dijajah oleh beraneka pihak asing yang memiliki kultur berbeda-beda, masyarakat Eritrea pun dalam perkembangannya menjadi cenderung lebih majemuk & lebih berpikiran terbuka dibandingkan masyarakat Ethiopia yang pola pikirnya cenderung lebih kolot karena hidup begitu lama dalam sistem kekaisaran yang kaku.

Memasuki tahun 1952 alias hanya beberapa tahun setelah Perang Dunia II berakhir, PBB meminta Inggris - negara pemenang Perang Dunia II yang saat itu sedang menduduki Eritrea seusai mengalahkan Italia - untuk menyerahkan Eritrea ke pangkuan Ethiopia mengingat sejak abad ke-19 alias sebelum dikuasai oleh Bangsa Eropa (Italia), Eritrea memang merupakan bagian dari wilayah Ethiopia. Pihak Ethiopia jelas menyambut baik keputusan PBB, namun tidak dengan rakyat Eritrea yang menganggap bahwa Ethiopia tidak lebih sebagai bangsa penjajah baru. Terlebih karena saat dulu sempat menguasai Eritrea, Ethiopia dianggap kerap melakukan penindasan & pemerbudakan.

Rasa tidak percaya dari rakyat Eritrea kepada Ethiopia akhirnya benar-benar terwujud. Tak lama setelah Eritrea (kembali) menjadi bagian dari Ethiopia, pemerintah pusat Ethiopia menerapkan kebijakan-kebijakan yang ketat atas wilayah Eritrea. Partai politik berbau Eritrea tidak boleh didirikan, kebebasan pers dikekang, & bahasa Eritrea tidak boleh diajarkan di sekolah-sekolah setempat. Tidak tahan dengan aneka tekanan tersebut, rakyat Eritrea akhirnya mulai melakukan pemberontakan sejak tahun 1962 hingga akhirnya berhasil memerdekakan diri pada tahun 1991. Total, sekitar 150.000 orang Eritrea harus kehilangan nyawanya selama perang kemerdekaan berlangsung.


2. Sengketa atas Tanah-Tanah di Perbatasan

Peta yang menunjukkan lokasi
Badme, salah satu wilayah
sengketa utama. (Sumber)
Pasca merdekanya Eritrea, Eritrea & Ethiopia membentuk komisi bersama di mana salah satu tugas komisi tersebut adalah untuk menentukan status resmi dari wilayah-wilayah di perbatasan kedua negara yang statusnya dipersengketakan. Awalnya pembentukan komisi tersebut terlihat menjanjikan karena menunjukkan komitmen kedua negara untuk bekerja sama & menyelesaikan masalah secara damai pasca konflik berdarah antara keduanya saat Eritrea masih menjadi bagian dari Ethiopia.

Tahun demi tahun berlalu, status dari wilayah-wilayah yang dipersengketakan ternyata masih belum juga terselesaikan. Salah satu wilayah sengketa utama yang diperebutkan Eritrea & Ethiopia adalah Dataran Badme yang berada di Ethiopia barat laut & Eritrea tenggara. Ketika upaya untuk menyelesaikan masalah sengketa wilayah lewat jalur damai gagal menemukan titik terang, ketegangan antara kedua negara yang bertetangga itupun mulai meningkat seiring berjalannya waktu.



BERJALANNYA PERANG

Dimulai dari Kontak Senjata di Perbatasan


Bulan Mei 1988, otoritas Ethiopia memasuki kota Badme & mengusir para penduduk Eritrea yang bermukim di sana. Eritrea lantas merespon peristiwa tersebut dengan mengirimkan serombongan kecil tentara yang tidak bersenjata ke kota Badme dengan dalih untuk berbicara dengan otoritas Ethiopia setempat. Namun yang terjadi kemudian justru adalah aparat Ethiopia yang dibantu oleh milisi-milisi dari Provinsi Tigray, Ethiopia utara, menembaki rombongan tentara Eritrea tersebut. Respon berdarah yang ditunjukkan aparat Ethiopia langsung memancing kemarahan Eritrea, namun Ethiopia balik membela diri & menyatakan aksi penembakan tersebut terjadi karena aparat Ethiopia hanya berusaha mencegah pasukan Eritrea memasuki wilayah sah Ethiopia tanpa izin.

Tentara Eritrea yang sedang mengintai
dari balik parit perlindungan. (Sumber)
Di luar klaim mengenai siapa yang salah dalam peristiwa penembakan tersebut, pemerintah Eritrea memutuskan bahwa sudah saatnya mereka mulai menunjukkan respon yang lebih keras & berdarah. Maka pada tanggal 12 Mei 1998, pasukan Eritrea yang dibantu oleh tank & artileri melancarkan serangan besar-besaran ke kota Badme. Hanya dalam waktu singkat, pasukan Eritrea berhasil menduduki kota Badme & aparat serta milisi Ethiopia yang bertugas melindungi kota tersebut dipaksa mundur keluar kota. Serangan Eritrea tersebut tak pelak memancing kemarahan Ethiopia yang memutuskan untuk menggerakkan ratusan ribu pasukannya untuk menggempur pasukan Eritrea di Badme pada tanggal 13 Mei.

Konflik bersenjata antara Eritrea & Ethiopia yang semula hanya terkonsentrasi di kota Badme yang terletak di perbatasan Eritrea-Ethiopia bagian barat akhirnya mulai merambat ke wilayah perbatasan lain seperti di Zala Ambassa (perbatasan tengah) & Deba Sima (perbatasan timur). Sejak konflik di sepanjang perbatasan mulai meletus, masing-masing pihak juga mulai membangun parit-parit perlindungan & menanam sejumlah besar ranjau darat di depannya. Dengan taktik ini, situasi di garis depan tidak banyak berubah & pasukan darat masing-masing pihak kesulitan untuk melakukan pergerakan lebih jauh ke wilayah lawannya.


Jual Beli Serangan Udara & Artileri

Bulan Juni 1998, konflik antara kedua negara mulai menjalar ke front udara setelah pesawat tempur Ethiopia menyerang bandara di Asmara, ibukota Eritrea. Eritrea lantas membalasnya dengan mengirimkan pesawat tempurnya untuk membombardir kota Mekele di Ethiopia di mana serangan tersebut mengakibatkan 47 orang penduduk Mekele - termasuk anak-anak - harus kehilangan nyawa. Aksi saling serang dengan memakai pasukan udara tersebut langsung memantik kecaman PBB lewat salah satu resolusinya yang bernomor 1177. Tak lama setelah PBB mengeluarkan resolusi tersebut, kedua belah pihak sepakat menghentikan aktivitas pemboman dari udara.

Tentara Ethiopia yang sedang
mengoperasikan meriam
peluncur roket. (Sumber)
Keputusan Eritrea & Ethiopia untuk berhenti melakukan aksi-aksi serangan udara tidak lantas menurunkan intensitas konflik karena yang terjadi kemudian adalah masing-masing pihak mulai memakai artileri sebagai pengganti pesawat tempur untuk membombardir target-target yang berada di balik garis perbatasan kedua negara. Bulan Juni & November 1988 misalnya, pasukan Eritrea menembakkan artileri ke kota Adrigat, Ethiopia, yang mengakibatkan 6 orang tewas & lainnya luka-luka. Pihak Ethiopia lantas membalasnya dengan melakukan tembakan-tembakan artileri ke wilayah Eritrea.

Memasuki tahun 1999, alur perang masih relatif belum berubah di mana masing-masing pihak lebih banyak melakukan jual beli tembakan artileri & tank dari balik perbatasan. Namun pada bulan Februari di tahun tersebut pasca gagalnya perundingan damai yang difasilitasi oleh Organisasi Uni Afrika & AS, Ethiopia melancarkan serangan besar-besaran di bawah kode sandi "Operasi Matahari Terbenam" (Operation Sunset). Dalam operasi militer tersebut, tentara-tentara Ethiopia yang dibantu oleh tank, artileri, & pesawat tempur melakukan serangan ke kota Badme yang dikuasai oleh Eritrea.

"Operasi Matahari Terbenam" akhirnya dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 1998 & berlangsung selama sekitar seminggu. Pertempuran berjalan sengit & Ethiopia harus kehilangan begitu banyak personilnya dalam operasi militer tersebut. Namun, operasi militer tersebut juga berbuah manis bagi Ethiopia karena kini mereka berhasil menduduki kota Badme sepenuhnya & menggeser garis depan sejauh 6 km lebih dalam ke wilayah Eritrea. "Operasi Matahari Terbenam" juga menjadi salah satu episode pertempuran paling sengit & paling berdarah dalam perang antara Ethiopia melawan Eritrea.


Naik Turunnya Intensitas Pertempuran

Tank milik pasukan Ethiopia. (Sumber)
Pasca "Operasi Matahari Terbenam", intensitas konflik sempat menurun untuk beberapa lama. Namun memasuki minggu kedua bulan Mei 1999, konflik skala besar kembali pecah setelah pasukan Ethiopia yang disokong oleh tank melancarkan serangan darat besar-besaran ke arah Asmara, ibukota Eritrea. Kali ini hasil akhir dari pertempuran tersebut tidak memihak pada Ethiopia karena pasukan mereka gagal merengsek lebih jauh ke dalam wilayah Eritrea & EThiopia juga harus kehilangan puluhan tank beserta ratusan tentaranya. Pasca pertempuran tersebut, alur perang kembali memasuki fase kebuntuan setelah masing-masing pihak memutuskan untuk kembali menggelar taktik bertahan dengan cara membangun parit-parit pertahanan di garis depan wilayah kekuasaan mereka.

Kembalinya perang ke fase kebuntuan (stalemate) lantas diikuti dengan mulai menjalarnya konflik antara Eritrea & Ethiopia keluar perbatasan setelah masing-masing pihak saling menyokong kelompok pemberontak di wilayah lawannya. Adalah Eritrea yang awalnya mulai mengirimkan bantuan uang & persenjataan kepada Oromo Liberation Front (OLF; Front Pembebasan Oromo), kelompok pemberontak di Somalia yang bermusuhan dengan Ethiopia. Ethiopia lantas membalasnya dengan balik menyokong Eritrean Islamic Salvation (EIC; Keselamatan Islam Eritrea) & Jihadis Islam Eritrea, 2 kelompok pemberontak yang sama-sama berkonflik dengan pemerintah pusat Eritrea.

Memasuki tahun 2000, situasi di garis depan tidak banyak berubah. Namun pada bulan Mei, situasi di garis depan mulai berubah setelah pasukan Ethiopia di perbatasan barat Eritrea-Ethiopia melancarkan serangan ke wilayah yang hanya dijaga sedikit pasukan Eritrea, namun dipenuhi ranjau darat. Dalam serangan tersebut, pasukan Ethiopia mengerahkan keledai & tentara dalam jumlah besar sebagai tumbal untuk membersihkan ranjau-ranjau darat tersebut sebelum kemudian mengirimkan pasukan tank dari belakang. Walaupun taktik Ethiopia tersebut terkesan sadis, namun nyatanya taktik tersebut cukup efektif dalam membuat Eritrea kehilangan pangkalan-pangkalan militer pentingnya & sebagian kecil wilayahnya.

Peta yang menunjukkan zona keamanan
buatan PBB yang terletak di antara garis
perbatasan kedua negara. (Sumber)
Lepas dari kembali meningkatnya intensitas konflik di pertengahan tahun 2000, upaya-upaya untuk mengakhiri perang antara Eritrea & Ethiopia mulai menemukan titik terang setelah pihak-pihak yang bertikai sepakat untuk menghentikan aktivitas bersenjata & saling klaim atas wilayah sengketa untuk sementara waktu lewat Perjanjian Aljir (Algier Agreement) di bulan Juni 2000. Pasca disahkannya Perjanjian Aljir, PBB lantas mencipatakan zona keamanan sejauh 25 km di antara garis wilayah perbatasan kedua negara. Perundingan damai lebih lanjut terus berlangsung & hasilnya, pada bulan Desember 2000 Eritrea & Ethiopia sepakat untuk mengakhiri perang secara resmi.



KONDISI PASCA PERANG

Perang Eritrea-Ethiopia berlangsung selama 2 tahun di mana perang tersebut mengakibatkan jumlah korban jiwa yang tidak main-main. Tidak diketahui secara pasti jumlah korban tewas di kedua belah pihak, namun diperkirakan jumlahnya berkisar antara 40.000 - 300.000 jiwa di mana mayoritas dari jumlah korban tewas tersebut berasal dari pihak Ethiopia. Selain korban jiwa, perang tersebut juga mengakibatkan ratusan ribu rakyat sipil yang masih hidup harus kehilangan tempat tinggal. Hingga sekarang, diperkirakan masih ada sebagian kecil rakyat korban perang dari masing-masing negara yang belum mendapatkan tempat tinggal pengganti yang layak.

Perang Eritrea & Ethiopia juga membawa pukulan yang amat telak bagi perekonomian kedua negara. Masalahnya adalah sebelum perang meletus, baik Ethiopia & Eritrea sebenarnya merupakan 2 dari negara-negara paling miskin di dunia. Ketika perang terjadi, selain harus mengeluarkan uang hingga jutaan dollar AS untuk membeli & memperbaiki persenjataan, masing-masing negara juga harus mengurusi para pengungsi yang semakin hari semakin membludak. Kedua negara juga sebenarnya merupakan mitra dagang yang sangat dekat sebelum perang & meletusnya perang antara keduanya secara otomatis membuat kedua negara sama-sama kehilangan salah satu sumber pendapatan utamanya.

Para penduduk Eritrea yang mengungsi
untuk menghindari perang. (Sumber)
Mengenai hasil akhir dari perang Eritrea-Ethiopia sendiri, walaupun Ethiopia merupakan pihak yang unggul pada fase akhir perang, perang itu sendiri tidak menghasilkan pemenang yang jelas karena status wilayah sengketa yang diperebutkan tetap terkatung-katung menyusul dicapainya Perjanjian Aljir yang salah satu poin pentingnya adalah status wilayah sengketa akan diselesaikan kelak oleh komisi-komisi khusus yang didirikan oleh PBB. Hasilnya, pada bulan Oktober 2001 komisi tersebut menyatakan bahwa wilayah Badme yang menjadi sumber utama konflik adalah wilayah sah milik Eritrea. Namun, masalah baru muncul ketika Ethiopia menolak keputusan komisi tersebut & memilih tetap menempatkan sebagian kecil pasukannya di Badme hingga sekarang.

Ketegangan antara Eritrea & Ethiopia yang berkepanjangan juga disebut-sebut merupakan penyebab utama bergejolaknya kawasan Somalia selatan hingga sekarang. Kelompok milisi Al-Shabaab yang berideologi Islam & bermusuhan dengan Ethiopia contohnya, disebut-sebut bisa tetap aktif hingga sekarang karena mendapat sokongan dari Eritrea. Terakhir pada tahun 2010 lalu, pasukan Ethiopia & Eritrea juga sempat terlibat kontak senjata skala kecil yang untungnya tidak sampai berlanjut menjadi perang berskala lebih besar. Semoga saja konflik bersenjata antara Eritrea & Ethiopia tidak lagi terjadi di masa depan karena menyelesaikan masalah dengan kekerasan hanya akan menciptakan bibit-bibit kebencian baru antara 2 negara bertetangga yang harusnya saling bersahabat tersebut.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : 1998 - 2000
    - Lokasi : Eritrea, Ethiopia

2. Pihak yang Bertempur
   (Negara)  -  Eritrea
          melawan
   (Negara)  -  Ethiopia

3. Hasil Akhir
    - Perang berakhir tanpa pemenang yang jelas
    - Pembentukan zona keamanan yang diawasi di PBB di antara perbatasan kedua negara
    - Status wilayah sengketa akan diselesaikan oleh komisi khusus yang dibentuk PBB

4. Korban Jiwa
    - Eritrea : 19.000 - 150.000
    - Ethiopia : 34.000 - 150.000



REFERENSI

GlobalSecurity.org - Ethiopia / Eritrea War
ICE - Eritrea and Ethiopia : Continual Conflict
Wikipedia - Eritrea
Wikipedia - Eritrean-Ethiopian War
International Crisis Group. 2008. "Beyond The Fragile Peace Between Ethiopia and Eritrea : Averting New War". (file PDF)
Leenco Lata dkk.. 2007. "The Search for Peace : The Conflict Between Ethiopia and Eritrea". (file PDF)


           

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

2 komentar:

  1. perang militer akan selalu memakan korban.. mudah - mudahan negara kita selalu aman ya sob...

    BalasHapus
  2. terima kasih atas infonya
    semoga selalu dapat memberi informasi yg edukatif seperti ini
    regards

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.