FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Gajah Laut, Si Bongsor yang Tidak Berbelalai




Gajah laut jantan (kanan) & betina. (Sumber)

Apa yang para pengunjung pikirkan bila mendengar kata "gajah laut"? Bila yang dibayangkan para pengunjung adalah hewan berukuran raksasa yang berbelalai & hidup di laut, maka pikiran itu sebaiknya segera dibuang jauh-jauh. Sebab dalam kenyataannya, gajah laut memiliki ciri-ciri fisik yang berbeda jauh dari bayangan tersebut. Hmmm, ingin tahu seperti apa wujud asli dari gajah laut? Kalau ya, silakan diteruskan bacanya...

Hewan yang disebut sebagai gajah laut (sea elephant / elephant seal) sebenarnya adalah sejenis anjing laut (seal) yang berukuran besar. Jika dibandingkan dengan jenis anjing laut lainnya, gajah laut merupakan jenis anjing laut terbesar yang diketahui oleh manusia. Nama "gajah laut" sendiri diberikan karena tipe pejantan dari hewan ini memiliki hidung yang besar & sekilas mirip seperti belalai gajah yang tergulung. Fungsi dari hidung besar tersebut adalah untuk membantu gajah laut jantan membuat suara keras saat menandai wilayah kekuasaannya, utamanya saat musim kawin tiba.

Ada 2 spesies gajah laut yang diketahui, yaitu gajah laut utara (northern elephant seal; Mirounga angustirostris) yang hidup di lautan Pasifik utara & gajah laut selatan (southern elephant seal; Mirounga leonina) yang hidup di sekitar kutub selatan. Selain memiliki habitat asli yang berbeda, kedua spesies tersebut juga menampilkan perbedaan fisik di mana spesies yang hidup di utara memiliki ukuran yang sedikit lebih kecil dibandingkan kerabatnya di selatan. Selebihnya, gajah laut utara & selatan memiliki cara hidup yang kurang lebih serupa.

Gajah laut yang sedang berenang
di permukaan laut. (Sumber)
Sebagai anggota dari keluarga besar anjing laut (superfamili Pinnipedia), sudah bisa ditebak bahwa gajah laut menghabiskan sebagian besar aktivitasnya di laut. Kendati menghabiskan sebagian besar aktivitasnya di laut, gajah laut - layaknya mamalia laut lainnya - tidak bisa bernapas di air & harus secara teratur menyembul ke permukaan air untuk mengambil oksigen. Hebatnya, sekali mengambil oksigen dari permukaan laut, gajah laut bisa tetap bertahan di dalam air tanpa perlu kembali lagi ke permukaan selama sekitar 120 menit! Namun gajah laut jarang menghabiskan waktu selama itu saat berada di bawah air & mereka rata-rata hanya menghabiskan waktu sekitar 30 menit di dalam air sebelum kemudian muncul ke permukaan untuk menghirup udara.

Layaknya anjing laut lainnya, gajah laut adalah hewan karnivora di mana makanannya mencakup cumi-cumi, ikan, Crustacea, serta - khusus untuk spesies yang hidup di selatan - penguin. Para ahli berteori bahwa gajah laut mengandalkan indra penglihatannya untuk menemukan makannya kalau melihat ukuran matanya yang besar & minimnya sel peka terang pada matanya. Sedikit info, sel peka terang adalah sel pada mata yang peka cahaya & makhluk hidup yang memiliki banyak sel peka terang pada matanya biasanya merupakan hewan yang aktif pada siang hari. Gajah laut di sisi lain adalah hewan nokturnal (aktif di malam hari) & bisa menyelam hingga kedalaman 1.500 m yang minim cahaya sehingga secara kasar bisa disimpulkan, mata dari gajah laut memang teradaptasi untuk melihat dengan baik di kegelapan.



LAHIR, TUMBUH, & DIBURU

Gajah laut jantan & betina menampilkan seksual dimorfisme alias perbedaan fisik antar kelamin di mana perbedaan fisik yang paling terlihat adalah gajah laut betina tidak memiliki hidung besar seperti milik pejantan. Perbedaan lainnya, pejantan lebih besar & lebih berat ketimbang betina. Saat musim kawin tiba, gajah laut jantan akan mendarat di pantai yang biasa digunakan untuk melakukan perkawinan & kemudian meraung keras untuk menunjukkan bahwa dialah penguasa pantai tersebut. Saat menjaga wilayah kekuasaannya, pejantan bisa tidak pergi mencari makan selama 3 bulan. Gajah laut betina yang tiba belakangan kemudian akan berkumpul bersama betina-betina lainnya, lalu pejantan yang menguasai pantai tempat para betina itu berkumpul akan mengawini mereka sendirian.

Gajah laut betina bersama
anak-anaknya. (Sumber)
Pejantan sangatlah posesif atas para betina di wilayahnya sehingga bila ada pejantan lain yang memasuki wilayahnya, pejantan penguasa akan mengusirnya. Bila "sang penyusup" tersebut ternyata tidak mau pergi, keduanya akan bertarung hingga salah satu menyerah & pergi. Pertarungan antar sesama jantan jarang berupa kontak fisik & biasanya hanya sebatas "adu raung". Kalau sudah begitu, pejantan yang tidak ahli bertarung biasanya akan menyusup ke wilayah jantan lainnya & kemudian kawin secara sembunyi-sembunyi dengan betina yang ada di sana. Namun kadang-kadang, bila jumlah betina dalam suatu wilayah cukup banyak, pejantan yang menguasai wilayah tersebut akan membiarkan pejantan lain untuk kawin dengan betina-betina di wilayah kekuasaannya.

Betina yang sudah kawin akan kembali ke laut, lalu kembali lagi ke wilayah tempatnya kawin dulu saat ia sudah hamil & akan melahirkan. Bayi gajah laut yang warnanya hitam tersebut kemudian akan terus disusui induknya selama 4 minggu. Sesudah itu, betina akan pergi kembali ke laut & anakan gajah laut tersebut sudah harus mulai hidup mandiri. Masa-masa ini sangatlah berbahaya bagi anakan gajah laut karena ukuran mereka yang masih relatif kecil membuat mereka rentan diserang oleh para pemangsanya. Seekor gajah laut sendiri diketahui memiliki usia maksimal 20 tahun & ukuran panjang maksimal 4,5 m (khusus pejantan) atau 3 m (khusus betina).

Karena ukurannya yang besar, gajah laut tidak memiliki banyak musuh selain paus pembunuh (orca) & hiu putih besar. Biar begitu, ancaman dari keduanya belumlah seberapa bila dibandingkan dengan ancaman dari manusia. Alasan utama manusia memburu gajah laut sendiri adalah karena lapisan lemak dari gajah laut merupakan sumber minyak yang berkualitas tinggi. Sebagai akibat dari perburuan yang berlebihan sejak abad ke-18, populasi gajah laut - khususnya spesies yang hidup di utara - mengalami penurunan tajam & bahkan sempat terancam punah. Untungnya, sejak pertengahan abad ke-20 perburuan gajah laut sudah dilarang & populasi mereka pun secara perlahan mulai pulih kembali. Semoga saja populasi satwa bongsor ini dalam waktu dekat bisa melimpah kembali seperti sediakala.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



KLASIFIKASI

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Carnivora
Subordo : Pinnipedia
Famili : Phocidae
Genus : Mirounga



REFERENSI

ARkive - Northern elephant seal videos, photos, and facts
ARkive - Southern elephant seal videos, photos, and facts
Wikipedia - Elephant seal
Wikipedia - Northern elephant seal
Wikipedia - Southern elephant seal


       

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.