FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Kobra Peludah Khatulistiwa, Sang Penyembur Racun dari Asia Tenggara




Kobra peludah khatulistiwa yang berwarna hitam. (Sumber)

Semua orang pasti tahu yang namanya kobra atau ular sendok. Ya, itu adalah sebutan untuk sejenis ular yang terkenal karena racunnya yang mematikan & kepalanya yang memiliki semacam tudung berbentuk seperti sendok. Ada begitu banyak spesies ular kobra yang diketahui manusia, namun artikel kali ini akan fokus membahas soal kobra peludah khatulistiwa, jenis ular kobra dari daerah tropis yang bisa menyemburkan racunnya hingga jarak yang cukup jauh! Hmmm, penasaran? Silakan dilanjutkan bacanya...

Ular kobra peludah khatulistiwa atau kobra penyembur khatulistiwa (equatorial spitting crobra; Naja sumatrana) adalah salah satu spesies ular kobra yang memiliki kemampuan untuk meludahkan bisa atau racunnya. Ular ini juga dikenal dengan nama lain ular kobra peludah Sumatra (Sumatran spitting cobra), namun sebenarnya ular ini tidak hanya ditemukan di Sumatra. Habitat asli dari ular ini adalah wilayah hutan tropis Asia Tenggara yang mencakup Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand selatan, Filipina barat daya, & Indonesia bagian barat.



MENGENAL KOBRA PELUDAH LEBIH DEKAT

Secara fisik, ular kobra peludah tidak berbeda dengan ular kobra pada umumnya. Tubuhnya panjang & bagian lehernya memiliki semacam jumbai atau tudung pipih yang lebar. Fungsi utama dari tudung pipih tersebut adalah untuk membuat tubuhnya lebih besar saat merasa terancam sehingga musuh dari kobra diharapkan merasa takut & kemudian mundur. Tudung pipih itu sendiri sebenarnya merupakan tulang-tulang yang terselubung oleh kulit di mana tulang-tulang tersebut bisa ditegakkan & dilipat sesuai kebutuhan. Tudung itu pula yang menjadi asal muasal nama jenis ular yang bersangkutan di mana kata "kobra" berasal dari bahasa Portugis "cobra capo" yang berarti "ular bertudung" atau "ular berkerudung".

Kobra peludah khatulistiwa dengan tipe
pewarnaan kuning. Jenis ini banyak
ditemukan di Thailand. (Sumber)
Karakteristik fisik yang paling menarik dari ular kobra peludah khatulistiwa adalah ular yang menempati habitat berbeda diketahui memiliki 2 macam warna sisik yang berbeda. Warna pertama adalah warna kuning di mana ular dengan pewarnaan macam ini banyak ditemukan di wilayah Thailand. Warna kedua adalah warna hitam dengan bercak putih di leher bagian depan di mana ular dengan pewarnaan macam ini dapat ditemukan di Semenanjung Malaya, Singapura, & Indonesia. Panjang maksimal dari kobra peludah khatulistiwa adalah 1,6 m, namun mayoritasnya biasanya hanya berukuran panjang sekitar 1 m.

Kobra peludah adalah hewan pemakan daging yang biasa keluar berburu baik pada siang maupun malam hari. Untuk menemukan mangsanya, ular ini mengandalkan kemampuannya mengendus bau dengan cara menjulurkan lidahnya yang bercabang 2 untuk memerangkap partikel-partikel bau & kemudian memindahkan partikel bau tersebut ke organ penciuman yang terletak di langit-langit mulutnya. Ular kobra juga bisa mendeteksi pergerakan mangsanya dengan mengandalkan tubuhnya yang amat peka terhadap getaran. Mangsa dari kobra peludah mencakup hewan-hewan kecil seperti hewan pengerat, katak, kadal, & bahkan ular lainnya.



SANG PENYEMBUR RACUN

Sekarang mari kita bicara soal kemampuan unik dari ular ini : menyemburkan racun. Ular kobra peludah biasanya meludahkan (atau lebih tepatnya menyemburkan) racunnya untuk mengusir musuhnya di mana target yang diincar oleh kobra ini untuk diludahi adalah bagian mata. Ada beberapa spesies ular kobra yang diketahui bisa menyemburkan racunnya di mana semuanya termasuk ke dalam genus Naja. Indonesia sendiri diketahui memiliki 2 spesies ular kobra peludah di wilayahnya : kobra peludah khatulistiwa (Naja sumatrana) & kobra peludah Jawa (Naja sputatrix) yang warna tubuhnya cenderung lebih kecoklatan.

Seekor kobra peludah yang sedang
menyemburkan racunnya. (Sumber)
Adalah hal yang menarik untuk melihat bagaimana kobra peludah khatulistiwa menyemburkan racunnya. Kobra peludah memiliki sepasang tarung di bagian depan moncongnya di mana taring tersebut terhubung dengan kelenjar racun di bagian atas mulutnya oleh semacam saluran. Bila ingin menyemburkan racun, otot di bagian saluran racunnya akan mengerut (berkontraksi) sehingga racun dari kelenjar akan mengalir ke dalam saluran racun di dalam taringnya & kemudian tersembur keluar. Semakin kuat otot tersebut mengerut, maka tekanan pada saluran racunnya juga akan semakin kuat & racun yang tersembur bisa semakin jauh.

Walaupun para ahli sudah mengetahui mekanisme penyemburan racunnya, para ahli masih belum yakin bagaimana ular tersebut bisa menyemburkan racunnya secara akurat. Satu-satunya petunjuk yang diketahui para ahli adalah setiap kali calon sasarannya bergerak mundur dari posisi sang ular, maka sang ular secara perlahan akan mendongakkan kepalanya ke atas. Dengan begitu, ular tersebut bisa memastikan bahwa racun yang disemburkannya akan selalu mengenai bagian atas dari calon sasarannya, khususnya bagian mata. Racun yang disemburkan oleh kobra peludah sendiri konon bisa mencapai jarak maksimal 1,9 m!



BERBAHAYA, TAPI BERMANFAAT

Racun dari kobra peludah memiliki efek yang berbahaya bagi manusia. Jika terkena mata, racun tersebut akan menimbulkan efek rasa amat perih seperti terbakar pada mata & bahkan kebutaan permanen. Korban yang matanya terkena oleh racun kobra penyembur harus segera membasuh matanya dengan cairan yang dialirkan, misalnya susu atau air. Korban juga disarankan memutar-mutar bola matanya selama proses pembasuhan mata. Hal berikutnya yang sebaiknya dilakukan adalah segera membawa korban ke rumah sakit atau klinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.

Seekor kobra peludah
dalam kandang. (Sumber)
Racun kobra peludah juga bisa masuk ke dalam pembuluh darah lewat gigitan. Efek dari racun gigitan bisa berakibat lebih fatal karena bisa mengakibatkan korbannya meninggal! Jika ada orang yang tergigit kobra penyembur, maka korban harus segera dibawa ke klinik atau rumah sakit terdekat agar bisa mendapatkan pertolongan secepat mungkin sebelum racunnya bereaksi lebih jauh. Hal yang perlu diperhatikan adalah korban harus dijaga agar bergerak sesedikit mungkin selama berada dalam perjalanan menuju rumah sakit karena gerakan pada tubuh akan mempercepat aliran darah & membuat racunnya menyebar lebih cepat. Berbeda dengan anggapan umum, mengikat luka gigitan dengan perban & menyerap racun pada bekas gigitan dengan mulut sebenarnya tidaklah disarankan.

Walaupun berbahaya, ular kobra penyembur sebenarnya memiliki manfaat bagi manusia karena suka memakan hama berupa hewan-hewan pengerat. Selain itu, ular ini sebenarnya adalah hewan pemalu & penakut yang lebih suka lari atau bersembunyi bila berpapasan dengan makhluk lain yang berukuran lebih besar. Tindakan menggigit atau meludah biasanya hanya dilakukan oleh ular ini bila ia merasa terpojok & tidak bisa melarikan diri. Gigitan dari kobra penyembur juga tidak selalu mematikan karena kadang-kadang ia hanya sebatas menggigit, tapi tidak menyuntikkan racunnya saat menggigit. Gigitan tidak beracun macam itu dikenal sebagai "gigitan kering" (dry bite). Belakangan, ular ini juga mulai dijadikan hewan peliharaan oleh para pecinta reptil.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



KLASIFIKASI

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Squamata
Subordo : Serpentes
Famili : Elapidae
Genus : Naja
Spesies : Naja sumatrana (Muller, 1890)



REFERENSI

Discovery News - Spitting Cobras' Sharp-Shooting Secrets (part 1)
Discovery News - Spitting Cobras' Sharp-Shooting Secrets (part 2)
The Reptile Databse - Naja sumatrana
WCH Clinical Toxinology Resources - Naja sumatrana
Wikipedia - Cobra
Wikipedia - Naja
Wikipedia - Naja sumatrana
Wikipedia - Naja sputatrix
Wikipedia - Snake
- . 1996. "Hamparan Dunia Ilmu Time-Life : Perilaku Binatang". PT Tira Pustaka, Jakarta.


     

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

13 komentar:

  1. haaaaa dijadiin binatang peliharaan???
    whaaaaat???
    berani bener ya

    BalasHapus
  2. tambahan rep,

    -organ penciuman yang di langit2 mulut : organ Jacobson (mgkn penemunya bernama sama)

    -di Afrika juga ada kobra yang sejenis yg sama2 mampu menyemprotkan racunnya. beberapa sumber menyebutkan bahwa semburan kobra tsb bisa sampai 3 meter (seingetku di VCD hewan2 tuh gitu) dan para pekerja outdoor di sana memakai lencana yg mengkilap supaya kalo keapesan ketemu kobra dan disembur, yg disembur adalah lencananya, bukan mata mereka

    BalasHapus
  3. @emon
    Sip, makasih ya buat tambahan infonya :)

    Iya, di Afrika memang ada ular kobra penyembur juga. Tapi di artikel kali ini saya fokus bahasnya soal kobra penyembur khatulistiwa karena habitat aslinya yang masih berada di wilayah Indonesia

    BalasHapus
  4. woeeee
    gan semua tentu ada manfaatnya tapi liat lagi lah lebih besar manfaat atau mudaratnya.

    BalasHapus
  5. @poet/ya2
    Kalau soal itu sih terserah para pengunjung (termasuk anda) untuk memutuskan sendiri. Apakah ular yang bersangkutan itu lebih banyak manfaat atau mudharatnya.

    Yang jelas, saya percaya kalau tiap makhluk di dunia itu sudah tercipta sesuai perannya masing-masing. Terlepas dari apakah perannya di alam tersebut dianggap menguntungkan atau merugikan bagi manusia :)

    BalasHapus
  6. Terima kasih gan atas info berharganya...
    Dulu waktu SMA ane pernah ngelakuin hal ceroboh dengan menatap langsung mata kobra yg ane pegang di tangan. Dulu ane kira kobra peludah atau kobra penyembur hanya ada di luar Indonesia jadi ane dengan pede-nya menatap mata kobra ditangan ane, dan unfortunately, ane langsung disembur oleh kobra tersebut. untungnya ada banyak air disekitar ane sehingga ane bisa basuh mata ane dengan air. Hehehe, pesan ane jangan sekali-kali kita ceroboh dalam menghadapi hewan yang satu ini, salah sedikit, bisa fatal akibatnya gan...

    BalasHapus
  7. Thanks infonya ..
    Saya punya sepasang naja sumatranus udah jinak banget, kira2 tahu ga bagaimana cara menangkarinya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya kurang paham soal teknik memelihara reptil, apalagi ular berbisa. Kalau anda perlu info berbahasa Indonesia soal itu, saran saya coba kunjungi forum pecinta reptil di Kaskus atau Reptilx.

      Hapus
  8. saya suka banget sama ular king cobra

    BalasHapus
  9. ngeri, di desaku. ular hitam ini sudah mkan korban, dan bnyak skali ularnya..... yg minat kmari aja....

    BalasHapus
  10. Yg sy udah bertelur ni gan ..

    BalasHapus
  11. sore tadi 16 nov 2016 ane ketemu ular kobra hitam pekat panjang ± 1m ketika saya pukul dia mengeluarkan semburan 2 kali jarak semburan ± 1,5m alhamdulillah gak kena cuma ada bekas bisa nya aja , ane mau tanya bisa yang berceveran di lantai tu bahaya tidak jika terkena kaki atau kulit ,,,,,,,lokasi di bentong malaysia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak berbahaya, kecuali kalau ada luka di bagian yang bersentuhan dengan racun.

      Hapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.