FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Perang Sipil Libya yang Mengakhiri Rezim Panjang Qaddafi




(Sumber)

Bila kita sering mengikuti berita internasional pada tahun 2011 lalu, maka harusnya kita bakal sering menemukan berita-berita soal perang Libya. Ya, pada tahun itu Libya memang sedang dilanda perang saudara di mana perang tersebut sebenarnya berawal dari aksi-aksi demonstrasi di sejumlah negara Arab yang kemudian merambat ke Libya & berubah menjadi konflik bersenjata. Mungkin para pengunjung ingin tahu bagaimana jalannya peperangan tersebut secara singkat? Jika ya, maka pengunjung sedang berada di tempat yang tempat karena artikel ini bakal membahas soal perang sipil di Libya yang juga diwarnai dengan insiden tewasnya pemimpin Libya, Muammar Al-Qaddafi.

Perang sipil atau perang saudara Libya (kadang disebut juga sebagai "revolusi Libya 2011") adalah konflik bersenjata yang terjadi pada tahun 2011 antara pasukan pemerintah Libya yang dipimpin oleh Muammar Al-Qaddafi melawan pasukan pemberontak National Transitional Council (NTC; Dewan Transisi Nasional). Belakangan, pihak NTC juga dibantu oleh pasukan laut & udara milik organisasi militer multinasional NATO yang saat itu dikirim atas mandat PBB untuk mencegah pasukan pemerintah Libya & pemberontak melakukan serangan-serangan udara lebih jauh ke kawasan yang dipadati penduduk sipil. Akibat perang tersebut, ribuan orang dilaporkan tewas & kondisi keamanan Libya hingga sekarang juga masih belum stabil.



LATAR BELAKANG

Sejak Kolonel Muammar Al-Qaddafi (atau Gaddafi) naik menjadi pemimpin baru Libya di tahun 1969 lewat kudeta yang juga mengakhiri era kerajaan, Libya menjadi salah satu negara Timur Tengah yang kondisi sosial politiknya amat tertutup. Sebagai gambaran singkat, rakyat Libya dilarang mengkritik kinerja pemerintah Libya & dilarang mendirikan partai politik. Qaddafi juga mendesain sistem perpolitikan Libya sedemikian rupa sehingga ia tetap memiliki kekuatan untuk mempengaruhi aneka kebijakan dari pemimpin berkuasa Libya kendati secara konstitusional, Qaddafi tidak lagi menjadi pemimpin tertinggi dari negara berbendera hijau tersebut.

Muammar Al-Qaddafi. (Sumber)
Di luar negeri, Qaddafi dikenal kerap menjalankan aneka kebijakan yang kontroversial dengan dalih menyokong revolusi di luar negeri. Sebagai contoh, secara tidak langsung ia ikut mengobarkan konflik-konflik di negara lain dengan cara mendanai & melatih aneka kelompok pemberontak seperti IRA (Irlandia Utara), Brigade Merah (Jerman), FARC (Kolombia), serta MILF (Filipina). Libya juga beberapa kali mengirimkan agen rahasianya ke luar negeri untuk melakukan aksi-aksi pemboman di tanah Eropa & membunuh para perantauan Libya yang mengkritik rezim Qaddafi. Sebagai akibatnya, Libya pun dimusuhi oleh negara-negara Barat. AS bahkan bertindak lebih jauh dengan melancarkan serangan udara ke Libya pada tahun 1986, namun serangan tersebut gagal membunuh Qaddafi.

Libya juga memiliki masalah soal kesenjangan sosial. Walaupun Libya merupakan negara Afrika Utara dengan pendapatan nasional tertinggi lewat sektor minyaknya, pendapatan nasional tersebut tidak terdistribusi secara merata. Contoh paling nyata bisa dilihat di kawasan Libya timur yang kelak menjadi markas utama kelompok pemberontak. Di sana, fasilitas-fasilitas umum tidak dimodernisasi secara puluhan tahun & layanan kesehatan yang ditawarkan di sana juga berkualitas rendah. Di sisi lain, para anggota keluarga & teman dekat Qaddafi diketahui kerap menyedot uang dari kas negara untuk kepentingan-kepentingan mereka sendiri, misalnya untuk menggelar pesta pribadi & membangun rumah mewah.

Memasuki akhir tahun 2010, timbul arus demonstrasi besar-besaran di negara-negara Arab yang dikenal sebagai "Musim Semi Arab" (Arab Spring). Demonstrasi pertama timbul di Tunisia & berakhir dengan keberhasilan para demonstran menggusur Presiden Ben Ali dari tahtanya. Bagaikan api disiram bensin, keberhasilan demonstrasi itu langsung menginspirasi rakyat dari negara-negara Arab lainnya yang merasa senasib untuk menggelar aksi serupa, tak terkecuali di Libya. Sejak bulan Februari 2011, ratusan orang di sejumlah kota di Libya mulai menggelar demonstrasi anti-Qaddafi. Ketika pemerintah Libya menjawab tuntutan tersebut dengan kekerasan, gesekan antara pemerintah Libya dengan para demonstran pun tak terhindarkan...



BERJALANNYA PERANG

Dari Aksi Protes Menjadi Pemberontakan Bersenjata

Suasana dalam bentrokan di
Tripoli, ibukota Libya. (Sumber)
Sejak tanggal 15 Februari 2011, timbul aksi demonstrasi di sejumlah kota di Libya seperti di Benghazi, Bayda, & Zintan menuntut mundurnya Qaddafi. Dalam aksi demonstrasi di kota-kota tertentu semisal Bayda, para demonstran juga dilaporkan melakukan aneka tindakan vandalisme seperti penyerangan & pembakaran gedung-gedung perkantoran milik pemerintah. Polisi & tentara yang diterjunkan lantas meresponnya dengan cara membubarkan paksa aksi-aksi demonstrasi tersebut di mana semakin lama, metode yang digunakan oleh polisi semakin keras. Jika di awal-awal para polisi & tentara sebatas memakai meriam air & tongkat baton, pada hari-hari berikutnya mereka mulai memakai peluru tajam.

Seiring berjalannya waktu, aksi-aksi demonstrasi semakin lama semakin membesar. Para demonstran semakin sering berkonflik dengan aparat keamanan & bahkan sempat menggantung mati sejumlah anggota polisi yang tertangkap. Menanggapi semakin ganasnya aksi-aksi yang dilakukan para demonstran, respon yang diberikan pemerintah Libya terhadap para demonstran tidak kalah garang. Tidak tanggung-tanggung, sejak tanggal 21 Februari pesawat tempur sampai dikerahkan untuk membombardir para demonstran di Tripoli, ibukota Libya. Tak hanya itu, pemerintah Libya juga mematikan sambungan telepon di seantero Libya untuk memblokir informasi yang keluar masuk Libya.

Pada periode yang kurang lebih bersamaan, kegelisahan mulai melanda sejumlah anggota polisi & tentara karena mereka sebenarnya tidak ingin membunuh para demonstran yang notabene adalah rakyat sipil tak bersenjata. Buntutnya, aksi-aksi desersi & pembangkangan pun mulai marak. Salah satu contohnya adalah ketika pada tanggal 21 Februari 2011, 2 pilot Libya yang diperintahkan untuk membombardir para demonstran menolak perintah tersebut & malah menerbangkan pesawatnya ke Malta, sebuah negara kepulauan kecil di Laut Mediterania. Sejumlah anggota polisi, tentara & pejabat pemerintah yang tidak menyukai metode atasan mereka dalam meredam demonstrasi lantas memilih untuk bergabung dengan para demonstran.

Milisi pendukung Qaddafi. (Sumber)
Semakin banyaknya aksi penolakan & pembangkangan dari para aparatnya sendiri membuat Libya beralih ke solusi alternatif : merekrut tentara-tentara bayaran. Para tentara bayaran itu umumnya berasal dari negara-negara miskin di Afrika seperti Niger, Chad, & Mali. Selain dari Afrika, Qaddafi juga sempat merekrut tentara bayaran dari Serbia. Kebetulan secara historis, Serbia & Libya memang memiliki hubungan politik yang cukup dekat. Aksi-aksi menggalang dukungan terhadap Qaddafi bahkan sempat muncul juga di Serbia, khususnya dari golongan ultranasionalis. Belakangan, sebuah laporan yang dirilis Amnesty International pada bulan Juni 2011 mengklaim bahwa orang-orang Afrika yang direkrut Qaddafi sebenarnya bukanlah tentara bayaran, tapi pekerja asing yang sedang merantau di Libya & dipaksa menjadi tentara.

Kembali ke medan konflik & lepas dari kontroversi soal benar tidaknya isu perekrutan paksa orang asing menjadi tentara tersebut, pemakaian tentara dari luar Libya terbukti cukup efektif bagi Libya untuk menekan aksi-aksi perlawanan dari para demonstran setelah timbulnya pembelotan massal dari kalangan militer Libya. Karena mereka umumnya mau melakukan tindakan apapun selama dibayar, maka para tentara bayaran itu dalam perkembangannya kerap melakukan aksi-aksi kontroversial seperti menembak mati para demonstran tak bersenjata, menyiksa para demonstran yang tertangkap hidup-hidup, & bahkan dalam satu kesempatan menembaki masjid yang digunakan oleh para demonstran untuk berlindung.

Semakin brutal & mematikannya tindakan dari pasukan Libya membuat pihak-pihak anti-Qaddafi merasa bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri rezim Qaddafi adalah lewat perlawanan bersenjata. Maka, di akhir bulan Februari 2011, kelompok-kelompok penentang rezim Qaddafi pun melebur menjadi organisasi baru yang bernama National Transitional Council of Libya (NTC; Dewan Transisi Nasional di Libya). Pihak NTC juga mengklaim dirinya sebagai pemerintah berdaulat di Libya sehingga sejak saat itu, Libya ibarat memiliki 2 badan pemerintahan yang saling bersaing satu sama lain. Kemunculan NTC sekaligus membuka fase baru dalam konflik sipil di Libya dari yang awalnya hanya sebatas kerusuhan sipil menjadi perang berskala nasional.


Peta dari Libya & kota-kota pentingnya. Pertempuran-pertempuran dalam
perang sipil Libya umumnya mengambil tempat di kawasan dekat pantai.


Dimulainya Intervensi Negara-Negara Luar

Hingga minggu pertama bulan Maret, pihak-pihak anti-Qaddafi yang berada di bawah payung NTC sudah berhasil menguasai kota-kota penting di Libya seperti Benghazi, Tobruk, Misrata, Zawiya, & Bayda. Namun memasuki minggu kedua bulan Maret, arah perang mulai berbalik karena sejak periode itu, pasukan pro-pemerintah Libya - yang oleh media-media internasional kerap disebut juga sebagai "loyalis Qaddafi" - yang memang secara kekuatan lebih unggul berhasil menduduki kota-kota yang sebelumnya dikuasai oleh pihak pemberontak. Salah satu kota tersebut adalah kota pesisir Zawiya di sebelah barat Tripoli di mana untuk menguasai kota tersebut, pasukan loyalis harus melancarkan serangan besar-besaran dari darat, laut, & udara.

Memasuki minggu ketiga di bulan Maret, kondisi pasukan pemberontak semakin berada di ujung tanduk. Sejak jatuhnya kota Zawiya, Libya barat, ke tangan pasukan loyalis, maka pasukan loyalis kini bisa berkonsentrasi penuh untuk menggempur kota-kota di kawasan Libya timur yang sedang dikuasai oleh kubu pemberontak. Dimulai dari berhasil direbutnya sebagian kota Misrata & Brega, pasukan loyalis lalu terus bergerak ke timur untuk merebut kota Ajbadiya. Pertempuran berlangsung sengit, namun pasukan loyalis akhirnya berhasil merebut Ajbadiya setelah melakukan serangan udara terus-menerus selama 3 hari. Dengan berhasil direbutnya Ajbadiya, kini pasukan loyalis mulai bergerak untuk merebut markas utama pasukan pemberontak di Benghazi.

Pesawat tempur "Rafale" milik
pasukan Prancis. (Sumber)
Di luar Libya, merespon semakin memanasnya situasi di Libya & semakin seringnya pasukan loyalis Libya melancarkan serangan udara ke kawasan padat penduduk, pada tanggal 17 Maret PBB akhirnya mengeluarkan resolusi untuk menerapkan "zona larangan terbang" (no-fly zone) di langit Libya. Sebagai tindak lanjut dalam menyikapi resolusi tersebut, sejumlah negara yang umumnya merupakan negara anggota organisasi militer NATO mulai menyiapkan pasukan laut & udaranya untuk dikirim ke Libya. Selain menetapkan zona larangan terbang, PBB juga melarang pengiriman senjata ke Libya & memerintahkan pembekuan aset-aset milik keluarga Qaddafi di luar negeri.

Tanggal 19 Maret 2011 alias 2 hari setelah resolusi "zona larangan terbang" tersebut keluar, Prancis mulai mengirimkan belasan pesawat tempurnya untuk menghancurkan kendaraan berat & basis pertahanan udara milik pasukan Libya. Tak lama kemudian, pasukan laut Inggris & AS yang dilengkapi dengan kapal induk pengangkut pesawat mulai memasuki perairan laut Libya. Menjelang akhir bulan Maret, barulah seluruh negara anggota NATO & sebagian negara Arab ikut menerjunkan pasukannya dalam operasi militer tersebut. Selain mengirimkan pasukan, sejumlah negara anggota NATO juga diketahui mengirimkan bantuan uang, persenjataan, & pelatihan militer kepada para pemberontak (NTC).

Masuknya pasukan gabungan (koalisi) negara-negara Barat ke wilayah Libya membawa perubahan besar dalam alur peperangan. Jika sebelumnya pihak NTC berada dalam posisi terdesak & harus bersusah payah mempertahankan kota Benghazi, maka sesudah pasukan koalisi ikut campur kondisinya berubah. Sejumlah kendaraan berat & pangkalan udara yang selama ini diandalkan oleh pasukan loyalis banyak yang hancur oleh serangan udara pasukan koalisi sehingga kekuatan pasukan loyalis pun menurun & pasukan NTC bisa memanfaatkannya untuk memukul balik pasukan loyalis keluar Benghazi. Namun, walaupun mengakui bahwa serangan-serangan pasukan koalisi asing sangat membantu, pihak NTC di sisi lain menolak masuknya pasukan asing ke tanah Libya & meminta pasukan asing cukup membantu dari udara serta laut.


Adu Kuat Kubu Loyalis & Kubu Pemberontak

Anggota pasukan pemberontak yang sedang
mengoperasikan senapan mesin. (Sumber)
Memasuki bulan April, terjadi aksi saling serang antara pasukan loyalis Libya melawan pasukan pemberontak untuk memperebutkan kota Brega, Libya tengah, yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan loyalis & diikuti dengan mundurnya pasukan pemberontak ke kota Ajwadiya yang terletak beberapa kilometer di sebelah timur Brega. Pasukan loyalis Libya sempat berusaha merebut Ajwadiya seperti yang dulu berhasil mereka lakukan pada bulan sebelumnya, namun kali ini upaya pasukan loyalis berakhir dengan kegagalan. Di kawasan Libya bagian barat, pertempuran sengit juga pecah antara pasukan pemberontak melawan pasukan loyalis yang sedang menguasai kota Misrata. Berkat bantuan serangan-serangan udara pasukan NATO, pasukan pemberontak akhirnya berhasil menduduki kota Misrata pada minggu terakhir bulan April.

Memasuki bulan Mei, NATO semakin gencar melakukan aksi-aksi serangan udara ke wilayah yang dikuasai oleh kubu loyalis, khususnya ke ibukota Tripoli yang diduga merupakan tempat bersembunyinya Qaddafi & para koleganya. Aksi-aksi serangan udara tersebut pada gilirannya membuat kondisi pasukan loyalis semakin hari semakin melemah. Situasi tersebut tidak disia-siakan oleh pasukan pemberontak di mana sejak bulan Juni, pasukan pemberontak berhasil merebut kota-kota di wilayah Libya barat yang sebelumnya dikuasai oleh pasukan loyalis. Kendati demikian, pasukan loyalis Libya tidak sepenuhnya kehilangan kekuatannya & sejumlah wilayah di Libya barat laut masih menjadi arena pertempuran sengit antara kedua belah pihak.

Hingga memasuki akhir bulan Juli, tidak banyak perubahan yang terjadi di garis depan. Namun memasuki bulan Agustus, pasukan pemberontak mulai meningkatkan intensitas serangannya. Hasilnya, perlahan tapi pasti wilayah-wilayah di Libya barat laut berhasil dikuasai oleh pasukan pemberontak & kini mereka mulai mengepung area di sekitar Tripoli, ibukota Libya. Pertempuran di kota Tripoli akhirnya pecah pada tanggal 20 Agustus. Jalanan dibanjiri oleh pasukan pemberontak, sementara pasukan loyalis berusaha menembaki mereka dari atap bangunan & menara air. Kendati demikian, perang di Tripoli sendiri berjalan dalam intensitas relatif rendah & kota tersebut akhirnya berhasil dikuasai sepenuhnya oleh pasukan pemberontak menjelang akhir bulan Agustus. Qaddafi sendiri selaku sosok yang paling dicari saat itu masih belum berhasil ditemukan.

Gorong-gorong yang sempat dipakai
oleh Qaddafi untuk bersembunyi
sebelum tertangkap. (Sumber)
Walaupun kota Tripoli sudah jatuh ke tangan pasukan pemberontak, pasukan loyalis yang tersisa masih melanjutkan perjuangan bersenjata mereka dari kota Sirte, Libya tengah, yang juga merupakan kota kelahiran Qaddafi. Pertempuran untuk merebut kota Sirte akhirnya pecah pada bulan September setelah pasukan pemberontak menyerbu kota tersebut dari sisi barat & timur Libya. Lewat situasi pertempuran yang sangat sengit, pasukan pemberontak berhasil menguasai kota Sirte sedikit demi sedikit. Kota tersebut akhirnya berhasil dikuasai sepenuhnya oleh pasukan pemberontak pada tanggal 20 Oktober. Pada tanggal yang sama, Qaddafi yang dikawal oleh beberapa pengikutnya sempat berusaha melarikan diri keluar Sirte dengan memakai mobil.

Upaya Qaddafi untuk melarikan diri gagal terlaksana setelah iring-iringan kendaraan yang membawanya berhasil diendus oleh pesawat NATO yang kemudian melancarkan serangan udara ke arah iring-iringan tersebut. Qaddafi sendiri selamat dari serangan tersebut & sempat kabur bersembunyi ke dalam sebuah gorong-gorong, namun ia akhirnya berhasil ditemukan & diseret keluar oleh sejumlah anggota pemberontak. Pada saat inilah, Qaddafi yang saat itu dikepung oleh orang-orang yang menangkapnya tewas ditembak di bagian kepala. Mayatnya lalu dibawa & "dipamerkan" di sebuah toko daging di kota Misrata. Dengan tewasnya Qaddafi, maka perang sipil di Libya yang sudah berlangsung selama 9 bulan pun oleh pihak NTC dinyatakan berakhir. Berakhirnya perang sipil di Libya lantas diikuti dengan keputusan NATO untuk menghentikan seluruh operasi militernya di Libya pada akhir bulan Oktober 2011.



KONDISI PASCA PERANG

Perang sipil Libya yang berlangsung antara bulan Februari hingga Oktober 2011 mengakibatkan ribuan orang tewas. Jumlah pasti korban tewas tidak diketahui, namun diperkirakan jumlahnya berkisar antara 10.000 hingga 40.000 jiwa di mana mayoritasnya merupakan warga sipil. Akibat perang itu pula, timbul arus pengungsi keluar Libya yang jumlahnya mencapai ratusan ribu orang di mana kebanyakan dari mereka mengungsi ke negara-negara sekitar Libya seperti Mesir & Tunisia. Tidak diketahui berapa kerugian material akibat perang tersebut, namun nilai kerugiannya pasti sangatlah besar kalau melihat intensitas perang sipil yang membakar Libya.

Sejak perang sipil berakhir, pihak NTC selaku pemenang perang langsung melakukan sejumlah perubahan. Bendera Libya yang awalnya berawrna hijau polos diganti dengan bendera bermotif tiga warna & bulan sabit. Sistem pemerintahan "jamahiriya Arab" buatan almarhum Qaddafi yang berhaluan sosialis juga dihapuskan & diganti menjadi sistem republik. Struktur keanggotaan dari rezim Libya yang baru sendiri masih bersifat sementara & NTC berharap pemilu demokratis untuk menentukan susunan pemerintahan Libya yang baru bisa segera digelar. Di sektor militer, sayap militer NTC dirombak ulang menjadi tentara nasional Libya yang baru. Sementara di sektor ekonomi, perusahaan minyak nasional Libya juga mulai beroperasi kembali sejak bulan Januari 2012. Namun, aktivitas pengilangan sendiri belum bisa berjalan secara maksimal karena masih banyaknya fasilitas perminyakan yang rusak akibat perang.

Peta dari Azawad, Mali.
Walaupun perang dinyatakan sudah berakhir sejak bulan Oktober 2011, konflik-konflik bersenjata skala kecil masih kerap terjadi di Libya hingga sekarang antara pasukan pemberontak melawan sisa-sisa pasukan loyalis Qaddafi. Konflik antar suku & kelompok bersenjata lokal juga timbul di berbagai penjuru Libya. Masih belum stabilnya kondisi keamanan pada gilirannya membuat aksi-aksi kriminal seperti penjarahan & perampokan kerap menimpa penduduk sipil. Hal tersebut semakin diperparah dengan fakta bahwa sejak perang sipil di Libya meletus, banyak senjata yang beredar secara bebas di seantero Libya. Dikhawatirkan bila kondisi keamanan Libya masih belum membaik, maka perang sipil yang baru akan timbul di Libya.

Di luar Libya, perang sipil di Libya juga disebut-sebut merupakan penyebab utama timbulnya kembali pemberontakan suku Tuareg di negara Mali sejak akhir tahun 2011 hingga sekarang. Sekedar info, saat perang sipil di Libya meletus, salah satu pihak utama penyusun kekuatan pasukan loyalis Qaddafi adalah suku Tuareg yang hidup di Mali. Begitu perang di Libya selesai dengan tewasnya Qaddafi, maka mereka pun kembali ke tempat asalnya sambil membawa stok persenjataan sisa-sisa perang sipil Libya. Nah, stok persenjataan itulah yang kemudian digunakan oleh suku Tuareg setempat untuk memulai aktivitas perjuangan bersenjata mereka dengan tujuan memerdekakan wilayah Azawad, Mali timur laut.

Selain soal masalah infrastruktur & kondisi keamanan, rezim Libya yang baru juga dirundung aneka masalah lainnya seperti nasib para tahanan perang dari kubu loyalis Qaddafi yang konon diperlakukan secara tidak layak, perbedaan pendapat soal bagaimana konsep pemerintahan Libya yang baru, dugaan bahwa masih adanya stok persenjataan kimia sisa rezim Qaddafi yang bisa disalahgunakan, & sebagainya. Kalau sudah begini, maka kita yang tinggal di luar Libya hanya bisa berharap agar masyarakat di Libya bisa lekas bersatu & membenahi masalah-masalah dalam negerinya. Yang terpenting, jangan sampai perang sipil yang oleh para pemenangnya disebut sebagai "perang pembebasan" tersebut malah menjadi awal dari mimpi buruk baru bagi rakyat Libya...  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
   - Waktu : Februari - Oktober 2011
   - Lokasi : Libya

2. Pihak yang Bertempur
    (Grup) - NTC
    (Negara) - Qatar, Uni Emirat Arab, negara-negara NATO
          melawan
    (Negara) - Libya
    (Grup) - milisi pro-Qaddafi

3. Hasil Akhir
    - kemenangan pihak NTC
    - penggantian nama resmi & bendera negara Libya
    - pembentukan pemerintahan sementara oleh pihak NTC
    - konflik-konflik skala kecil masih berlangsung hingga sekarang

4. Korban Jiwa
    Antara 10.000 - 40.000 jiwa



REFERENSI

allAfrica.com - Mali: 47 Die in Clashes Between Troops, Rebels - Ministry
BBC Indonesia - Jenazah Muammar Gaddafi dipamerkan
Mail Online - Gaddafi Dead Video : Dictator begs for life before summary execution
Reuters - Two Libyan fighter pilots defect, fly to Malta
The Independent - Amnesty questions claim that Gaddafi ordered rape as weapon of war
Wikipedia - 2011 Libyan civil war
Wikipedia - Aftermath of the 2011 Libyan civil war
Wikipedia - History of Libya under Gaddafi
Wikipedia - Timeline of the 2011 Libyan civil war


         

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

1 komentar:




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.