FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Perang Sipil Rusia yang Melahirkan Raksasa Komunis Uni Soviet




Suasana di garis depan perang sipil Rusia seperti yang
diilustrasikan dalam film "Admiral". (Sumber)

Rusia. Itulah nama dari negara terbesar di dunia yang membentang dari ujung timur Benua Asia hingga Benua Eropa. Karena luas wilayahnya, maka bukan hal yang mengherankan kalau dalam sejarahnya Rusia menjadi salah satu kekuatan dominan dunia, tak terkecuali di masa kini. Namun, cerita mengenai Rusia tidak selalu mengenai kejayaan & kemegahan. Negara raksasa ini dulu juga pernah terpecah & porak poranda akibat perang saudara yang mengubah total sistem perpolitikan negara tersebut.

Perang saudara atau perang sipil Rusia adalah konflik bersenjata yang berlangsung antara tahun 1917 hingga 1922. Konflik bersenjata tersebut terjadi antara kelompok Merah yang pro-komunis melawan kelompok Putih yang pro-Kekaisaran Rusia. Selama perang, negara-negara luar seperti Inggris & AS juga ikut terlibat. Perang tersebut merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah modern Rusia & bahkan dunia karena perang tersebut mengubah kondisi sosial politik Rusia dari yang awalnya berbentuk kekaisaran menjadi republik komunis Uni Soviet, negara republik yang nantinya tumbuh menjadi salah satu negara adidaya dunia.



LATAR BELAKANG

Sejak permulaan abad ke-20, timbul rasa tidak puas terhadap Kekaisaran Rusia akibat kesenjangan sosial & sikap otoriter Kaisar Rusia (Tsar) Nicholas II. Rasa tidak puas tersebut semakin menjadi-jadi menyusul krisis ekonomi & kekalahan bertubi-tubi Rusia pada Perang Dunia I. Puncaknya adalah ketika sejak bulan Februari 1917, timbul kerusuhan & pemogokan massal para pekerja di kota Petrograd (sekarang St. Petersburg). Tsar awalnya berusaha menghentikan aksi para pekerja tersebut dengan mengerahkan tentara, namun gagal menyusul penolakan yang diperlihatkan oleh para tentara. Merasa tidak lagi mendapat dukungan dari rakyat, Tsar akhirnya setuju untuk membubarkan kekaisaran pada bulan Maret 1918.

Tsar Nicholas II. (Sumber)
Tak lama usai bubarnya kekasairan, pemerintahan koalisi sementara yang anggotanya berasal dari kubu liberalis & komunis (Bolshevik) didirikan. Salah satu fokus utama dari pemerintahan sementara tersebut adalah melanjutkan kiprah Rusia dalam Perang Dunia I. Namun, keinginan pemerintah sementara tersebut tidak berjalan mulus menyusul penolakan yang diperlihatkan oleh kubu komunis & anarkis. Kedua kubu tersebut ingin supaya Rusia bisa keluar dari api peperangan tanpa kehilangan wilayahnya. Sesuatu yang bisa dikatakan mustahil kalau melihat rendahnya posisi tawar Rusia di dunia internasional saat itu & betapa superiornya pasukan Jerman ketika menaklukkan wilayah barat Rusia.

Kendati tidak mendapat dukungan dari semua golongan, pemerintah koalisi Rusia tetap kukuh pada rencana awalnya & memulai penyerangan besar-besaran di Eropa Timur pada bulan April 1917. Serangan tersebut berbuntut bencana bagi Rusia karena saat melakukan serangan, timbul aksi desersi besar-besaran dari para tentara pro-sosialis yang aslinya merupakan golongan petani & pekerja hasil rekrutan wajib militer. Pihak Jerman di lain pihak berhasil mematahkan serangan Rusia & memulai serangan baliknya. Dengan alasan untuk memulihkan kondisi di medan perang yang kacau, Jenderal Kornilov selaku pemimpin militer Rusia lantas melakukan percobaan kudeta, namun gagal.

Merespon gagalnya percobaan kudeta yang dilakukan oleh militer Rusia, tekanan publik terhadap pihak tentara & para pendukungnya di tubuh pemerintahan semakin membesar. Pihak Bolshevik yang memang memiliki massa dalam jumlah besar dari golongan petani & pekerja pun ibarat menemukan momentumnya di sini. Di bawah pimpinan Vladimir Lenin, pada bulan November 1917 (bulan Oktober 1917 kalau menurut kalender versi Rusia) kubu Bolshevik melakukan kudeta pemerintahan & membubarkan militer Rusia. Tentara Merah (Krasnaya Armiya) - pasukan yang aslinya merupakan sayap militer Bolshevik & terdiri dari para relawan golongan petani serta pekerja - lalu dirombak menjadi militer baru Rusia.

Tentara Merah yang sedang melakukan
parade militer di Moskow. (Sumber)
Walaupun sudah tersingkir dari pemerintahan Rusia, para politikus & petinggi militer yang berseberangan dengan Bolshevik tidak lantas menyerah. Dengan bermodalkan para simpatisan & tentara yang masih loyal terhadap pemerintahan lama, mereka mulai mengumpulkan kekuatan untuk menumbangkan paksa rezim Bolshevik. Belakangan, mereka juga mendapatkan tambahan kekuatan dari kelompok pro-kekaisaran, para tuan tanah yang menentang kebijakan nasionalisasi lahan ala komunis, & pihak Gereja Ortodoks Rusia yang tidak menyukai paham ateisme Bolshevik. Dengan menyebut diri mereka sebagai Gerakan Putih (Beloye Dvizheniye), kelompok gabungan anti-Bolshevik tersebut memulai perlawanan bersenjatanya sehingga pecahlah perang saudara di Rusia.



BERJALANNYA PERANG

Dimulainya Perang Merah versus Putih

Tak lama sesudah Bolshevik mengkudeta pemerintahan sementara Rusia & mendirikan badan pemerintahan berbasis komunisme (Soviet) di beberapa provinsi Rusia, aksi pemberontakan menolak rezim Bolshevik langsung muncul. Aksi pemberontakan pertama meletus di sejumlah kota seperti Petrograd & Moskow di mana aksi-aksi pemberontakan tersebut dilakukan oleh orang-orang Cossack - suku pengembara Rusia yang terkenal akan keahlian berperangnya - yang masih loyal terhadap pemerintahan pra-Bolshevik. Namun, aksi pemberontakan tersebut berhasil ditumpas dengan mudah oleh pasukan Tentara Merah.

Walaupun pemberontakan Cossack berhasil ditumpas, konflik tidak lantas berhenti. Justru konflik malah semakin meluas setelah makin banyak kelompok anti-Bolshevik & sisa-sisa loyalis Tsar yang bergabung dengan Tentara Putih (Belaya Armiya), sayap militer dari Gerakan Putih. Sejak pertengahan November 1917, kelompok-kelompok anti-Bolshevik tersebut mulai menyerbu wilayah Rusia yang dikuasai Bolshevik dari arah timur (Siberia), barat (Ukraina), & selatan (Asia Tengah). Kendati dikeroyok dari segala penjuru, nyatanya pasukan Tentara Merah masih bisa bertahan & berhasil memukul mundur para penyerbunya tersebut di awal tahun 1918.

Peta yang menunjukkan wilayah Rusia yang harus
diserahkan ke Jerman & sekutunya dalam Traktat
Brest-Litovsky (diarsir). (Sumber)
Di tengah-tengah berkecamuknya perang sipil, kelompok Bolshevik sejak bulan Desember 1917 sudah mulai melakukan perundingan damai dengan Jerman & sekutu-sekutunya dengan tujuan memenuhi janji mereka kepada rakyat Rusia sebelum berkuasa untuk menarik diri dari Perang Dunia I. Dalam perundingan damai tersebut, Jerman & sekutu-sekutunya mendapatkan wilayah-wilayah barat Rusia seperti Polandia & Baltik. Sebagai gantinya, Jerman & sekutu-sekutunya tersebut sepakat untuk tidak lagi mengusik Rusia di sisa periode Perang Dunia I. Perjanjian damai tersebut kelak dikenal dengan nama Traktak Brest-Litovsk (Brest-Litovsk Treaty) & disahkan pada bulan Maret 1918.

Munculnya Traktat Brest-Litovsk langsung mengundang kemarahan dari kaum nasionalis & konservatif yang tidak terima kalau Rusia harus menyerahkan wilayahnya ke negara lain dengan begitu mudahnya. Di luar Rusia, negara-negara anggota Triple Entente - aliansi negara yang bersekutu dengan Rusia dalam Perang Dunia I - beserta sekutunya juga menyatakan rasa tidak sukanya pada perjanjian damai tersebut. Buntutnya, negara-negara itupun mulai mengirimkan pasukannya ke Rusia untuk membantu Tentara Putih sejak pertengahan tahun 1918. Situasi perang pun menjadi semakin sengit menyusul masuknya tentara-tentara asing ke tanah Rusia.


Masuknya Pasukan Asing & Tarik Ulur Perebutan Wilayah

Bulan Mei 1918 dengan alasan kerap diperlakukan secara tidak layak oleh Tentara Merah setempat, sekitar 40 ribu anggota Legion Cekoslovakia - pasukan pro Kekaisaran Rusia yang keanggotaannya terdiri dari etnis Ceko & Slovakia - melakukan pemberontakan di Chelyabinsk, Rusia tengah. Dalam pemberontakannya, Legion Cekoslovakia juga mendapat bantuan dari beberapa elemen Gerakan Putih & para petani lokal yang tidak menyukai Bolshevik. Hanya dalam waktu singkat, pemberontakan tersebut merambat ke Siberia, Rusia timur, sehingga Bolshevik harus kehilangan kontrol atas seluruh wilayah Siberia pada bulan Juli 1918.

Pasukan Cossack anggota Tentara
Putih yang sedang berpose. (Sumber)
Bulan Juli 1918, pasukan gabungan Jerman & Ottoman memasuki wilayah Azerbaijan, Kaukasus selatan. Kelompok Bolshevik sebenarnya enggan membiarkan Kaukasus dikuasai oleh Jerman & Ottoman, namun mereka akhirnya mengalah & pergi setelah didesak oleh penduduk setempat. Pada periode yang kurang lebih bersamaan, pasukan Tentara Putih & Merah terlibat pertempuran sengit di sekitar Sungai Kuban, Rusia barat daya. Namun seiring berjalannya pertempuran, pasukan Tentara Putih yang dibantu negara-negara Sekutu (Entente) akhirnya berhasil merebut seluruh wilayah di sekitar Kuban & Kaukasus utara pada awal tahun 1919.

Kekalahan demi kekalahan yang dialami oleh Tentara Merah lantas mendorong Bolshevik untuk melakukan perubahan besar-besaran. Leon Trotsky diangkat oleh Lenin sebagai komisaris perang yang baru sebelum kemudian dikirim ke Volga, Rusia barat, untuk memimpin Tentara Merah yang masih tersisa. Tak lama usai diangkat, Trotsky langsung menerapkan kebijakan keras atas Tentara Merah. Mereka yang berani mengkritik rezim Bolshevik & mengundurkan diri dari medan perang akan langsung dihukum mati. Para pekerja dimobilisasi secara besar-besaran untuk menjadi anggota baru Tentara Merah. Trotsky juga menjalin persekutuan dengan kelompok anarkis Makhnovshchina pimpinan Nestor Makhno yang berbasis di Ukraina.

Perubahan besar-besaran di tubuh Tentara Merah mulai berbuah manis setelah pada bulan September 1918, pasukan Tentara Merah & sekutunya berhasil merebut kembali wilayah-wilayah di sekitar Sungai Volga bagian utara. Sebulan kemudian, pasukan Tentara Merah kembali membukukan kemenangan dengan memukul mundur pasukan Tentara Putih ke arah Estonia. Di sebelah barat Rusia, menyusul mundurnya Jerman dari Eropa Timur pasca Perang Dunia I, pihak Bolshevik sempat mengirimkan Tentara Merah untuk mengklaim kembali wilayah-wilayah tersebut. Namun, upaya mereka tidak berjalan mulus menyusul penolakan dari penduduk setempat sehingga pecahlah konflik antara Tentara Merah & milisi-milisi lokal yang pro-kemerdekaan sejak akhir tahun 1918.

Lokasi dari kota Archangel. (Sumber)
Awal tahun 1919 dibuka dengan mendaratnya ribuan tentara Inggris di Murmansk & tentara AS di Arkhangelsk (Archangel), Rusia barat laut, untuk membantu Tentara Putih & milisi-milisi anti-komunis di Eropa Timur. Pertempuran skala besar antara Tentara Putih & Merah sendiri baru pecah pada bulan Maret 1919. Saat itu, pasukan Tentara Putih melancarkan serangan besar-besaran dari arah timur. Namun, pasukan Tentara Merah berhasil mematahkan serangan tersebut & bahkan mendesak balik pasukan Tentara Putih ke arah Siberia, Rusia timur. Koodinasi antara sesama Tentara Putih di Siberia jadi makin kacau setelah Tentara Merah berhasil merebut Omsk, Rusia tengah, pada bulan November 1919.


Berjaya Atas Tentara Putih, Merana di Tangan Pejuang Kemerdekaan

Awal tahun 1920 bukanlah periode yang indah bagi Tentara Merah karena sejak akhir tahun sebelumnya, pasukan Tentara Merah yang berada di wilayah Baltik (Estonia, Latvia, Lithuania) berhasil dipukul mundur oleh milisi-milisi pro-kemerdekaan setempat. Mundurnya Tentara Merah dari kawasan Baltik secara otomatis membuat ambisi rezim komunis Rusia untuk merebut kembali wilayah-wilayahnya yang dulu diserahkan ke kubu Poros harus berakhir dengan kegagalan. Perudingan damai & pengakuan kemerdekaan atas wilayah-wilayah tersebut lalu muncul tak lama berselang.

Kendati gagal merebut kembali kawasan Baltik (beserta Polandia pada pertengahan tahun 1920), pasukan Tentara Merah masih menunjukkan tren positif atas Tentara Putih. Berkat rangkaian kemenangan yang sukses ditorehkan oleh Tentara Merah di Rusia bagian barat sejak akhir tahun 1919, pasukan Tentara Merah secara perlahan tapi pasti berhasil mendesak pasukan Tentara Putih ke arah Novorossiysk yang terletak di pesisir Laut Hitam, Rusia barat. Puluhan ribu dari mereka berhasil melarikan diri ke Crimea, Ukraina selatan, dengan bantuan kapal, namun tak sedikit dari mereka yang gagal meloloskan diri ke Crimea & akhirnya ditangkap oleh Tentara Merah.

Tank Renault FT-17 milik
Tentara Putih. (Sumber)
Pasca insiden penangkapan massal Tentara Putih di Novorossiysk, Petr Wrangel lalu diangkat menjadi pemimpin baru Tentara Putih. Di bawah kepempimpinannya, Tentara Putih mulai menemukan tajinya kembali & sukses membendung pergerakan Tentara Merah yang ingin menduduki Crimea. Namun, keberhasilan Tentara Putih tidak bertahan lama menyusul dibebaskannya ribuan tahanan perang Tentara Merah dari Polandia & mundurnya pasukan Sekutu dari Rusia sehingga Crimea pun jatuh ke tangan Tentara Merah pada bulan November 1920. Pasca keberhasilan tersebut, pecah konflik antara Bolshevik melawan Makhnovshchina yang selama ini bersekutu di mana kubu Bolshevik berhasil keluar sebagai pemenang.

Sesudah berhasil menghabisi Tentara Putih & Makhnovshchina di front barat, kini Tentara Merah mengalihkan fokusnya ke front tengah & timur. Georgia diinvasi pada bulan Februari 1921 & diserap ke dalam wilayah komunis Rusia. Sementara di Siberia, awalnya Tentara Merah sedikit kesulitan karena sisa-sisa Tentara Putih di Siberia timur mendapat bantuan dari Jepang yang ingin menjadikan Siberia sebagai zona pemisah antara wilayahnya dengan wilayah komunis Rusia. Namun menyusul mundurnya Jepang dari Siberia pada tahun 1922, pasukan Tentara Merah akhirnya sukses merebut Vladivostok, Rusia tenggara, pada bulan Oktober 1922 & mengakhiri perang sipil Rusia sepenuhnya.



KONDISI PASCA PERANG

Walaupun perang sipil Rusia sudah resmi berakhir sejak bulan Oktober 1922, konflik-konflik skala kecil sendiri masih berlanjut hingga setahun berikutnya. Di Asia Tengah, milisi-milisi Islamis yang dikenal sebagai Basmachi melancarkan perang gerilya terhadap rezim komunis setempat hingga tahun 1934. Sementara di Siberia bagian timur, sisa-sisa Tentara Putih juga masih melanjutkan perlawanan sporadis hingga pertengahan tahun 1923. Jepang juga masih menduduki daerah Sememanjung Kamchatka & Pulau Sakhalin utara sebelum setuju untuk menyerahkannya ke rezim komunis Rusia pada tahun 1925.

Rombongan pengungsi perang sipil
Rusia di atas gerbong datar. (Sumber)
Perang sipil Rusia yang berlangsung selama 5 tahun merupakan salah satu konflik modern paling berdarah yang pernah dikenal oleh manusia. Diperkirakan korban tewas akibat perang ini mencapai 9 juta jiwa. Jumlah fantastis tersebut bisa timbul bukan hanya karena para korbannya terbunuh secara langsung oleh senjata musuh di medan perang, tapi juga akibat faktor-faktor lain seperti penyakit & kelaparan. Perang sipil Rusia juga diikuti dengan eksodus besar-besaran rakyat Rusia yang berasal dari kubu Gerakan Putih keluar negeri karena mereka khawatir akan menjadi target pembunuhan oleh para simpatisan Bolshevik.

Selain menimbulkan korban jiwa, perang sipil Rusia juga mengakibatkan negara tersebut berada dalam kondisi porak-poranda. Pabrik & jembatan rusak, ladang pertanian banyak yang hancur, barang-barang kebutuhan pokok menjadi langka di seluruh penjuru negeri, & penjarahan marak di mana-mana. Sebagai akibatnya, Rusia sempat berada dalam kelumpuhan ekonomi untuk beberapa waktu & rezim komunis yang baru saja memenangkan perang memerlukan waktu cukup lama untuk memulihkan kembali kondisi perekonomian negara tersebut.

Di luar kerugian material & korban jiwa, perang sipil Rusia merupakan momen penting bagi kelompok komunis yang kini menjadi pihak paling berkuasa di negara tersebut. Pada bulan Desember 1922, sebuah konferensi besar digelar di mana hasilnya, negara-negara berideologi komunis Bolshevik seperti Republik Sosialis Federatif Soviet (RSFS) Rusia, RSFS Transkaukasia, RSFS Ukraina, & RSFS Belorusia sepakat untuk melebur menjadi negara baru yang bernama Persatuan Republik Sosialis Soviet (USSR) atau biasa disingkat sebagai Uni Soviet. Dengan demikian, terhitung sejak tahun tersebut negara raksasa komunis Uni Soviet pun resmi berdiri & kelak tumbuh menjadi salah satu negara adidaya dunia.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : 1917 - 1922
    - Lokasi : (mayoritasnya di) Rusia

2. Pihak yang Bertempur
    (Grup)  -  Bolshevik, Makhnovshchina
          melawan
    (Grup)  -  Gerakan Putih, milisi-milisi anti-Bolshevik
    (Negara)  -  negara-negara Sekutu
          melawan
    (Negara)  -  Jerman, Ottoman, Austria-Hungaria

3. Hasil Akhir
    - Kemenangan Bolshevik atas Gerakan Putih & Sekutu
    - Berdirinya republik komunis Uni Soviet
    - Mundurnya Jerman, Ottoman, & Austria-Hungaria dari wilayah konflik di tahun 1918
    - Kemenangan milisi-milisi anti-Bolshevik di Estonia, Latvia, & Lithuania
    - Estonia, Latvia, & Lithuania menjadi negara-negara baru

4. Korban Jiwa
    Sekitar 9 juta jiwa



REFERENSI

BBC History - War and Revolution in Russia 1914 - 1921
GlobalSecurity.org - Russian Civil War
Necrometrics - Russian Civil War
Spartacus Educational - The Russian Civil War
Wikipedia - Allied intervention in the Russian Civil War
Wikipedia - Russian Civil War
Wikipedia - Russian Revolution
Wikipedia - Soviet Union - Unification of republics
Worker's Liberty - Stalin and the invasion of Georgia


        

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

5 komentar:

  1. keren summary nya gan..
    tengkyu alot

    BalasHapus
  2. Makasih gan, ini sangat membantu bagi saya yang sedang membuat karya tulis tentang Uni Soviet.

    BalasHapus
  3. Terima kasih banyak, untuk artikel yang sangat bermanfaat ini gan (y)

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.