FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Taliban, Para "Pelajar" dari Perbukitan Afganistan




(Sumber)

Taliban. Itulah nama yang dalam kurun waktu 10 tahun terakhir secara mendadak begitu populer di media-media internasional. Nama Taliban belakangan bisa begitu populer tidak lain akibat peristiwa robohnya gedung kembar World Trade Center (WTC) pada tahun 2001 di mana AS menuduh kelompok Al-Qaeda yang bersekutu dengan Taliban berada di balik aksi penyerangan tersebut. Namun selain hubungan mereka dengan peristiwa WTC & Al-Qaeda, tidak banyak hal lain yang ditonjolkan dari Taliban. Nah, artikel kali ini akan membahas soal sejarah Taliban & sepak terjangnya.

Taliban / Taleban adalah kelompok milisi berhaluan Islam yang berasal dari Afganistan. Pertama kali muncul di tahun 1994, Taliban dalam perkembangannya berhasil tumbuh menjadi kelompok paling berkuasa di Afganistan sebelum akhirnya dilengserkan paksa oleh pasukan koalisi pimpinan AS di tahun 2001. Nama "Taliban" berasal dari bahasa Pashto - bahasa salah satu etnis lokal Afganistan - "talib" yang berarti "pelajar" karena para pendiri Taliban awalnya memang merupakan para pelajar madrasah di Afganistan & Pakistan.

Di mata orang-orang Islam sendiri, Taliban sebagai kelompok yang mengusung Islam sebagai ideologinya dipadang lewat 2 sisi yang berbeda. Di satu sisi, Taliban mendapat simpati & dukungan karena kepatuhannya yang tinggi akan agamanya & kegigihannya dalam berjuang melawan pasukan koalisi asing di Afganistan dengan modal persenjataan seadanya. Di sisi lain, Taliban juga dikecam karena mereka dituduh menerapkan peraturan-peraturan berbasiskan hukum Islam kelewat keras, khususnya yang berkaitan dengan hak-hak wanita.



LATAR BELAKANG & PEMBENTUKAN

Mullah Omar, pemimpin sekaligus
pendiri dari Taliban. (Sumber)
Tidak lama setelah rezim komunis Afganistan yang selama ini disokong oleh Uni Soviet tumbang di tahun 1992, Afganistan terjerumus ke dalam kekacauan & perang sipil. Milisi-milisi mujahidin yang awalnya bersatu padu untuk memerangi rezim komunis Afganistan mulai terlibat perselisihan & pertempuran satu sama lain demi menjadi pihak yang paling berkuasa di Afganistan. Konflik & kekacauan utamanya paling terasa di wilayah selatan Afganistan yang letaknya jauh dari ibukota Kabul.

Situasi Afganistan yang dilanda kekacauan membawa gangguan & keprihatinan tersendiri bagi pelajar-pelajar madrasah yang sedang menimba ilmu di Afganistan. Maka di tahun 1994, Mullah Omar beserta para pengikut & sahabatnya sesama pelajar madrasah mendirikan kelompok milisi berbasis agama bernama Taliban di Kandahar, Afganistan selatan. Omar berharap Taliban kelak bisa mengembalikan stabilitas di Afganistan dengan memakai solidaritas etnis Pashtun - etnis berjumlah paling banyak di Afganistan - dan agama Islam sebagai pondasi utamanya.

Ada cerita lokal yang menarik mengenai bagaimana Taliban bisa mendapat simpati dari para penduduk setempat di awal-awal kemunculannya. Menurut cerita tersebut, ada penguasa (warlord) lokal yang kerap melakukan penculikan & pelecehan seksual kepada anak-anak perempuan setempat tanpa bisa dicegah. Namun tindakannya akhirnya harus terhenti setelah para anggota Taliban menyerang kediamannya & membunuhnya, lalu menggantung mayatnya di moncong meriam tank sebelum kemudian mereka membebaskan anak-anak perempuan yang diculik oleh sang penguasa tadi.

Anggota Taliban yang memanggul
senapan peluncur roket. (Sumber)
Walaupun mulai mendapat simpati dari penduduk lokal, kekuatan Taliban di awal-awal kemunculannya sendiri bisa dibilang tidak seberapa karena minimnya anggota & persenjataan yang mereka miliki. Namun, situasinya mulai berubah setelah pelajar-pelajar madrasah yang sedang menimba ilmu di Pakistan - negara tetangga Afganistan di sebelah timur - berbondong-bondong pergi ke Afganistan untuk bergabung & berjuang bersama Taliban. Kedatangan mereka langsung menambah jumlah personil Taliban dari yang awalnya hanya ratusan orang menjadi belasan ribu orang.

Selain mendapat tambahan kekuatan dari para pelajar madrasah dari Pakistan, Taliban juga mendapatkan bantuan dana, persenjataan, & pelatihan militer dari organisasi intelijen Pakistan (ISI) yang berniat menjadikan Afganistan sebagai bagian dari pengaruh regionalnya. Arab Saudi & kelompok ekstrimis internasional Al-Qaeda juga disebut-sebut turut menyokong Taliban. Dengan modal tambahan kekuatan dari berbagai sumber tersebut, Taliban yang di awal pembentukannya bukan siapa-siapa kini mulai muncul sebagai kekuatan baru di Afganistan yang patut diperhitungkan.



AKTIVITAS TALIBAN

Tumbuhnya Kekuatan Baru dari Selatan

Aksi militer berskala besar Taliban yang pertama terjadi pada bulan November 1994. Saat itu, para personil Taliban bergerak dari kota Maiwand di Taliban selatan untuk menduduki kota Kandahar & provinsi-provinsi di sekitarnya. Serangan tersebut berakhir dengan keberhasilan Taliban menguasai daerah-daerah yang disebut tadi dengan hanya kehilangan sedikit personil. Keberhasilan serangan tersebut juga diikuti dengan keberhasilan Taliban menguasai daerah peratasan Spin Baldak & persediaan amunisi peninggalan Soviet di Pasha, Afganistan selatan.

Peta dari Afganistan. (Sumber)
Sejak berhasil menaklukkan Kandahar & sekitarnya, perlahan tapi pasti Taliban mulai memperluas wilayah-wilayah taklukannya. Di sisa tahun 1994, Taliban disebut-sebut telah berhasil merebut 12 dari 34 provinsi yang berada di luar kendali pemerintah pusat Afganistan saat itu. Banyak dari panglima perang di daerah yang kelak ditaklukkan Taliban tersebut yang memilih untuk menyerah terlebih dahulu ketimbang melawan. Memasuki awal tahun 1995, Taliban terus memperluas wilayah taklukannya ke Afganistan utara & barat hingga perlahan tapi pasti mereka semakin dekat dengan Kabul, ibukota dari Afganistan.

Keberhasilan Taliban untuk tumbuh menjadi kekuatan yang baru di Afganistan dengan memakai Islam sebagai salah satu basis ideologinya menarik perhatian Menteri Pertahanan Afganistan saat itu, Ahmad Shah Massoud. Saat itu, Massoud menawarkan kerja sama dengan Taliban dengan harapan bisa menciptakan stabilitas di Afganistan yang sudah dilanda perang selama bertahun-tahun, namun tawaran tersebut ditolak oleh perwakilan Taliban. Gagalnya perundingan tersebut lantas diikuti dengan mulai menjalarnya perang ke kota Kabul.

Awal tahun 1995, Taliban mulai menghujani Kabul dengan tembakan artileri. Awalnya Taliban kesulitan untuk menguasai Kabul karena serangan-serangan yang mereka lancarkan selalu berhasil dipatahkan oleh tentara nasional Afganistan yang dipimpin oleh Massoud. Namun situasinya mulai berubah setelah Taliban menerima tambahan bantuan militer dari Pakistan & bantuan finansial dari Arab Saudi. Dengan suntikan bantuan tersebut, Taliban mulai mempersiapkan diri untuk melancarkan gelombang serangan besar-besaran yang baru ke kota Kabul.

Ahmad Shah Massoud. (Sumber)
Massoud di lain pihak sadar akan semakin bertambahnya kekuatan Taliban. Khawatir kalau pasukannya tidak akan bisa mempertahankan Kabul lebih lama & banyak penduduk sipil yang akan tewas dalam pertempuran mempertahankan Kabul, Massoud memerintahkan para pengikutnya untuk meninggalkan Kabul pada tanggal 26 September 1996. Sehari setelah keluarnya perintah Massoud tersebut, para personil Taliban mulai memasuki Kabul & berhasil menduduki kota tersebut tanpa pertumpahan darah. Sejak saat itu, Taliban pun menjadi penguasa baru Afganistan & sistem pemerintahan Afganistan diubah menjadi emirat Islam.


Afganistan di Bawah Kekuasaan Taliban

Tak lama setelah berhasil menguasai Afganistan, Taliban mulai menerapkan aneka peraturan ketat yang mereka klaim berbasiskan hukum Islam. Selain melarang alkohol & perjudian, Taliban juga melarang peredaran musik, film, patung, gambar makhluk hidup, & benda-benda yang berunsur babi serta rambut manusia. Kaum pria diharuskan memelihara jenggot, sementara kaum wanitanya diwajibkan memakai pakaian burqa & dilarang bepergian seorang diri. Ketika memasuki tahun 2000, Taliban juga menghancurkan ladang-ladang opium yang sebelumnya banyak ditemukan di seantero Afganistan.

Walaupun Taliban sudah berhasil menjadi penguasa baru Afganistan, konflik bersenjata di Afganistan tidak lantas langsung berhenti. Massoud & para pengikutnya memilih untuk melanjutkan perang dari arah pegunungan Hindu Kush, Afganistan utara, dengan harapan bisa melengserkan rezim Taliban lewat aksi-aksi gerilya. Belakangan, Massoud mendapat bantuan dari bekas musuhnya di era perang sipil Afganistan sebelum Taliban berkuasa, Abdul Rashid Dostum. Pasukan gabungan keduanya kelak dikenal dengan nama "Aliansi Utara" (Northern Alliance) & menjadi musuh utama Afganistan di era Taliban.

Para anggota Aliansi Utara yang
sedang bersiaga. (Sumber)
Munculnya Aliansi Utara sekaligus menandai babak baru dalam konflik di Afganistan. Tahun 1998 dalam salah satu operasi militer untuk menumpas Aliansi Utara, Taliban menyerang kota Mazar & berhasil mengalahkan pasukan pimpinan Dostum. Dostum sendiri selamat & berhasil melarikan diri, namun ia kehilangan sebagian besar kekuatannya dalam pertempuran tersebut sehingga pasukan Aliansi Utara pimpinan Massoud kini menjadi satu-satunya pasukan anti-Taliban yang masih tersisa di Afganistan.

Tahun 1998 juga ditandai dengan menegangnya hubungan antara Iran dengan Afganistan. Tidak lama sesudah melakukan serangan ke kota Mazar, pasukan Taliban membunuh puluhan diplomat di gedung konsulat Iran. Insiden tersebut langsung mengundang kemarahan Iran yang sempat mengancam akan menginvasi Afganistan tak lama sesudahnya. Atas mediasi dunia internasional, perang antara Iran & Afganistan (Taliban) akhirnya tidak sampai terjadi, namun hubungan Iran dengan Taliban tetap tegang hingga sekarang. Terlebih karena Taliban menganggap Syiah - sekte Islam yang juga merupakan sekte mayoritas di Iran - sebagai sekte yang sesat & menyimpang.

Selama Afganistan berada di bawah kendali Taliban, hanya 3 negara di dunia yang mengakui kedaulatan pemerintahan Taliban : Pakistan, Arab Saudi, & Uni Emirat Arab. Kebetulan, 2 negara yang disebut pertama memang memiliki keterlibatan penting dalam naiknya Taliban sebagai penguasa baru Afganistan. Di era Taliban, Afganistan juga menjadi basis utama bagi kelompok Al-Qaeda untuk merekrut & melatih para anggotanya. Sebagai balasan atas kesediaan Taliban untuk meminjamkan wilayahnya dijadikan area operasi Al-Qaeda, Osama bin Laden selaku pemimpin dari Al-Qaeda menjadi salah satu penyokong dana utama bagi Taliban.


Invasi Pasukan Koalisi & Tumbangnya Rezim Taliban

Pasukan koalisi saat mendarat
di Afganistan. (Sumber)
Tanggal 11 September 2001, gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York, AS, hancur usai ditabrak oleh sepasang pesawat. Tak lama sesudah insiden tersebut, AS menuduh Al-Qaeda sebagai pelaku di balik serangan tersebut & meminta Taliban menyerahkan osama bin Laden yang saat itu memang sedang berada di Afganistan. Taliban setuju untuk menyerahkan Osama, namun dengan syarat AS mengajukan bukti-bukti yang cukup mengenai keterlibatan Osama & meminta Osama diadili di bawah hukum Islam. Persyaratan-persyaratan yang diajukan Taliban tersebut ditolak oleh AS & di bulan berikutnya, pasukan koalisi multinasional pimpinan AS menginvasi Afganistan.

Invasi pasukan koalisi di Afganistan dibuka dengan hujan bom dari pesawat-pesawat tempur pasukan koalisi di atas Afganistan. Dalam penyerbuannya, pasukan koalisi juga mendapat bantuan dari negara-negara Arab, Iran, Pakistan, & Aliansi Utara. Taliban yang dari segi persenjataan & jumlah personil kalah jauh jelas bukan tandingan untuk pasukan koalisi. Sebagai akibatnya, pada tanggal 12 November 2001 Taliban memilih untuk mundur dari ibukota Kabul. Sebulan kemudian, pasukan Taliban yang masih tersisa mundur dari basis pertahanan terakhir mereka di Kandahar, Afganistan selatan.

Walaupun Taliban berhasil dipukul keluar dari kota-kota di Afganistan dalam kurun waktu singkat, waktu menunjukkan bahwa Taliban sebenarnya masih belum benar-benar musnah. Tahun 2006 kerap disebut-sebut sebagai tahun kebangkitan kembali Taliban karena sejak tahun ini, aksi-aksi serangan sporadis terhadap pasukan koalisi & properti milik pemerintah Afganistan pasca era Taliban mulai mengalami peningkatan pesat. Taktik yang banyak dipakai oleh para anggota Taliban adalah pemasangan bom rakitan di jalan di mana bom tersebut sanggup menimbulkan kerusakan serius pada kendaraan pengangkut personil militer milik pasukan koalisi.

Truk milik pasukan koalisi yang hancur
akibat ranjau bom yang dipasang
oleh anggota Taliban. (Sumber)
Bangkitnya kembali Taliban tidak lepas dari menurunnya simpati penduduk lokal terhadap pasukan koalisi asing & pemerintah Afganstan pasca era Taliban yang dianggap korup & tidak lebih baik ketimbang Afganistan di era Taliban. Berdasarkan salah satu informasi bocoran kabel diplomatik di tahun 2010, Taliban juga disebut-sebut masih sanggup bertahan karena Pakistan secara diam-diam masih mendanai & melatih Taliban agar AS tetap memberikan bantuan finansial ke Pakistan sebagai imbalan atas pemakaian wilayah Pakistan untuk operasi militer pasukan koalisi di Afganistan. Sederhananya, selama Taliban masih belum musnah, maka selama itu pula AS akan terus mendanai Pakistan.



PERKEMBANGAN TERAKHIR

Hingga pertengahan tahun 2012, Taliban masih aktif melakukan perang gerilya di Afganistan. Menurut laporan PPB di tahun 2011, Taliban disebut-sebut bertanggung jawab atas tewasnya 80% penduduk sipil dalam konflik bersenjata di Afganistan. Tidak diketahui secara pasti di mana letak markas utama Taliban sekarang, namun mereka dipercaya memiliki sebuah markas rahasia di dekat Quetta, Pakistan. Selama melakukan perang gerilya, Taliban juga menerima tambahan personil dari orang-orang luar Afganistan yang bersimpati dengan perjuangan mereka, khususnya dari Pakistan serta negara-negara Timur Tengah & Asia Tengah.

Pasukan koalisi asing & pasukan keamanan Afganistan di lain pihak mengalami kesulitan untuk membasmi Taliban sepenuhnya karena kondisi alam Afganistan yang berbukit-bukit & minimnya motivasi serta ketrampilan bertempur para personil militer Afganistan. Ada pendapat yang menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri perjuangan bersenjata Taliban adalah dengan menarik mundur seluruh pasukan koalisi asing dari Afganistan. Namun, muncul kekhawatiran baru kalau perang di Afganistan akan kembali memanas tanpa kendali begitu pasukan koalisi pergi & Taliban ingin kembali menjadi penguasa Afganistan.

Tentara AS dalam baku tembak
di Afganistan. (Sumber)
Selama melakukan perang gerilya, Taliban sebenarnya sempat beberapa kali mengajukan tawaran gencatan senjata, namun tidak ada yang berhasil terealisasi karena persyaratan-persyaratan yang mereka ajukan ditolak oleh otoritas Afganistan & AS. Sebagai akibatnya, kondisi keamanan Afganistan pun hingga sekarang masih belum stabil. Kalau sudah begini, kita yang ada di luar Afganistan hanya bisa berharap agar pihak-pihak yang bertikai bisa segera menemukan solusi bersama demi mengakhiri konflik berkepanjangan yang sudah begitu lama mengoyak bumi Afganistan.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



BIODATA

Nama resmi : Taliban
Tahun aktif : 1994 - sekarang
Area operasi : Afganistan
Ideologi : nasionalisme Pashtun, Islam garis keras



REFERENSI

BBC News - Pakistani agents 'funding and training Afghan Taliban'
Media Monitor Network - Afghanistan, the Taliban, and the United States
The New York Times - Foreign Fighters of Harsher Bent Bolster Taliban
Wikipedia - Northern Alliance
Wikipedia - Taliban
Wikipedia - Taliban's rise to power
S. Afsar, C. Samples, & T. Wood. 2008. "The Taliban : An Organizational Analysis". (file PDF)


           

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

1 komentar:




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.