Sejarah Perang Uni Soviet di Afganistan



Helikopter pasukan pemerintah Afganistan. (Sumber)

Saat masih berdiri, Uni Soviet merupakan negara terbesar di dunia. Luasnya wilayah Uni Soviet lantas turut tercermin pada kedigdayaan militernya. Meskipun militer Uni Soviet terkenal kuat, mereka juga pernah mengalami kekalahan dalam sejarahnya. Tepatnya saat mereka terlibat dalam perang di Afganistan pada tahun 1979 hingga 1989. Dalam perang tersebut, pasukan Uni Soviet yang dibantu oleh pasukan pemerintah Afganistan terlibat perang melawan pasukan pemberontak / mujahidin setempat.

Perang Uni Soviet di Afganistan bermula ketika pasukan Uni Soviet menginvasi Afganistan pada tahun 1979 dengan maksud menstabilkan kembali kondisi domestik Afganistan yang sedang kacau akibat meletusnya pemberontakan & timbulnya konflik di antara tokoh-tokoh pemerintahan Afganistan. Saat kondisi Afganistan tidak kunjung membaik, Uni Soviet terpaksa tetap menempatkan pasukannya di Afganistan hingga 1 dekade kemudian.

Perang Uni Soviet di Afganistan kerap dijuluki sebagai Perang Vietnam-nya Uni Soviet (USSR's Vietnam War) karena perang ini memiliki hasil akhir yang serupa dengan nasib Amerika Serikat (AS) dalam Perang Vietnam. Di Vietnam, AS mengirimkan pasukannya dengan maksud melindungi Vietnam Selatan -  negara sekutu AS - dari ancaman Vietnam Utara & negara-negara sekutunya yang berhaluan komunis. Namun sebelum perang berakhir, AS malah menarik mundur pasukannya sehingga Vietnam Selatan pun berhasil ditaklukkan oleh Vietnam Utara tanpa bisa dicegah.

Afganistan & Uni Soviet (USSR) seperti yang terlihat pada peta.

Situasi yang kurang lebih serupa juga menimpa Uni Soviet di Afganistan. Awalnya Uni Soviet mengirimkan pasukannya untuk membantu pemerintah Afganistan yang berhaluan komunis. Namun seperti halnya Perang Vietnam, Uni Soviet malah menarik mundur pasukannya saat perang masih berkecamuk. Akibatnya, pasukan pemberontak pun berhasil keluar sebagai pemenang seusai perginya pasukan Uni Soviet.

Perang Uni Soviet di Afganistan merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam Perang Dingin. Pasalnya dalam perang ini, para mujahidin mendapatkan bantuan militer dari negara-negara Blok Barat, khususnya AS & Pakistan. Kemudian hanya berselang 2 tahun setelah Uni Soviet menarik mundur pasukannya dari Afganistan, Uni Soviet mengalami keruntuhan sehingga berakhirlah Perang Dingin dengan tumbangnya Blok Timur.



LATAR BELAKANG

Afganistan adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim yang berbatasan dengan Uni Soviet di sebelah utara, Pakistan di sebelah timur & selatan, serta Iran di sebelah barat. Baik Pakistan maupun Iran sama-sama berstatus sebagai negara sekutu Blok Barat. Supaya Afganistan tidak ikut jatuh ke dalam pelukan Blok Barat, Uni Soviet pun berambisi menjadikan Afganistan di bawah kendalinya.

Keinginan tersebut akhirnya berhasil terwujud setelah pada bulan April 1978, terjadi peristiwa kudeta bernama "Revolusi Saur". Pelaku revolusi tersebut adalah People's Democratic Party of Afganistan (PDPA; Partai Demokratik Rakyat Afganistan), partai berhaluan komunis yang dipimpin oleh Hafizullah Amin & Nur Muhammad Taraki. Akibat peristiwa ini, Afganistan berubah menjadi negara komunis yang memiliki hubungan dekat dengan Uni Soviet.

Peta Afganistan, Iran, & Pakistan.

Taraki terpilih menjadi presiden pertama Afganistan di era komunis. Sejak Afganistan berubah menjadi negara komunis, rezim baru Afganistan melakukan reformasi besar-besaran di segala bidang. Nama Afganistan berubah menjadi "Republik Demokratik Afganistan". Praktik peminjaman uang dengan memakai bunga dihapuskan. Rakyat Afganistan - termasuk kaum wanita - dianjurkan untuk mengikuti pendidikan di sekolah demi memberantas angka buta huruf.

Kebijakan rezim komunis Afganistan belum berhenti sampai di sana. Lahan-lahan pertanian luas yang tadinya dimiliki oleh golongan saudagar diambil alih & kemudian dibagi-bagikan kepada golongan petani kecil. Tujuannya supaya setiap rakyat Afganistan memiliki tanah suburnya masing-masing, sehingga kesenjangan sosial bisa dipangkas. Sementara dalam hal kebijakan luar negeri, Afganistan meresmikan perjanjian militer dengan Uni Soviet pada tahun 1978.

Sepintas kebijakan-kebijakan tersebut terlihat menjanjikan. Namun realita di lapangan menunjukkan kalau pelaksanaan kebijakan-kebijakan tadi mendapat penolakan luas di seantero Afganistan. Di sektor pendidikan misalnya, penolakan muncul karena masih kuatnya pola pikir kalau kaum wanita tidak perlu menempuh pendidikan. Penolakan juga timbul karena kurikulum Afganistan menggunakan pendekatan sekuler & sosialis yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Penolakan lebih besar muncul di bidang reformasi lahan. Golongan saudagar menolak kebijakan ini karena selain membahayakan kesejahteraan mereka, kebijakan pengambilalihan lahan ini tidak diikuti dengan pemberian ganti rugi yang sepadan. Saat lahan tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada golongan rakyat kecil, masalah kembali timbul karena tidak semua lahan memperoleh akses yang setara ke sumber air.

Kombinasi dari hal-hal tadi lantas berujung pada timbulnya gelombang aksi protes. Namun bukannya mendengarkan keluhan mereka, pemerintah Afganistan malah menanggapi protes tersebut dengan tangan besi. Mereka yang menentang keputusan pemerintah Afganistan bakal ditangkap atau dibunuh. Kemudian jika ada 1 warga sipil dari desa tertentu yang berani menyerang aparat, semua penduduk di desa tersebut bakal dianggap sudah pantas untuk dibasmi. Tercatat ada sekitar 50.000 rakyat Afganistan yang tewas hanya dalam rentang waktu 1 tahun sejak rezim komunis Afganistan pertama kali didirikan.

Saat kondisi domestik Afganistan semakin memburuk, perpecahan pun mulai tumbuh di tubuh pemerintahan Afganistan. Pada bulan September 1979, saat Taraki berkunjung ke Moskow (Uni Soviet), Taraki menerima nasihat dari Leonid Brezhnev - presiden Uni Soviet - supaya ia segera membunuh Amin. Namun sebelum berhasil membunuh Amin, Taraki malah dibunuh duluan oleh Amin sekembalinya ia di Kabul, ibukota Afganistan.

Nur Muhammad Taraki. (Sumber)

Hafizullah Amin. (Sumber)


Pada tanggal 14 September 1979, Amin menobatkan dirinya menjadi presiden baru Afganistan. Perkembangan situasi tersebut langsung membuat Uni Soviet merasa tersengat. Uni Soviet khawatir kalau naiknya Amin ke kursi presiden bakal membuat situasi Afganistan menjadi semakin tak terkendali, sehingga Uni Soviet kian sulit menancapkan pengaruhnya di Afganistan.

Uni Soviet merasa semakin gusar pada Amin karena Amin mencoba memperbaiki hubungan Afganistan dengan AS & Pakistan supaya tidak lagi terlalu bergantung pada Uni Soviet. Maka, sebagai tanggapan atas situasi tersebut, Uni Soviet pun menginvasi Afganistan pada bulan Desember 1979 supaya bisa menggulingkan Amin secara paksa & menggantinya dengan tokoh baru yang lebih mudah disetir oleh pemerintah Uni Soviet.



FAKSI-FAKSI PEMBERONTAK ANTI-SOVIET

Ada banyak kelompok pemberontak yang aktif di Afganistan saat negara tersebut masih diduduki oleh pasukan Uni Soviet. Berdasarkan ideologi & negara pendukung utamanya, kelompok-kelompok pemberontak di Afganistan bisa dibagi ke dalam 3 faksi utama :

-  faksi yang didukung Pakistan & sekutunya
-  faksi yang didukung Iran
-  faksi komunis Maois


Faksi yang Didukung Pakistan

Sudah disinggung sebelumnya kalau rezim komunis Afganistan menggunakan metode pembunuhan & intimidasi untuk menyingkirkan pihak-pihak yang tidak sejalan. Salah satu dampak dari fenomena tersebut adalah banyaknya warga sipil Afganistan yang mengungsi ke luar negeri.

Pakistan selaku negara tetangga Afganistan di sebelah timur menjadi salah satu negara tujuan utama bagi para pengungsi. Kebetulan wilayah Pakistan utara memang banyak dihuni oleh etnis Pashtun, etnis terbesar di Afganistan.

Peta provinsi-provinsi di Afganistan. Markas utama kelompok-kelompok pemberontak yang didukung oleh Pakistan umumnya berada di Afganistan timur. (Sumber)

Ada 7 kelompok pemberontak berbeda yang didukung oleh Pakistan. Markas utama kelompok-kelompok tersebut berada di Afganistan timur karena berbatasan langsung dengan negara Pakistan. Para petinggi kelompok ini umumnya berasal dari golongan tradisional & mazhab Sunni. Berikut ini adalah ketujuh kelompok tersebut :

Afghanistan National Liberation Front (ANLF; Front Pembebasan Nasional Afganistan) adalah kelompok yang pada awalnya merupakan partai politik berhaluan moderat & sekuler. Pendiri ANLF adalah Sebqhatullah Mojadeddi. Basis utama kelompok ini berada di Provinsi Kunar & Paktia.

Gulbuddin Islamic Party (GIP; Partai Islam Gulbuddin) adalah kelompok berhaluan Islam garis keras yang didirikan oleh Gulbuddin Hikmatyar pada tahun 1977. Kelompok ini aslinya bernama Partai Islam (Hezbi Islami). Namun karena kelompok ini kemudian mengalami perpecahan, kelompok ini di kemudian hari juga dikenal dengan nama "Partai Islam Gulbuddin" untuk membedakannya dari kelompok-kelompok lain yang mengusung nama serupa.

Dibandingkan dengan kelompok-kelompok pemberontak yang lain, GIP adalah kelompok yang paling banyak menerima bantuan dana dari Pakistan, Arab Saudi, & AS. Basis utama kelompok ini berada di Provinsi Nuristan, Nangarhar, & Kabul.

Gulbuddin Hikmatyar, pendiri kelompok GIP. (Sumber)

Khalis Islamic Party (KIP; Partai Islam Khalis) adalah kelompok pecahan GIP yang didirikan & dipimpin oleh Mawlawi Muhammad Yunis Khalis. Dibandingkan dengan GIP, kelompok ini cenderung lebih moderat. Basis utama kelompok ini berada di Provinsi Nangrahar, Kabul, Kunar, Lowgar, & Wardak.

Islamic Revolutionary Movement (IRMA; Gerakan Revolusioner Islam; Haraqati Inqilabi Islami) adalah kelompok berhaluan Islam moderat yang didirikan oleh Muhammad Nabi Muhammadi. Basis utama kelompok ini berada di Provinsi Lowgar & Lembah Helmand.

Islamic Society (IS; Masyarakat Islam; Jamiati Islami) adalah kelompok berhaluan Islam moderat dengan komposisi keanggotaan yang majemuk karena para anggota kelompok ini berasal dari etnis Tajik, Uzbek, & Pashtun. Dua tokoh terpenting dari kelompok ini adalah Burhanuddin Rabbani & Ahmad Shah Massoud. Saat Uni Soviet mundur dari Afganistan, kedua tokoh tersebut nantinya bakal terlibat konflik melawan Taliban sepanjang dekade 90-an.

Islamic Union of Afghanistan (IUA; Serikat Islam Afganistan) adalah kelompok berhaluan Islam garis keras yang didirikan oleh Abdul Rasul Sayyaf. Kelompok ini banyak menerima bantuan dana dari Arab Saudi. Karena memiliki hubungan erat dengan Arab Saudi, banyak anggota IUA yang berasal dari etnis Arab.

National Islamic Front of Afghanistan (NIFA; Front Islam Nasional Afganistan) adalah kelompok berhaluan moderat yang didirikan oleh Pir Sayed Ahmad Gailani, tokoh yang di masa lampau memiliki hubungan dekat dengan keluarga Kerajaan Afganistan. Basis utama kelompok ini berada di Provinsi Paktia, Paktika, Ghazni, & Kandahar (semuanya terletak di Afganistan tenggara).


Faksi yang Didukung Iran

Seperti halnya Pakistan, Iran selaku negara tetangga Afganistan juga memberikan dukungannya pada kelompok-kelompok pemberontak di Afganistan. Terlebih lagi karena sejak tahun 1979, Iran merupakan negara yang mengusung sistem pemerintahan berbasis agama & memiliki ambisi untuk menyebarkan sistem politik serupa ke negara-negara lain.

Karena mayoritas penduduk Iran adalah penganut agama Islam mazhab Syiah, kelompok-kelompok pejuang Afganistan yang didukung oleh Iran umumnya beranggotakan penganut mazhab Syiah. Kelompok-kelompok tersebut umumnya mendapatkan anggotanya dari daerah Hazarajat, wilayah di Afganistan tengah yang banyak dihuni oleh orang etnis Hazara (etnis minoritas Afganistan yang umumnya menganut mazhab Syiah).

Peta lokasi Hazarajat, wilayah di Afganistan yang banyak dihuni oleh etnis Hazara. (Sumber)

Revolutionary Council of the Islamic Union of Afghanistan (Dewan Revolusi Serikat Islam Afganistan) adalah kelompok yang awalnya merupakan partai politik berhaluan Islam Syiah yang didirikan oleh Sayyad Beheshti. Kelompok ini juga dikenal dengan nama singkat "Shura". Basis utama kelompok ini berada di wilayah Hazarajat & Provinsi Ghazni, Afganistan tenggara.

Islamic Victory Organization of Afghanistan (IVOA; Organisasi Kemenangan Islam di Afganistan) adalah kelompok berhaluan Islam Syiah garis keras yang memiliki hubungan amat dekat dengan pemerintah Iran. Anggota kelompok ini umumnya berasal dari orang-orang etnis Hazara yang bermukim di Iran.

Islamic Movement (Gerakan Islam; Harakati Islami; HI) adalah kelompok berhaluan Islam Syiah yang didirikan oleh Ayatollah Asef Muhsini. Kelompok ini didirikan di Iran supaya bisa ikut serta dalam pemberontakan di Afganistan.

Army of the Guardians of the Revolution (AGR; Tentara Pelindung Revolusi) adalah kelompok Islamis garis keras yang dipimpin oleh Akbari & Saddiqi. Kelompok ini tidak memiliki banyak anggota, namun memiliki hubungan yang amat dekat dengan pemerintah Iran. Sejumlah anggota kelompok ini berasal dari anggota kelompok Shura yang membelot.


Faksi Komunis Maois

Pemberontakan menentang pasukan Uni Soviet & rezim komunis Afganistan bukan hanya dilakukan oleh mereka yang berasal dari golongan agamis & tradisional, tetapi juga oleh mereka yang berasal dari golongan komunis Maois (aliran komunis yang dicetuskan oleh Mao Zedong, pendiri Republik Rakyat Cina). Kebetulan sejak dekade 1950-an, hubungan Cina & Uni Soviet memang sedang memburuk karena keduanya sama-sama ingin menjadi negara komunis yang paling dominan.

Jika dibandingkan dengan kelompok mujahidin (milisi pemberontak berbasis agama), kelompok pemberontak berhaluan Maois memiliki skala kekuatan yang jauh lebih kecil. Alasan pertama, karena paham Maoisme bukanlah paham yang populer di mata rakyat Afganistan. Alasan kedua, karena banyak tokoh Maois Afganistan yang ditangkap oleh aparat Afganistan.

Alasan ketiga, tokoh-tokoh Maois Afganistan yang masih aktif kerap terlibat konflik dengan sesamanya akibat perbedaan cara pandang. Alasan keempat yang juga merupakan alasan terpenting, Cina selaku negara poros Maoisme ternyata lebih suka memberikan dukungannya kepada kelompok-kelompok mujahidin.

Tidak diketahui kelompok mujahidin mana yang didukung oleh Cina. Yang sudah diketahui adalah untuk melatih mujahidin, para pejuang Afganistan di Pakistan akan dikirim ke kamp-kamp pelatihan milik Cina di Xinjiang, Cina barat. Setelah menerima pelatihan yang cukup, mujahidin-mujahidin tersebut akan dikirim kembali ke Pakistan sambil membawa aneka macam persenjataan modern seperti senapan mesin & peluncur roket. Jumlah total bantuan Cina kepada para mujahidin ditaksir mencapai 400 juta dollar AS.

Sepasang milisi Maois dari kelompok ALO. (Sumber)

Kembali ke soal pemberontak Maois Afganistan. Berikut ini adalah kelompok-kelompok Maois yang diketahui aktif mengangkat senjata saat pasukan Uni Soviet menginvasi wilayah Afganistan :

Liberation Organization of the People of Afghanistan (Organisasi Pembebasan Rakyat Afganistan) adalah kelompok berhaluan Maois yang pertama kali didirikan pada tahun 1977 & dipimpin oleh Majid Kalakani. Kelompok ini lebih dikenal dengan nama SAMA, nama singkatan kelompok tersebut dalam bahasa Persia (Sazmane Azadibakhshe Mardome Afghanistan). Sejak tahun 1983, kelompok ini mengalami penurunan kekuatan yang amat drastis setelah tokoh-tokoh pentingnya ditangkap oleh aparat Afganistan.

Afghanistan Liberation Organization (ALO; Organisasi Pembebasan Afganistan; Sazmane Rehai) adalah kelompok berhaluan Maois yang sudah berdiri sejak tahun 1972. Pendiri kelompok ini adalah Faiz Ahmad. Sejak tahun 1984, kelompok ini dilanda perpecahan internal setelah faksi pimpinan Ahmad terlibat konflik melawan faksi pimpinan Amin Maiwand.



BERJALANNYA PERANG

Invasi yang Diikuti Perang Panjang

Pada bulan Desember 1979, pasukan darat & udara Uni Soviet yang diperkuat oleh 40.000 tentara memulai invasinya ke wilayah Afganistan. Dalam invasi tersebut, pasukan Uni Soviet berhasil menewaskan presiden Hafizullah Amin di ibukota Kabul pada tanggal 24 Desember. Pasca tewasnya Amin, Babrak Karmal kemudian baik menjadi presiden baru Afganistan atas dukungan dari Uni Soviet.

Pasca keberhasilan menggulingkan Amin, Uni Soviet kemudian fokus menguasai kota-kota besar Afganistan beserta bandara & jalan raya yang menghubungkan antar kota. Di pihak yang berseberangan, masuknya pasukan Uni Soviet ke Afganistan mendapatkan penolakan besar-besaran dari rakyat Afganistan. Pasalnya mayoritas rakyat Afganistan sejak awal tidak menyukai rezim komunis Afganistan yang kerap bertindak semena-mena. Datangnya pasukan Uni Soviet ditakutkan hanya akan semakin memperparah perlakuan buruk aparat Afganistan kepada warga sipil.

Atas sebab itulah, aksi protes pun muncul di kota-kota yang sedang dikuasai oleh pasukan Uni Soviet. Pada tanggal 1 Januari 1980 misalnya, warga kota Kandahar beramai-ramai mengeroyok & membunuh para personil Uni Soviet. Kemudian pada bulan Februari 1980, muncul aksi demonstrasi yang berujung rusuh di kota Kabul & Shindand. Akibat kerusuhan tersebut, sebanyak ratusan orang tewas & ribuan lainnya ditahan oleh aparat Uni Soviet serta Afganistan.

Peta kota-kota di Afganistan. (Sumber)

Kerasnya respon yang ditunjukkan oleh aparat Uni Soviet menyebabkan perlawanan yang diberikan oleh warga sipil Afganistan menjadi semakin menghebat. Saat pasukan Uni Soviet sudah berhasil meredam perlawanan yang timbul di kawasan perkotaan, milisi-milisi pemberontak Afganistan kini fokus menyerang konvoi pasukan Uni Soviet yang sedang berada di kawasan pelosok.

Penolakan terhadap pasukan Uni Soviet bukan hanya datang dari kalangan warga sipil, tetapi juga dari sejumlah tentara pemerintah Afganistan yang tidak menyukai campur tangan Uni Soviet. Pada bulan Januari 1980 misalnya, pasukan Uni Soviet harus memadamkan pemberontakan yang dilakukan oleh pasukan infantri divisi ke-8 Afganistan. Karena militer Uni Soviet jauh lebih unggul dalam hal kualitas persenjataan & pengalaman tempur, pemberontakan yang dilakukan oleh sejumlah tentara Afganistan dengan cepat berhasil ditumpas.

Para tentara Afganistan yang selamat kemudian melarikan diri ke kawasan pelosok & bergabung dengan kelompok-kelompok pemberontak setempat. Membelotnya para tentara tersebut memberi keuntungan besar bagi para pemberontak karena dari para tentara pembelot itulah, para milisi pemberontak bisa mendapatkan pengetahuan baru mengenai taktik militer & cara mengoperasikan senjata. Lama kelamaan, jumlah tentara Afganistan yang membelot ke pihak pemberontak menjadi semakin banyak.


Pesawat-pesawat MIG-17 milik Uni Soviet di pangkalan udara kota Kandahar. (Sumber)


Bermain Kucing-Kucingan di Lembah Pandshir

Di pihak berseberangan, Uni Soviet sadar kalau para pemberontak harus dijauhkan dari ibukota Kabul supaya kelangsungan rezim komunis di AFganistan bisa dipertahankan. Maka, pada bulan Februari 1980, pasukan gabungan Uni Soviet & Afganistan pun melakukan penyerbuan ke Lembah Kunar, lembah yang terletak di sebelah timur kota Kabul & berbatasan langsung dengan wilayah negara Pakistan.

Bulan Mei 1980, giliran Lembah Pandshir yang terletak di sebelah utara Kabul yang diserbu oleh pasukan Soviet. Sebulan kemudian, pasukan Uni Soviet juga melakukan penyerbuan ke Lembah Ghazni yang terletak di sebelah barat daya Kabul. Selama melakukan operasi militer, pasukan Uni Soviet kerap menggunakan taktik serangan udara membabi buta & menjatuhkan ranjau dari udara karena para pemberontak Afganistan pada awalnya tidak memiliki senjata untuk menembak jatuh pesawat.

Dari sekian banyak kawasan lembah di sekitar Kabul yang diserang oleh pasukan Uni Soviet & Afganistan, Lembah Pandshir / Panjshir merupakan kawasan yang paling sering menjadi sasaran operasi militer. Lokasinya yang strategis karena terletak di antara kota Kabul & perbatasan Uni Soviet menjadi penyebab utamanya. Antara tahun 1980 hingga 1985, tercatat ada 9 operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Uni Soviet & Afganistan di Lembah Pandshir.

Peta lokasi Lembah Pandshir (Panjshir Valley). (Sumber)

Meskipun sudah beberapa kali melakukan operasi militer, pasukan Uni Soviet & Afganistan tidak pernah benar-benar berhasil menguasai Lembah Pandshir. Pasalnya setiap kali pasukan udara Uni Soviet & Afganistan menampakkan diri, para pemberontak akan segera bersembunyi di celah-celah tebing. Namun saat pasukan udara tadi sudah pergi, para pemberontak akan kembali beraksi & melakukan serangan sembunyi-sembunyi ke fasilitas umum serta ke iring-iringan kendaraan Uni Soviet.

Memasuki tahun 1983, sebagai cara untuk memperluas jangkauan kekuasaan Uni Soviet di seluruh Afganistan, pasukan Uni Soviet melakukan serangan ke kota Herat, Afganistan barat. Dalam serangan tersebut, pasukan udara Uni Soviet pada awalnya melakukan pemboman besar-besaran sebelum kemudian menggerakkan pasukan daratnya ke dalam kota. Akibat serangan tersebut, separuh kota Herat berada dalam kondisi hancur.

Meskipun pasukan Uni Soviet & Afganistan jauh lebih unggul dalam hal persenjataan, perang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan usai. Terbatasnya jumlah tentara, kondisi geografis Afganistan yang bergunung-gunung, & seringnya milisi pemberontak membaur di antara warga sipil menyebabkan kawanan pemberontak Afganistan tidak pernah benar-benar bisa ditumpas hingga habis.


Iring-iringan kendaraan lapis baja pasukan Soviet di Afganistan. (Sumber)


Membengkaknya Jumlah Tentara Uni Soviet di Afganistan

Saat perang yang terjadi di Afganistan semakin berkepanjangan, jumlah tentara Uni Soviet yang dikirim ke Afganistan pun semakin lama semakin banyak. Jika pada tahun 1979 ada 40.000 tentara Uni Soviet yang dikirim ke Afganistan, pada tahun 1985 jumlahnya sudah membengkak menjadi 118.000 tentara. Jumlah milisi pemberontak Afganistan di lain pihak diperkirakan berjumlah antara 47.000 - 173.000 personil.

Pasukan Uni Soviet memang turut dibantu oleh tentara pemerintah Afganistan yang jumlah totalnya mencapai 40.000 personil. Namun mereka seringkali tidak bisa diandalkan akibat minimnya semangat juang mereka. Pasalnya banyak dari tentara tersebut yang bergabung dalam kemiliteran akibat faktor keterpaksaan lewat kebijakan wajib militer, atau semata-mata karena mereka hanya ingin mendapatkan upah. Dampaknya, Uni Soviet mau tidak mau harus mengandalkan militernya sendiri jika ingin melakukan operasi-operasi militer penting.

Sebagai cara untuk mengurangi beban pasukan Uni Soviet di Afganistan sambil meningkatkan kemandirian militer Afganistan, Uni Soviet mengeluarkan sejumlah kebijakan baru pada tahun 1984. Anak-anak Afganistan yang berusia 10 tahun ke bawah beramai-ramai dikirim ke Uni Soviet untuk menerima pendidikan selama 10 tahun. Harapannya, begitu mereka kembali ke Afganistan, penduduk Afganistan secara berangsur-angsur akan menjadi lebih bersimpati kepada Uni Soviet.

Tentara pemerintah Afganistan di kota Jalalabad, Afganistan timur. (Sumber)

Di sektor militer, pemerintah Afganistan atas panduan Uni Soviet menerapkan kebijakan pemberian bonus & kenaikan gaji kepada para tentara Afganistan yang berprestasi. Sistem wajib militer juga diperketat & batas usia minimumnya diturunkan supaya mereka lebih mudah ditempa untuk menjadi tentara yang memiliki semangat juang tinggi. Di sektor politik, pemerintah Afganistan berupaya merangkul pihak-pihak non-komunis dengan cara mengizinkan kembali munculnya partai-partai politik.

Kebijakan-kebijakan tersebut nyatanya tetap tidak banyak mengubah kinerja pasukan Afganistan di medan perang. Selain karena pemerintah Afganistan sejak awal memiliki reputasi buruk di mata rakyatnya sendiri, pasukan pemberontak Afganistan di lain pihak juga kian berevolusi. Berkat pengalaman tempur yang mereka dapat selama bertahun-tahun & mengalirnya bantuan persenjataan dari negara-negara musuh Uni Soviet, para milisi pemberontak kini menjadi semakin sulit untuk dikalahkan.

Dampak paling terasa dari semakin meningkatnya kualitas tempur milisi pemberontak Afganistan adalah pasukan udara Uni Soviet - khususnya helikopter - kini tidak bisa lagi melakukan pemboman secara leluasa. Pasalnya sejak tahun 1986, para pemberontak kini dilengkapi dengan rudal Stinger yang memiliki tingkat akurasi tinggi dalam menjatuhkan pesawat. Total, ada sekitar 270 pesawat & helikopter Uni Soviet yang berhasil ditembak jatuh oleh para pemberontak Afganistan sejak rudal Stinger mulai digunakan.


Mujahidin Afganistan yang sedang mengoperasikan meriam peluncur rudal Stinger. (Sumber)


Mundurnya Uni Soviet dari Afganistan

Lepas dari hal tersebut, milisi-milisi pemberontak Afganistan tetap tidak bisa mengusir keluar pasukan Uni Soviet karena mereka tidak memiliki persenjataan berat untuk menaklukkan pangkalan-pangkalan militer Uni Soviet yang berpengamanan tinggi. Dampaknya, perang di Afganistan pun kini memasuki fase kebuntuan (stalemate). Pasukan Uni Soviet & Afganistan masih menguasai kota-kota penting di Afganistan. Namun mereka bakal langsung menjadi sasaran empuk saat harus bepergian ke luar kota & ke kawasan pelosok.

Sementara itu di dalam Uni Soviet sendiri, perekonomian Uni Soviet juga tengah memburuk akibat menurunnya harga minyak bumi, komoditas ekonomi andalan Uni Soviet. Munculnya kebijakan glasnost (keterbukaan) juga menyebabkan media-media Uni Soviet bersikap semakin kritis terhadap perang di Afganistan. Pasalnya meskipun perang ini sudah menelan biaya & korban jiwa yang tidak sedikit, perang ini belum menunjukkan tanda-tanda akan usai dalam waktu dekat.

Menguatnya tekanan dari dalam & luar negeri menyebabkan Uni Soviet mulai menyusun rencana untuk menarik mundur seluruh pasukannya dari Afganistan. Sebagai langkah awal, perwakilan Uni Soviet & AS melakukan pertemuan pada bulan Desember 1987. Dalam pertemuan tersebut, Uni Soviet bersedia untuk menarik mundur seluruh pasukannya dari Afganistan. Namun sebagai gantinya, AS harus berhenti memberikan dukungan materialnya kepada para pemberontak Afganistan.

Bulan April 1988, perwakilan Uni Soviet, Afganistan, Pakistan, & AS meresmikan kesepakatan damai. Lewat kesepakatan ini, Uni Soviet akan memulai penarikan mundur pasukannya dari Afganistan sejak bulan Mei 1988 dalam rentang waktu maksimal 9 bulan. Tanggal 15 Februari 1989, pasukan terakhir Uni Soviet resmi meninggalkan Afganistan. Dengan mundurnya pasukan tersebut, berakhir pulalah perang Uni Soviet di Afganistan.



KONDISI PASCA PERANG

Perang Soviet di Afganistan merupakan perang dengan jumlah korban tewas yang tinggi. Seringnya pasukan Uni Soviet melakukan taktik pemboman ke kawasan padat penduduk menjadi salah satu penyebab utamanya.

Jumlah total korban tewas dalam perang ini berkisar antara 1 hingga 2 juta jiwa, di mana mayoritasnya merupakan warga sipil Afganistan. Jumlah korban tewas di pihak Uni Soviet sendiri diketahui tidak sampai 15.000 jiwa. Selain korban jiwa, perang ini juga menyebabkan jutaan warga sipil Afganistan terpaksa mengungsi ke luar negeri.

Meskipun Uni Soviet sudah menarik mundur seluruh pasukannya dari Afganistan, rezim republik komunis Afganistan masih bisa bertahan hingga beberapa tahun kemudian karena mereka masih mewarisi persenjataan yang ditinggalkan oleh Uni Soviet. Republik Afganistan baru mengalami keruntuhan pada tahun 1992 setelah para mujahidin berhasil menguasai ibukota Kabul.

Mujahidin Afganistan di kota Kabul. (Sumber)

Pasca runtuhnya republik komunis Afganistan, perang di Afganistan karena kini para pemberontak malah terlibat konflik di antara sesamanya akibat sama-sama ingin menjadi penguasa baru Afganistan. Di tengah kekacauan inilah, muncul kelompok bernama Taliban yang kelak berhasil menguasai ibukota Afganistan pada tahun 1996.

Meskipun korban jiwa yang diderita oleh Uni Soviet di Afganistan nampak tidak seberapa, perang ini membawa dampak negatif yang amat besar bagi Uni Soviet. Dampak pertama adalah akibat perang ini, Uni Soviet dikucilkan oleh negara-negara Blok Barat & negara-negara berpenduduk mayoritas Islam. Saat turnamen Olimpiade digelar di Moskow, Uni Soviet, pada tahun 1980, Olimpiade ini diboikot oleh banyak negara.

Dampak kedua, perang ini menyebabkan kerugian finansial yang amat besar bagi Uni Soviet karena perang ini diperkirakan menelan biaya hingga 50 milyar dollar AS. Dan terakhir, karena Uni Soviet menarik mundur pasukannya dari Afganistan sebelum berhasil menumpas habis para pemberontak, perang ini menyebabkan anjloknya pamor pemerintah Uni Soviet di mata dunia internasional & rakyatnya sendiri. Saat kondisi internal Uni Soviet tidak kunjung membaik, negara raksasa tersebut akhirnya benar-benar mengalami keruntuhan pada tahun 1991.

Di luar masalah Uni Soviet, perang di Afganistan juga dituding menjadi penyebab mengapa gerakan ekstrimisme berbasis agama bisa menjamur seperti sekarang. Pasalnya saat perang di Afganistan masih berlangsung, AS memberikan bantuan senjata & uang kepada para milisi pemberontak. Saat pasukan Uni Soviet sudah ditarik mundur dari Afganistan, sebagian dari para pemberontak tersebut kemudian mendirikan kelompok Al-Qaeda supaya bisa melanjutkan perlawanan mereka ke seluruh dunia sambil menyebarkan pemikiran mereka.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

Waktu & Lokasi Pertempuran
- Waktu : 1979 - 1989
- Lokasi : Afganistan

Pihak yang Bertempur
(Negara)  -  Afganistan, Uni Soviet
       melawan
(Grup)  -  milisi-milisi pemberontak

Hasil Akhir
- Perang berakhir tanpa pemenang yang jelas
- Uni Soviet mundur dari Afganistan pada tahun 1989
- Perang antara pemerintah & pemberontak Afganistan tetap berlangsung hingga tahun 1992

Korban Jiwa
- Afganistan & warga sipil : < 2.000.000 jiwa
- Uni Soviet : < 15.000 jiwa



REFERENSI

BBC News - Al Qaeda's Origins and Links
Foreign Policy - Stop Panicking About the Stingers
GlobalSecurity.org - Anti-Soviet Mujahideen
GlobalSecurity.org - Group of Soviet Forces in Afghanistan
GlobalSecurity.org - Soviet Defeat in Afghanistan
GlobalSecurity.org - Soviet Occupation, 1982-89
GlobalSecurity.org - The Soviet Invasion of Afghanistan
Necrometrics - Afghanistan (1979-2001)
Sword of the Motherland - The Afghanistan War Timeline
ThoughtCo.com - The Sino-Soviet Split
Ibrahimi, N.. 2012. "Ideology Without Leadership". (file PDF)
 - . 2008. "Amin, Hafizullah". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
 - . 2008. "Taraki, Nur Mohammad". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
J.C. Dewdney, dkk.. 2008. "Union of Soviet....". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
Starr, S.F.. 2004. "Xinjiang : China's Muslim Borderland" (hal. 157 - 158). M.E. Sharpe, AS.
Weinbaum, M.G.. 2008. "Afghanistan". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

 





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.