FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Konflik Fatah-Hamas yang Memecah Palestina




Pasukan Hamas yang sedang merayakan kemenangan usai
pertempuran melawan Fatah di Jalur Gaza. (Sumber)

Palestina. Itulah nama dari daerah di Timur Tengah yang masih kerap bergolak hingga sekarang. Bila mendengar soal konflik di Palestina, maka orang awam biasanya hanya tahu bahwa konflik yang terjadi di sana hanya berupa konflik antara Palestina melawan Israel. Namun kenyataannya, selain berkonflik dengan Israel, Palestina ternyata juga dilanda oleh perang saudara & konflik internal di wilayah mereka sendiri yang melibatkan Fatah & Hamas, 2 kelompok politik terbesar di Palestina.

Konflik Fatah-Hamas atau perang sipil Palestina adalah konflik politik & militer di Palestina antara Hamas melawan Fatah yang sudah berlangsung sejak tahun 2006. Selain dengan 2 nama tadi, konflik ini oleh orang-orang Palestina dikenal juga dengan nama "Wakseh" yang secara harfiah berarti "keruntuhan" untuk mendeskripsikan dampak negatif yang timbul akibat konflik antar sesama orang-orang Palestina. Akibat konflik ini pula, wilayah Palestina secara de facto terbagi menjadi 2 : wilayah Jalur Gaza yang dikuasai Hamas & wilayah Tepi Barat yang dikuasai oleh Fatah.



LATAR BELAKANG

1. Perbedaan Ideologi & Perebutan Pengaruh

Akar dari konflik Fatah & Hamas bisa ditelusuri bahkan sejak Hamas masih belum terbentuk. Sejak dekade 1970-an, Israel membiarkan para simpatisan kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) yang berhaluan Islam & berbasis di Mesir untuk beroperasi di Palestina. Israel berharap kelompok Islamis Palestina nantinya bisa membantu melemahkan Fatah, kelompok pejuang Palestina berhaluan nasionalis sekuler yang saat itu masih dianggap Israel sebagai kelompok perlawanan yang paling berbahaya.

Peta dari Jalur Gaza (Gaza Strip) &
Tepi Barat (West Bank). (Sumber)
Keinginan Israel tersebut awalnya terlihat berjalan mulus. Kelompok Islamis Palestina secara perlahan tapi pasti terus tumbuh hingga akhirnya mereka cukup kuat untuk menantang dominasi kelompok sekuler Palestina secara terang-terangan. Perebutan dominasi tersebut akhirnya memuncak menjadi konflik bersenjata di Jalur Gaza & Tepi Barat pada paruh awal dekade 80-an. Namun siasat adu domba oleh Israel tersebut mulai berubah menjadi bumerang setelah pada tahun 1987, terjadi kecelakaan yang melibatkan seorang supir Israel & menewaskan beberapa orang Palestina.

Pasca kecelakaan mematikan tersebut, gelombang protes orang-orang Palestina terhadap Israel langsung meledak, tak terkecuali di kalangan Islamis. Maka di tahun yang sama, para pentolan Islamis Palestina mendirikan kelompok perlawanan baru yang bernama "Hamas" dengan tujuan melenyapkan Israel & memerdekakan Palestina sebagai negara Islam. Sejak saat itulah, hubungan antara Israel dengan kubu Islamis Palestina berubah menjadi permusuhan, namun "perang dingin" antara Hamas dengan Fatah juga masih tetap berlangsung.


2. Kemenangan Hamas dalam Pemilu Palestina

Bulan Januari 2006, Palestina menyelenggarakan pemilu legislatif di mana Hamas secara mengejutkan keluar sebagai pemenang. Kemenangan Hamas tersebut disebut-sebut tidak lepas dari gencarnya kegiatan sosial yang mereka lakukan & citra dari Fatah - kubu paling dominan dalam kabinet pemerintahan Palestina sebelum pemilu - yang dianggap sebagai kelompok yang korup. Tak lama berselang, Hamas berencana mengambil alih tongkat kendali sektor keamanan Palestina dari tangan Fatah, namun Fatah menolak sehingga ketegangan antara kedua kelompok tersebut pun mulai meningkat.

Logo dari Fatah & Hamas.
Di luar Palestina sendiri, Israel, AS, & Uni Eropa menolak mengakui kemenangan Hamas dalam pemilu karena Hamas masih enggan menghentikan aktivitas bersenjatanya & mengakui keberadaan Israel. Penolakan atas kemenangan Hamas tersebut diperlihatkan dengan penghentian aliran bantuan internasional ke wilayah Palestina. Di sisi lain, AS & Inggris juga memberikan bantuan uang serta pelatihan militer kepada para anggota Fatah dengan harapan mereka bisa ikut menekan Hamas lewat jalur perjuangan bersenjata. Akibatnya, perang saudara di tanah Palestina pun tak bisa dihindari lagi...



BERJALANNYA KONFLIK

Bulan Maret 2006, pemimpin sayap militer Fatah menyatakan penolakannya untuk menerima perintah dari anggota parlemen Palestina yang berasal dari kubu Hamas. Tak lama usai penolakan tersebut, para anggota Fatah memulai aksi-aksi penculikan & pembunuhan terhadap para anggota Hamas. Hamas di sisi lain jelas enggan berdiam diri & memutuskan untuk melancarkan aksi-aksi balasan kepada Fatah. Konflik-konflik bersenjata skala kecil pun mulai timbul & korban mulai berjatuhan di kedua belah pihak.

Memasuki bulan Desember 2006, intensitas konflik antara Hamas & Fatah semakin meningkat. Kedua belah pihak sebenarnya sempat beberapa kali mengumumkan gencatan senjata, namun tak ada yang bertahan lama. Pada bulan yang sama, Mahmud Abbas selaku presiden Palestina & pentolan dari Fatah juga sempat meminta digelarnya kembali pemilu Palestina, namun permintaannya ditolak oleh Hamas yang merasa bahwa penyelenggaraan pemilu kembali dalam jeda waktu singkat bertentangan dengan peraturan resmi yang berlaku.

Prajurit Fatah. (Sumber)
Bulan Februari 2007, perwakilan dari Hamas & Fatah akhirnya bertemu di Mekkah, Arab Saudi, untuk menjalani perundingan damai. Hasilnya, kedua belah pihak sepakat untuk menghentikan kontak senjata & membentuk pemerintahan bersama. Kedua belah pihak juga sempat menentukan daftar dari orang-orang yang akan menjadi menteri dari pemerintahan koalisi tersebut. Namun, masalah baru muncul setelah timbul perbedaan pendapat mengenai siapa yang sebaiknya menjadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Posisi Mendagri dianggap amat vital karena Mendagri memiliki kontrol atas angkatan bersenjata.

Perbedaan pendapat mengenai posisi Mendagri & masalah lainnya akhirnya membuat konflik antara Fatah & Hamas kembali meletus. Tanggal 10 Juni 2007, para personil Hamas menahan beberapa anggota Fatah & mengeksekusi salah satu dari mereka dengan mendorongnya dari puncak gedung tertinggi di Gaza. Tindakan Hamas tersebut langsung dibalas oleh Fatah dengan menembaki kediaman Ismail Haniya - perdana menteri Palestina sekaligus pentolan dari Hamas - serta membunuh imam Masjid Besar Gaza.

Kontak senjata dengan intensitas cukup tinggi terus berlangsung di hari-hari berikutnya di mana perlahan tapi pasti, Hamas berhasil menjadi pihak yang berada di atas angin. Tanggal 12 Juni 2007 misalnya, pasukan Fatah harus bersusah payah mempertahankan markas mereka yang berlokasi di Kota Gaza dari gempuran pasukan Hamas yang dilengkapi dengan pelontar granat. Sehari kemudian, Hamas berhasil menduduki markas Angkatan Keamanan Nasional milik Fatah yang berlokasi di Jalur Gaza sebelah utara.

Pasukan Hamas yang sedang
melakukan patroli. (Sumber)
Tanggal 14 Juni 2007, pasukan Hamas berhasil merebut kantor Dinas Keamanan Pencegahan Palestina dari tangan Fatah. Di kantor tersebut, Hamas menyita sejumlah besar persenjataan, mobil jip, & jaket anti peluru yang aslinya merupakan bantuan dari AS & Israel untuk Fatah. Di lain pihak, para personil Fatah yang kewalahan dengan aksi-aksi pasukan Hamas akhirnya meninggalkan pos-pos militernya di Jalur Gaza sambil meledakkannya agar Hamas tidak bisa memanfaatkan pos-pos tersebut. Dengan mundurnya pasukan Fatah, daerah Jalur Gaza pun sejak saat itu berada di bawah kendali Hamas sepenuhnya.

Menyusul jatuhnya Jalur Gaza ke tangan Hamas, Presiden Mahmud Abbas memutuskan untuk membubarkan pemerintahan gabungan Fatah-Hamas. Sebagai akibatnya, wilayah Palestina pun kini terpecah menjadi 2 : wilayah Jalur Gaza yang dikuasai oleh Hamas & wilayah Tepi Barat yang dikuasai oleh Fatah. Tanggal 18 Agustus 2007, Israel, AS, & Uni Eropa memutuskan untuk membuka kembali hubungan dengan Palestina tanpa melibatkan Hamas & memulai kembali pengiriman bantuan internasional ke Palestina. Di tempat lain, Israel & Mesir memulai blokade militernya atas Jalur Gaza untuk mengucilkan Hamas berikut wilayah taklukannya.



PERKEMBANGAN TERAKHIR

Usai keberhasilan Hamas menguasai Jalur Gaza sejak pertengahan tahun 2007, konflik bersenjata antara Hamas & Fatah masih tetap berlangsung, namun intensitasnya sudah jauh menurun. Untuk meredakan ketegangan & mengupayakan rekonsiliasi (perbaikan hubungan) demi memperjuangkan cita-cita Palestina merdeka, perwakilan Fatah & Hamas pun beberapa kali melakukan pertemuan. Bulan Maret 2008 misalnya, perwakilan Fatah & Hamas melakukan pertemuan di Sana'a, Yaman.

Perwakilan Fatah & Hamas dalam
pertemuan di Kairo. (Sumber)
Bulan Maret 2010, perwakilan Fatah & Hamas kembali melakukan pertemuan di Doha, Qatar. Kali ini jalannya pertemuan mereka bersifat debat resmi yang membahas soal masa depan Palestina yang disiarkan via televisi agar bisa disaksikan publik. Setahun kemudian atau tepatnya pada bulan Maret 2011, kedua belah pihak melakukan pertemuan di Kairo, Mesir. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk membentuk pemerintahan koalisi sementara, membebaskan para tahanan perang yang berasal dari kubu lawan, & menggelar pemilu presiden serta perdana menteri pada tahun 2012.

Hasil dari pertemuan di Kairo sendiri tidak diterima oleh semua pihak. Benjamin Netanyahu selaku perdana menteri Israel misalnya, menolak upaya pembentukan pemerintahan koalisi Palestina karena Hamas masih menginginkan penghancuran Israel. AS selaku negara sekutu terdekat Israel juga meminta agar Palestina berhenti memusuhi Israel. Sementara itu di Palestina sendiri, pelaksanaan kesepakatan di Kairo - khususnya yang berkaitan dengan rencana pemilu - disebut-sebut mulai menemui hambatan. Kendati demikian, pada pertemuan lain di bulan Agustus 2011, kedua belah pihak sepakat untuk saling membebaskan tahanan konflik.

Memasuki tahun 2012, kekhawatiran bahwa pemilu nasional Palestina tak jadi digelar nampaknya terbukti. Karena beberapa sebab, pemilu nasional yang rencananya digelar di tahun 2012 beberapa kali diundur & informasi terakhir menyatakan bahwa pemilu nasional baru akan digelar pada tahun 2013. Kendati nasib pemilu nasional masih terkatung-katung, pemilu daerah tetap dilaksanakan bulan Oktober 2012 setelah sebelumnya beberapa kali mengalami penundanaan. Dalam pemilu daerah tersebut, Fatah meraih sejumlah besar kursi di dewan-dewan daerah & mengklaim kemenangan menyusul keputusan Hamas untuk memboikot pemilu daerah.

Massa simpatisan Fatah & Hamas yang
sedang berparade bersama. (Sumber)
Bulan November 2012, Israel melakukan penyerbuan ke Gaza dengan kode sandi "Operasi Pilar Pertahanan" (Operation Pillar of Defense). Walaupun kondisi Gaza luluh lantak seusai pertempuran, pertempuran tersebut disebut-sebut juga membangkitkan kembali rasa persatuan di Palestina. Sebabnya adalah bila kelompok-kelompok di Palestina sebelumnya kerap bergesekan satu sama lain, dalam konflik melawan Israel mereka semua berada di pihak yang sama. Tapi apakah persatuan & kekompakan tersebut bisa bertahan lama, tak ada yang tahu pasti. Yang jelas, sulit berharap Palestina bisa memerdekakan diri & membebaskan diri dari tekanan Israel kalau dengan saudara setanah airnya saja mereka masih tidak akur.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN KONFLIK (HINGGA DESEMBER 2012)

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
    - Waktu : 2006 - sekarang
    - Lokasi : (mayoritasnya di) Jalur Gaza

2. Pihak yang Bertempur
    (Grup)  -  Hamas
         melawan
    (Grup)  -  Fatah

3. Hasil Akhir
    - Kemenangan militer Hamas di Jalur Gaza
    - Hamas menjadi penguasa de facto Jalur Gaza sejak tahun 2007
    - Proses rekonsiliasi masih berlanjut hingga sekarang

4. Korban Jiwa
    Lebih dari 600 orang



REFERENSI

Guadian.co.uk - Q&A: Gaza's civil war
Palestine Chronicle - Fatah, Hamas Urge Unity at Gaza Rallies
The Australian - Fatah claims win after Hamas vacates stage
The Wall Street Journal - How Israel Helped to Spawn Hamas
VIVAnews - Hamas-Fatah Sepakat Saling Bebaskan Tahanan
Wikipedia - Battle of Gaza (2007)
Wikipedia - Fatah-Hamas Conflict
Wikipedia - Palestinian general election, 2013


          

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

4 komentar:

  1. itulah mengapa PKS selalu membela palestina yg dijalur gaza (kelompok HAMAS) karena kedua partai ini sama2 dipengaruhi oleh Ikhwanul Muslim
    sedang klo di Tepi Barat sendiri relatif lebih damai

    sebenarnya klo pingin palestina merdeka ya bubarkan saja hamas atau suruh hamas kembali ke mesir biar jadi satu sama ikhwanul muslim

    BalasHapus
  2. @anonim

    Terima kasih untuk pendapatnya. Tapi menurut saya sih, penyelesaiannya nggak sesederhana itu. Masalahnya kelompok bersenjata di Palestina nggak cuma Hamas & Fatah. Ada juga kelompok-kelompok yang lebih kecil seperti PFLP, PIJ, & milisi-milisi Salafis. Jadi kalaupun Hamas pada akhirnya bubar atau setuju untuk berhenti mengangkat senjata, hampir bisa dipastikan kelompok-kelompok tadi bakal menggantikan peran Hamas sebagai pihak utama yang memerangi Israel.

    Lagipula Hamas & kelompok-kelompok tadi bisa tetap mendapat simpatisan salah satunya karena memanfaatkan kondisi Tepi Barat secara tidak langsung. Hingga sekarang, Fatah lewat jalur diplomasi dianggap gagal memaksa Israel untuk menghancurkan tembok pembatas & pemukiman milik Israel di Tepi Barat. Nah, kondisi tersebut lantas dijadikan pembenaran oleh sebagian orang Palestina untuk menganggap bahwa hanya jalur perjuangan bersenjata yang ampuh untuk menghentikan Israel.

    BalasHapus
  3. Apakah presiden palestina tidak punya kewenangan untuk menghentikan perang saudara? Atau perang yang berlangsung dinegaranya? Presiden sekarang dari partai atau independen?apakah mereka tidak bisa membuat peraturan untuk memberantas kekerasan yang melukai penduduk-penduduk di perbatasan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Presiden Palestina yang sekarang adalah Mahmud Abbas dari kelompok Fatah. Mengenai perang saudara, secara resmi dia memang punya kewenangan untuk menempuh metode apapun demi menjaga stabilitas dalam negeri (termasuk membuat peraturan & menggunakan opsi militer). Tapi dalam prakteknya, Abbas tidak bisa menjalankan kewenangannya di daerah Gaza karena daerah tersebut dikuasai oleh Hamas yang memiliki angkatan bersenjatanya sendiri.

      Dengan kata lain, satu-satunya cara supaya rezim Abbas bisa menjangkau Gaza tanpa harus melalui jalur perang adalah dengan turut melibatkan Hamas dalam pemerintahan Palestina. Kebetulan pada bulan April 2014 kemarin, Hamas & Fatah sudah sepakat untuk kembali bersekutu. Tapi kekuasaan pemerintah pusat Palestina atas Gaza tetap terbatas karena mereka hanya bisa bergerak di Gaza jika mendapat izin dari Hamas.

      Oh ya, bisa tolong diperjelas apa yang anda maksud dengan "perbatasan"? Karena wilayah Gaza & Tepi Barat secara geografis terpisah satu sama lain, alias tidak saling berbatasan. Kalau yang anda maksud adalah konflik antara pemukim Israel dengan Palestina, itu urusannya ya antara Israel dengan penguasa masing-masing wilayah (dengan Fatah kalau lokasinya di Tepi Barat, dengan Hamas kalau lokasinya di Gaza).

      Hapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.