SEJARAH      FAUNA       HIBURAN

Sejarah Runtuhnya Ayutthaya & Berdirinya Dinasti Modern Thailand




Foto udara Candi Wat Chaiwatthanaram di Ayutthaya. (Sumber)

Pernah mendengar nama Ayutthaya? Itu adalah nama dari sebuah kota yang terletak di Thailand tengah. Kota ini terkenal berkat peninggalan-peninggalan bersejarahnya yang pada umumnya berupa bangunan keagamaan. Berkat banyaknya peninggalan bersejarah di kota tersebut, kota ini pun menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin melihat sisa-sisa peninggalan Thailand dari era beberapa abad silam. Bahkan PBB sejak tahun 1991 juga sudah menetapkan Ayutthaya sebagai Cagar Budaya Dunia.

Banyaknya reruntuhan berusia ratusan tahun di Ayutthaya sendiri tidak lepas dari sejarah yang meliputi kota tersebut. Di masa silam, Ayutthaya menjadi ibukota dari kerajaan bernama sama. Kerajaan tersebut sempat kekuatan regional di kawasan Asia Tenggara selama beratus-ratus tahun. Namun konflik dengan negara tetangganya menyebabkan Kerajaan Ayutthaya runtuh sebelum kemudian digantikan oleh Kerajaan Siam / Thailand yang masih bertahan hingga sekarang.

Peta lokasi kota Ayutthaya.
Akar dari konflik yang meruntuhkan Kerajaan Ayutthaya dapat ditelusuri sejak berdirinya Dinasti Konbaung di wilayah modern Myanmar pada tahun 1752. Hanya dalam waktu singkat sejak pendiriannya, kekaisaran yang berbasis di Myanmar utara tersebut berhasil memperluas wilayahnya hingga ke wilayah pesisir Tenasserim yang terletak di Myanmar selatan. Hal tersebut lantas menuai kekhawatiran dari Ayutthaya yang khawatir kalau kelak Konbaung bakal menyerbu wilayahnya juga. Kebetulan Ayutthaya memang sempat menjadi negara bawahan Kekaisaran Toungoo - juga berpusat di wilayah Myanmar - pada abad ke-16.

Untuk melemahkan Konbaung secara tidak langsung, Ayutthaya lantas memberikan dukungannya kepada kawanan pemberontak etnis Mon di wilayah Tenasserim. Pihak Konbaung lantas meresponnya dengan cara mengirimkan pasukan ke wilayah tersebut di tahun 1759. Hasilnya, pasukan Konbaung berhasil menguasai kembali wilayah Tenasserim & melanjutkan pergerakannya ke ibukota Ayutthaya. Beruntung bagi Ayutthaya, Alaungpaya selaku raja Konbaung keburu wafat pada bulan Mei 1760, sehingga pasukan Konbaung terpaksa mundur sebelum kota tersebut berhasil ditaklukkan.

Konbaung sempat dilanda konflik perebutan tahta singkat sebelum Hsinbyushin berhasil naik menjadi raja baru Konbaung pada tahun 1763. Karena Ayutthaya masih enggan menghentikan dukungannya kepada kawanan pemberontak di wilayah Konbaung, Ayutthaya kembali menyusun rencana untuk menginvasi Ayutthaya. Kali ini ia menyiagakan pasukan Konbaung di Tavoy (sekarang terletak di Myanmar selatan) & Chiang Mai (Thailand utara) untuk menyerbu ibukota Ayutthaya dari 2 penjuru sekaligus.



DATANGNYA MAUT DARI MYANMAR

Lukisan yang mengilustrasikan pasukan
gajah Thailand & Myanmar. (Sumber)
Bulan Agustus 1765, pasukan Konbaung di utara memulai invasinya ke wilayah Ayutthaya. Dua bulan kemudian, giliran pasukan di selatan yang mulai bergerak. Karena pasukan Konbaung lebih berpengalaman akibat seringnya wilayah Myanmar dilanda konflik, pasukan Konbaung berhasil mengalahkan pasukan Ayutthaya di sepanjang rute yang mereka lewati. Di sepanjang perjalanan, pasukan Konbaung juga merekrut paksa warga sipil Ayutthaya untuk menggantikan prajurit yang gugur. Memasuki permulaan tahun 1766, pasukan Konbaung akhirnya tiba di luar kota Ayutthaya.

Menaklukkan kota Ayutthaya bukanlah perkara mudah. Pasalnya prajurit yang melindungi kota tersebut sudah dilengkapi dengan meriam & senapan yang disiagakan di sepanjang tembok pelindung. Kota Ayutthaya juga dibangun di antara dua percabangan sungai, sehingga pasukan darat Konbaung tidak bisa serta merta menyerbu bagian dinding kota. Maka, pasukan Konbaung pun memutuskan untuk melakukan blokade di sekeliling kota sambil menembaki kota tersebut memakai meriam. Sejak bulan Maret 1767, pasukan Konbaung yang berhasil mencapai tembok pelindung juga beberapa kali berusaha meruntuhkan tembok memakai bom mesiu.

Memasuki bulan April 1767, tembok yang melindungi kota Ayutthaya akhirnya berhasil dijebol oleh meriam pasukan Konbaung. Pasukan darat Konbaung lalu beramai-ramai menyerbu masuk ke dalamnya. Pasukan Ayutthaya mencoba melawan. Namun karena kondisi mereka sudah jauh melemah akibat kelaparan & blokade pasukan Konbaung, mereka gagal menghentikan amukan pasukan Konbaung. Yang terjadi berikutnya adalah pembantaian & pembakaran besar-besaran di seantero kota. Sejumlah patung Buddha bahkan sampai dihancurkan supaya lapisan emasnya bisa diambil. Peristiwa ini sekaligus menandai berakhirnya riwayat Kerajaan Ayutthaya.

Foto reruntuhan di Ayutthaya, sekitar
1 abad pasca penaklukan. (Sumber)
Keberhasilan menaklukkan Ayutthaya tidak serta merta membuat pasukan Konbaung bisa lekas berleha-leha. Pasalnya, di sebelah utara pasukan Dinasti Qing Cina melancarkan invasinya sejak akhir tahun 1765. Invasi itu sendiri dilakukan sebagai tanggapan atas seringnya pasukan Myanmar menerobos masuk ke wilayah selatan Qing untuk mengejar pemberontak. Karena pasukan Qing unggul jauh dalam hal jumlah prajurit, pasukan Konbaung yang baru saja berhasil menaklukkan Ayuthhaya terpaksa ditarik mundur untuk membantu pasukan Konbaung di sebelah utara.



LAHIRNYA MONARKI BARU

Sebelum kota Ayutthaya benar-benar ditaklukkan oleh pasukan Konbaung, salah satu jenderal Ayutthaya yang bernama Taksin berhasil melarikan diri ke Thailand tenggara. Di sana, ia mengumpulkan pengikut-pengikut baru untuk dijadikan pasukannya. Dengan bermodalkan pasukan inilah, Taksin berhasil merebut kembali kota Ayutthaya. Namun karena kota tersebut masih berada dalam kondisi porak poranda, Taksin terpaksa menjadikan kota Thon Buri di seberang kota Bangkok sebagai ibukota kerajaan barunya. Peristiwa ini sekaligus menandai lahirnya Kerajaan Thonburi sebagai salah satu kerajaan yang terbentuk di bekas wilayah Ayyuthaya.

Satu demi satu, wilayah-wilayah bekas penyusun Ayutthaya berhasil ditaklukkan kembali oleh pasukan Thonburi. Saat pasukan Konbaung kembali menginvasi Thailand di tahun 1770, invasi tersebut juga berhasil digagalkan. Namun keberhasilan menyatukan kembali bekas wilayah Ayutthaya masih belum membuat Taksin merasa puas. Ia terus melakukan perluasan militer sehingga wilayah Thonburi berhasil meluas hingga mencakup wilayah modern Laos, Kamboja, & Semenanjung Malaka bagian utara.

Rama I. (Sumber)
Torehan gemilang yang berhasil digapai Thonburi sayangnya membuat Taksin seolah lupa diri. Ia mengklaim dirinya sudah dekat dengan tahap kesempurnaan dalam agama Buddha. Ia juga tidak segan-segan menghukum mati orang-orang yang berani menentangnya. Hal tersebut lantas mendorong sejumlah pejabat kerajaan merancang siasat untuk menggulingkan Taksin secara paksa. Momen yang mereka butuhkan akhirnya tiba di tahun 1782. Saat pasukan Thonburi sedang berada di Kamboja, Taksin ditangkap & kemudian dibunuh.

Jenderal bawahan Taksin yang bernama Chakkri kemudian dinobatkan menjadi raja baru Thonburi dengan gelar "Rama I". Naiknya Chakkri sebagai raja sekaligus menandai dimulainya dinasti modern Thailand yang garis keturunannya masih bertahta hingga sekarang. Di bawah kepemimpinan Rama I, ibukota kerajaan dipindahkan ke Bangkok. Thailand di masa kepemimpinannya juga sempat beberapa kali kembali terlibat perang dengan Konbaung. Konflik dengan Konbaung baru berakhir setelah Inggris menguasai Myanmar secara penuh di akhir abad ke-19.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

Facts and Details - Ayutthaya period (1360–1767) of Thai History
GlobalSecurity.org - Konbaung Kingdom
Wikipedia - Burmese–Siamese War (1765–67)
 - . 2008. "Ayutthaya." Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
 - . 2008. "Taksin." Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
E. J. Keyes & C. F. Keyes. 2008. "Thailand". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
K. A. Leitich & W. J. Topich. 2013. "The History of Myanmar" (hal. 33). Greenwood, AS.


COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.