SEJARAH FAUNA HIBURAN Cari.Artikel..



Pantai Gading, Negeri Makmur yang Diremukkan Perang Saudara



(Sumber)

Bagi para penggemar sepak bola dunia, nama-nama seperti Didier Drogba, Yaya Toure, Bakary Kone, & Gervinho tentu bukanlah nama-nama yang asing. Ya, itu adalah nama-nama dari pesepak bola tersohor yang berasal dari Pantai Gading. Pantai Gading sendiri adalah nama dari sebuah negara yang terletak di pantai barat Benua Afrika. Selama beberapa lama, Pantai Gading dikenal sebagai salah satu negara paling makmur & paling stabil di Afrika. Namun sayang, semua predikat itu lenyap akibat perang sipil yang meletus sejak permulaan abad ke-21.

Perang sipil Pantai Gading adalah konflik bersenjata yang terjadi di negara tersebut antara pasukan pemerintah & simpatisan Presiden Laurent Gbagbo melawan kelomok-kelompok pemberontak yang nantinya dikenal dengan nama Forces Nouvelles (FN; Pasukan Baru). Dengan melihat peta dari medan konflik, perang ini juga bisa disebut sebagai perang antara Pantai Gading bagian selatan (mayoritas rakyatnya pro-pemerintah) melawan bagian utara (anti-pemerintah). Berdasarkan waktu berlangsungnya : perang sipil Pantai Gading bisa digolongkan menjadi 2 : perang sipil pertama (2002 - 2007) & perang sipil kedua (2010 - 2011).



LATAR BELAKANG

Sejak mendapatkan kemerdekaan dari Prancis di tahun 1960, Pantai Gading dipimpin oleh tokoh kharismatik Felix Houphouet-Boigny. Di bawah kepemimpinan Houphouet-Boigny, Pantai Gading menjadi negara yang makmur & sepi konflik, salah satunya karena Houphouet-Boigny sukses menindas setiap bibit perpecahan antar golongan dengan metode tangan besi.

Memasuki dekade 90-an, pertumbuhan ekonomi Pantai Gading jadi semakin pesat setelah pemerintah negara tersebut memberlakukan liberalisasi ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan sektor perkebunan. Kebetulan Pantai Gading merupakan salah satu produsen utama coklat dunia. Kebijakan baru pemerintah Pantai Gading lantas memancing penduduk dari negara-negara Afrika tetangganya - khususnya yang berasal dari Burkina Faso, tetangga Pantai Gading di sebelah utara - untuk melakukan migrasi besar-besaran ke Pantai Gading.

Felix Houphouet-Boigny. (Sumber)

Ketika semakin banyak imigran yang mendiami Pantai Gading, negara tersebut pun dari aspek kependudukan ibarat terbagi menjadi 2 : wilayah utara yang didominasi oleh imigran Muslim & wilayah selatan yang mayoritas penduduknya adalah penganut Kristen. Dari aspek pembangunan, wilayah selatan dianggap lebih maju & lebih mapan karena kota-kota besar Pantai Gading terkonsentrasi di sana.

Tahun 1993, Houphouet-Boigny meninggal dunia sehingga era kepemimpinannya yang sudah berlangsung selama 33 tahun pun berakhir. Sepeninggal Houphouet-Boigny inilah, benih-benih perpecahan di Pantai Gading mulai timbul. Dimulai dengan turunnya harga coklat dunia yang berakibat pada turunnya pendapatan Pantai Gading, korupsi semakin merajarela di tubuh pemerintahan sehingga negara-negara luar pun mengurangi jumlah bantuan finansial ke Pantai Gading. Buntutnya, perekonomian Pantai Gading pun memburuk & tekanan dari kubu oposisi kepada pemerintahan berkuasa semakin meningkat.

Krisis politik & ekonomi Pantai Gading yang semakin berlarut-larut lantas berujung pada timbulnya kudeta militer di hari Natal tahun 1999 yang dipimpin oleh Jenderal Robert Guei. Pasca kudeta militer, Guei membentuk pemerintahan sementara & merencanakan pemilu nasional di tahun 2000.

Namun, masalah muncul ketika Pengadilan Tinggi (PT) Pantai Gading yang para anggotanya ditunjuk oleh Guei melarang Alassane Ouattara - menteri beragama Islam di era rezim Houphouet-Boigny - untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu yang akan datang. PT beralasan kalau capres pada pemilu mendatang haruslah berasal dari bapak & ibu kelahiran Pantai Gading, sementara ibu Ouattara - walaupun berkewarganegaraan Pantai Gading - adalah orang kelahiran Burkina Faso.

Alassane Ouattara & Laurent Gbagbo. (Sumber)

Keputusan PT Pantai Gading langsung menimbulkan rasa tidak suka dari para simpatisan Ouattara mengingat dengan tidak majunya Ouattara sebagai capres, maka komunitas Muslim Pantai Gading pun tidak memiliki perwakilan lagi pada pemilu presiden. Laurent Gbagbo selaku capres dari komunitas Kristen pun berhasil keluar sebagai pemenang pemilu & menjadi presiden baru Pantai Gading.

Pasca pemilu, pertikaian berdarah langsung timbul antara simpatisan Gbagbo & aparat Pantai Gading melawan simpatisan Ouattara. Walaupun Gbagbo & Ouattara berhasil menyuruh simpatisannya masing-masing untuk berhenti bertikai, ketegangan antar komunitas masih tetap mengendap hingga akhirnya muncul kembali ke permukaan dalam wujud perang saudara...



BERJALANNYA PERANG SIPIL PERTAMA

Percobaan Kudeta yang Berubah Menjadi Perang Saudara

Di malam hari tanggal 18 September 2002, sekitar 800 orang yang umumnya merupakan simpatisan Jenderal Guei yang kehilangan kekuasaannya pasca pemilu tahun 2000 melakukan serangan mendadak ke kota-kota Pantai Gading - salah satunya Abidjan, kota terbesar Pantai Gading - untuk menggulingkan pemerintahan berkuasa.

Pertempuran pun pecah antara pasukan pemerintah yang masih loyal melawan para tentara pemberontak. Di sela-sela pertempuran, tentara loyalis pemerintah menyerang kediaman Jenderal Guei & membunuh Guei beserta keluarganya karena adanya dugaan bahwa percobaan kudeta tersebut didalangi oleh Jenderal Guei.

Tentara Pantai Gading yang sedang berparade. (Sumber)

Seiring berjalannya pertempuran, pasukan loyalis berhasil mendesak mundur pasukan pemberontak keluar dari Abidjan sehingga percobaan kudeta pun berakhir dengan kegagalan. Pasca kegagalan tersebut, para tentara pemberontak lalu melarikan diri ke wilayah utara Pantai Gading. Di sana, mereka berhasil menggalang dukungan dari penduduk setempat yang selama ini merasa dianaktirikan oleh pemerintah pusat Pantai Gading karena adanya diskriminasi terhadap penduduk Pantai Gading sebelah utara yang dianggap sebagai warga non-pribumi & kurang majunya pembangunan di daerah tersebut kalau dibandingkan dengan Pantai Gading bagian selatan.

Tanggal 22 September 2002, pasukan pemberontak melayangkan daftar tuntutan kepada pemerintah pusat Pantai Gading via Kedutaan Besar Prancis. Beberapa poin tuntutan pemberontak adalah kenaikan gaji tentara, para anggota pemberontak diperbolehkan kembali menjadi bagian dari tentara Pantai Gading, & para personil militer serta polisi yang masih mendekam di penjara harus segera dibebaskan. Di hari yang sama, rumah dari Alassane Ouattara selaku pentolan kubu oposisi & komunitas Muslim dibakar oleh orang tak dikenal. Ouattara sendiri selamat karena ia sedang berada di kediaman dubes Prancis untuk mendapatkan perlindungan.

Memasuki minggu terakhir bulan September 2002, kontak senjata berskala besar meletus di kota Bouake, Pantai Gading tengah. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak kota-kota di Pantai Gading bagian utara & tengah yang jatuh ke tangan pasukan pemberontak. Namun, pasukan pemberontak tidak melanjutkan penaklukkan lebih jauh ke selatan karena mereka enggan terlibat kontak langsung dengan pasukan Prancis di sebelah utara ibukota Yamoussoukro, Pantai Gading bagian selatan. Pasukan Prancis sendiri ada di medan konflik karena ingin mengamankan evakuasi warga negara Prancis yang ada di negara tersebut, sementara dalam perang sipil mereka tetap berusaha bersikap netral.

Memasuki pertengahan bulan Oktober 2002, saat konflik bersenjata masih berjalan, pembicaraan antara pihak-pihak yang bertikai dimulai. Hasilnya, pasca perundingan yang dilakukan di Paris, Prancis, pada bulan Januari 2003, Presiden Gbagbo & kelompok-kelompok pemberontak Pantai Gading - MPCI, MPJ, & MPIGO - sepakat untuk berhenti berperang & mendirikan pemerintahan bersama. Kesepakatan tersebut juga menjamin kalau Presiden Gbagbo akan tetap menjabat sebagai presiden & pemegang posisi perdana menteri - jabatan dengan kekuatan memerintah yang paling besar - akan ditentukan via pemilu.


Peta kota-kota besar di Pantai Gading. (Sumber)


Meletusnya Kembali Konflik & Lahirnya FN

Masa damai di Pantai Gading sayangnya tidak berlangsung lama setelah pada bulan Juli 2003, kelompok-kelompok pemberontak memutuskan untuk kembali mengangkat senjata & menggabungkan diri menjadi kelompok pemberontak baru yang bernama Forces Nouvelles (FN; Pasukan Baru). FN terbentuk setelah Presiden Gbagbo ingin menjadikan orang-orang dekatnya sebagai Menteri Pertahanan & Menteri Keamanan yang baru tanpa berkonsultasi dengan para perwakilan kubu pemberontak di parlemen.

Bulan September 2003, jalannya konflik jadi semakin runyam setelah beberapa anggota FN berencana menjadikan wilayah kekuasaan mereka di Pantai Gading bagian utara sebagai negara baru. Bulan Februari 2004, PBB mengeluarkan resolusi 1528 yang intinya menyetujui pengiriman pasukan perdamaian ke Pantai Gading untuk melaksanakan pelucutan senjata FN & mengawasi pelaksanaan pemilu yang rencananya akan digelar pada tahun 2005.

Sementara itu, kelompok milisi pemuda pro-Gbagbo yang menyebut dirinya Congres Panafricain des Jeunes et des Patriotes (COJEP; Kongres Pan-Afrika Para Pemuda Patriot) meminta kepada PBB supaya proses pelucutan senjata FN segera dilakukan. Jika tidak, mereka mengancam akan melakukannya sendiri. Ancaman yang jika terwujud bakal membuat konflik di Pantai Gading menjadi semakin parah.

Bulan Juni 2004, FN mulai dilanda perpecahan internal setelah timbul konflik bersenjata antara sesama anggota FN di Pantai Gading bagian utara. Konflik tersebut muncul karena sebagian anggota FN hanya mengakui Guillaume Soro sebagai pemimpin mereka, sementara sebagian lainnya lebih memilih Ibrahim Coulibaly yang sedang berada di luar negeri untuk menjadi pemimpin mereka.

Di bulan yang sama, pasukan Pantai Gading mulai mengerahkan helikopter tempur untuk menggempur wilayah kekuasaan FN. Beberapa bulan kemudian atau tepatnya pada bulan November, pasukan Pantai Gading kembali melancarkan serangan udara - kali ini dengan memakai pesawat tempur Sukhoi Su-25 buatan Rusia.

Peta yang menunjukkan wilayah kekuasaan pemberontak
(diarsir) & wilayah kekuasaan pemerintah. (Sumber)

Pertengahan tahun 2005, perwakilan dari pemerintah & FN melakukan perundingan di Pretoria, Afrika Selatan. Hasilnya, kedua belah pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata & mengikuti pemilu yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober 2005. Namun dengan alasan kurangnya kesiapan komisi pemilu setempat & penolakan Presiden Gbagbo untuk mundur dari jabatannya, FN memutuskan untuk tidak mengikuti pemilu sehingga pelaksaan pemilu pun urung terlaksana.

Tidak puas dengan kondisi tersebut, COJEP lantas menggelar aksi protes pada bulan Januari 2006 untuk mengkritik kinerja PBB yang dianggap tidak netral & sarat akan kepentingan pihak-pihak asing dalam menengahi konflik di Pantai Gading.

Sejak pertengahan tahun 2006, perwakilan dari pemerintah & FN beberapa kali melakukan pertemuan untuk membahas prospek perjanjian damai permanen di Pantai Gading. Hasilnya, pada bulan Maret 2007, kedua belah pihak sepakat untuk menandatangani perjanjian damai permanen di Ouagadougou, Burkina Faso.

Beberapa poin penting dari perjanjian damai tersebut adalah Soro akan diangkat menjadi perdana menteri, zona pembatas yang menjadi pemisah antara wilayah kekuasaan FN dengan wilayah kekuasaan militer pemerintah akan dibongkar, & kelompok-kelompok milisi dari kedua belah pihak akan membiarkan senjatanya dilucuti. Dengan dicapainya perjanjian damai di Ouagadougou, perang sipil Pantai Gading pun berakhir - untuk beberapa lama.


Prajurit anggota FN. (Sumber)


RINGKASAN PERANG SIPIL PERTAMA

Waktu & Lokasi Pertempuran
- Waktu : 2002 - 2007
- Lokasi : Pantai Gading

Pihak yang Bertempur
(Negara)  -  Pantai Gading
(Grup)  -  COJEP, milisi-milisi pro-pemerintah
          melawan
(Grup)  -  FN (koalisi dari MPCI, MPJ, MPIGO)

Hasil Akhir
- Perang berakhir tanpa pemenang yang jelas
- Pemimpin FN diangkat menjadi perdana menteri
- Perundingan lanjutan dilakukan untuk menentukan waktu pemilu

Korban Jiwa
Tidak diketahui



PERIODE DAMAI SEMENTARA

Sesudah dicapainya perjanjian damai di Ougadougou, perwakilan dari pemerintah Pantai Gading & pihak-pihak oposisi - termasuk kelompok pemberontak FN - beberapa kali melakukan pertemuan, salah satunya untuk menentukan waktu pelaksanaan pemilu. Beberapa kali waktu pelaksanaan pemilu ditentukan, namun rencana-rencana pemilu tersebut tidak ada yang berhasil terealisasi karena beragam alasan. Baru pada tahun 2010, pemilu yang selama ini tertunda-tunda akhirnya bisa dilaksanakan.

Berdasarkan pemilu presiden yang dilaksanakan pada bulan November 2010, Alassane Ouattara yang merupakan kandidat favorit dari komunitas Muslim berhasil keluar sebagai pemenang, mengalahkan Laurent Gbagbo yang saat itu masih menjabat sebagai presiden Pantai Gading. Namun bukannya mengakui kemenangan rivalnya, Gbagbo justru menolak turun dari tahtanya & melancarkan tuduhan bahwa hasil pemilu tersebut tidak sah karena adanya manipulasi hasil pemilu di Pantai Gading bagian utara, daerah yang kebetulan mayoritasnya memang merupakan pendukung Ouattara.

Pengamat yang diutus PBB sendiri menyatakan bahwa walaupun manipulasi hasil pemilu memang terjadi, namun jumlahnya dianggap tidak signifikan & tidak akan mengubah hasil akhir dari pemilu. Selain PBB, organisasi-organisasi multinasional Afrika seperti Uni Afrika & ECOWAS - organisasi yang beranggotakan negara-negara Afrika barat - juga menyatakan pengakuannya atas kemenangan Ouattara. Tak lama berselang, konflik sipil pun mulai merebak antara pasukan pemerintah & simpatisan Gbagbo melawan simpatisan Ouattara sehingga pecahnya kembali perang sipil menjadi tak terhindarkan.


Pasukan PBB di Abidjan. (Sumber)


BERJALANNYA PERANG SIPIL KEDUA

Sejak akhir tahun 2010, konflik sipil mulai timbul antara pasukan pemerintah & simpatisan Gbagbo melawan simpatisan Ouattara di mana aparat pemerintah Pantai Gading dilaporkan melakukan penyiksaan & pembunuhan kepada para simpatisan Ouattara. Ketika tahun berganti, konflik menjadi semakin panas setelah para simpatisan Gbagbo menyerang tentara perdamaian PBB. Merespon situasi tersebut, PBB pun memerintahkan pengiriman 2.000 tentara tambahan ke Pantai Gading.

Ouattara selaku pentolan kubu oposisi & presiden Pantai Gading yang diakui dunia internasional menyatakan bahwa satu-satunya cara mengakhiri konflik adalah dengan cara melengserkan paksa Gbagbo dari kursi kepresidenannya. Maka, konflik antara pasukan pemerintah Pantai Gading melawan pasukan FN pun tak lagi terhindarkan. Dalam perkembangannya, pasukan FN terlihat berada di atas angin setelah mereka berhasil merebut kota Zouan Hounien, Binhouye, & Touleplou yang terletak di dekat perbatasan Liberia pada akhir Februari 2011.

Bulan Maret 2011, FN mengganti namanya menjadi Force Republicaines de Cote d'Ivoire (FRCI; Pasukan Republik Pantai Gading) untuk menunjukkan bahwa mereka adalah tentara resmi dari pemerintahan Pantai Gading versi Ouattara. Tak lama kemudian, FRCI melancarkan serangan besar-besaran ke seantero Pantai Gading untuk merebut kota-kota yang masih dikuasai Gbagbo & simpatisannya. Pertempuran sengit pun tak terelakkan di mana hasilnya, pasukan RCFI berhasil menguasai kota-kota penting seperti Daloa, ibukota Yamauossoukro, & kota pelabuhan San Pedro, sebelum kemudian bertolak ke Abidjan, kota terbesar Pantai Gading.

Pasukan FRCI. (Sumber)

Tanggal 31 Maret 2011, pasukan FRCI menyerbu Abidjan dari berbagai penjuru. Pasukan pro-Gbagbo awalnya berusaha melawan sekuat tenaga, namun pada akhirnya mereka berhasil didesak hingga akhirnya terpaksa berkumpul di sekitar Istana Kepresidenan untuk menjadi barikade pertahanan terakhir bagi Gbagbo. Di hari yang sama, pertempuran juga pecah antara pasukan PBB & Prancis melawan pasukan pro-Gbagbo setelah markas & iring-iringan kendaraan PBB mendapat serangan lebih dulu dari pasukan pro-Gbagbo.

Awal Maret 2011, pasukan PBB merebut bandara internasional Abidjan dari tangan pasukan pro-Gbagbo. Bandara tersebut lalu digunakan sebagai tempat mendarat bagi pasukan tambahan Prancis yang baru tiba di Pantai Gading. Di bulan yang sama, pasukan udara PBB & Prancis juga melakukan serangan-serangan udara ke pangkalan militer & persenjataan berat milik pasukan pro-Gbagbo. Di tempat lain, pada tanggal 5 April 2011 pasukan FRCI berhasil merebut Istana Kepresidenan, namun Gbagbo ternyata tidak berada di sana.

Tanggal 11 Maret 2011, Gbagbo akhirnya tertangkap setelah pasukan FRCI yang dibantu oleh kendaraan berat & helikopter tempur milik Prancis melakukan serangan ke rumahnya. Selain Gbagbo, pasukan FRCI juga berhasil menangkap istri & anak Gbagbo beserta puluhan tentara pengawal Gbagbo. Gbagbo & orang-orang dekatnya lalu dibawa ke Hotel Golf yang dijaga oleh pasukan PBB & selama ini menjadi kantor pemerintahan sementara bagi Ouattara. Dengan ditangkapnya Gbagbo, perang sipil Pantai Gading ke-2 yang sudah berlangsung selama beberapa bulan pun berakhir dengan kemenangan Ouattara & sekutunya.


Rombongan pengungsi di Abobo, Abidjan bagian utara. (Sumber)


KONDISI PASCA PERANG

Perang sipil Pantai Gading ke-2 mengakibatkan sekitar 3.000 orang kehilangan nyawanya di mana mayoritas dari korban tewas adalah warga sipil. Selain korban tewas, perang sipil Pantai Gading juga mengakibatkan ratusan ribu orang menjadi tuna wisma. Sebagian dari mereka ada yang kemudian memilih untuk mengungsi ke negara-negara tetangga Pantai Gading seperti Ghana & Liberia.

Pasca berakhirnya perang, FRCI selaku kubu pemenang perang dirombak menjadi angkatan bersenjata Pantai Gading yang baru - menggantikan angkatan bersenjata sebelumnya yang dianggap masih loyal pada Gbagbo. Namun walaupun perang sipil sudah berakhir, masalah-masalah pasca perang masih tetap mengendap.

Sebagai contoh, proses pengadilan pasca konflik dianggap terlalu berat sebelah karena tidak ada satu pun simpatisan Ouattara yang dijatuhi hukuman. Para simpatisan Gbagbo di lain pihak sudah ratusan orang yang dijatuhi hukuman. Untuk urusan keamanan, Pantai Gading juga masih bergantung kepada ribuan pasukan perdamaian PBB. Pada akhirnya, hanya waktu & kesungguhan dari rakyat Pantai Gading sendiri yang akan menentukan, apakah negara tersebut bisa meraih kembali predikat kemakmurannya yang hilang akibat perang.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG SIPIL KEDUA

Waktu & Lokasi Pertempuran
- Waktu : 2010 - 2011
- Lokasi : Pantai Gading

Pihak yang Bertempur
(Negara)  -  Pantai Gading
(Grup)  -  COJEP, milisi-milisi pro-pemerintah
       melawan
(Grup)  -  FN / FRCI
(Negara)  -  Prancis, anggota kontingen PBB

Hasil Akhir
- Kemenangan FN / FRCI & sekutunya
- Alassane Ouattara menjadi presiden baru Pantai Gading
- FRCI dirombak menjadi tentara nasional Pantai Gading yang baru

Korban Jiwa
Sekitar 3.000 orang



REFERENSI

CNN - What's causing the conflict in Ivory Coast?
CNN - What's causing the conflict in Ivory Coast? - Page 2
CNN - What's causing the conflict in Ivory Coast? - Page 3
France 24 - First-ever video proof documenting murder....
GlobalSecurity.org - Ivory Coast Conflict - 2002
GlobalSecurity.org - Ivory Coast Conflict - 2003
GlobalSecurity.org - Ivory Coast Conflict - 2004
GlobalSecurity.org - Ivory Coast Conflict - 2005-2006
GlobalSecurity.org - Ivory Coast Conflict - 2007-2009
GlobalSecurity.org - Ivory Coast Conflict - 2010
GlobalSecurity.org - Ivory Coast Conflict - 2011
Time - A Year After the War: Promise and Peril in Ivory Coast
Wikipedia - First Ivorian Civil War
Wikipedia - Ivory Coast
Wikipedia - Second Ivorian Civil War

 




COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

4 komentar:

  1. Semoga perang saudara di pantai gading segera usai.

    BalasHapus
  2. sebaik konplek sgr berahir agar kedua belah pihak segera melakukan perundingan damai klalau tidak negara pantai gading akan kehilangan generasi penerus dari negara itu

    BalasHapus
  3. Saya dapat email dari pengungsian perang saudara dari pantai gading tapi ngungsinya di Senegal di apakah termasuk modus walaupun dia tinggal di gereja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kemungkinan besar itu modus penipuan juga. Lagipula lokasi Senegal & Pantai Gading itu berjauhan. Kalau orangnya bisa menetap di tempat sejauh itu hingga beberapa tahun sesudah perangnya selesai, maka seharusnya statusnya sudah bukan lagi pengungsi.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.