Pertempuran Agincourt, Arena Kedigdayaan Longbow Inggris



Pasukan Inggris dalam Pertempuran Agincourt. (Sumber)

Longbow (busur panjang) adalah nama dari sejenis busur yang memperoleh nama demikian sebagai akibat dari ukurannya yang memang lebih panjang dibandingkan busur kebanyakan. Bayangkan saja, panjang busur ini bisa mencapai 1,8 m yang berarti dalam posisi tegak, busur ini memiliki tinggi yang sama dengan orang dewasa! Bukan tanpa alasan longbow memiliki desain demikian. Ukurannya yang panjang membuat busur ini juga memiliki tali busur yang panjang sehingga ketika talinya dilentingkan, daya dorong & jarak tembak dari anak panah yang dilepaskannya juga lebih besar.

Longbow merupakan senjata yang lazim digunakan oleh pasukan pemanah Inggris pada Abad Pertengahan di mana Pertempuran Agincourt menjadi salah satu saksi bisu mengenai kehebatan senjata ini. Pertempuran Agincourt (Battle of Agincourt; Bataille d'Azincourt) adalah sebutan untuk pertempuran yang mengambil tempat di Azincourt, Perancis utara, pada tanggal 25 Oktober 1415.

Dalam pertempuran ini, pasukan Inggris yang kalah jumlah & didominasi oleh prajurit pemanah terlibat konflik dengan pasukan Perancis yang jumlahnya lebih banyak. Hebatnya, pasukan Inggris berhasil keluar sebagai pemenang dengan memanfaatkan jarak tembak longbow yang jauh & kondisi medan tempur yang sempit.



LATAR BELAKANG

Pertempuran Agincourt merupakan 1 dari sekian banyak konflik bersenjata yang menjadi bagian dari Perang Ratusan Tahun (Hundred Years War) di abad ke-13 hingga abad ke-14 antara Kerajaan Inggris melawan Kerajaan Perancis. Pasca wafatnya raja Perancis, Charles IV, di tahun 1328 tanpa sempat meninggalkan anak laki-laki, Edward III selaku raja Inggris mengklaim dirinya sebagai pewaris tahta yang sah karena ibunya merupakan saudara kandung Charles IV.

Adapun selain Edward III, pihak lain yang juga mengklaim dirinya sebagai pewaris tahta yang sah adalah Philip dari Valois, cucu Charles IV. Adalah Philip dari Valois yang akhirnya naik menjadi raja baru Perancis dengan gelar Philip VI pasca rapat parlemen Perancis yang beranggotakan para pemuka agama & bangsawan setempat.

Peta lokasi Agincourt / Azincourt. (Sumber)

Edward III awalnya menerima keputusan parlemen Perancis dengan lapang dada. Namun setelah Philip VI mengambil paksa daerah Guyenne, Perancis selatan, yang saat itu berstatus sebagai daerah sekutu Inggris, Edward III menjadi marah & kemudian memerintahkan invasi militer ke Perancis pada tahun 1337 sehingga pecahlah Perang Ratusan Tahun. Selama perang berlangsung, Inggris beberapa kali berganti raja di mana yang memimpin Inggris sejak tahun 1413 adalah Henry V.

Awalnya Henry V mengajukan tawaran ke Perancis kalau negaranya akan berhenti melanjutkan perang jika Perancis bersedia membiarkan Henry V menikah dengan putri mahkota Perancis & menanggung biaya mas kawinnya. Ketika Perancis menolak, Henry V beserta pasukannya pun kemudian berangkat ke Perancis & tiba di sana pada bulan Agustus 1415.

Tak lama usai mendarat, pasukan Inggris langsung mengepung kota pelabuhan Harfleur. Walaupun kota tersebut pada akhirnya berhasil ditaklukkan, Inggris harus kehilangan banyak prajuritnya. Ketika Henry V memimpin pasukannya menuju benteng Inggris di Calais, Perancis utara, para prajurit Inggris yang masih tersisa sebagiannya juga harus ditempatkan di Harfleur sehingga jumlah prajurit yang menemani Henry V pun jadi semakin sedikit. Sial bagi Henry V karena sebelum berhasil mencapai Calais, ia & pasukannya keburu dicegat lebih dulu oleh pasukan Perancis di Azincourt.

Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah prajurit Inggris & Perancis di medan tempur, namun semua sejarawan sepakat kalau pasukan Inggris kalah jumlah dalam pertempuran ini. Menurut Encyclopaedia Britannica, pasukan Inggris hanya berjumlah 5.900 personil di mana 5.000 di antaranya adalah pasukan pemanah, sementara prajurit Perancis berjumlah 4-5 kali lebih banyak & komposisi pasukannya turut diisi oleh prajurit berkuda. Selain kalah jumlah, pasukan Inggris juga sedang berada dalam kondisi kelelahan akibat menempuh perjalanan selama berhari-hari & hanya memiliki sedikit persediaan makanan. Sadar kalau dirinya tidak punya pilihan lain, Henry V pun memilih untuk meladeni pasukan Perancis.


Pasukan kavaleri Perancis.


BERJALANNYA PERTEMPURAN

Daerah yang menjadi arena Pertempuran Agincourt adalah tanah sempit & berlumpur yang diapit oleh hutan Azincourt & Tramecourt. Kondisi medan macam ini membawa keuntungan bagi pasukan Inggris karena terbatasnya ruang terbuka membuat prajurit Perancis tidak bisa maju secara serempak & memanfaatkan keunggulan jumlahnya secara maksimal. Bukan hanya itu, kondisi tanah yang berlumpur juga menyulitkan pasukan Perancis - utamanya yang memakai baju zirah lengkap - yang didominasi oleh prajurit jarak dekat untuk bergerak cepat menuju sasarannya. Berbeda dengan pasukan Inggris yang didominasi oleh pasukan pemanah yang bisa menyerang targetnya dari kejauhan.

Ketika fajar menyingsing pada tanggal 25 Oktober 1415, pertempuran legendaris itu akhirnya dimulai. Awalnya pasukan Inggris yang lebih dulu maju, namun mereka langsung berhenti tepat setelah mereka merasa kalau pasukan Perancis sudah berada dalam jangkauan panah mereka. Pasukan pemanah Inggris lalu menancapkan tombak-tombak kayu dalam posisi miring ke depan supaya pasukan Perancis yang nekat menerjang ke arah mereka langsung mati tertusuk. Tak lama berselang, langit berubah menjadi gelap ketika pasukan pemanah Inggris melepaskan anak panahnya. Kegelapan yang tidak lain disebabkan oleh ribuan anak panah yang melayang di udara - sebelum kemudian menukik ke arah ribuan tentara Perancis.

Pasukan Perancis tersentak, namun mereka masih memiliki sisa-sisa kekuatan yang lebih dari cukup untuk menyerang balik. Para prajurit berkuda alias kavaleri Perancis berlari ke depan untuk menerjang setiap prajurit Inggris yang ada di depannya. Namun apakah itu berhasil? Ternyata tidak. Sebagian dari kavaleri tersebut menunggangi kuda-kuda yang sudah terluka akibat hujaman panah Inggris sehingga mereka jadi sulit dikendalikan & malah membahayakan sesama prajurit Perancis di dekatnya. Sementara mereka yang menunggangi kuda-kuda yang masih bugar juga dihadapkan pada resiko terbunuh oleh tombak kayu & panah Inggris. Bukan hanya itu, kondisi tanah yang berlumpur membuat pasukan kavaleri Perancis tidak bisa memanfaatkan kecepatannya.

Peta Pertempuran Agincourt. (Sumber)

Gagal melumpuhkan pasukan Inggris dengan taktik terjangan pasukan berkuda, sisa-sisa kavaleri Perancis terpaksa mundur & melanjutkan pertempuran tanpa memakai kuda. Bersama mereka, pasukan infantri Perancis yang memakai baju zirah lengkap turut bergabung untuk membentuk lautan manusia yang mengombak menuju posisi pasukan Inggris. Pasukan Inggris lantas meresponnya dengan cara menghujani pasukan Perancis dengan anak panah. Banyak prajurit Perancis yang terjatuh & kemudian mati terinjak-injak, namun tidak sedikit dari mereka yang cukup beruntung untuk berhadap-hadapan secara langsung dengan prajurit Inggris.

Pertempuran kini memasuki fase pergumulan alias pertarungan jarak dekat. Kelelahan akibat harus berlari memakai baju zirah yang berat sambil melintasi lumpur, para prajurit Perancis bergelimpangan 1 demi 1. Ketika para pemanah Inggris akhirnya kehabisan anak panah, situasi tidak lantas membaik bagi Perancis karena para pemanah tersebut langsung melanjutkan pertempuran dengan memakai kapak & pedang. Hasilnya, ketika hari sudah siang, Pertempuran Agincourt pun berakhir dengan kemenangan gemilang pasukan Inggris. Sebagian prajurit Perancis yang masih hidup ditahan oleh Inggris, sementara sebagian lainnya melarikan diri begitu melihat kalau pasukannya sudah tidak berpeluang lagi untuk memenangkan pertempuran.



KONDISI PASCA PERTEMPURAN

Para prajurit Perancis yang ditahan oleh Inggris tidak bertahan hidup lebih lama setelah mereka dieksekusi secara massal oleh Inggris. Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi karena Henry V khawatir kalau para tahanan tersebut bakal memberontak di kemudian hari, mengingat mereka berjumlah cukup banyak & pasukan Inggris juga sedang berada dalam kondisi kelelahan. Berkat kemenangan di Azincourt, Henry V beserta pasukannya pun kini bisa melanjutkan perjalanan ke Calais seperti yang awalnya sudah direncanakan. Dari Calais, Henry V kemudian berlayar pulang ke Inggris & disambut secara gegap-gempita oleh para bangsawan Inggris.

Raja Inggris, Henry V. (Sumber)

Pertempuran Agincourt merupakan salah satu pertempuran yang paling dikenang dalam sejarah Abad Pertengahan Inggris karena pasukan Inggris yang berada dalam posisi tidak ideal ternyata sukses membukukan kemenangan meyakinkan atas lawannya. Banyak karya seni bertema Pertempuran Agincourt & Raja Henry V yang dibuat setelah itu di mana salah satu yang paling terkenal dibuat oleh seniman kondang Willian Shakespeare. Di luar aspek seni, Pertempuran Agincourt juga turut melambungkan reputasi longbow sebagai salah satu senjata jarak jauh yang paling disegani pada masanya.

Menang dalam pertempuran, kalah dalam peperangan. Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi Inggris dalam Perang Ratusan Tahun. Kemenangan dalam Pertempuran Agincourt ternyata tidak serta membuat Inggris keluar sebagai pemenang dalam Perang Ratusan Tahun. Berawal dari wafatnya Henry V pada tahun 1422 yang kemudian diikuti dengan pecahnya Perang Mawar di Inggris & munculnya sosok kharismatik Joan dari Arc (Jeanne d' Arc) di Perancis, situasi di medan perang pun mulai berbalik & Inggris harus kehilangan hampir seluruh wilayahnya di Perancis pada tahun 1453 yang juga merupakan tahun berakhirnya Perang Ratusan Tahun.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERTEMPURAN

Waktu & Lokasi Pertempuran
- Waktu : 25 Oktober 1415
- Lokasi : Azincourt, Perancis

Pihak yang Bertempur
(Negara)  -  Inggris
        melawan
(Negara)  -  Perancis

Hasil Akhir
Kemenangan pihak Inggris

Korban Jiwa
- Inggris : 112 jiwa
- Perancis : 8.000 jiwa



REFERENSI

BritishBattles.com - The Battle of Agincourt
The Guardian - Agincourt was a battle like no other....
Wikipedia - Battle of Agincourt
 - . 2008. "Hundred Years' War". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
 - . 2008. "Longbow". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

 





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.