SEJARAH        FAUNA         HIBURAN          Cari Artikel  →

PKK, Legiun Kurdi yang Dimusuhi Turki



(Sumber)

Kurdi adalah nama dari etnis asal Timur Tengah yang populasinya mencapai lebih dari 30 juta jiwa. Populasi mereka tersebar di Turki, Suriah, Irak, Iran, & Armenia. Dalam ranah etnonasionalisme (nasionalisme berbasis kesamaan etnis), Kurdi kerap dipandang sebagai ironi karena meskipun mereka memiliki populasi berjumlah besar, etnis Kurdi hingga sekarang justru tidak memiliki negara merdekanya sendiri. Hal tersebut lantas menjadi salah satu penyebab munculnya PKK, kelompok separatis Kurdi yang berasal dari Turki.

PKK adalah kepanjangan dari "Partiya Karkeren Kurdistane‎", bahasa Kurdi untuk "Partai Pekerja Kurdistan" (Kurdistan Workers' Party). Kelompok yang pertama kali aktif melakukan pemberontakan bersenjata pada tahun 1984 ini memiliki cita-cita mendirikan negara khusus etnis Kurdi di wilayah Turki tenggara. Karena PKK tidak segan-segan menggunakan taktik pembunuhan membabi buta kepada warga sipil, PKK pun kini dikategorikan sebagai kelompok teroris di banyak negara. Sebanyak lebih dari 45.000 orang dikabarkan menjadi korban tewas selama berlangsungnya konflik antara PKK melawan militer Turki.

PKK sudah menjalankan pemberontakan bersenjata selama lebih dari 3 dekade & masih berlanjut hingga sekarang. Keberhasilan PKK tersebut tidak lepas dari kondisi geopolitik Timur Tengah yang tidak stabil & banyaknya sumber logistik yang mereka miliki. Mereka kerap menggunakan wilayah milik negara-negara tetangga Turki sebagai markas rahasia. Saat Perang Dingin masih berlangsung, PKK dikabarkan menerima bantuan dari Uni Soviet, Bulgaria, Suriah, & orang-orang Kurdi yang tinggal di luar Turki. Para anggota PKK dikabarkan juga terlibat dalam aktivitas ilegal seperti perdagangan narkoba & penyelundupan manusia.


Peta wilayah berpenduduk mayoritas Kurdi. (Sumber)


LATAR BELAKANG

Kurdi adalah etnis minoritas terbesar di Turki. Berdasarkan hasil survei yang dirilis pada tahun 2013, sebanyak lebih dari 17 persen penduduk negara Turki diketahui berasal dari etnis Kurdi. Populasi mereka terkonsentrasi di wilayah tenggara & timur Turki yang juga dikenal sebagai wilayah "Kurdistan Turki". Saat wilayah Turki masih berada di bawah kendali Kesultanan Ottoman, penduduk Kurdi memiliki kebebasan cukup luas dalam mengelola daerahnya sendiri. Namun situasi tidak berlanjut menyusul runtuhnya Ottoman & berdirinya Republik Turki pada tahun 1923.

Karena Republik Turki didirikan dengan berlandaskan pada sentimen nasionalisme bangsa Turki, rezim baru tersebut banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mengistimewakan etnis Turki. Sebagai contoh, bahasa Turki menjadi satu-satunya bahasa resmi yang boleh digunakan di bidang administrasi & pendidikan. Kota & perkampungan yang awalnya menggunakan nama berbau Kurdi diubah menjadi berbau Turki. Pemerintah Turki juga menolak mengakui keberadaan etnis Kurdi secara resmi & lebih suka menyebut penduduk Kurdi sebagai "orang Turki pegunungan".

Abdullah Ocalan. (Sumber)
Hal tersebut jelas menuai rasa tidak suka dari penduduk Kurdi sehingga mereka pun beberapa kali melakukan pemberontakan. Antara tahun 1924 hingga 1938, tercatat ada 16 pemberontakan yang pernah dilakukan oleh etnis Kurdi di Turki. Untuk meredam pemberontakan, pasukan Turki tidak segan-segan menggunakan metode tangan besi. Pada tahun 1936 hingga 1939 misalnya, sebanyak 13.000 orang Kurdi harus kehilangan nyawanya setelah pasukan Turki melakukan serangan membabi buta di wilayah Dersim dengan memakai bom pesawat & gas beracun.

Memasuki tahun 1970-an, seiring dengan kian meruncingnya Perang Dingin, mulai banyak kaum pemuda Turki yang menunjukkan ketertarikan akan paham sayap kiri. Kebetulan Turki merupakan negara anggota Blok Barat yang notabene antipati terhadap ideologi kiri. Abdullah Ocalan adalah satu dari sekian banyak pemuda Turki berdarah Kurdi yang menunjukkan ketertarikan akan ideologi kiri. Maka, pada tahun 1974 Ocalan & teman-temannya mendirikan kelompok yang kelak bakal menjadi cikal bakal PKK.

Tahun 1980, timbul kudeta militer di Turki. Pasca kudeta tersebut, tekanan terhadap etnis Kurdi yang tinggal di Turki semakin menghebat. Bahasa Kurdi tidak boleh digunakan sama sekali di ruang publik, termasuk oleh surat kabar swasta. Kemudian keluarga etnis Kurdi juga dilarang memberikan nama yang berbau Kurdi kepada anaknya. Melihat perkembangan situasi tersebut, Ocalan & para pengikutnya lantas memutuskan bahwa sudah waktunya mereka beralih ke metode perjuangan bersenjata demi melindungi hak-hak etnis Kurdi.

Karena menggunakan wilayah Turki sebagai markas rahasia terlalu berbahaya, PKK pun terpaksa mendirikan markas di Lembah Bekaa (wilayah di Lebanon timur yang saat itu sedang dikuasai oleh militer Suriah) pada tahun 1982. Suriah membiarkan PKK mendirikan markas di Lembah Bekaa karena Suriah memiliki hubungan yang kurang baik dengan Turki akibat masalah sengketa Hatay, wilayah milik Turki yang letaknya paling selatan. Selain di Lebanon, PKK juga memiliki markas rahasia di Irak & Iran yang notabene memiliki populasi etnis Kurdi berjumlah besar.



AKTIVITAS PKK

Bertikai Melawan Turki & Kurdi


Logo PKK. (Sumber)
Tahun 1984, pasukan PKK melakukan serangan ke pos militer Turki yang terletak di dekat perbatasan Iran. Serangan tersebut sekaligus menandai dimulainya fase perlawanan bersenjata PKK. Untuk menanggapi pemberontakan PKK, selain menerjunkan militernya ke wilayah berpenduduk mayoritas Kurdi, sejak tahun 1985 pemerintah Turki mendirikan kelompok milisi "Korucular" (Garda Desa) yang anggotanya berasal dari orang-orang Kurdi. Mereka ditugaskan melindungi perkampungan mereka dari ancaman PKK.

Tindakan Turki mendirikan Korucular menjadi salah satu alasan mengapa PKK dalam perkembangannya juga menargetkan sesama orang Kurdi. Alasan lain kenapa PKK menyerang orang-orang Kurdi di luar kelompoknya adalah karena PKK merupakan kelompok penganut aliran sayap kiri yang notabene menentang konsep pembedaan berdasarkan kelas sosial. Sementara di wilayah Kurdistan Turki, konsep kepemilikan tanah menyerupai feodalisme masih banyak berlangsung di mana lahan-lahan luas di Kurdistan Turki umumnya dimonopoli oleh kaum tuan tanah setempat (aga).

Karena PKK kalah jauh dalam hal kekuatan militer, PKK menggunakan taktik gerilya untuk melemahkan militer Turki. Saat konvoi pasukan Turki melakukan patroli di kawasan pelosok, pasukan PKK akan menunggu konvoi tadi lewat & kemudian menyergapnya. Ranjau & jebakan berbahan peledak dipasang di lokasi-lokasi tertentu. Kemudian untuk memberikan efek jera kepada warga sipil Kurdi yang dianggap bekerja sama dengan aparat Turki, PKK akan menyerang desa tersebut & kemudian membantai penduduknya.

Saat aksi perlawanan yang dilakukan oleh PKK semakin menghebat, pada tahun 1987 pemerintah Turki memberlakukan hukum darurat militer di 6 provinsi Turki yang terletak di sebelah tenggara. Via hukum darurat militer ini, militer Turki memiliki kebebasan penuh untuk melarang masuknya awak media & merelokasi paksa warga sipil ke tempat lain yang berpengamanan tinggi. Masa darurat militer tersebut berlangsung hingga tahun 1997.

Pasukan Turki. (Sumber)
Hukum darurat militer tadi di sisi lain membuat militer Turki kerap bertindak semaunya sendiri. Dalam sejumlah kasus, militer Turki akan membunuh warga sipil Kurdi & menghancurkan desanya, kemudian menyalahkan PKK sebagai pelaku pembantaian tersebut. Pada bulan Maret 1994 misalnya, sebanyak 38 warga sipil Kurdi di desa Kuskonar & Kocagili tewas akibat serangan militer Turki.

Pemerintah Turki menyalahkan PKK sebagai pelaku serangan tersebut, namun pernyataan tersebut tidak dipercaya oleh para korban selamat yang mengaku sempat mendengar suara pesawat jet melintas tepat sebelum serangan terjadi. Saat Pengadilan HAM Eropa di Strasbourg, Perancis, turut dilibatkan untuk menangani kasus ini, militer Turki divonis sebagai pelaku asli penyerangan tersebut & diharuskan membayar ganti rugi sebanyak 2,3 juta euro kepada para korban selamat yang kehilangan sanak familinya.


Terlibat Perang di Irak

Sementara itu di sebelah selatan Turki, timbul Perang Teluk antara militer Irak melawan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) pada tahun 1991. Untuk melemahkan kekuatan militer Irak, pasukan koalisi memberlakukan zona larangan terbang (no fly zone). Pemberlakuan larangan terbang tersebut membuat militer Irak tidak bisa lagi menggunakan angkatan udaranya. Situasi tersebut lantas dimanfaatkan oleh PKK untuk menyelinap ke Irak utara & memperkuat kedudukannya di sana.

Tahun 1997, timbul perang antar sesama kelompok Kurdi di Irak utara antara kelompok KDP melawan kelompok PUK. Dalam perang saudara Kurdi ini, PKK ikut terlibat sebagai sekutu PKK karena PUK berjanji tidak akan mengusir PKK keluar Irak. Melihat situasi tersebut, pasukan Turki lantas menerobos masuk ke wilayah Irak untuk membantu KDP & mengalahkan PKK. Perang antara KDP & PUK secara resmi berakhir pada tahun 1998 setelah keduanya sepakat untuk membagi wilayah Kurdistan Irak menjadi 2 wilayah kekuasaan. Keduanya juga sepakat untuk melarang PKK beroperasi di wilayah Irak.

Sukses memastikan kalau PKK tidak akan bisa lagi beroperasi di Irak secara aman, pemerintah Turki kini memaksa Suriah menempuh langkah serupa karena Suriah selama ini bersedia menampung tokoh-tokoh PKK, salah satunya Ocalan selaku pemimpin PKK. Tidak tanggung-tanggung, Turki sampai mengancam bakal menginvasi Suriah jika Suriah enggan menuruti permintaan Turki. Akibat keluarnya ancaman tersebut, pemerintah Suriah pun memerintahkan Ocalan untuk segera pergi meninggalkan Suriah pada tahun 1998.

Kondisi pasca serangan bom oleh PKK di
kota Midyat pada tahun 2016. (Sumber)
Terusir dari Suriah, Ocalan kini menjadi buronan internasional. Keinginan Turki untuk menangkap Ocalan akhirnya terwujud setelah pada tahun 1999, Ocalan ditangkap di kota Nairobi, Kenya. Dari sana, Ocalan kemudian diterbangkan ke Turki & diadili. Pada awalnya Ocalan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Turki. Namun setelah pemerintah Turki menghapuskan pasal hukuman mati supaya bisa diterima menjadi anggota baru organisasi Uni Eropa, hukuman untuk Ocalan kemudian direvisi menjadi hukuman penjara seumur hidup.

Saat berada dalam tahanan, Ocalan memerintahkan kepada anggota PKK untuk berhenti melanjutkan pemberontakan & fokus memperjuangkan otonomi untuk wilayah Kurdi. Permintaan Ocalan tersebut dituruti oleh PKK yang kemudian mengumumkan gencatan senjata pada bulan September 1999. Tahun 2002, PKK mengganti namanya menjadi KADEK & mengumumkan kalau pihaknya kini bakal menempuh jalur damai untuk memperjuangkan hak-hak etnis Kurdi. Setahun kemudian, PKK kembali mengganti namanya menjadi Kongra-Gel.

Meskipun PKK / Kongra-Gel mengaku kalau mereka hanya akan menempuh jalur damai untuk memperjuangkan kepentingannya, kelompok tersebut enggan membubarkan sayap militernya & membiarkan persenjataannya dilucuti. Sebagai akibatnya, sejak tahun 2004 pemerintah AS menetapkan Kongra-Gel sebagai kelompok teroris. Kongra-Gel sendiri akhirnya benar-benar kembali beralih ke jalur perlawanan bersenjata setelah pada bulan Juni 2004, kelompok tersebut mengakhiri masa gencatan senjatanya. Setahun kemudian, Kongra-Gel kembali mengganti namanya menjadi PKK.


Musuh Baru Bernama TAK & YPG

Memasuki tahun 2005, muncul aksi-aksi pemboman di kawasan wisata yang terletak di pantai barat Turki. Aksi-aksi tersebut dilakukan oleh Teyrebazen Azadiya Kurdistan (TAK; Elang Kemerdekaan Kurdi), kelompok bersenjata yang terbentuk pada tahun 2004 & beranggotakan para mantan anggota PKK. Saat kondisi keamanan di sebelah barat kian memburuk, pasukan Turki juga masih harus bersusah payah menjinakkan perlawanan PKK di Turki tenggara. Pada tahun 2006 saja, ada lebih dari 500 korban tewas akibat serangan PKK.

Pemerintah Turki sendiri sadar kalau PKK tidak bisa dikalahkan dengan jalur militer semata. Maka, sebagai cara untuk menarik simpati PKK & komunitas Kurdi secara umum, pada tahun 2010 memperbolehkan kembali penggunaan bahasa Kurdi di stasiun televisi swasta. Kemudian universitas-universitas diperbolehkan membuka kelas berbahasa Kurdi. Jumlah pos militer & pos pemeriksaan di Kurdistan Turki juga dikurangi. Namun sayangnya upaya tersebut tetap tidak berhasil meredam pemberontakan yang dilakukan oleh PKK.

Pasukan YPG Suriah. (Sumber)
Tahun 2011, pecah perang saudara di Suriah antara pemerintah Suriah melawan kelompok-kelompok pemberontak anti-pemerintah. Saat kondisi keamanan di Suriah kian tidak menentu, komunitas Kurdi yang populasinya terkonsentrasi di Suriah utara lantas memutuskan untuk mendirikan kelompok bersenjatanya sendiri. Kelompok tersebut adalah Yekineyen Parastina Gel (YPG; Unit Perlindungan Rakyat) di mana tujuan terbentuknya YPG adalah untuk melindungi etnis Kurdi Suriah dari ancaman kelompok bersenjata lainnya.

Meletusnya perang sipil Suriah yang diikuti dengan kemunculan YPG membuat pemerintah Turki merasa gelisah. Pasalnya pemerintah Turki merasa khawatir kalau PKK bakal memanfaatkan wilayah kekuasaan YPG untuk menyelundupkan persenjataan & logistik. Saat ISIS muncul sebagai ancaman baru di Irak & Suriah, pemerintah Turki tetap bersikeras menganggap kalau PKK lebih berbahaya dibandingkan ISIS. Itulah sebabnya ketika pada tahun 2014 terjadi pertempuran sengit antara pasukan ISIS melawan pasukan Kurdi di Kobani, Suriah utara, militer Turki lebih memilih untuk melakukan pemboman ke markas-markas rahasia milik PKK di Turki tenggara.

Selama perang sipil di Suriah berlangsung, YPG menerima bantuan senjata & pelatihan dari negara-negara Barat karena mereka menganggap YPG sebagai sekutu yang bisa diandalkan untuk menumpas ISIS. Hal tersebut ganti menuai rasa tidak suka dari Turki yang menganggap kalau YPG aslinya adalah bagian dari PKK, kelompok yang oleh negara-negara Barat masih dikategorikan sebagai kelompok teroris. Pada tahun 2017, pemerintah Turki memperingatkan kalau pihaknya tidak segan-segan mengirimkan pasukan ke Suriah untuk menumpas YPG / PKK jika hal tersebut memang harus dilakukan.

Bulan Oktober 2019, pasukan Turki akhirnya benar-benar melakukan invasi ke wilayah Suriah utara untuk menguasai wilayah-wilayah yang selama ini dikuasai oleh YPG. Selain untuk menjauhkan YPG dari perbatasan Turki, Turki berencana mengubah wilayah tersebut sebagai tempat untuk menampung jutaan pengungsi Suriah yang menyeberang ke wilayah Turki. Dengan melihat masih kacaunya kondisi di Suriah & sekitarnya, nampaknya konflik antara PKK melawan Turki yang sudah berlangsung selama puluhan tahun masih belum akan berakhir dalam waktu dekat.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



BIODATA

Nama resmi : Partiya Karkeren Kurdistane‎
Tahun aktif : 1984 - sekarang
Area operasi : Turki, Suriah, Irak
Ideologi : nasionalisme Kurdi



REFERENSI

BBC News - Turkey PM Erdogan apologises for 1930s Kurdish killings
BBC News - Turkey's Syria offensive explained in four maps
BBC News - Who are Kurdistan Workers' Party (PKK) rebels?
FAS -  III. International Sources of Support
GlobalSecurity.org - Kongra-Gel / Kurdistan Workers' Party (PKK)
Human Right Watch - Restrictions on the Use of the Kurdish Language
Hurriyet Daily News - Turkey fined 2.3 mln euros for killing of....
Refworld - Turkey: The Kurdistan Workers' Party (PKK)
The New York Times - Turkish Airstrike Hits Kurds, Complicating....
TRT World - A timeline of the PKK's war on Turkey: 1974-2019
Wikipedia - Iraqi Kurdish Civil War
C. Ovyat & H. Tekguc. 2017. "Double Squeeze on Educational Development". (file PDF)





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Download PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.