SEJARAH FAUNA HIBURAN Cari.Artikel..



Perang Hizbullah-Israel (2006), Saat Lebanon Jadi Tumbal





Pasukan Israel saat menembakkan meriam artileri. (Sumber)

Pernahkah anda mendengar peribahasa "gajah bertarung sama gajah, pelanduk mati di tengah-tengah"? Itu adalah peribahasa yang pada intinya memiliki makna bahwa ketika ada 2 belah pihak yang berperang, maka mereka yang kebetulan ada di lokasi perang bakal ikut menjadi korbannya. Peribahasa tersebut cocok untuk menggambarkan kondisi Lebanon di tahun 2006 yang harus luluh lantak akibat meletusnya Perang Hizbullah-Israel.

Perang Hizbullah-Israel merupakan konflik bersenjata antara kelompok militan Hizbullah yang berbasis di Lebanon melawan angkatan bersenjata Israel. Dalam perang ini, pasukan Israel menginvasi Lebanon dengan dalih ingin menyelamatkan tentaranya yang diculik oleh Hizbullah. Perang ini juga dikenal dengan nama lain "Perang Lebanon Kedua" karena pada dekade 1980-an, pasukan Israel juga pernah menginvasi wilayah Lebanon. Kendati perang ini hanya berlangsung selama sebulan, wilayah Lebanon harus mengalami kerusakan serius seusai perang.



LATAR BELAKANG

Sejak mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1948, Israel kerap terlibat konflik dengan negara-negara Arab tetangganya. Mereka beranggapan pendirian negara Israel dilakukan secara ilegal karena negara Israel didirikan sebelum masalah sengketa antara orang-orang Yahudi & Arab Palestina yang sudah berlangsung sejak permulaan abad ke-20 benar-benar terselesaikan. Hebatnya, kendati berulang kali dikeroyok oleh negara-negara tetangganya, Israel selalu berhasil mempertahankan eksistensinya hingga sekarang.

Selain berkonflik dengan negara-negara tetangganya, Israel juga terlibat konflik dengan aneka macam kelompok bersenjata yang memiliki ambisi meruntuhkan negara Israel. Satu dari sekian banyak kelompok tersebut adalah Hizbullah / Hezbollah (Partai Tuhan), kelompok bersenjata merangkap partai politik yang terbentuk pada dekade 1980-an di Lebanon, negara tetangga Israel di sebelah utara. Hizbullah berdiri saat Israel sedang menduduki wilayah Lebanon selatan dengan dalih ingin mencegah kelompok pejuang kemerdekaan Palestina (PLO) memanfaatkan wilayah Lebanon sebagai markasnya.

Peta lokasi Israel & Lebanon. (Sumber)

Dalam waktu singkat, Hizbullah berhasil tumbuh menjadi ancaman baru bagi Israel karena kelompok tersebut menerima bantuan uang, senjata, serta pelatihan dari Suriah & Iran. Kebetulan baik Iran maupun Hizbullah sama-sama didominasi oleh penganut Islam Syiah. Saat Israel akhirnya menarik mundur hampir selutuh pasukannya dari Lebanon pada tahun 2000, Hizbullah kemudian memperkuat kedudukannya di wilayah Lebanon selatan supaya bisa melancarkan serangan langsung ke wilayah Israel.

Pada tanggal 12 Juli 2006, pasukan Hizbullah menembakkan roket artileri Katyusha ke wilayah Israel. Saat konsentrasi pasukan Israel sedang tersita, pasukan Hizbullah yang lain secara diam-diam menyelinap masuk ke dalam wilayah Israel. Pasukan Hibzullah tersebut kemudian menyerang konvoi pasukan Israel yang sedang berpatroli di perbatasan Israel-Lebanon. Dalam serangan tersebut, pasukan Hizbullah berhasil menewaskan 8 tentara Israel & menculik 2 tentara Israel yang masih hidup. Kedua tentara Israel yang diculik tersebut masing-masingnya bernama Udi Goldwasser & Eldad Regev.

Tidak lama sesudah serangan tadi, Hasan Nasrallah selaku pemimpin Hizbullah merilis pernyataan kalau pihaknya sedang menyandera 2 tentara Israel. Nasrallah kemudian menawarkan kalau pihaknya bakal membebaskan kedua tentara Israel tadi jika pemerintah Israel bersedia membebaskan sejumlah anggota Hizbullah & Hamas - kelompok bersenjata Palestina yang mengusung ideologi Islam - yang sedang ditahan di penjara Israel. Alih-alih menuruti keinginan Nasrallah, Israel justru malah melakukan invasi militer besar-besaran ke wilayah Lebanon, sekaligus menandai dimulainya Perang Hizbullah-Israel.


Kendaraan peluncur roket Katyusha milik Hizbullah. (Sumber)


BERJALANNYA PERANG

Pasca diculiknya 2 tentara Israel, Ehud Olmert selaku perdana menteri Israel menyatakan kalau tindakan Hizbullah tersebut adalah bentuk pernyataan perang. Maka, pesawat-pesawat tempur Israel pun mulai melakukan pemboman ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan yang dicurigai menjadi daerah operasi pasukan Hizbullah. Tidak lama berselang, pasukan darat Israel yang dilengkapi oleh tank menerobos masuk ke wilayah Lebanon & langsung menerima perlawanan sengit dari pasukan Hizbullah yang ada di sana.

Kendati Perang Hizbullah-Israel dipicu oleh insiden diculiknya 2 tentara Israel, ada alasan lain kenapa Israel sampai melakukan invasi skala besar ke wilayah Lebanon. Israel ingin mendapatkan jaminan kalau wilayahnya sesudah ini tidak akan diserang lagi oleh Hizbullah yang menggunakan wilayah Lebanon sebagai markasnya. Israel juga merasa leluasa untuk menginvasi Lebanon yang notabene merupakan negara berdaulat karena adanya keyakinan bahwa selama pasukan AS masih ditempatkan di Irak pasca invasi di tahun 2003, maka selama itu pula tidak akan ada negara Arab yang berani memerangi Israel secara terang-terangan.

Bandara Beirut yang terbakar akibat serangan udara Israel. (Sumber)

Faktanya, selama pasukan Israel menginvasi wilayah Lebanon, militer Lebanon memang tidak melakukan tindakan apa-apa untuk menghentikan invasi oleh negara tetangganya tersebut. Meskipun begitu, pemerintah Lebanon memberikan dukungannya kepada Hizbullah mengingat sebagai partai politik legal di Lebanon, Hizbullah memiliki wakilnya sendiri di parlemen nasional Lebanon. Pada tanggal 17 Juli, Emile Lahoud selaku presiden Lebanon bahkan sampai menyatakan kalau pihaknya tidak akan mengkhianati Hizbullah.

Kembali ke medan perang. Sembari melancarkan invasi dari arah darat & udara ke wilayah Lebanon, pasukan Israel juga melakukan blokade di lepas pantai Lebanon. Tanggal 13 Juli, pasukan udara Israel bahkan sampai melakukan pemboman ke Bandara Internasional Beirut sehingga aktivitas transportasi udara di ibukota Lebanon tersebut mengalami kelumpuhan. Sehari kemudian, pesawat-pesawat Israel melakukan pemboman ke aneka fasilitas umum di Lebanon seperti jembatan, jalan raya, & gudang minyak dengan dalih melumpuhkan jalur logistik Hizbullah.

Walaupun menerima serangan bertubi-tubi, pasukan Hizbullah masih sanggup melancarkan serangan balik. Pada tanggal 15 Juli misalnya, pasukan Hizbullah menembakkan roket ke kota Tiberias di Israel. Serangan tersebut sekaligus menjadi serangan roket terjauh ke wilayah Israel selama berlangsungnya perang. Sebelumnya pada tanggal 14 Juli di malam hari, pasukan Hizbullah berhasil menenggelamkan kapal INS Hanit milik Israel & menewaskan 4 orang awaknya.

Tanggal 30 Juli, pesawat Israel melakukan pemboman ke desa Qana di Lebanon selatan. Menurut Israel, serangan tersebut dilakukan karena ada pasukan Hizbullah yang menembakkan roketnya dari Qana. Namun akibat serangan Israel itu pulalah, sebanyak 54 warga sipil Qana menjadi korban tewas, di mana 34 di antaranya adalah anak-anak. Buntutnya, sebanyak 5.000 penduduk kota Beirut beramai-ramai menggelar aksi protes mengecam Israel sambil menyerang bangunan PBB & membakar bendera AS. Serangan Qana sekaligus menjadi serangan udara dengan jumlah korban tewas terbanyak selama berlangsungnya perang.

Tank Merkava. (Sumber)

Perang Hizbullah-Israel didominasi oleh aksi serangan udara oleh pasukan Israel & aksi peluncuran roket artileri oleh pasukan Hizbullah. Sementara kalau di Lebanon selatan, pasukan darat dari kedua belah pihak banyak terlibat dalam pertempuran jarak dekat. Untuk mengimbangi pasukan darat Israel yang unggul dalam hal persenjataan, pasukan darat Hizbullah banyak menggunakan taktik gerilya. Mereka keluar masuk melalui terowongan rahasia yang tersebar di Lebanon selatan untuk melakukan serangan-serangan mendadak. Kemudian untuk menghancurkan tank musuh, pasukan Hizbullah menggunakan jebakan bom & misil anti-tank buatan Rusia yang cukup kuat untuk menjebol lapisan luar tank Merkava.

Di tengah-tengah berkecamuknya perang, upaya untuk meredakan konflik ini masih terus berlangsung. Maka, pada tanggal 11 Agustus, PBB pun mengeluarkan Resolusi 1701. Selain meminta supaya Israel & Lebanon berhenti berperang, resolusi tersebut juga meminta supaya Israel segera menarik mundur seluruh pasukannya dari Lebanon. Sebanyak 15.000 pasukan perdamaian kemudian akan dikirim ke Lebanon selatan untuk menjaga keamanan di wilayah yang sebelumnya menjadi arena peperangan. Baik Israel maupun Hizbullah menyetujui Resolusi 1701 sehingga terhitung sejak tanggal 14 Agustus, Perang Hizbullah-Israel resmi berakhir.



KONDISI PASCA PERANG

Perang Hizbullah-Israel hanya berlangsung selama 34 hari, namun perang ini membawa dampak kerusakan yang sangat besar. Menurut data resmi PBB, perang ini menyebabkan tewasnya 1.191 warga sipil Lebanon & 43 warga sipil Israel. IDF selaku angkatan bersenjata Israel menyatakan kalau jumlah korban tewas di pihaknya adalah 118 jiwa. Mereka juga mengklaim kalau pihaknya berhasil menewaskan lebih dari 500 milisi Hizbullah, namun klaim ini diragukan oleh pihak-pihak di luar militer Israel. Selain korban tewas, perang ini juga menyebabkan sekitar 1,5 juta warga sipil terpaksa mengungsi, di mana 2/3 di antaranya adalah warga Lebanon.

Selama berlangsungnya perang, Hizbullah diketahui menembakkan 4.500 roket ke wilayah Israel sehingga sebanyak 12.000 bangunan Israel mengalami kerusakan. Di lain pihak, angkatan udara Israel dilaporkan melakukan setidaknya 10.000 serangan ke berbagai lokasi di Lebanon. Selama melakukan serangan udara, pasukan Israel diketahui menjatuhkan 1 juta bom cluster, sejenis bom yang sesudah meledak akan melepaskan ranjau-ranjau kecil. Sebagai akibatnya, tidak sedikit warga Lebanon yang menjadi korban tewas seusai perang akibat tidak sengaja menginjak ranjau-ranjau tadi.

Kondisi ibukota Beirut seusai Perang Hizbullah-Israel. (Sumber)

Sesuai dengan Resolusi 1701, seusai perang Israel menarik mundur pasukannya dari Lebanon. Sebanyak ribuan tentara perdamaian PBB (UNIFIL) kemudian diterjunkan ke Lebanon selatan, di mana Indonesia termasuk sebagai salah satu negara penyumbang tentara. Resolusi 1701 sebenarnya juga mengharuskan agar Hizbullah membiarkan persenjataannya dilucuti. Namun akibat adanya penolakan dari Hizbullah, upaya untuk melucuti persenjataan Hizbullah tidak dapat dilaksanakan hingga sekarang.

Di Israel, Perang Hizbullah-Israel dianggap sebagai aib karena dalam perang ini, Israel gagal meraih kemenangan meyakinkan atas Hizbullah. Perang ini juga turut mengubah cara pandang militer Israel terhadap Hizbullah. Sebelum perang, Israel mengira kalau Hizbullah hanyalah gerombolan milisi yang kurang terlatih. Namun saat perang berlangsung, anggota Hizbullah ternyata menunjukkan kemampuan merancang strategi & koordinasi layaknya angkatan bersenjata profesional.

Bagi Hizbullah, perang ini dianggap sebagai kesuksesan besar karena Israel gagal mengalahkan Hizbullah maupun menyelamatkan tentaranya yang diculik. Meskipun begitu, Nasrallah mengakui bahwa kelompoknya tidak akan melakukan penculikan kepada tentara Israel seandainya dirinya tahu kalau penculikan ini bakal memicu timbulnya perang yang kelak bakal memporak-porandakan Lebanon. Di luar Lebanon, hasil akhir dari perang ini juga ditanggapi secara positif oleh presiden Iran & Suriah yang menyebutnya sebagai kemenangan bagi musuh Israel.

Dua tentara Israel yang diculik oleh Hizbullah sendiri pada akhirnya dibebaskan oleh Hizbullah, namun dalam kondisi sudah meninggal. Pada tahun 2008, lewat perantaraan lembaga Palang Merah Internasional, Hizbullah mengirimkan jenazah Goldwasser & Regev ke Israel. Sebagai gantinya, Israel membebaskan 5 orang tahanannya, di mana para tahanan tersebut ada yang sudah mendekam di penjara Israel sejak akhir dekade 1970-an.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN PERANG

Waktu & Lokasi Pertempuran
- Waktu : Juli - Agustus 2006
- Lokasi : Israel, Lebanon

Pihak yang Bertempur
(Negara)  -  Israel
       melawan
(Grup)  -  Hizbullah

Hasil Akhir
- Perang berakhir tanpa pemenang yang jelas
- Pasukan Israel ditarik mundur dari Lebanon

Korban Jiwa
Lebih dari 1.200 jiwa



REFERENSI

ABC News - Syria, Iran hail Hezbollah 'victory'
BBC News - Day-by-day: Lebanon crisis - week one
BBC News - Day-by-day: Lebanon crisis - week two
BBC News - Day-by-day: Lebanon crisis - week three
BBC News - Day-by-day: Lebanon crisis - week four
BBC News - Day-by-day: Lebanon crisis - week five
CNN - Hezbollah leader: Militants 'won't surrender arms'
Detik News - PBB Beri Medali Tanda Jasa ke Peace....
GlobalSecurity.org - Hizballah - External Aid
GlobalSecurity.org - Lebanon (Civil War 1975-1991)
GlobalSecurity.org - Operation Change of Direction
Haaretz.com - Israel’s Second Lebanon War Remains a....
Reuters - Hezbollah delivers remains of two Israeli soldiers
The New York Times - A Disciplined Hezbollah....
Johnson, D.E.. 2011. "The Second Lebanon War". (file PDF)
 - . 2006. "Edisi Koleksi Angkasa : Perang Hizbullah-Israel". Gramedia, Jakarta.

  




Download PDF

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...


1 komentar:


Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA.

Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk menyimpan artikel ini, silakan klik tombol "Download PDF" yang terletak di bawah artikel.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.