SEJARAH FAUNA HIBURAN Cari.Artikel..



Krisis Belarus (2020), Huru-Hara di Negara Tetangga Rusia



Demonstran & polisi anti huru-hara yang saling berhadapan. (Sumber)

Belarus adalah nama dari sebuah negara yang terletak di Eropa Timur. Di masa lampau, negara ini juga dikenal dengan nama "Belorussia" (Rusia Putih) karena nama itulah yang digunakan untuk menyebut daerah tersebut saat masih menjadi bagian dari Uni Soviet. Sejak merdeka dari Uni Soviet, Belarus tidak banyak menarik perhatian khalayak internasional karena negara ini relatif sepi dari konflik. Namun kondisi tersebut seketika berubah menyusul terjadinya krisis politik & kerusuhan besar yang menimpa negara ini pada tahun 2020.

Krisis Belarus adalah sebutan untuk gejolak sosial politik yang terjadi di Belarus sejak pertengahan tahun 2020 karena para demonstran tidak mau lagi dipimpin oleh Alexander Lukashenko, presiden Belarus sejak tahun 1994. Pada awalnya, ribuan rakyat Belarus beramai-ramai menggelar aksi protes karena tokoh-tokoh yang hendak mencalonkan diri dalam pemilu presiden ditangkap polisi / dipaksa melarikan diri ke luar negeri. Saat pemilu akhirnya digelar pada bulan Agustus, aksi protes yang timbul semakin menghebat akibat adanya tuduhan kecurangan dalam pemilu tersebut.



LATAR BELAKANG

1. Faktor Internal

Negara Belarus seperti yang kita kenal sekarang memperoleh kemerdekaannya dari Uni Soviet pada tanggal 25 Agustus 1991. Tiga tahun kemudian, Belarus menggelar pemilu presiden pertamanya. Dengan mencitrakan dirinya sebagai sosok nasionalis, Alexander Lukashenko berhasil keluar sebagai pemenang. Begitu mulai menjabat, Lukashenko langsung memperkuat kontrolnya atas media lokal & memodifikasi sistem politik Belarus supaya ia memiliki kontrol seluas mungkin atas negaranya sendiri.

Pada tahun 1996 misalnya, tidak lama setelah ia terlibat perselisihan dengan lembaga Soviet Agung (sebutan untuk parlemen Belarus pada masa itu), Lukashenko memutuskan untuk menggelar referendum di tahun tersebut. Beberapa poin penting yang diusulkan dalam referendum tersebut adalah masa jabatan presiden diperpanjang dari 5 menjadi 7 tahun & pemberian hak kepada presiden untuk membubarkan parlemen serta menunjuk anggota parlemen penggantinya.

Alexander Lukashenko. (Sumber)

Referendum tersebut berhasil dimenangkan oleh golongan yang menyetujui usulan-usulan tadi. Namun hasil dari referendum tersebut langsung dikritik oleh pihak oposisi & lembaga pengamat independen IHF karena penyelenggaraan referendum tersebut dianggap bermasalah. Sebagai contoh, lembaga kepresidenan Belarus dilaporkan mencetak & mengedarkan sejumlah besar surat suara tanpa seizin badan pengawas pemilu. Saat referendum berlangsung, peserta juga tidak dimintai kartu identitas sehingga mereka bisa memilh berulang kali.

Lepas dari kontroversi tersebut, hasil referendum tetap dianggap sah oleh pemerintah Belarus sehingga Lukashenko kini memiliki jangkauan kekuasaan yang lebih luas dibandingkan sebelumnya. Masa jabatan presiden Belarus pada akhirnya memang kembali diperpendek menjadi hanya 5 tahun berdasarkan referendum di tahun 2004. Namun lewat referendum yang sama, Lukashenko diperbolehkan kembali mengikuti pemilu presiden meskipun konstitusi Belarus pada awalnya hanya memperbolehkan seseorang menjadi presiden selama maksimal 2 periode.

Karena Lukashenko sudah berkuasa sejak tahun 1994 dengan menerapkan gaya pemerintahan menjurus otoriter, media-media di luar Belarus pun kerap menjuluki Lukashenko sebagai "diktator terakhir Eropa". Lukashenko sendiri bisa konsisten terpilih menjadi presiden karena selain memiliki kontrol kuat atas media & lihai memanipulasi konstitusi, ia memiliki basis massa yang besar di kalangan golongan tua Belarus yang sudah kadung terbiasa hidup dalam sistem pemerintahan otoriter ala Uni Soviet.

Hal tersebut lantas berimbas pada cara Lukashenko dalam mengelola Belarus. Hanya setahun sesudah mulai menjadi presiden, Lukashenko mengganti motif bendera Belarus supaya nampak serupa dengan motif bendera negara bagian Belorussia di masa Uni Soviet. Badan intelijen Belarus juga menggunakan nama singkatan KGB, nama singkatan yang juga digunakan oleh badan intelijen Uni Soviet saat masih aktif.

Di sektor ekonomi, Lukashenko enggan melakukan perubahan terlalu drastis pasca runtuhnya Uni Soviet sehingga sektor industri & pertanian Belarus masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan milik pemerintah yang notabene kurang efisien. Sebagai akibatnya, rakyat Belarus pun memiliki standar kesejahteraan yang rendah jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa kebanyakan.

Bendera nasional Belarus dari masa ke masa.

Berdasarkan data IMF di tahun 2019, pendapatan per kapita rakyat Belarus adalah sekitar 6.600 dollar AS. Jauh di bawah negara-negara Eropa Barat yang pendapatan per kapitanya mencapai lebih dari 20.000 dollar. Kemudian menurut penelitian yang dilakukan oleh lembaga riset BEROC yang berbasis di Belarus, sebanyak 1/4 rakyat Belarus hidup di bawah garis kemiskinan.

Tidak semua rakyat Belarus bersikap pasrah & membiarkan diri mereka dipimpin oleh orang yang sama dalam rentang waktu yang begitu lama. Tahun-tahun penyelenggaraan referendum & pemilu di Belarus selalu diiringi dengan munculnya aksi demonstrasi oleh mereka yang jenuh terhadap rezim Lukashenko. Namun aksi protes tersebut bakal langsung dibubarkan paksa oleh polisi yang tidak segan-segan menggunakan metode kekerasan.

Rezim Lukashenko juga dituduh tidak segan-segan menggunakan metode penculikan & pembunuhan rahasia untuk menyingkirkan pihak-pihak yang berseberangan dengannya. Pada tahun 1999 contohnya, politikus Jury Zacharanka & Viktar Hanchar dikabarkan hilang & diduga menjadi korban pembunuhan oleh anak buah Lukashenko. Kemudian pada tahun 2000, giliran wartawan Dmitry Zavadsky yang mengalami nasib demikian setelah ia membuat liputan mengenai buruknya sistem keamanan di perbatasan Belarus.

Seiring berjalannya waktu & kian majunya teknologi informasi, kini semakin banyak rakyat Belarus yang memiliki akses ke internet. Mereka lantas memanfaatkan internet sebagai wadah baru untuk mengeskpresikan pandangannya terhadap rezim Lukashenko & menjalin kontak dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa. Saat Belarus hendak kembali menggelar pemilu presiden di tahun 2020, internet menjadi metode baru bagi para penentang rezim Lukashenko untuk menyebarkan informasi & mengumpulkan massa.


2. Faktor Eksternal

Belarus merupakan negara tanpa wilayah laut yang wilayahnya berada di tengah-tengah Eropa Timur. Di sebelah timur, Belarus berbatasan dengan Rusia. Sementara di sebelah barat,  Belarus berbatasan dengan negara-negara anggota Uni Eropa seperti Polandia & Lithuania. Kondisi geografis Belarus tersebut tak pelak membuat negara berpenduduk 9 juta penduduk ini rentan menjadi arena perebutan pengaruh oleh pihak-pihak asing.

Lukashenko sendiri sejak awal masa pemerintahannya lebih tertarik untuk mencondongkan diri kepada Rusia. Pada tahun 1999, pemerintah Belarus & Rusia meresmikan perjanjian baru untuk membentuk semacam federasi menyerupai Uni Eropa. Perjanjian tersebut pada akhirnya tidak dijalankan sepenuhnya. Namun lewat perjanjian yang sama, Belarus bisa mendapatkan pasokan minyak dari Rusia dengan harga yang lebih murah. Sejak tahun 2009, militer Rusia & Belarus juga melakukan latihan perang bersama setiap 4 tahun sekali, di mana latihan tersebut dikenal dengan nama "Zapad" (bahasa Rusia untuk "Barat").

Peta lokasi Belarus. (Sumber)

Perjanjian di tahun 1999 oleh pihak Rusia dimaksudkan sebagai langkah awal untuk mengupayakan penyatuan Belarus dengan Rusia. Belarus sendiri di lain pihak enggan menyatu dengan Rusia walaupun negara tersebut tetap ingin menjalin hubungan dekat dengan Rusia. Pada bulan Februari 2020, Rusia kembali meminta Belarus untuk melebur ke dalam wilayah Rusia. Namun usulan tersebut kembali ditolak oleh pemimpin Belarus.

Rusia lantas mengancam bakal mengurangi pasokan minyak ke Belarus jika Belarus masih saja tidak mau melebur ke dalam wilayah Rusia. Supaya negaranya tidak lagi terlalu bergantung pada Rusia, Belarus lantas mulai mengimpor minyak dari Norwegia, Kazakhstan, & negara-negara Timur Tengah. Belarus juga mulai memesan minyak ke Amerika Serikat (AS) & bahkan berencana memulihkan hubungan diplomatiknya dengan AS.

Meregangnya hubungan antara Belarus dengan Rusia lantas membuat Lukashenko merasa khawatir akan kelangsungan rezimnya sendiri. Utamanya karena pada bulan Agustus 2020 mendatang, pemilu presiden bakal kembali digelar. Lukashenko khawatir kalau Rusia bakal menyabotase jalannya pemilu supaya dirinya lengser & bisa diganti dengan tokoh lain yang lebih mudah disetir. Ia juga khawatir kalau tokoh-tokoh pesaingnya dalam pemilu bakal mencari dukungan kepada negara-negara Barat dengan cara mencitrakan diri mereka sebagai tokoh pro-demokrasi.



BELARUS MENJELANG PEMILU

Salah satu tokoh yang mengajukan dirinya sebagai capres untuk menyaingi presiden Lukashenko adalah pebisnis bernama Sergei Tikhanovsky. Sergei diketahui sangat aktif di internet & memiliki lebih dari 200 ribu pengikut di akun YouTube-nya. Ia kerap mengunggah video mengenai praktik korupsi di tubuh pemerintahan Belarus. Karena Sergei mengusung slogan "Hentikan Si Kecoa" saat mengkampanyekan dirinya, demonstrasi yang digelar oleh para penentang Lukashenko kelak dikenal juga dengan sebutan "Revolusi Anti Kecoa".

Demonstrasi yang sama juga dikenal dengan nama "Revolusi Selop" (Slipper Revolution) karena para demonstran kerap membawa sandal selop saat menggelar aksinya. Seperti yang kita ketahui, kecoa bisa dibunuh dengan cara diinjak / dipukul memakai selop. Jadi saat mereka menggelar aksi protes sambil membawa selop, mereka ingin menunjukkan rasa bencinya terhadap rezim Lukashenko yang dianggap memuakkan layaknya kecoa.

Demonstran Belarus yang sedang memegang selop. (Sumber)

Saat jumlah orang yang mendukung pencalonan Sergei semakin banyak, polisi malah menangkap Sergei pada tanggal 29 Mei atas tuduhan menimbulkan kegaduhan publik. Istri Sergei yang bernama Svetlana Tsikhanouskaya kemudian berinisiatif melanjutkan sepak terjang suaminya. Setelah berhasil mengumpulkan 100 ribu tanda tangan dukungan sebagai syarat pencalonan presiden, Svetlana maju sebagai capres untuk menggantikan suaminya.

Selain Svetlana, tokoh lain yang juga mencalonkan dirinya sebagai capres adalah eks bankir Viktor Babariko. Babariko yang selama ini enggan melibatkan diri dalam politik memutuskan untuk ikut serta dalam pilpres karena ia merasa gusar akan cara Lukashenko dalam menangani wabah Covid-19 di negaranya. Alih-alih memberlakukan pembatasan sosial & semacamnya, Lukashenko justru menyuruh rakyatnya supaya tetap beraktivitas seperti biasa & mengklaim kalau Covid-19 bisa diatasi hanya dengan meminum vodka serta mandi sauna.

Sebagai akibatnya, hingga pertengahan bulan Juni, sudah ada 54.500 rakyat Belarus yang didiagnosis positif menderita Covid-19. Sebagai perbandingan, Polandia yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Belarus & jumlah penduduknya 4 kali lebih banyak dibandingkan Belarus hanya memiliki 29.700 kasus positif Covid-19. Babariko juga mengklaim kalau selama ini Lukashenko bisa terus menjabat sebagai presiden karena ia memanipulasi hasil pemilu.

Nasib Babariko pada akhirnya tidak berbeda jauh dari Sergei. Pada tanggal 18 Juni, Babariko ditangkap oleh polisi atas tuduhan kasus pencucian uang. Babariko juga dituding terjun dalam politik untuk kepentingan negara Rusia karena ia sebelum ini pernah bekerja di Belgazprombank, cabang dari Gazprombank yang kantor pusatnya berada di Rusia. Hanya berselang sehari pasca ditangkapnya Babariko, Lukashenko mengklaim kalau pihaknya berhasil membongkar upaya kudeta terhadap rezimnya.

Sejak awal bulan Juni, Lukashenko mengumumkan kalau aksi demonstrasi bakal dilarang hingga pemilu presiden selesai digelar. Namun keluarnya larangan tersebut toh tetap tidak membuat kubu oposisi merasa takut. Mereka tetap menggelar aksi protes yang kemudian diikuti dengan pembubaran paksa oleh polisi. Sebanyak 140 orang ditangkap polisi pada bulan Juni akibat mengikuti aksi protes.

Massa penentang Lukashenko yang sedang mengibarkan bendera lama Belarus. (Sumber)

Selama berlangsungnya aksi protes, banyak demonstran yang terlihat mengibarkan bendera berwarna putih-merah-putih. Bendera itu sendiri aslinya adalah bendera nasional Belarus dari tahun 1991 hingga tahun 1995. Karena bendera nasional Belarus yang sekarang merupakan hasil usulan dari Lukashenko, kubu penentang Lukashenko menggunakan bendera putih-merah-putih sebagai bentuk pernyataan non-lisan kalau mereka tidak mau lagi mendukung rezim Lukashenko berikut segala macam hasil kebijakannya.

Saat kondisi domestik Belarus tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, pada tanggal 25 Juni Lukashenko melontarkan tuduhan kalau Rusia & Polandia adalah dalang di balik memburuknya kondisi domestik Belarus. Ia mengklaim kalau di internet, ramai beredar berita hoax yang disebarkan oleh akun-akun media sosial asal Rusia. Pemerintah Rusia langsung menolak tuduhan tersebut sambil menegaskan kalau negaranya masih menganggap Belarus sebagai sekutu.

Tanggal 14 Juli, lembaga pemilu Belarus mengumumkan kalau Babariko tidak bisa mengajukan dirinya sebagai capres karena masih berstatus sebagai tahanan. Mereka juga menolak pencalonan Valery Tsepkalo, mantan sekutu Lukashenko yang pernah menempati jabatan di Kementerian Luar Negeri. Lembaga pemilu Belarus beralasan Tsepkalo tidak bisa mengajukan diri menjadi capres karena dari 160 ribu tanda tangan yang berhasil dikumpulkan oleh Tsepkalo dari para pendukungnya, hanya 75 ribu di antaranya yang dianggap sah.

Begitu kabar mengenai ditolaknya pencalonan Babariko & Tsepkalo beredar ke publik, para pendukung masing-masing calon langsung tumpah ke jalanan untuk menggelar aksi protes. Bentrokan hebat dengan polisi pun tak terelakkan & sebanyak lebih dari 250 orang ditangkap oleh polisi.

Karena Svetlana kini menjadi satu-satunya capres penantang Lukashenko yang masih tersisa, perwakilan kubu Babariko & Tsepkalo mengumumkan kalau mereka kini bakal menyatukan kekuatan untuk mendukung penuh Svetlana dalam pemilu. Tsepkalo sendiri melarikan diri ke Moskow, Rusia, pada tanggal 24 Juli karena ia merasa semakin khawatir akan keselamatannya sendiri.

Aparat Belarus saat meringkus orang yang diklaim sebagai tentara bayaran Rusia. (Sumber)

Tanggal 29 Juli, aparat Belarus menyatakan kalau pihaknya berhasil menahan 33 tentara bayaran asal Rusia. Menurut pihak Belarus, para tentara bayaran tersebut sudah menyelinap ke dalam wilayah Belarus sejak tanggal 24 Juli & berencana menciptakan kekacauan menjelang pemilu presiden. Namun pada tanggal 15 Agustus atau sepekan sesudah pemilu, sebanyak 32 di antara mereka malah dibebaskan & dibiarkan kembali ke Rusia.

Tanggal 30 Juli, sebanyak lebih dari 60 ribu pendukung Svetlana berkumpul di taman kota Minsk untuk mengikuti parade yang dipimpin oleh Svetlana. Parade ini sekaligus menjadi aksi protes oleh kubu oposisi dengan jumlah massa terbesar di Belarus selama 10 tahun terakhir. Polisi Belarus tidak mencoba membubarkan parade ini, namun mereka yang hendak mengikuti parade harus diperiksa dulu oleh polisi dengan memakai detektor logam.



DIGELARNYA PEMILU & KELANJUTANNYA

Tanggal 9 Agustus, pemilu presiden Belarus akhirnya resmi dilangsungkan dengan Lukashenko & Svetlana sebagai kandidatnya. Pelaksanaan pemilu ini dipertanyakan oleh pihak-pihak luar karena tidak ada pengamat dari kubu netral yang diperbolehkan mengawasi jalannya pemilu. Jaringan internet di Belarus juga sempat terputus di hari berlangsungnya pemilu.

Seusai pemilu, Lukashenko dinobatkan sebagai pemenang pemilu dengan perolehan suara mencapai 80 persen. Svetlana di lain pihak hanya menerima kurang dari 10 persen suara. Namun jika Lukashenko berpikir kalau hasil pemilu ini bakal mengakhiri masa penuh huru-hara yang selama ini membelit Belarus, waktu menunjukkan kalau bencana yang sebenarnya baru akan dimulai.

Svetlana Tsikhanouskaya. (Sumber)

Tidak lama usai diumumkannya hasil pemilu, rakyat Belarus berhamburan ke jalan & menuntut supaya Lukashenko segera mundur dari jabatannya. Polisi lantas mencoba membubarkan para demonstran dengan cara menembakkan peluru karet, gas air mata, & granat kejut (stun grenade). Namun kali ini demonstran Belarus tidak mau kalah. Mereka balik melawan dengan cara melemparkan batu & bom molotov ke arah polisi. Di beberapa lokasi, para demonstran juga membangun barikade dengan cara menimbun rongsokan di tengah-tengah jalan.

Salah satu demonstran yang tewas dalam bentrokan seusai pemilu adalah Alexander Taraikovsky. Ia diketahui tewas dalam aksi protes yang berlangsung pada tanggal 10 Agustus. Aparat Belarus mengklaim kalau Taraikovsky tewas setelah granat yang dibawanya terlepas dari tangannya & kemudian meledakkan dirinya sendiri. Namun cuplikan video yang beredar menunjukkan kalau Taraikovsky tewas akibat terkena tembakan peluru tajam dari polisi Belarus.

Beredarnya informasi mengenai penyebab kematian asli Taraikovsky menyebabkan gelombang demonstrasi di Belarus semakin menghebat. Untuk mengurangi ketegangan, pada tanggal 14 Agustus aparat Belarus terpaksa membebaskan ratusan orang demonstran yang sempat mereka tahan. Namun yang terjadi kemudian adalah sentimen kebencian warga sipil terhadap polisi semakin meningkat karena mereka yang ditangkap ternyata sempat disiksa & dipukuli hingga terluka parah.

Saat kondisi domestik Belarus kian tidak kondusif, Svetlana memutuskan untuk mengungsi ke Lithuania - negara tetangga Belarus di sebelah barat laut - pada tanggal 11 Agustus. Tidak lama berselang, stasiun TV milik pemerintah Belarus menayangkan video yang menampilkan Svetlana. Dalam video tersebut, Svetlana terlihat meminta para pendukungnya untuk tidak melanjutkan aksi protes.

Namun para pendukung Svetlana enggan menuruti imbauan tersebut karena mereka curiga, Svetlana membuat pernyataan demikian akibat diancam oleh aparat Belarus. Sebagai akibatnya, gelombang aksi protes pun terus berlangsung di Belarus. Pada tanggal 7 September, jumlah orang yang menghadiri demonstrasi menentang Lukashenko di ibukota Minsk dikabarkan mencapai 100.000 orang!

Polisi Belarus yang sedang mengeroyok demonstran. (Sumber)

Sementara itu di luar Belarus, AS & negara-negara Uni Eropa beramai-ramai mengecam hasil pemilu Belarus & metode tangan besi yang digunakan oleh polisi Belarus untuk meredam aksi protes. Uni Eropa bahkan sudah siap menjatuhkan sanksi kepada sejumlah pejabat Belarus. Namun sanksi tersebut belum jadi dijatuhkan akibat adanya penolakan dari Siprus. Siprus ngotot menolak mendukung penjatuhan sanksi kepada Belarus jika Uni Eropa tidak mau menjatuhkan sanksi serupa kepada Turki yang melakukan pengeboran minyak di perairan Siprus.

Di sebelah timur Belarus, terus berlangsungnya gelombang aksi protes & adanya bayang-bayang sanksi dari Uni Eropa menyebabkan Lukashenko terpaksa kembali mendekatkan diri kepada Rusia. Maka pada tanggal 14 September, Vladimir Putin selaku presiden Rusia menyatakan kalau negaranya bakal meminjamkan uang senilai 1,5 milyar dollar kepada Belarus. Empat hari kemudian, militer Belarus & Rusia melakukan latihan bersama di dekat Polandia, negara tetangga Belarus yang kebetulan juga berstatus sebagai anggota Uni Eropa & NATO.

Tanggal 23 September, Lukashenko kembali dilantik menjadi presiden meskipun aksi protes menentang hasil pemilu masih tetap berlangsung. Pelantikan tersebut dilakukan secara tertutup akibat masih belum membaiknya kondisi keamanan Belarus. Kubu oposisi langsung menyatakan penolakannya terhadap pelantikan tersebut & bahkan mencela Lukashenko sebagai penjahat. Pemerintah AS & Uni Eropa juga menolak mengakui pelantikan Lukashenko.

Hingga akhir September 2020, sudah 7.000 orang yang ditangkap oleh aparat Belarus. Namun demonstrasi menentang Lukashenko masih belum menunjukkan tanda-tanda bakal surut. Di luar Belarus, pemimpin negara-negara Uni Eropa juga mulai menjalin kontak dengan tokoh-tokoh oposisi Belarus yang sedang berada di luar negaranya. Dengan melihat banyaknya kepentingan yang terlibat dalam krisis di Belarus ini, masa depan Belarus nampak semakin sulit untuk ditebak.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



REFERENSI

Arab News - Over 360 more detained in Belarus in....
BBC News - Belarus accuses 'Russian mercenaries'....
BBC News - Belarus election : Hundreds protest after....
BBC News - Belarus election : Second night of clashes....
BBC News - Belarus President Alexander Lukashenko....
BBC News - Belarus protests : Putin pledges $1.5bn....
BBC News - Dozens arrested at Belarus rally
BBC News - Q&A : Belarus votes
BelarusFeed - Red-Green Vs White-Red-White
Belsat - One in five Belarusians lives below the....
CNN - Belarus : Alexander Lukashenko inaugurated....
DW - Belarus president says foreign destabilization....
DW - Belarus′ Lukashenko outlaws protests, arrests....
DW - What are Russia's Zapad war games?
Euractiv - The Kremlin is pushing Belarus to merge....
Euronews - Belarus presidential election : Key....
Euronews - Russia-Belarus military drills near Polish....
Foreign Policy - Belarus Is Having an Anti-'Cockroach'....
France 24 - ‘No more torture,’ say demonstrators as....
GlobalSecurity.org - Belarus-Russia Union State
Human Rights Watch - Republic of Belarus
IMF - Report for Selected Countries and Subjects
Lukashenko.org - Referendum-96
Radio Free Europe - Tens Of Thousands Rally In....

RTE - Timeline of election turmoil in Belarus
The Guardian - Belarus blues : can Europe's 'last....
The Guardian - Belarus protests show no sign of....
The Guardian - EU Belarus sanctions in doubt as....
The Moscow Times - Belarus Hands 32 Detained....
The Moscow Times - Belarus President Accuses....
The Washington Post - Belarus oil deal with U.S. is....
Wikipedia - Dzmitry Zavadski
French, R.A.. 2008. "Belarus". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.

  





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



Download PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA.

Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda ingin mencetak atau menyimpan artikel ini dalam format PDF, silakan klik tombol "Download PDF" yang terletak di bawah artikel.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.