SEJARAH FAUNA HIBURAN Cari.Artikel..



Vanuatu, Negeri Kelapa Hasil Kompromi Inggris & Perancis



Barisan pohon kelapa di Pulau Efate, Vanuatu. (Sumber)

Vanuatu adalah nama dari sebuah negara kepulauan yang terletak di tengah-tengah Samudera Pasifik, tepatnya di sebelah timur Kaledonia Baru & di sebelah barat negara Fiji. Berkat iklimnya yang tropis & kondisi geografisnya yang berupa kepulauan kecil, pohon kelapa pun tumbuh subur di negara ini. Sekarang, kopra (kelapa yang sudah dikeringkan) menjadi salah satu komoditas ekspor utama negara Vanuatu.

Walaupun Vanuatu bisa dikatakan sebagai negara kecil, negara ini mengakui 3 bahasa sekaligus sebagai bahasa nasionalnya. Ketiga bahasa tersebut adalah bahasa Inggris, Perancis, & Bislama. Itu belum termasuk bahasa-bahasa daerah Vanuatu yang jumlahnya mencapai ratusan. Banyaknya bahasa yang diakui sebagai bahasa nasional Vanuatu tidak lepas dari perjalanan sejarah negara tersebut yang pernah menjadi arena sengketa negara-negara besar Eropa di masa lampau.



AWAL MULA KEDATANGAN BANGSA EROPA

Penduduk asli Vanuatu termasuk dalam kelompok suku bangsa Melanesia yang secara harfiah memiliki arti "Pulau Hitam". Nama itu sendiri digunakan karena penduduk asli Vanuatu memang nampak berkulit gelap. Mereka diketahui sudah menghuni Vanuatu sejak tahun 550 Sebelum Masehi. Bangsa Eropa di lain pihak pertama kali singgah di Vanuatu pada tahun 1606. Di tahun tersebut, rombongan pelaut Spanyol & Portugis yang dipimpin oleh Pedro Fernandez de Quiros tiba di Vanuatu.

Quiros kemudian memberikan nama "Terra Austrialis del Espiritu Santo" untuk menyebut daratan yang bersangkutan karena Quiros & rombongannya pada waktu itu mengira kalau daratan yang mereka capai adalah bagian dari benua yang lebih besar. Saat bangsa Eropa akhirnya tahu kalau Vanuatu aslinya adalah gugus kepulauan tersendiri, nama "Espiritu Santo" (bahasa Spanyol untuk "Roh Kudus") nantinya digunakan untuk menyebut pulau terbesar di wilayah Vanuatu.

Tahun 1768, giliran Perancis yang berhasil menjamah kepulauan tersebut lewat admiralnya yang bernama Louis Antoine de Bougainville. Tahun 1774, James Cook yang mewakili negara Inggris berhasil mencapai kepulauan tersebut. Cook kemudian memetakan kepulauan yang dijamahnya ini & menamainya "New Hebrides" (Hebrides Baru) di mana nama "Hebrides" berasal dari nama sebuah kepulauan di perairan Skotlandia, Inggris Raya.

Memasuki abad ke-19, orang-orang Eropa berdatangan ke Hebrides Baru untuk berdagang & membeli kayu cendana dari Ni-Vanuatu, sebutan untuk penduduk pribumi Hebrides Baru. Mereka kemudian disusul oleh kaum misionaris Eropa yang berharap bisa memperkenalkan agama Kristen kepada penduduk setempat. Walaupun awalnya penduduk Ni-Vanuatu bersikap antipati, lama kelamaan mereka menunjukkan sikap lebih bersahabat kepada orang-orang Eropa.

Penduduk asli kepulauan Pasifik saat bekerja di ladang tebu Australia. (Sumber)

Membaiknya cara pandang Ni-Vanuatu terhadap orang-orang Eropa sayangnya kemudian malah dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki niat tidak baik. Sejak pertengahan abad ke-19, sebanyak lebih dari 60 ribu orang Ni-Vanuatu diculik & dibawa paksa ke Queensland (Australia) serta Fiji. Sesampainya di sana, mereka dipaksa bekerja sebagai buruh kasar di ladang tebu setempat. Banyak dari mereka yang kemudian meninggal di tempat barunya.

Praktik menyerupai perbudakan tersebut dikenal sebagai "blackbirding", sementara para korbannya dikenal dengan sebutan "Kanaka". Praktik blackbirding baru berhenti pada tahun 1904 menyusul dikeluarkannya peraturan baru oleh pemerintah Australia. Keluarnya peraturan baru tersebut lantas diikuti dengan pemulangan para Kanaka ke daerah asalnya masing-masing, termasuk ke Hebrides Baru.

Sejak orang-orang Eropa berdatangan ke Hebrides Baru, populasi penduduk Ni-Vanuatu mengalami penurunan tajam karena mereka terpapar oleh penyakit yang tanpa sengaja dibawa oleh orang-orang Eropa. Pada awal abad ke-19, jumlah penduduk Ni-Vanuatu diperkirakan mencapai 1 juta jiwa. Namun pada tahun 1935, jumlah penduduk Ni-Vanuatu hanya tinggal 45.000 orang.

Fenomena sebaliknya dijumpai pada orang-orang Eropa di Hebrides Baru yang jumlahnya semakin lama semakin meningkat karena mereka tertarik untuk membuka lahan perkebunan di tanah barunya ini. Pada awalnya, imigran asal Inggris menjadi imigran Eropa dengan jumlah terbanyak di Hebrides Baru. Namun lambat laun, jumlah imigran asal Inggris berhasil dilampaui oleh imigran asal Perancis. Di awal abad ke-20, perbandingan jumlah antara imigran Perancis dengan Inggris mencapai 2 : 1.


Rombongan pelaut Eropa saat mendarat di Pulau Tanna, Hebrides Baru. (Sumber)


MENJADI KOLONI YANG DIKUASAI 2 NEGARA

Semakin banyaknya imigran Inggris & Perancis yang tinggal di Hebrides Baru lantas mulai memicu ketegangan di antara keduanya. Para imigran asal Inggris berharap kalau pemerintah Inggris segera mengklaim Hebrides Baru sebagai daerah kekuasaan barunya. Harapan serupa juga dimiliki oleh para imigran asal Perancis mengingat kini mereka merupakan imigran Eropa dengan jumlah terbanyak di Hebrides Baru.

Untuk mencegah timbulnya konflik yang tidak perlu, pada tahun 1887 pemerintah Inggris & Perancis memutuskan untuk menetapkan Hebrides Baru sebagai zona netral. Dengan kata lain, Hebrides Baru kini tidak boleh diklaim sebagai wilayah kekuasaan negara mana pun. Pemerintah Inggris & Perancis juga setuju untuk mendirikan Komisi Angkatan Laut Gabungan (Joint Naval Commission) sebagai badan pemerintahan bersama di Hebrides Baru.

Tahun 1906, Hebrides Baru yang awalnya berstatus sebagai zona netral dijadikan daerah kekuasaan Inggris & Perancis dengan nama resmi "Kondominium Hebrides Baru" (New Hebrides Condominium; Condominium des Nouvelles-Hebrides). Didirikannya Kondominium sekaligus menjadikan Hebrides Baru sebagai 1 dari sedikit wilayah jajahan / koloni yang dikelola secara bersama-sama oleh 2 negara sekaligus.

Kondominium beroperasi sebagai pemerintahan kembar yang menggunakan hukum negara Inggris sekaligus hukum negara Perancis. Mereka yang tinggal di Hebrides Baru diperbolehkan memilih ingin mengikuti peraturan versi negara mana. Sebagai akibatnya, sektor-sektor layanan publik seperti rumah sakit, kepolisian, sekolah, hingga mata uang masing-masingnya memiliki 2 versi berbeda.

Selain badan resmi yang menggunakan hukum versi Inggris atau Perancis, ada pula lembaga hukum yang menangani masalah penduduk Ni-Vanuatu dengan memakai hukum adat setempat. Kemudian setiap kali ada siaran radio, siarannya akan dikumandangkan dalam bahasa Inggris, Perancis, & bahasa lokal sekaligus. Rumitnya sistem yang digunakan di Hebrides Baru lantas membuat nama Kondominium sering diplesetkan menjadi "Pandemonium" (Kekacauan).

Peta lokasi Vanuatu / Hebrides Baru. (Sumber)


Tahun 1941, pecah Perang Dunia II di kawasan Pasifik menyusul serangan mendadak yang dilakukan oleh pasukan Jepang ke pangkalan militer Pearl Harbor di Hawaii, AS. Karena Hebrides Baru berlokasi tepat di antara Jepang, AS, & Australia, Hebrides Baru pun dipandang sebagai tempat yang strategis & harus dipertahankan dengan segala cara. Terlebih lagi, Perancis selaku salah satu negara pengelola Hebrides Baru baru saja ditaklukkan oleh militer Jerman, negara sekutu Jepang dalam PDII.

Menanggapi hal tersebut, militer AS kemudian datang ke Hebrides Baru untuk membantu mempertahankan Hebrides Baru. Mereka juga mendirikan pelabuhan & pangkalan udara baru di sana. Lepas dari semua persiapan tersebut, Hebrides Baru pada akhirnya tidak pernah menjadi arena pertempuran hingga berakhirnya PDII pada tahun 1945. Seusai perang, Inggris & Perancis melanjutkan pengelolaannya atas Hebrides Baru seperti sedia kala.

Berlangsungnya PDII juga membawa dampak lain yang tidak terduga. Selama berlangsungnya perang, banyak pesawat angkut yang menjatuhkan kargo / kotak muatan ke Hebrides Baru dengan memakai parasut. Kargo-kargo tersebut berisi aneka macam kebutuhan logistik modern seperti makanan kaleng, obat-obatan, hingga senjata. Karena penduduk Ni-Vanuatu di kawasan pelosok tidak pernah melihat pemandangan macam itu sebelumnya, mereka pun mengira kalau yang menjatuhkan semua kotak tersebut adalah dewa.

Pola pikir tersebut lantas memunculkan aliran kepercayaan baru di kalangan penduduk asli Hebrides Baru. Agama baru ini kelak dikenal dengan nama "John Frum", di mana nama "John" diduga berasal dari nama seorang tentara AS yang pernah singgah di Hebrides Baru. Menurut keyakinan para penganutnya, yang menjatuhkan kargo-kargo tersebut adalah dewa & sebenarnya ditujukan untuk penduduk asli Hebrides Baru.

Saat PDII berakhir & pesawat-pesawat AS tidak pernah lagi menjatuhkan kargo ke Hebrides Baru, para pengikut agama John Frum kemudian beramai-ramai membuat miniatur pesawat dari kayu & menggelar ritual menyerupai parade militer dengan harapan pulau tinggal mereka akan kembali dihujani oleh kargo. Karena penganut agama ini cukup banyak, pada tahun 1956 pemerintah Kondominium bersedia mengakui John Frum sebagai agama baru. Penganut John Frum masih dapat dijumpai di Vanuatu hingga sekarang & mereka menggelar festival tahunan setiap tanggal 15 Februari.


Pengikut aliran John Frum yang sedang menggelar upacara. (Sumber)



JALAN TERJAL MENUJU KEMERDEKAAN

Waktu berlalu, semakin banyak daerah koloni milik negara-negara Eropa yang berubah jadi negara merdeka. Inggris & Perancis sendiri memiliki pendapat yang berseberangan mengenai masa depan Hebrides Baru. Jika Inggris ingin segera mengakhiri kekuasaannya di Hebrides Baru, maka Perancis masih ingin mempertahankan kepemilikannya atas Hebrides Baru. Namun karena ada banyak orang-orang keturunan Inggris yang tinggal di Hebrides Baru, Inggris tidak bisa menelantarkan Hebrides Baru begitu saja.

Sebagai jalan keluarnya, rakyat Hebrides Baru kini diperbolehkan mendirikan partai-partai politiknya sendiri. Partai-partai politik tersebut nantinya bakal ikut serta dalam pemilu di tahun 1975. Partai politik pertama yang terbentuk pada periode ini adalah New Hebrides National Party (NHNP; Partai Nasional Hebrides Baru) yang didirikan pada tahun 1971 & memiliki cita-cita mengubah Hebrides Baru menjadi negara merdeka.

Partai politik lain yang juga terbentuk pada periode tersebut adalah Nagriamel. Nagriamel sebenarnya sudah terbentuk sejak dekade 1960-an sebagai organisasi masyarakat oleh orang-orang Ni-Vanuatu yang ingin menghentikan praktik penjualan tanah di Hebrides Baru kepada warga asing. Nagriamel memiliki hubungan kurang baik dengan NHNP karena NHNP didominasi oleh golongan berbahasa Inggris, sementara Nagriamel memiliki hubungan dekat dengan golongan berbahasa Perancis.

Suasana di markas polisi Hebrides Baru untuk zona berbahasa Inggris. (Sumber)

Saat pemilu akhirnya digelar pada tahun 1975, NHNP berhasil keluar sebagai pemenang. Karena Perancis enggan membiarkan kelompok pro kemerdekaan menguasai badan pemerintahan Hebrides Baru, Perancis sengaja menunda-nunda pelantikan parlemen sambil mengusulkan perubahan pada komposisi badan pemerintahan. Karena merasa sudah dicurangi, NHNP memutuskan untuk memboikot parlemen sehingga pemilu terpaksa kembali digelar pada tahun 1977.

Untuk menunjukkan komitmennya memperjuangkan hak-hak penduduk asli Hebrides Baru, NHNP kemudian mengganti namanya menjadi Vanua'aku Pati (bahasa lokal untuk "Partai Tanah Kami"). Vanua'aku kemudian mengusulkan kepada Kondominium supaya hanya penduduk pribumi Hebrides Baru yang diperbolehkan mengikuti pemilu. Mereka juga meminta supaya pemerintah yang terbentuk dari pemilu di tahun 1977 bisa memiliki kemandirian memerintah yang luas, termasuk untuk menggelar referendum kemerdekaan.

Usulan tersebut ditolak oleh otoritas Kondominium sehingga Vanua'aku pun memboikot pelaksanaan pemilu di tahun 1977. Meskipun begitu, upaya Vanua'aku memperjuangkan kemerdekaan Hebrides Baru tidak sepenuhnya sirna karena di tahun yang sama, wakil-wakil dari Inggris, Perancis, & Hebrides Baru melakukan pertemuan di Paris. Hasilnya, Inggris & Perancis sepakat untuk memberikan kemerdekaan pada Hebrides Baru pada tahun 1980.

Sebagai persiapan menuju kemerdekaan tersebut, Hebrides Baru kembali menggelar pemilu di tahun 1979. Kali Ini Vanua'aku ikut serta dalam pemilu & berhasil keluar sebagai pemenang. Namun kemenangan Vanua'aku ini ternyata tidak bisa diterima oleh Nagriamel sehingga pecahlah kerusuhan. Para anggota Nagriamel beramai-ramai turun ke jalan & menyerang para simpatisan Vanua'aku serta orang-orang dari golongan berbahasa Inggris di pulau-pulau yang menjadi markas pendukung Nagriamel (salah satunya Pulau Espiritu Santo di sebelah utara).


Peta Vanuatu berikut nama-nama pulaunya.


VANUATU SEJAK MERDEKA

Tanggal 30 Juli 1980, Hebrides Baru akhirnya resmi menjadi negara merdeka dengan nama Vanuatu. Walter Lini yang berasal dari Partai Vanua'aku menjadi Perdana Menteri pertama negara tersebut. Nagriamel lagi-lagi menunjukkan penolakannya terhadap deklarasi kemerdekaan Vanuatu. Sebulan sebelum Vanuatu merdeka, pemimpin Nagriamel yang bernama Jimmy Stevens memproklamasikan berdirinya negara sempalan yang bernama "Republik Vemarana" di Pulau Espiritu Santo.

Saat Vanuatu belum merdeka, Nagriamel bisa bertindak leluasa karena aparat Inggris & Perancis terlibat perbedaan pendapat mengenai tindakan yang harus diambil. Namun begitu Vanuatu merdeka, Lini langsung meminta bantuan kepada militer Papua Nugini. Tanpa kesulitan berarti, militer Papua Nugini berhasil membubarkan Vemarana & menangkap Stevens. Intervensi militer Papua Nugini tersebut kelak dikenal juga dengan sebutan "Perang Kelapa" (Coconut War).

Saat baru merdeka, Vanuatu memiliki hubungan yang kurang baik dengan Perancis karena Perancis sebelum ini cenderung mempersulit upaya Vanuatu mendapatkan kemerdekaan. Perancis di lain pihak juga memandang Vanuatu secara negatif karena Vanuatu mendukung kelompok pro kemerdekaan di Kaledonia Baru, daerah kepulauan milik Perancis yang terletak di sebelah barat Vanuatu. Saat hubungan Vanuatu dengan Perancis kian memanas, Vanuatu bahkan sempat mengusir duta besar Perancis pada tahun 1987.

Memasuki tahun 1991, hubungan Vanuatu dengan Perancis mulai membaik menyusul terpilihnya Maxime Carlot Korman yang berasal dari golongan berbahasa Perancis sebagai PM baru Vanuatu. Meskipun begitu, hubungan Vanuatu dengan Perancis tidak bisa dibilang 100% harmonis karena kedua negara hingga sekarang masih terlibat sengketa seputar Pulau Matthew & Hunter, 2 pulau kecil yang terletak di perbatasan Vanuatu & Kaledonia Baru.

Suasana dalam perayaan kemerdekaan Vanuatu di tahun 2015. (Sumber)

Masalah bagi Vanuatu bukan hanya datang dari luar negeri. Pada tahun 1996, sejumlah tentara Vanuatu menculik Presiden & Deputi Perdana Menteri Vanuatu karena mereka merasa tidak menerima bayaran yang layak dari pemerintah. Kemudian pada tahun 2007, pecah kerusuhan besar di ibukota Port Vila antara imigran Pulau Ambrym & Pulau Tanna akibat beredarnya kabar burung kalau seorang wanita Tanna tewas akibat disantet oleh anggota komunitas Ambrym.

Selain masalah gejolak sosial politik, ancaman lain bagi Vanuatu juga datang dari alam. Sebagai akibat dari lokasinya berada di tengah laut & dekat dengan lempeng tektonik, wilayah Vanuatu kerap diterpa aneka macam bencana alam seperti gempa, tsunami, hingga badai tropis. Belakangan, wabah penyakit Covid-19 juga turut membawa dampak negatif bagi sektor pariwisata Vanuatu yang tengah berkembang. Rakyat Vanuatu masih harus menempuh jalan terjal & penuh rintangan untuk memajukan negaranya.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



BIODATA

Nama resmi : Ripablik blong Vanuatu / Republic of Vanuatu / Republique de Vanuatu
Tahun aktif : 1980 - sekarang
Ibukota : Port Vila
Bentuk pemerintahan : republik parlementer
Luas wilayah : 12.189 km persegi
Mata uang : vatu Vanuatu
Bahasa nasional : Bislama, Inggris, Perancis



REFERENSI

ABC News - Vanuatu feeling the pinch as coronavirus pandemic....
All That's Interesting - John Frum Cargo Cults
BBC News - Vanuatu profile - Timeline
New Zealand Digital Library - Vanuatu : A Divided Legacy
Penn Museum - An Expedition to the New Hebrides
RNZ - Vanuatu - a brief history (part 2)
RNZ - Vanuatu foreign minister rejects calls to expel French diplomat
The Havannah Vanuatu - History of Vanuatu
The Sydney Morning Herald - Vanuatu chiefs to meet over riots
Wikipedia - 1975 New Hebridean general election
Wikipedia - 1977 New Hebridean general election
World War II Database - New Hebrides
 - . 2008. "Blackbirding". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
Adams, R.. 2008. "Vanuatu". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
M. Abong & M. Tabani. 2013. "Kago, Kastom, and Kalja" (hal. 59-84). (file HTML)

 





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...



Download PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA.

Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda ingin mencetak atau menyimpan artikel ini dalam format PDF, silakan klik tombol "Download PDF" yang terletak di bawah artikel.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.