SEJARAH        FAUNA         HIBURAN          Cari Artikel  →

Sejarah Berdirinya Negara Papua Nugini



Bendera Papua Nugini. (Sumber)

Pulau Papua / Pulau Guinea Baru (New Guinea) adalah nama dari pulau terbesar kedua di dunia. Bagi kita yang tinggal di Indonesia, pulau yang bentuknya menyerupai burung ini pastinya bukanlah pulau yang asing. Pasalnya di pulau inilah, terdapat Provinsi Papua & Papua Barat, 2 provinsi Indonesia yang terletak paling timur. Jika kita bergerak lebih jauh lagi ke arah timur, kita bakal menemukan adanya negara yang bernama Papua Nugini (Papua New Guinea), satu dari sedikit negara yang memiliki perbatasan darat dengan Indonesia.

Walaupun dari segi luas Papua Nugini jelas kalah jauh jika dibandingkan dengan Indonesia, Papua Nugini tidak benar-benar bisa dianggap sebagai negara kecil di kawasan setempat. Pasalnya Papua Nugini adalah negara terbesar kedua di Oseania setelah Australia. Namun kemiripan antara Papua Nugini dengan Australia masih belum berhenti sampai di sana. Baik Australia maupun Papua Nugini juga sama-sama berstatus sebagai negara Persemakmuran Inggris. Hal yang cukup wajar mengingat kedua negara tersebut memang sama-sama pernah dikuasai oleh Inggris di masa lampau.

Inggris sendiri ternyata bukanlah negara Eropa pertama yang menjamah wilayah cikal bakal Papua Nugini. Orang Eropa pertama yang menemukan Pulau Papua adalah rombongan pelaut Portugis pimpinan Jorge de Meneses. Meneses sendiri pada waktu itu sedang dalam perjalanan menuju Kepulauan Maluku & diperkirakan sempat singgah di bagian barat Pulau Papua pada tahun 1526 - 1527. Meneses kemudian menyebut pulau yang ditemukannya tersebut dengan nama "Ilhas dos Papuas". Nama yang dalam bahasa Portugis berarti "tanahnya orang-orang berambut keriting".

Peta Papua Nugini beserta lokasi Pulau Britania Baru
& Pulau Irlandia Baru. (Sumber)
Tahun 1546, giliran penjelajah Spanyol yang bernama Inigo Ortiz de Retes yang melakukan pelayaran di pantai utara Pulau Papua. Ia kemudian memberikan nama "Nueva Guinea" (Guinea Baru) pada pulau yang dijelajahinya ini, karena menurutnya penampilan penduduk asli Pulau Papua mirip dengan penampilan penduduk asli Guinea, suatu daerah di Afrika bagian barat. Tahun 1767, rombongan pelaut asal Inggris yang dipimpin oleh Philip Carteret melakukan penjelajahan di pulau-pulau yang berada di sebelah timur Pulau Papua. Ia kemudian menamai 2 pulau terbesarnya dengan nama "Britania Baru" (New Britain) & "Irlandia Baru" (New Ireland).

Tahun 1828, Belanda mengklaim Pulau Papua bagian barat sebagai wilayah kekuasaannya. Dengan keluarnya klaim dari Belanda tersebut, kini tinggal wilayah Pulau Papua bagian timur - cikal bakal wilayah Papua Nugini - yang masih berpeluang untuk dikuasai oleh negara-negara Eropa yang lain. Maka, pada dekade 1870-an armada Inggris yang dipimpin oleh Kapten John Moresby kemudian melakukan penjelajahan di pantai selatan Pulau Papua. Nama "Moresby" kemudian digunakan untuk menamai Port Moresby, kota pelabuhan di pantai selatan Pulau Papua yang nantinya bakal menjadi ibukota negara Papua Nugini.



DIBAGI INGGRIS & JERMAN

Tahun 1883, koloni Queensland yang bertempat di Australia timur laut mengklaim kalau wilayah tenggara Pulau Papua berada di bawah kendalinya, sehingga wilayah yang sama sejak itu turut menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Inggris dengan nama "Teritori Papua" (Territory of Papua). Tahun 1906, pengelolaan Teritori Papua yang awalnya berada di tangan Inggris kemudian diserahkan kepada pemerintah negara federasi Australia yang baru dibentuk 5 tahun sebelumnya.

Sementara itu di Eropa, terdapat negara Jerman yang sedang mengalami modernisasi pesat & ingin mendapatkan wilayah jajahan sebanyak mungkin. Mereka lantas melihat wilayah timur laut Pulau Papua sebagai wilayah barunya yang potensial. Maka, pada tahun 1884 Jerman mengklaim Pulau Papua bagian timur laut sebagai wilayah kekuasaannya dengan nama "Guinea Baru Jerman" (GBJ; Deutsch-Neuguinea). Untuk memperkuat kedudukannya di wilayah yang bersangkutan, Jerman juga menamai perairan & kepulauan di wilayah sebelah timur Pulau Papua dengan nama Laut Bismarck & Kepulauan Bismarck. Nama yang diambil dari Otto von Bismarck, kanselir pertama Kekaisaran Jerman.

Peta Guinea Baru Jerman (klik gambar
untuk versi lebih besar). (Sumber)
Wilayah yang termasuk dalam GBJ sendiri bukan sekedar Pulau Papua & kepulauan di sebelah timurnya. Menjelang akhir abad ke-19, wilayah GBJ kini juga mencakup gugus kepulauan kecil yang terletak agak jauh di sebelah utara Pulau Papua setelah Jerman membelinya dari tangan Spanyol. Di gugus kepulauan itulah, sempat terjadi pemberontakan oleh warga pribumi pada tahun 1910 karena mereka tidak menyukai kebijakan pemerintah Jerman yang merekrut paksa warga pribumi untuk dijadikan buruh perkebunan.

Sementara itu di Pulau Papua, pemerintah kolonial Belanda & Inggris tengah berjibaku dengan maraknya perang serta perburuan kepala antar suku di wilayah kekuasaannya masing-masing. Namun upaya aparat di masing-masing wilayah untuk menormalkan situasi terkendala oleh tidak jelasnya batas antara wilayah kekuasaan Belanda dengan wilayah kekuasaan Inggris. Untuk mengatasinya, pada akhir abad ke-19 pemerintah Belanda & Inggris bersepakat kalau batas wilayah kekuasaan masing-masing negara berada di garis astronomis 141 derajat bujur timur.

Dengan merujuk pada kesepakatan tersebut, maka seharusnya koloni-koloni di Pulau Papua memiliki garis perbatasan yang lurus. Namun kenyataannya, ada semacam lekukan yang menjorok ke arah kiri pada garis batas antar koloni. Lekukan itu sendiri ada karena di wilayah Papua kekuasaan Inggris, terdapat sungai panjang bernama Sungai Fry yang muaranya berada di wilayah Inggris, namun bagian hulunya ada yang menjorok ke dalam wilayah kekuasaan Belanda. Karena seluruh bagian Sungai Fry disepakati sebagai bagian dari wilayah Inggris, aparat Inggris pun bisa leluasa melakukan patroli di sepanjang sungai tanpa harus khawatir tidak sengaja masuk ke dalam wilayah kekuasaan Belanda.

Tahun 1914, pecah Perang Dunia I di mana Jerman & Inggris berada di kubu yang berseberangan. Dampak dari perang turut menjalar ke Pulau Papua. Pada tahun yang sama, pasukan Australia yang bertindak sebagai perwakilan pihak Inggris melancarkan invasi ke wilayah GBJ dari arah selatan. Seolah ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, pasukan Jepang turut melancarkan invasi dari sebelah utara & berhasil menduduki gugus kepulauan di sebelah utara Pulau Papua. Digempur dari segala arah & berada jauh dari negara induknya, pasukan Jerman di Papua terpaksa menyerah & membiarkan Inggris menguasai wilayah inti GBJ.


Peta Sungai Fly & garis perbatasan Pulau Papua. (Sumber)


JERMAN DITENDANG, JEPANG DATANG

Tahun 1919, berdasarkan perjanjian damai Versailles, wilayah GBJ secara resmi berpindah tangan ke Australia. Nama GBJ kemudian diganti menjadi "Teritori Guinea Baru" (TGB; Territory of New Guinea), di mana pengelolaan Teritori Papua & Teritori Guinea Baru dilakukan secara terpisah oleh Australia. Sejak dikelola oleh Australia, ekspedisi ke kawasan pedalaman kian sering dilakukan menyusul ditemukannya cadangan emas berjumlah besar ditemukan di Sungai Bulolo. Salah satu ekspedisi tersebut dilakukan pada tahun 1933.

Bukannya menemukan emas, tim ekspedisi di tahun 1933 justru malah menemukan perkampungan tradisional yang penduduknya terisolasi dari dunia luar. Penemuan perkampungan tersebut begitu menarik perhatian karena jumlah penduduk aslinya mencapai 1 juta jiwa & pola hidup mereka dilaporkan nyaris tidak berbeda dengan pola hidup manusia prasejarah di Zaman Batu. Untuk memberdayakan tenaga mereka, para penduduk asli tadi kemudian dipindahkan ke kawasan pantai untuk dijadikan buruh perkebunan kopi serta cokelat.

Tahun 1941, Jepang melakukan serangan tiba-tiba ke Pangkalan Pearl Harbor milik AS, sekaligus memantik pecahnya Perang Dunia II di Front Pasifik. Tidak lama sesudah dilangsungkannya serangan tersebut, pasukan Jepang memulai serangan besar-besaran ke seluruh Asia Tenggara. Pulau Papua tidak luput menjadi sasaran invasi pasukan Jepang yang berencana menjadikan pulau tersebut sebagai batu loncatan menuju Australia. Awalnya pasukan Jepang mencoba menaklukkan kota Port Moresby dari arah laut, namun upaya mereka gagal akibat dicegat oleh pasukan AS dalam Pertempuran Laut Koral pada bulan Mei 1942.

Armada Sekutu saat menuju Pulau
Papua pada tahun 1944. (Sumber)
Gagal di laut, bentrokan antara pasukan Jepang & negara-negara Sekutu masih terus berlangsung di daratan. Karena Pulau Papua penuh dengan pegunungan & hutan rimbun, perang pun terus berlangsung dengan alot di kawasan ini hingga tahun terakhir Perang Dunia II (1945). Seusai perang, Teritori Papua & Teritori Guinea Baru kemudian dilebur menjadi daerah baru dengan nama Teritori Papua & Guinea Baru (Territory of Papua and New Guinea) pada tahun 1949. Pendirian teritori ini sekaligus menjadi cikal bakal munculnya negara Papua Nugini dengan wilayah yang seperti sekarang.

Tahun 1951, untuk pertama kalinya Teritori Papua & Guinea Baru memiliki parlemennya sendiri. Namun baru pada tahun 1961, penduduk asli Papua Nugini diperbolehkan untuk ikut serta dalam pemilu. Jumlah kursi parlemen teritori sendiri awalnya hanya 28 kursi. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah kursi parlemen terus bertambah hingga mencapai lebih dari 100 kursi sejak tahun 1972. Sebelumnya pada tahun 1971, nama Teritori Papua & Guinea Baru secara resmi diubah menjadi Papua Nugini.

Tahun 1972, Michael Somare terpilih sebagai Kepala Menteri Papua Nugini yang baru. Begitu mulai menjabat, Somare melakukan sejumlah pembicaraan dengan pemerintah Australia supaya Papua Nugini bisa segera menjadi wilayah yang mandiri. Hasilnya, hanya berselang setahun kemudian, pemerintah Australia setuju untuk menjadikan Papua Nugini sebagai wilayah dengan kemandirian memerintah yang luas. Tanggal 16 September 1975, hari paling bersejarah bagi Papua Nugini akhirnya tiba. Pada tanggal tersebut, Papua Nugini secara resmi menjadi negara merdeka.



LAHIRNYA PAPUA NUGINI MERDEKA

Papua Nugini merdeka sebagai negara Persemakmuran Inggris. Dengan kata lain, walaupun Papua Nugini memiliki kebebasan penuh dalam mengelola urusan dalam & luar negerinya, Papua Nugini tetap mengakui Ratu Inggris yang diwakili oleh Gubernur Jenderal sebagai kepala negaranya. Namun meskipun sekarang Papua Nugini kini sudah berstatus sebagai negara merdeka yang lepas dari Australia, Papua Nugini & Australia tetap memiliki hubungan yang erat satu sama lain. Selain karena lokasi keduanya yang berdekatan, Australia merupakan negara pemasok dana bantuan utama kepada Papua Nugini.

Peta lokasi Bougainville. (Sumber)
Begitu mendapatkan statusnya sebagai negara merdeka, Papua Nugini langsung menghadapi ancaman separatisme. Pasalnya penduduk Pulau Bougainville di seberang timur Pulau Papua enggan menjadi bagian dari Papua Nugini. Buntutnya, mereka pun mengeluarkan deklarasi kemerdekaan tandingan pada tahun 1975 & menyebut wilayah yang ditinggalinya sebagai "Republik Solomon Utara". Namun karena tidak ada negara yang bersedia mengakui proklamasi tersebut, Pulau Bougainville tetap berstatus sebagai bagian dari Papua Nugini.

Alasan utama kenapa penduduk Bougainville ingin mendirikan negaranya sendiri adalah karena penambangan tembaga yang berlangsung di wilayahnya menimbulkan limbah & pencemaran sungai yang merugikan penduduk setempat. Penduduk Bougainville juga merasa kalau mereka tidak menerima pembagian keuntungan yang sepadan dari aktivitas penambangan tembaga tadi. Saat pemerintah Papua Nugini dianggap bersikap abai atas masalah-masalah tadi, sejumlah ekstrimis Bougainville lantas nekat memulai pemberontakan pada tahun 1989.

Beruntung bagi pemerintah Papua Nugini, pemberontakan tersebut berhasil diredakan pada tahun 1998, sehingga wilayah negaranya tidak sampai menciut. Namun sebagai gantinya, daerah Bougainville menerima otonomi yang lebih luas & kegiatan penambangan tembaga di Pulau Bougainville harus dihentikan. Dengan berakhirnya konflik di Bougainville, ancaman bagi keutuhan Papua Nugini pun berhasil diatasi. Meskipun begitu, pemerintah Papua Nugini masih harus berjibaku dengan masalah-masalah sosial lain yang tak kalah penting seperti seperti masih tingginya angka kemiskinan & banyaknya raskol (geng penjahat) yang berkeliaran.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



BIODATA

Nama resmi : Independent State of Papua New Guinea
Tahun aktif : 1975 - sekarang
Ibukota : Port Moresby
Bentuk pemerintahan : monarki parlementer, dengan Raja / Ratu Inggris sebagai kepala negara
Luas wilayah : 462.840 km persegi
Mata uang : kina
Bahasa nasional : Inggris, Tok Pisin, Hiri Motu



REFERENSI

ABC News - Timeline of key events: Papua New Guinea's....
BBC News - Papua New Guinea profile - Timeline
Daily Mail - The Gangs of New Guinea: Chilling photographs....
Military History Encyclopedia - New Guinea campaign....
Peace and Conflict Monitor - The Bougainville Conflict....
The Commonwealth - Papua New Guinea : History
The New York Times - Who Bit My Border?
Wikipedia - German New Guinea
 - . 2008. "New Britain". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
 - . 2008. "New Ireland". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.
Jackson, R.T.. 2008. "Papua New Guinea". Encyclopaedia Britannica, Chicago, AS.





COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

Download PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi silakan tinggalkan komentar anda selama tidak berisi spam, iklan, kata-kata kasar, & provokasi SARA. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.