FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

The Troubles, Konflik yang Membakar Irlandia Utara




(Sumber)

Another head hangs lowly, child is slowly taken
And the violence caused such silence, who are we mistaken?


Itu adalah petikan dari lirik lagu The Cranberries yang berjudul "Zombie", salah satu lagu lawas favorit saya. Dasarnya saya polos, awalnya saya pikir lagu ini bercerita tentang sekelompok manusia pembasmi zombie seperti di film "Resident Evil", hehehe. Setelah melakukan penelusuran mengenai makna liriknya, saya baru tahu kalau lagu ini berkisah tentang masalah kemanusiaan di Irlandia Utara yang juga dikenal sebagai "The Troubles". Nah, The Troubles inilah yang akan dibahas dalam artikel ini

The Troubles (bahasa Irlandia : Na Triobloidi; Sang Permasalahan) adalah konflik etnopolitik yang terjadi di Irlandia Utara sejak tahun 1969 & dianggap secara resmi sudah berakhir sejak tahun 1998 - walaupun konflik-konflik dalam skala jauh lebih kecil masih berlangsung hingga sekarang. Konflik pada The Troubles melibatkan kaum loyalis & unionis (umumnya Protestan) yang pro bersatu dengan Inggris melawan kaum nasionalis & republikan (umumnya Katolik) yang pro bersatu dengan Irlandia di mana selama periode konflik itu, tentara Inggris juga terlibat. Tercatat antara tahun 1969 hingga 2001, jumlah korban tewas dalam The Troubles mencapai 3.500 lebih.

Peta dari Irlandia & Britania Raya,
termasuk Irlandia Utara (Northern
Ireland) di dalamnya. (Sumber)
Akar dari The Troubles bisa ditelusuri sejak kedatangan kaum imigran Inggris pada awal abad ke-17 di tanah Irlandia untuk menetap di sana. Kedatangan mereka mendesak keberadaan penduduk asli Katolik Irlandia sehingga muncul konflik antara kedua komunitas tersebut. Perang tersebut mayoritasnya dimenangi oleh kaum Protestan sehingga memberi mereka dominasi kekuasaan di Pulau Irlandia & kemampuan melakukan diskriminasi atas penduduk asli setempat.

Seiring waktu - terutama sejak Inggris menjadikan Irlandia sebagai bagian dari wilayahnya sejak awal abad ke-19 - muncullah 2 kelompok besar di Irlandia : kelompok loyalis & unionis (mayoritasnya Protestan) yang dekat dengan Inggris serta golongan nasionalis (mayoritasnya Katolik) yang menginginkan reformasi parlemen yang berkuasa di Irlandia agar kaum Katolik Irlandia bisa mendapatkan kesetaraan dengan kaum Protestan.



SEJARAH PEMBENTUKAN IRLANDIA & IRLANDIA UTARA

Permulaan abad ke-20, terjadi gejolak dalam tubuh Partai Parlementer Irlandia (Irish Parliamentary Party) yang mendominasi aktivitas politik internal Irlandia & berhaluan loyalis-unionis. Situasi yang dimanfaatkan oleh kaum nasionalis & republikan untuk segera mengupayakan reformasi parlemen. Peristiwa tersebut membawa ketakutan bagi kaum unionis & loyalis yang mayoritasnya adalah Protestan. Mereka khawatir jika reformasi benar-benar terwujud, nasib mereka sebagai kaum minoritas di pulau tersebut bakal terancam. Tahun 1912, kaum unionis & loyalis akhirnya mendirikan angkatan bersenjata bernama Ulster Volunteers (Sukarelawan Ulster). Tak lama kemudian, kaum nasionalis & republik mendirikan angkatan bersenjata bernama Irish Volunteers (Sukarelawan Irlandia) dengan tujuan mengimbangi aktivitas Ulster Volunteers.

Kantor Pos Umum Irlandia. (Sumber)
Tahun 1916 terjadi salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Irlandia. Seorang simpatisan nasionalis republik menyandera Kantor Pos Umum (General Post Office) di kota Dublin, lalu mengibarkan bendera hijau yang menyimbolkan "Republik Irlandia" sambil memproklamasikan kemerdekaan Irlandia. Peristiwa yang juga dikenal sebagai "Easter Rising" tersebut pada awalnya tidak dipedulikan oleh mayoritas rakyat Irlandia. Namun semuanya berubah ketika ke-16 orang yang dianggap terlibat dalam peristiwa tersebut dieksekusi 2 tahun sesudahnya oleh pihak Inggris. Tindakan eksekusi tersebut - diikuti dengan aksi mogok tentara asal Irlandia yang berada dalam angkatan perang Inggris - menimbulkan aksi perlawanan dari rakyat Irlandia yang dimotori oleh angkatan bersenjata Irish Republican Army (IRA), hasil reorganisasi dari kelompok Irish Volunteers.

Memanfaatkan opini mayoritas publik Irlandia saat itu yang menolak keberadaan Inggris di Pulau Irlandia, partai Sinn Fein yang berhaluan nasionalis republik berhasil meraih suara dominan di banyak wilayah di Irlandia dalam pemilu pada tahun 1918. Namun Sinn Fein hanya meraih sedikit suara di wilayah utara Irlandia atau Ulster. Keberhasilan Sinn Fein meraih banyak suara di Irlandia memberi mereka dominasi dalam parlemen Irlandia sehingga memberi mereka keleluasaan untuk membentuk parlemen sendiri (Dail) & melakukan negosiasi dengan Kerajaan Inggris untuk menentukan nasib Irlandia selanjutnya.

Suasana penandatanganan Traktat
Anglo-Irlandia. (Sumber)
Tahun 1920, melalui Traktat Anglo-Inggris (Anglo-Irish Treaty) yang disepakati dengan parlemen Irlandia, Kerajaan Inggris akhirnya memberi kemerdekaan pada mayoritas wilayah Irlandia sebagai negara merdeka berstatus dominion hingga merdeka penuh sebagai repubik usai Perang Dunia II, namun tetap memasukkan wilayah Irlandia Utara (Ulster) sebagai bagian dari kerajaannya. Inggris beralasan kebijakan itu sudah disepakati dalam traktat yang intinya menyatakan bahwa dalam pemilu yang dilakukan, mayoritas rakyat di sejumlah wilayah Irlandia Utara memilih tetap bergabung dengan Inggris.

Keputusan Inggris memisahkan Irlandia jadi 2 bagian disambut baik kaum loyalis & unionis, namun ditolak oleh kaum nasionalis & republik yang menyatakan bahwa keputusan tersebut menentang keinginan mayoritas rakyat Irlandia keseluruhan. Sedikit info, kaum unionis, loyalis, & Protestan merupakan mayoritas di wilayah Irlandia Utara, namun merupakan minoritas di wilayah Pulau Irlandia keseluruhan. Kebijakan tersebut lalu menimbulkan friksi dalam tubuh IRA sehingga terjadilah perang sipil Irlandia antara kelompok IRA yang pro-traktat dengan kelompok IRA yang anti-traktat & menghendaki Irlandia bersatu. Perang yang dikenal sebagai Perang Sipil Irlandia itu berakhir dengan kemenangan IRA pro-traktat yang saat itu juga dibantu Inggris.

Peta dari Irlandia Utara. (Sumber)
Meskipun kalah, kelompok IRA yang anti-traktat - belakangan hanya dikenal dengan nama IRA setelah IRA yang pro-traktat bergabung dengan tentara nasional Irlandia - tetap menjalankan aksi-aksi bersenjatanya yang mencakup peledakan bom, penyerangan, & sabotase di sejumlah wilayah di Inggris & Irlandia. Sebagai respon atas tindakan IRA yang merajarela tersebut, pemerintah Irlandia mengeluarkan wewenang bagi kepolisian untuk menangkap mereka yang dianggap terlibat dengan IRA tanpa harus melalui proses peradilan. Kebijakan tersebut membawa konsekuensi & tekanan bagi kaum Katolik di Irlandia Utara sehingga menjelang dekade 1960-an, IRA memutuskan untuk menghentikan aktivitas bersenjatanya.

Sebagai bagian dari Kerajaan Inggris, Irlandia Utara memiliki hak istimewa untuk mendirikan parlemen sendiri. Di dalam pemerintahannya, Irlandia Utara menerapkan kebijakan yang cenderung mengistimewakan kaum mayoritas Protestan & mengesampingkan kaum Katolik dalam berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan, pekerjaan, & hak suara dalam pemilu. Konflik & intimidasi juga terjadi di daerah-daerah yang didominasi oleh kaum agama tertentu. Sebagai akibatnya, masyarakat Irlandia Utara pun jadi cenderung terpolar menjadi wilayah timur yang didominasi kaum Protestan (berpusat di Belfast) & wilayah barat yang didominasi oleh kaum Katolik (berpusat di Derry / Londonderry).



AWAL MULA "THE TROUBLES"

The Troubles dianggap bermula pada dekade 1960-an di mana pada tahun 1966, sekelompok besar simpatisan republik melakukan pawai di Belfast memperingati momen 50 tahun pasca Easter Rising. Sementara sejak awal dekade 60-an, sekelompok orang dari kaum Katolik yang menyebut diri mereka Northern Ireland Civil Rights Association (NICRA) melakukan protes atas sejumlah kebijakan yang dianggap diskriminatif & memojokkan kaum Katolik. Protes mereka mulai menemukan titik terang ketika Terrence O'Neill, perdana menteri Irlandia Utara waktu itu, mengatakan bahwa ia akan mendengarkan protes mereka & menjanjikan akan ada perubahan. Hal tersebut mengundang ketakutan dari kaum unionis & loyalis Protestan yang khawatir bahwa mereka akan kehilangan dominasi di Irlandia Utara.

Mural yang menampilkan anggota
Ulster Volunteer Force (UVF).
Pertengahan tahun 1966, sekelompok simpatisan dari kaum unionis & loyalis mendirikan suatu kelompok paramiliter bernama Ulster Volunteer Force (UVF). Di awal berdirinya, kelompok tersebut langsung menyatakan perang terhadap IRA & menyatakan pula akan langsung mengeksekusi orang-orang yang dianggap sebagai simpatisan IRA. Beberapa aksi mereka adalah menyerang sebuah pub milik kaum Katolik di Belfast pada tahun 1966 serta meledakkan instalasi listrik & air bersih di beberapa titik di Irlandia Utara pada tahun 1969. Akibat aksi-aksi mereka, pemerintah Irlandia Utara menyatakan UVF sebagai gerakan ilegal & menangkap pemimpinnya, namun faktanya UVF tetap melancarkan aksinya walau secara sembunyi-sembunyi.

Tahun 1969, terjadi kerusuhan besar yang dikenal sebagai Pertempuran Bogside (Battle of the Bogside) antara penduduk lokal Derry dengan polisi keamanan RUC (Royal Ulster Constabulary) di area Bogside, kota Derry. Konflik bermula ketika pada tanggal 12 Agustus, iring-iringan Apprentice Boys - yang memperingati kemenangan kaum Protestan dalam penaklukkan Derry pada abad ke-17 - terlibat aksi saling lempar batu dengan sejumlah penduduk lokal ketika iring-iringan tersebut mendekati Kota Derry yang didominasi kaum Katolik.

RUC yang ditugaskan menjaga parade berhasil memaksa penduduk lokal yang terlibat kerusuhan kembali masuk ke Kota Derry. Namun ketika RUC berusaha merengsek lebih jauh ke dalam kota, mereka langsung dihujani lemparan batu & bom molotov oleh penduduk Derry. RUC lantas membalasnya dengan melepaskan gas air mata ke dalam kota sehingga sejumlah penduduk menderita gangguan pernapasan. Tak ada korban jiwa dalam "pertempuran" yang berlangsung hingga tanggal 14 Agustus tersebut, namun korban terluka diperkirakan mencapai ribuan orang.

Suasana dalam Pertempuran Bogside. (Sumber)
Jika ditelusuri hingga beberapa bulan sebelumnya, Pertempuran Bogside bisa dikatakan merupakan puncak kekesalan warga Katolik & nasionalis terhadap kinerja polisi RUC yang dianggap sebagai perpanjangan tangan kaum loyalis karena anggotanya didominasi Protestan. Awal tahun 1969 misalnya, terjadi kerusuhan antara warga Derry dengan RUC setelah parade People's Democracy yang berhaluan nasionalis diserang oleh massa loyalis di perjalanan menuju Derry, sementara RUC yang ditugaskan dianggap tidak berusaha melindungi parade. Bulan April 1969, seorang warga Derry bernama Sammy Devenny dipukuli hingga tewas oleh RUC di rumahnya sendiri usai kerusuhan yang terjadi di Derry pada bulan yang sama. Peristiwa-peristiwa tersebut akhirnya memunculkan kebencian dari warga Derry yang berpuncak pada Pertempuran Bogside.

Sebagai aksi protes terhadap RUC yang dianggap bertindak semena-mena dalam Pertempuran Bogside, pada tanggal 13 Agustus 1969 sekelompok orang yang terdiri dari kaum Katolik & nasionalis melakukan demonstrasi di kota Belfast. Namun entah kenapa, demonstrasi yang semula direncanakan berjalan damai tersebut berubah menjadi rusuh ketika para demonstran menyerang properti milik RUC & kaum Protestan. Malam harinya, kaum loyalis & Protestan melakukan aksi balasan dengan merusak & membakar rumah-rumah komunitas Katolik di Belfast sehingga ribuan warga Katolik di Belfast kehilangan tempat tinggal. Belfast lalu berubah menjadi medan perang yang mencekam ketika terjadi saling serang & baku tembak di antara komunitas & polisi keamanan RUC. Tercatat 7 orang tewas & ribuan lainnya luka-luka dalam kerusuhan besar yang berlangsung hingga 17 Agustus tersebut. Kerusuhan dalam skala lebih kecil juga terjadi di kota-kota selain Belfast.

Mural Pertempuran Bogside
di kota Derry. (Sumber)
Merasa tidak bisa mengendalikan keadaan, pemerintah Irlandia Utara akhirnya meminta penerjunan tentara Inggris di sejumlah wilayah konflik di Irlandia Utara untuk memulihkan kondisi di Irlandia Utara & mencegah konflik sektarian lebih jauh. Kebijakan penempatan tentara Inggris di Irlandia Utara tersebut juga dikenal sebagai "Operasi Bendera" (Operation Banner). Di awal kedatangannya, tentara Inggris disambut dengan hangat oleh komunitas Katolik yang memang sudah muak dengan aktivitas polisi RUC yang dianggap tidak serius mencegah konflik sektarian. Mereka juga berharap tentara Inggris bisa bertindak sebagai pihak netral dalam menengahi konflik & melindungi mereka dari serangan-serangan yang dilakukan kelompok loyalis & Protestan.

Sejumlah pihak dari kubu Katolik & nasionalis menuding IRA gagal melaksanakan tugasnya untuk melindungi komunitas Katolik di Belfast. IRA sendiri beralasan mereka berusaha menghindari baku tembak di wilayah padat penduduk untuk mencegah terjadinya konflik sektarian lebih jauh. Kebijakan IRA tersebut menimbulkan perpecahan internal sehingga sejak akhir tahun 1969, IRA terpecah menjadi 2 : Provisional IRA (PIRA) yang berhaluan nasionalis republik & Official IRA (OIRA) yang berhaluan sosialis.

Baik OIRA maupun PIRA memiliki tujuan yang sama : menyatukan Irlandia menjadi satu negara, namun dengan cara yang agak berbeda. OIRA berusaha menghindari kontak senjata di wilayah padat penduduk dengan harapan bisa menyatukan komunitas Katolik & Protestan, sementara PIRA tidak segan-segan melakukan aksi bersenjata di wilayah padat penduduk - termasuk aksi pengeboman - dengan tujuan membuat korban dari pihak musuh sebanyak mungkin hingga Inggris setuju untuk pergi dari Irlandia Utara.

Anggota PIRA yang sedang
berpatroli. (Sumber)
Terpecahnya IRA yang diikuti dengan berdirinya PIRA yang menyatakan tidak segan-segan melakukan aksi bersenjata terhadap kaum loyalis memunculkan ketakutan baru bagi kaum loyalis & Protestan. Maka pada tahun 1971, kaum loyalis kembali membentuk organisasi paramiliter baru bernama Ulster Defence Association (UDA) untuk melindungi keberadaan kaum loyalis-Protestan & mengimbangi aktivitas PIRA. UDA menyatakan kalau mereka baru akan berhenti beraksi jika PIRA menghentikan aksinya lebih dulu. Terpecahnya IRA & kemunculan UDA - beserta UVF beberapa tahun sebelumnya - menandai periode baru dalam The Troubles di mana konflik yang semula hanya sebatas kerusuhan sipil berubah menjadi perang bersenjata...



FASE AWAL "THE TROUBLES" (DEKADE 1970-AN)

Awal hingga pertengahan dekade 1970-an merupakan salah satu era paling berdarah dalam perkembangan The Troubles karena di masa ini, IRA - terutama PIRA - sedang giat-giatnya melakukan aksi bersenjata yang ditujukan terhadap tentara Inggris & kaum loyalis. Tanggal 25 Mei 1971 misalnya, PIRA meledakkan bom waktu di markas tentara Inggris di Belfast yang menewaskan seorang sersan Inggris & melukai 2 tentara Inggris, 1 polisi RUC, serta 18 warga sipil. Aksi-aksi bersenjata juga dilakukan oleh kelompok paramiliter loyalis - terutama UVF - yang ditujukan terhadap mereka yang dianggap terlibat dalam jaringan IRA, salah satunya adalah aksi pengeboman bar McGurk yang mengakibatkan 15 warga sipil tewas & 17 lainnya luka-luka.

Salah satu peristiwa paling penting dalam dekade 1970-an adalah insiden Bloody Sunday (Minggu Berdarah) yang terjadi pada tanggal 30 Januari 1972 di area Bogside (lagi), Kota Derry. Ada sejumlah versi mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam peristiwa itu, namun versi yang banyak diyakini adalah pihak militer Inggris mendengar bahwa ada sejumlah sniper IRA yang menyamar dalam demonstrasi yang dilakukan NICRA. Kabar yang diterima pihak militer tersebut lalu direspon dengan penerjunan pasukan Inggris ke wilayah Bogside, Derry, yang kemudian melepaskan tembakan ke arah kerumuman demonstran sehingga 14 orang tewas tertembak & 13 lainnya terluka. Pihak tentara mengatakan bahwa mereka hanya bereaksi karena diserang lebih dulu oleh demonstran memakai senapan & bom rakitan, namun klaim itu dibantah oleh saksi mata yang mengatakan tak satupun dari demonstran yang ditembak membawa atau menggunakan senjata.

Mural berisi wajah-wajah
para korban tewas insiden
Bloody Sunday. (Sumber)
Lepas dari klaim masing-masing pihak, peristiwa Bloody Sunday membawa dampak negatif, baik bagi tentara Inggris maupun perkembangan The Troubles sendiri. Sebelum peristiwa Bloody Sunday, warga Katolik bersikap hangat kepada tentara Inggris karena menganggap mereka sebagai pihak netral yang bisa diandalkan untuk melindungi mereka dari konflik sektarian. Namun usai peristiwa penembakan tersebut, opini mereka berubah di mana mereka kemudian menganggap pihak tentara tidak ada bedanya dengan kelompok paramiliter Ulster & polisi RUC yang semena-mena.

Di sisi lain, berubahnya opini warga Katolik terhadap tentara Inggris membuat perkembangan The Troubles semakin rumit karena sesudah peristiwa Bloody Sunday, jumlah orang yang bergabung ke PIRA bertambah banyak. Politikus William Craig bahkan menyatakan bahwa pasca peristiwa ini, cara terbaik untuk meredakan konflik adalah membiarkan wilayah-wilayah di Irlandia Utara yang didominasi Katolik untuk bergabung ke Irlandia.

Pertengahan 1972, OIRA memutuskan untuk melakukan gencatan senjata. Dua tahun sesudahnya, OIRA terpecah menjadi Partai Pekerja (Worker's Party) yang dibentuk sebagai upaya oleh sejumlah mantan anggota IRA menggapai tujuannya tanpa jalan kekerasan & Pasukan Pembebasan Nasional Irlandia (Irish National Liberation Army; INLA) yang berisi sisa-sisa anggota OIRA yang memilih tetap melanjutkan aksi-aksi bersenjata. INLA juga memiliki partai politik tersendiri, yaitu Irish Republican Socialist Party (IRSP) di mana keduanya sama-sama berhaluan sosialis Marxis. Di lain pihak, PIRA sempat mengumumkan gencatan senjata pada tahun 1975, namun gencatan senjata tersebut hanya berlangsung selama beberapa bulan & sesudah itu, PIRA kembali memulai aksi bersenjatanya.

Anggota INLA. (Sumber)
Tahun 1973, sempat dilakukan perundingan antara perwakilan Inggris, Irlandia, kaum nasionalis, & kaum unionis. Perundingan itu lalu menghasilkan kesepakatan yang dikenal sebagai Perjanjian Sunningdale. Inti dari Perjanjian Sunningdale adalah membentuk parlemen eksekutif di mana kaum loyalis akan berbagi kekuasaan dengan kaum nasionalis & pembentukan konsul yang diharapkan bisa meningkatkan kerja sama antara Irlandia Utara dengan Republik Irlandia. Perjanjian tersebut didukung oleh sejumlah partai unionis & nasionalis, namun ditolak oleh PIRA yang hanya menginginkan "Irlandia bersatu" sebagai solusi akhir bagi aksi perlawanan mereka. Di lain pihak, kaum unionis & loyalis garis keras juga menolak perjanjian tersebut karena perjanjian tersebut dianggap terlalu pro-Irlandia & kaum nasionalis.

Perjanjian Sunningdale tidak berumur panjang setelah Brian Faulkner selaku kepala badan eksekutif mengundurkan diri usai partainya, Ulster Unionist Party (UUP), menarik diri dari perjanjian. Mundurnya Faulkner & partainya disebabkan oleh tekanan akibat aksi-aksi kekerasan & sabotase massal di Irlandia Utara oleh Ulster Workers' Council yang dibentuk dari kelompok pekerja simpatisan loyalis & unionis yang anti Perjanjian Sunningdale. UUP lalu membentuk United Ulster Unionist Council (UUUC) sebagai semacam koalisi dengan partai-partai unionis lain yang menentang Perjanjian Sunningdale untuk mengikuti pemilu beberapa bulan pasca mundurnya Faulkner. Hasilnya, mereka yang menentang Perjanjian Sunningdale berhasil memenangkan suara mayoritas sehingga perjanjian itu pun resmi berakhir sejak pertengahan 1974.

Bulan Mei 1974, terjadi insiden ledakan bom di kota Dublin & Monaghan, Republik Irlandia, yang mengakibatkan tewasnya 33 orang & melukai ratusan orang lainnya - menjadikan aksi tersebut sebagai aksi pengeboman dalam satu peristiwa yang paling banyak mengakibatkan korban selama The Troubles. Agak ironis mengetahui bahwa insiden yang memakan korban sebesar itu dalam satu peristiwa justru terjadi di luar wilayah konflik yang sebenarnya (baca : Irlandia Utara). Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab dalam insiden tersebut sebelum kelompok paramiliter loyalis UVF mengaku pada tahun 1993 bahwa mereka yang melakukan aksi pengeboman tersebut.

Suasana pasca pemboman Dublin. (Sumber)
Tahun 1979, Inggris dikejutkan oleh kematian 3 figur pentingnya, yaitu Richard Sykes (duta besar Inggris untuk Belanda), Airey Neave (anggota parlemen Partai Konservatif Inggris), & Lord Louis Mountbatten (sepupu Ratu Elizabeth yang juga merupakan veteran Perang Dunia II). Sykes dibunuh oleh anggota PIRA di Den Haag, Neave terbunuh ketika mobil pribadinya diledakkan oleh anggota INLA, sementara Mountbatten tewas bersama 5 anggota keluarganya setelah kapal pesiar pribadi yang mereka naiki meledak di perairan laut dekat Sligo, Irlandia. Selain ketiga figur penting tersebut, jumlah korban tewas dari pihak tentara Inggris & polisi RUC juga terus bertambah akibat aksi-aksi pembunuhan yang sebagian besar dilakukan oleh PIRA.



FASE PERTENGAHAN "THE TROUBLES" (DEKADE 1980-AN)

Awal dekade 1980 dibuka dengan aksi mogok makan yang dilakukan oleh 7 orang simpatisan republikan yang ditahan oleh Inggris di Penjara Maze. Aksi mogok makan tersebut dilakukan sebagai aksi protes terhadap kebijakan pemerintah Inggris yang menangkap mereka yang diduga sebagai simpatisan republik tanpa proses pengadilan & tindakan kasar petugas penjara terhadap tahanan. Sebelumnya, pada tahun 1976 sekelompok simpatisan republikan yang ditahan di penjara yang sama juga melakukan aksi protes berupa penolakan memakai seragam penjara yang diikuti dengan aksi mengotori dinding penjara dengan kotoran & air seni 2 tahun sesudahnya. Aksi mogok makan yang dilakukan pada akhir tahun 1980 tersebut berlangsung selama 53 hari.

Setahun kemudian, ketika mengetahui bahwa tuntutan para peserta aksi mogok makan pada tahun 1980 tidak dipenuhi, para tahanan simpatisan republik kembali melakukan aksi mogok makan. Berbeda dengan aksi mogok makan sebelumnya, aksi mogok makan pada tahun 1981 dilakukan dengan interval beberapa hari antar pesertanya dengan tujuan untuk menarik perhatian publik lebih besar. Aksi mogok makan dimulai oleh Bobby Sands pada tanggal 1 Maret 1981. Uniknya, saat dia menjalani aksi mogok makan tersebut, ia terpilih sebagai salah satu anggota parlemen di Westminster. 66 hari sesudah ia memulai aksi mogok makannya, Bobby Sands akhirnya meninggal & prosesi pemakamannya di Belfast dihadiri oleh 100.000 orang lebih. Meninggalnya Sands akibat aksi mogok makan kemudian diikuti oleh kematian kesembilan peserta mogok makan lainnya selama 3 bulan berikutnya.

Bobby Sands. (Sumber)
Sesuai keinginan penggagas & pesertanya, aksi mogok makan yang dilakukan pada tahun 1981 berhasil menarik perhatian masyarakat dunia & menaikkan pamor komunitas nasionalis republik. Beberapa tempat di dunia didirikan atau diberi nama yang mengandung unsur "Bobby Sands" sebagai bentuk penghormatan. Sementara di wilayah lain aksi-aksi protes mengecam pemerintah Inggris meledak pasca meninggalnya Bobby Sands. Di lain pihak, jumlah pemuda yang bergabung ke dalam kelompok paramiliter PIRA juga meningkat pesat. Hal tersebut mengikuti tren yang terjadi pasca insiden Bloody Sunday pada tahun 1972 di mana semakin banyak yang tertarik untuk bergabung ke dalam keanggotaan PIRA.

Tanggal 12 Oktober 1984, terjadi aksi pengeboman di Hotel Grand di Brighton, Inggris. Aksi pengeboman tersebut menarik atensi publik begitu besar karena di saat bersamaan, Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher sedang berada di sana dalam kongres Partai Konservatif. Tercatat 5 orang terbunuh & 34 lainnya luka-luka, namun Thatcher sendiri selamat dalam aksi pengeboman tersebut. Aksi pengeboman tersebut dianggap sebagai aksi balas dendam PIRA terhadap pemerintah Inggris atas kematian Bobby Sands & simpatisan republikan lainnya dalam aksi mogok makan tahun 1981.

5 tahun pasca aksi mogok makan tahun 1981, terjadi perpecahan dalam tubuh partai republikan Sinn Fein - partai yang disebut-sebut sebagai sayap politik PIRA. Penyebab perpecahan tersebut adalah karena sejumlah anggota Sinn Fein berusaha memanfaatkan fenomena meningkatnya pamor kaum nasionalis Irlandia pasca peristiwa mogok makan untuk mencari dukungan via jalur politik, sementara sebagian lainnya menentang upaya tersebut karena dianggap bertentangan dengan kebijakan Sinn Fein untuk selalu menolak mengambil kursi dalam parlemen Irlandia Utara. Perbedaan pendapat tersebut membuat Sinn Fein terpecah menjadi 2 di mana pecahannya menamakan diri mereka Republican Sinn Fein.



FASE AKHIR "THE TROUBLES" (DEKADE 1990-AN)

Suasana pasca ledakan di
Manchester. (Sumber)
Awal dekade ini ditandai dengan mundurnya Margaret Thatcher dari kursi Perdana Menteri Inggris pada bulan November 1990. Periode ini juga ditandai dengan semakin meningkatnya aksi-aksi kekerasan milisi loyalis sejak akhir 1980-an di mana untuk pertama kalinya selama The Troubles, kelompok loyalis bisa menciptakan korban tewas lebih banyak dibandingkan kelompok milisi nasionalis Irlandia. Kelompok nasionalis pun lantas melakukan aksi-aksi balasan berupa pembunuhan orang-orang yang dianggap merupakan anggota dari kelompok milisi loyalis.

Penyelidikan yang dilakukan sejak periode yang kurang lebih bersamaan menemukan bahwa meningkatnya aksi-aksi bersenjata milisi loyalis disebabkan oleh adanya kerja sama rahasia (kolusi) antara milisi loyalis dengan aparat keamanan Inggris. Dalam kerja sama terlarang itu, sejumlah anggota intelijen Inggris diketahui menyediakan suplai persenjataan & data-data intelijen mengenai aktivitas kelompok nasionalis Irlandia kepada milisi loyalis Ulster. Hingga sekarang, seberapa besar skala aktivitas kolusi antara aparat Inggris dengan milisi loyalis sendiri masih diperdebatkan.

Peristiwa kekerasan terbesar dalam dekade ini adalah peristiwa ledakan bom di pusat kota Manchester pada tanggal 15 Juni 1996 yang dilakukan oleh PIRA. Insiden ledakan tersebut begitu diingat karena begitu besarnya dampak kerusakan yang ditimbulkan & korban cedera yang mencapai 200 orang. Ledakan tersebut juga disebut-sebut sebagai ledakan bom terbesar yang menimpa Inggris sejak Perang Dunia II. Sebagai akibatnya, banyak bangunan yang terpaksa dihancurkan & dibangun kembali. Selain aksi ledakan bom di Manchester, PIRA juga meledakkan bom di London beberapa bulan sebelumnya di awal 1996 yang mengakibatkan kerugian puluhan juta poundsterling. Bila ditotal dengan kerusakan dari pemboman Manchester, kerugian material yang diderita mencapai setengah milyar poundsterling.

Perdana menteri Inggris & Irlandia
ketika sedang menandatangani
Perjanjian Belfast. (Sumber)
Lepas dari konflik yang masih terus berlanjut, upaya untuk mengakhiri konflik di Irlandia Utara semakin menemukan titik terang. Tahun 1998, pasca pembicaraan panjang yang diadakan sejak beberapa tahun sebelumnya antar partai-partai di Irlandia Utara beserta pemerintah Inggris & Irlandia, Perjanjian Belfast (dikenal juga sebagai Perjanjian Jumat Agung / Good Friday Agreement) dirumuskan. Sejumlah poin penting dalam perjanjian ini antara lain Irlandia Utara tetap menjadi bagian dari Inggris kecuali mayoritas rakyatnya berubah pendirian, pendirian komisi HAM di Irlandia Utara, penyusunan sistem pemerintahan di Irlandia Utara yang komposisi anggotanya harus terdiri dari partai loyalis & republik, serta berakhirnya operasi militer Inggris di Irlandia Utara. Dicapainya Perjanjian Belfast juga disebut-sebut sebagai akhir dari The Troubles.

Berbagai perubahan dilakukan sebagai penerapan lanjutan dari Perjanjian Belfast. Salah satu perubahan penting yang dilakukan adalah reformasi dalam tubuh kepolisian RUC (Royal Ulster Constabulary) di mana pada tahun 2001, namanya diubah menjadi Police Service of Northern Ireland (PSNI) yang komposisi anggotanya terdiri dari 50% Katolik & 50% Protestan. Perubahan tersebut dilakukan untuk menghapus citra polisi di Irlandia Utara yang selama ini dianggap diskriminatif & semena-mena terhadap komunitas Katolik & nasionalis serta mengembalikan peran mereka sebagai penjaga ketertiban di Irlandia Utara usai penarikan mundur tentara Inggris.

Menjelang Perjanjian Belfast, kelompok-kelompok paramiliter di Irlandia Utara menghentikan aktivitas bersenjatanya untuk sementara waktu. Usai Perjanjian Belfast disahkan, pelucutan senjata masing-masing kelompok paramiliter dilakukan. Fokus utama dalam upaya pelucutan senjata adalah PIRA mengingat PIRA merupakan kelompok paramiliter terbesar & paling dominan semasa The Troubles berlangsung. Upaya tersebut akhirnya terwujud setelah pada tahun 2005, PIRA dipastikan sudah menghancurkan semua stok persenjataannya dengan disaksikan oleh tim pengawas independen. Setelah pelucutan senjata milik PIRA dilakukan, pelucutan senjata dilakukan kepada kelompok-kelompok paramiliter lain seperti UDA & UVF.

Mural simpatisan CIRA. (Sumber)
Kebijakan PIRA untuk mengakhiri kegiatan bersenjatanya ternyata tetap mendapat penolakan dari sejumlah simpatisannya. Oleh karena itu, pada tahun 1998 sejumlah simpatisan PIRA memutuskan untuk membelot & membentuk kelompok paramiliter baru bernama Real IRA (RIRA). RIRA memiliki agenda untuk melanjutkan aktivitas bersenjata yang selama ini dilakukan oleh PIRA. Dalam sejumlah aksinya, mereka diketahui bekerja sama dengan Continuity IRA (CIRA) yang juga merupakan pecahan dari PIRA tahun 1994. Bisa dibilang, tinggal RIRA & CIRA kelompok paramiliter di Irlandia Utara yang masih aktif sampai sekarang.



PENUTUP

Lepas dari keberadaan kelompok-kelompok paramiliter kecil yang masih aktif hingga sekarang, usai tahun 2000 kondisi di Irlandia Utara sudah jauh lebih kondusif. Irlandia Utara sekarang menjadi salah satu lokasi tujuan investor & wisatawan di Britania Raya. Lukisan-lukisan dinding (mural) yang selama ini menjadi visualisasi perlawanan di Irlandia Utara kini menjadi saksi bisu sekaligus galeri terbuka untuk mengenang konflik berkepanjangan tersebut. Sikap terbuka & saling menghargai antar komunitas juga semakin meningkat.

Namun, konflik yang sudah berlangsung selama hampir 30 tahun tersebut tetap saja membawa konsekuensi negatif. Beberapa di antaranya adalah sikap sentimentil yang masih kerap muncul antara komunitas Katolik dengan Protestan, kasus-kasus pelanggaran HAM selama The Troubles yang masih belum tertangani, banyaknya korban jiwa & kerugian material akibat konflik, serta tekanan psikologis mendalam bagi masyarakat di Irlandia Utara. Sekali lagi, ketika perbedaan pandangan & ketidakadilan yang dialami oleh suatu kelompok tidak tertangani dengan baik, maka dalam jangka panjang akibatnya bisa berakibat fatal. The Troubles hanyalah 1 dari sekian banyak contoh tersebut.   -  © Rep. Eusosialis Tawon



RINGKASAN KONFLIK

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
     - Waktu : 1969 - 1998
     - Lokasi : (mayoritasnya di) Irlandia Utara

2. Pihak yang Bertempur
     (Grup)  -  UVF, UDA, milisi-milisi loyalis Ulster
              melawan
     (Grup)  -  PIRA, OIRA, INLA, milisi-milisi nasionalis Irlandia
              melawan
     (Negara)  -  Inggris Raya

3. Hasil Akhir 
     - Konflik berakhir tanpa pemenang
     - Mayoritas kelompok bersenjata menghentikan aktivitas perlawanannya
     - Konflik skala kecil dilanjutkan oleh RIRA & CIRA

4. Korban Jiwa
     Sekitar 3.500 jiwa lebih



REFERENSI

BBC History - The Troubles, 1963 to 1985 (Print Page)
CAIN - The Hungers Strike of 1981 Chronology
Wikipedia - 1981 Irish hunger strike
Wikipedia - Battle of the Bogside
Wikipedia - Bloody Sunday (1972)
Wikipedia - Northern Ireland peace process
Wikipedia - Partition of Ireland
Wikipedia - Provisional Irish Republican Army
Wikipedia - Timeline of the Northern Ireland Troubles
Wikipedia - The Troubles
YourIrish.com - 20th Century Irish History
YourIrish.com - The Creation Of Northern Ireland


          

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

2 komentar:

  1. keren postingannya. lengkap dan rinci. thanks for this information :D

    BalasHapus
  2. Bagus bagus bagus, bisa jadi bahan referensi

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.