FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Pari Hidung Lembu Jawa, Pari Bermoncong Aneh dari Lautan Indo-Pasifik




(Sumber)

Salah satu ikan pari paling unik yang sebenarnya cukup lazim tapi tidak begitu diketahui manusia adalah pari hidung lembu Jawa (Javanese cownose ray) atau pari hidung bilah (flapnose ray; Rhinoptera javanica). Nama "hidung bilah" diberikan karena bagian moncong ikan ini yang pipih & memanjang, sementara nama "hidung lembu" diberikan karena ikan ini termasuk dalam genus ikan pari yang memiliki hidung mirip hidung lembu (lihat gambar kepalanya). Selebihnya, ikan ini memiliki tubuh yang pipih & melebar layaknya ikan pari lain. Selain pari hidung lembu Jawa, terdapat beberapa spesies ikan pari hidung lembu lain yang tersebar di berbagai wilayah lautan dunia.

Embel-embel nama "Jawa" pada ikan ini sedikit menyesatkan karena walaupun ikan pari ini memang bisa ditemukan di perairan Jawa, persebaran mereka sebenarnya lebih luas dari itu. Mereka bisa ditemukan mulai dari pantai timur Afrika Selatan hingga kepulauan di selatan Jepang, serta mulai dari pantai selatan India hingga perairan Australia. Sederhananya, ikan ini bukan hewan khas Jawa. Adapun selain di perairan asin, ikan pari hidung bilah juga bisa ditemukan di daerah air payau (rawa-rawa) & muara sungai.

Seperti halnya mayoritas ikan pari, ikan pari hidung bilah juga memiliki perilaku suka berdiam di dasar laut yang berlumpur atau berpasir. Perilaku tersebut bukan tanpa alasan. Dengan berdiam di dasar laut, ia bisa menghindari pemangsanya dengan cara bersembunyi di dalam pasir atau memanfaatkan warna gelap punggungnya sehingga sulit dilihat. Lebih lanjut, ikan pari hidung bilah juga bisa memakai duri beracun yang ada di ekornya ketika merasa sudah terpojok.

Ikan pari hidung lembu Jawa
dilihat dari sisi lain.
Makanan ikan pari hidung bilah tidak berbeda jauh dengan ikan pari dasar laut lainnya, yaitu hewan-hewan dasar laut seperti kerang-kerangan & Crustacea (kepiting & udang dasar laut). Saat makan, ikan pari hidung bilah memakai gigi yang permukaannya rata & keras seperti landasan sehingga ia bisa menghancurkan cangkang keras mangsanya tanpa masalah. Jika sedang tidak berada di dasar laut, ikan pari hidung bilah bisa terlihat berenang bersama-sama untuk bermigrasi di mana kelompok terbesar yang diketahui jumlahnya mencapai 500 ekor.

Ikan pari hidung bilah adalah ovovivipar di mana mereka bertelur, namun telur yang dihasilkan tetap disimpan dalam tubuhnya & baru dikeluarkan ketika sudah menetas. Jumlah anakan yang dihasilkan per "melahirkan" bisa mencapai 6 ekor, namun rata-rata jumlah anakan yang dihasilkan hingga selamat hanya berjumlah 1-2 ekor karena besarnya ukuran anakan yang dihasilkan (rentang sirip dadanya sekitar 63 cm). Tidak diketahui berapa usia maksimal & waktu yang dibutuhkan anakan untuk mencapai kedewasaan, namun pari hidung bilah diketahui bisa memiliki rentang sirip dada (sirip yang mirip sayap) maksimal mencapai 150 cm.

Ikan pari hidung bilah bukanlah komoditas utama dalam perikanan laut, namun mereka kerap tertangkap secara tidak sengaja dengan jala & alat tangkap yang digunakan di wilayah pantai. Mereka juga kerap tertangkap dalam jala pukat (trawl) di laut lepas walaupun kemudian akhirnya dilepas kembali ke laut. Dikhawatirkan bila aktivitas tersebut tidak dikontrol, populasi mereka di alam liar akan menuju ambang kepunahan. Selain karena penangkapan, aktivitas pencemaran di tepi laut juga menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup mereka.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



KLASIFIKASI

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Chondrichthyes
Ordo : Myliobatiformes
Famili : Myliobatidae
Genus : Rhinoptera
Spesies : Rhinoptera javanica (Muller & Henle, 1841)



REFERENSI

ARKive - Javanese cownose ray videos, photos, and facts
IUCN Red List - Rhinoptera javanica
Wikipedia - Rhinoptera javanica


           

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

6 komentar:

  1. unik nih ikan
    tapi bahaya juga

    makasi infonya ya

    BalasHapus
  2. (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
    Pemberian nama spesies javanica mungkin lantaran penemuan pertama spesies ini di perairan seputar jawa. Seperti halnya beberapa spesies yang bernama "indica" namun ditemukan di daratan asia lainnya.

    BalasHapus
  3. @alamendah
    Yup, mungkin saja. Karena pada awalnya ditemukan di peraian Jawa, maka ikan tersebut diberi nama latin Jawa & penemuan-penemuan berikutnya baru menemukan bahwa ikan tersebut ternyata tidak hanya berada di Jawa

    Omong-omong, makasih buat pendapatnya :)

    BalasHapus
  4. aku sempet kebingungan ngeliat poto awal itu

    BalasHapus
  5. Saya beberapa hari yang lalu nonton acara di tipi, ternyata manta dan pari itu beda ya. Saya pikir manta itu istilah lainnya pari. :)
    Oh ya, bahas manta juga. :D

    BalasHapus
  6. @asop
    Manta itu emang termasuk pari, tapi pari yg berbeda. Kalau kebanyakan pari hidupnya di dasar laut, manta itu hidupnya berenang bebas dengan memakan plankton

    Saya dulu pernah bahas manta, tapi bukan di blog ini. Nanti kalau sempat saya pindahin ke sini artikelnya :)

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.