FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Al-Shabaab, Para Pengibar Bendera Hitam dari Somalia




(Sumber)

Bila mendengar kata Somalia, maka orang umumnya akan langsung membayangkan sebuah kawasan yang dipenuhi perang & kekacauan. Bayangan tersebut tidak sepenuhnya salah karena hingga sekarang, Somalia memang sedang dilanda perang sipil semenjak tumbangnya rezim komunis pimpinan Siad Barre pada tahun 1991. Sejak itu, muncullah perang sipil di mana pihak-pihak yang berperang memiliki agendanya sendiri-sendiri. Dalam perang tersebut, salah satu pihak yang belakangan ini cukup menonjol adalah Al-Shabaab, kelompok yang terkenal kerap mengibarkan bendera berwarna hitam - simbol dari mujahidin alias milisi pejuang Islam - di medan perang.

Al-Shabaab (bahasa Arab dari "para pemuda") atau lengkapnya Harakat Al-Shabaab Al-Mujahidin (HSM; Gerakan Para Pemuda Pejuang) adalah kelompok milisi berideologi Islam dari Somalia yang sebagian besar aktivitasnya terpusat di wilayah selatan negara tersebut. Selain dengan nama Al-Shabaab, kelompok ini juga dikenal dengan nama Hizbul Shabaab (Partai Para Pemuda) & Popular Resistance Movement in the Land of the Two Migrations (PRM; Gerakan Perlawanan Populer di Tanah Dua Migrasi). Jumlah anggota mereka tidak jelas, namun diperkirakan jumlahnya berkisar antara 3.000 - 6.000 personil.

Para pengamat internasional meyakini kalau Al-Shabaab bisa eksis bukan karena faktor sentimen agama semata, tapi juga karena faktor kepentingan negara-negara setempat. Mesir contohnya, diisukan menyokong Al-Shabaab untuk mengganggu Ethiopia - tetangga dari Somalia - agar Ethiopia tidak bisa fokus memonopoli Sungai Nil yang mata airnya ada di wilayah Ethiopia, tapi muaranya ada di wilayah Mesir.
Eritrea yang bertetangga dengan Ethiopia di utara dilaporkan juga menyokong Al-Shabaab sebagai akibat dari hubungan buruk kedua negara tersebut. Somaliland - wilayah di Somalia utara yang memerdekakan diri pada tahun 1991, tapi kemerdekaannya tidak diakui dunia internasional - juga disinyalir menyokong Al-Shabaab karena dengan membuat kondisi internal Somalia tidak stabil, Somaliland bisa terus mempertahankan statusnya sebagai negara sendiri.



LATAR BELAKANG

Peta dari Somalia berikut negara-negara di sekitarnya. (Sumber)
Menyusul tumbangnya rezim komunis pimpinan Siad Barre pada tahun 1991, Somalia terseret ke dalam perang sipil sehingga kriminalitas & kekacauan sipil pun merajarela. Pada masa inilah, sejumlah pengadilan berbasiskan hukum Islam yang dibentuk oleh kelompok-kelompok suku setempat (klan) mulai bermunculan dengan tujuan memberantas kriminalitas dengan memakai hukum Islam sebagai basis hukumnya. Sedikit info, Somalia merupakan negara yang didominasi oleh sistem tribalisme (kesukuan) di mana pihak-pihak yang dominan pada suatu wilayah biasanya merupakan kepala-kepala suku setempat. Menyusul tidak adanya pemerintahan pusat yang efektif di Somalia pasca tumbangnya rezim Siad Barre, sistem tribalisme pun berkembang semakin subur.

Pengadilan-pengadilan Islam yang bermunculan di Somalia awalnya hanya bekerja sebagai penegak hukum di masing-masing wilayah tinggal para klan yang bersangkutan. Namun menjelang akhir abad ke-20, pengadilan-pengadilan itu mulai menggabungkan diri menjadi apa yang dikenal sebagai Islamic Courts Union (ICU; Uni Pengadilan Islam; Midowga Maxkamadaha Islaamiga) dengan tujuan memperluas pengaruh mereka ke seantero Somalia. ICU dalam perkembangannya berhasil menarik simpati rakyat Somalia dengan cepat karena mayoritas rakyat Somalia memang beragama Islam, komitmen kuat organisasi tersebut dalam memberantas kriminalitas, & penyediaan layanan-layanan sosial seperti pendidikan serta pengobatan.

Ketika ICU berkembang menjadi semakin kuat, keberadaan mereka pun mulai mengancam kekuasaan para kepala suku yang berhaluan sekuler. Maka, para kepala suku yang awalnya sering berkonflik satu sama lain itupun sepakat untuk berdamai & bersatu memerangi ICU. ICU lantas merespon perlawanan para kepala suku tersebut dengan membentuk sayap militernya sendiri yang anggotanya terdiri dari kelompok-kelompok suku pro-Islam. Salah satu kelompok penyusun sayap militer ICU tersebut adalah Hizbul Shabaab atau Al-Shabaab, kelompok bersenjata yang anggotanya terdiri dari para pemuda Somalia penganut aliran Wahabi, sejenis aliran Islam dari Arab Saudi.

Bendera ICU. (Sumber)
Al-Shabaab awalnya difungsikan sebagai semacam pasukan khusus dari ICU. Namun dalam perkembangannya, cara pandang dari para anggotanya yang cenderung kaku & ekstrim membuat Al-Shabaab kerap melakukan aksi-aksi yang merusak citra ICU di mata dunia internasional. Beberapa contoh aksi tersebut adalah menculik jurnalis yang mengkritik kelompok Islam di Somalia, menyerang pemuda-pemuda lokal yang dianggap berpakaian terlalu kebaratan-baratan, & membunuh tentara kelompok Juba, Somalia selatan, yang sedang dirawat di rumah sakit. ICU sendiri beberapa kali mengumumkan permintaan maaf setiap kali Al-Shabaab melakukan aksi-aksi yang bercitra negatif sambil menekankan bahwa tindakan-tindakan Al-Shabaab tersebut tidak merefleksikan kebijakan dari para petinggi ICU.

Kembali ke soal ICU. Konflik antara pasukan ICU & pasukan gabungan para klan sekuler akhirnya merambat ke Mogadishu, ibukota Somalia, pada bulan Mei 2006. Pertempuran tersebut berakhir dengan kemenangan pihak ICU sehingga ICU secara efektif berhasil menguasai wilayah selatan Somalia. Tak lama sesudah kemenangan tersebut, ICU mulai mengalihkan fokusnya ke kegiatan sosial seperti memerintahkan pengumpulan & pembersihan sampah-sampah yang menumpuk di Mogadishu - suatu aktivitas yang tak pernah dilakukan oleh penguasa kota tersebut sejak rezim komunis di Somalia tumbang. Selain membersihkan sampah, ICU juga membuka kembali bandara serta pelabuhan di Mogadishu & merebut Haradhere, kota yang selama ini menjadi pangkalan bajak laut setempat.

Di luar semua kegiatan positif yang dilakukan ICU, dunia internasional tetap tidak mengakui rezim ICU di Somalia & hanya mengakui pemerintahan transisi Somalia bentukan PBB sebagai rezim Somalia yang berdaulat. Puncaknya adalah ketika pada akhir tahun 2006, pasukan Ethiopia & pemerintah transisi Somalia melancarkan serangan ke wilayah selatan Somalia yang dikuasai oleh ICU. Pertempuran berjalan sengit, namun pasukan gabungan Ethiopia & pemerintahan transisi Somalia yang lebih kuat & berpengalaman akhirnya berhasil merebut Mogadishu dari tangan ICU. Pasca kemenangan tersebut, kelompok-kelompok yang menyusun ICU - tak terkecuali Al-Shabaab - mulai tercerai berai & menempuh jalannya sendiri-sendiri.



AKTIVITAS Al-SHABAAB

Awal Mula Bangkitnya "Para Pemuda"

Suasana kota Mogadishu saat
pertempuran pecah. (Sumber)
Pasca berhasil direbutnya Mogadishu oleh pasukan gabungan Ethiopia-Somalia pada bulan Januari 2007, Al-Shabaab sebagai kelompok sempalan ICU mulai berusaha membangun kembali kekuatannya. Dengan modal klaim mereka sebagai kelompok pembela Islam, mereka berhasil merekrut orang-orang Islam dari luar Somalia yang tertarik untuk "berjihad" di Somalia. Al-Shabaab juga mulai menarik simpati orang-orang di Somalia sendiri dengan menyebut diri mereka sebagai pejuang tanah air yang berusaha membebaskan Somalia dari tangan pasukan asing (Ethiopia). Lebih lanjut, para petinggi Al-Shabaab secara diam-diam juga mulai mengimpor persenjataan dari Eritrea, negara tetangga sekaligus rival dari Ethiopia.

Pada bulan yang sama, Al-Shabaab mulai menampakkan diri mereka ke dunia luar ketika mereka merilis video pernyataan perang kepada pasukan perdamaian Uni Afrika yang diterjunkan di Somalia karena menganggap penerjunan pasukan perdamaian tersebut sebagai bentuk campur tangan asing & sarat akan kepentingan. Beberapa bulan kemudian - tepatnya pada bulan Maret 2007 - Al-Shabaab yang dibantu oleh sisa-sisa pasukan ICU & para anggota klan Hawiye melancarkan serangan ke Mogadishu, ibukota dari Somalia. Kendati serangan tersebut berhasil dipatahkan, namun konflik-konflik skala kecil di sekitar Mogadishu terus berlangsung di mana mereka berhasil merebut wilayah-wilayah di Somalia selatan secara perlahan tapi pasti.

Memasuki bulan Desember 2007, Al-Shabaab & sekutunya berhasil merebut kota Guriel, Kismoyo, & sebagian Mogadishu. Menyusul keberhasilan tersebut, Al-Shabaab pun mulai menjalankan peraturan-peraturan mereka yang diklaim berdasarkan hukum Islam di wilayah-wilayah taklukannya. Bila dibandingkan dengan ICU selaku organisasi induk mereka, aturan-aturan buatan Al-Shabaab cenderung lebih keras & lebih kolot karena selain melarang hal-hal seperti alkohol & pornografi, Al-Shabaab juga melarang segala macam bentuk hiburan yang berasal dari barat, termasuk sepak bola. Hukuman untuk mereka yang ketahuan melanggar atau menentang bervariasi, mulai dari yang sebatas dipukuli hingga dijebloskan ke penjara.

Para personil Al-Shabaab yang
sedang berpatroli. (Sumber)
Selain melarang hal-hal yang berbau hiburan dari barat, Al-Shabaab juga melarang impor makanan & bantuan makanan dari luar Somalia. Kebijakan Al-Shabaab tersebut tak pelak memicu kecaman dari lembaga-lembaga kemanusiaan yang menganggap bahwa kebijakan Al-Shabaab tersebut membahayakan keselamatan para pengungsi di wilayah kekuasaannya. Namun di sisi lain, kebijakan Al-Shabaab tersebut membawa berkah tersendiri bagi para petani lokal karena kini hasil-hasil pertanian mereka bisa mendominasi pasaran Somalia. Dampaknya, sektor perekonomian di kawasan pedesaan Somalia pun menggeliat & taraf hidup para penduduk kelas bawah di Somalia mulai mengalami peningkatan.


Munculnya Musuh Baru di Dalam & Luar Somalia

Kembali ke medan perang. Memasuki awal tahun 2008, Al-Shabaab & sekutunya berhasil merebut kota Dinoor sehingga alur perang sipil di Somalia tak lagi hanya terpusat di sekitar Mogadishu. Sebulan kemudian, AS yang selama ini memang mendukung pemerintahan transisi Somalia & Ethiopia di medan perang untuk pertama kalinya memasukkan Al-Shabaab ke dalam daftar kelompok teroris versi mereka & siapapun yang ketahuan menjalin kontak dengan Al-Shabaab bakal dikenakan hukuman. Petinggi Al-Shabaab sendiri terkesan tidak ambil pusing dengan keputusan AS tersebut. Sambil setengah mengejek, ia bahkan menyebut status teroris yang disematkan kepada Al-Shabaab sebagai "medali kehormatan".

Tak lama sesudah AS menyatakan Al-Shabaab sebagai kelompok terlarang, mereka melancarkan sejumlah serangan udara ke wilayah-wilayah di Somalia yang dikuasai oleh Al-Shabaab & sekutunya. Serangan pertama dilancarkan pada bulan Maret 2008 ke kota Dhole. Beberapa bulan kemudian alias pada bulan Mei, AS kembali melancarkan serangan udara - kali ini ke kota Dushamareb - di mana serangan kali ini sukses menewaskan pemimpin Al-Shabaab, Aden Hashi Eyrow, beserta beberapa petinggi senior Al-Shabaab & penduduk sipil setempat. Tak lama sesudah tewasnya Eyrow, Sheikh Mukhtar Robow alias Abu Mansur naik menjadi pemimpin baru Al-Shabaab.

Para personil ASWJ yang sedang berbaris
di dekat bendera kelompoknya. (Sumber)
Di tahun 2008, selain harus bertempur dengan pasukan asing & pemerintahan transisi Somalia yang dibantu oleh klan-klan sekuler lokal, Al-Shabaab juga harus menghadapi musuh baru sesama milisi Islam, yaitu Ahlu Sunna Wal Jama'a (ASWJ). Munculnya ASWJ sebagai musuh baru Al-Shabaab tidak lepas dari kebijakan keras & kontroversial dari Al-Shabaab saat menghancurkan kuburan-kuburan tokoh Sufi setempat karena menganggap ajaran Sufi sebagai ajaran yang menyimpang. Tindakan Al-Shabaab ini lantas memancing kemarahan kaum Sufi di Somalia yang kemudian memutuskan untuk mendirikan ASWJ. Hanya dalam waktu singkat sejak pendiriannya, ASWJ berhasil mendapatkan dukungan dari penduduk setempat & mengungguli pasukan Al-Shabaab di sejumlah pertempuran.


Mundurnya Ethiopia & Terbelahnya ICU

Memasuki awal tahun 2009, Ethiopia memutuskan untuk menarik mundur seluruh pasukannya dari Somalia. Hanya sehari setelah pasukan terakhir Ethiopia di tanah Somalia ditarik mundur, Al-Shabaab langsung menyerang parlemen milik pemerintahan transisi Somalia yang berlokasi di kota Baidoa & berhasil menduduki kota tersebut tanpa kesulitan berarti. Namun, aksi Al-Shabaab tersebut langsung mendapatkan respon perlawanan yang gigih dari ASWJ. Dalam periode yang bersamaan, ASWJ juga berhasil merebut sejumlah kota yang sebelumnya dikuasai oleh Al-Shabaab.

Di tengah-tengah situasi keamanan yang tidak menguntungkan bagi pemerintahan transisi Somalia sepeninggal pasukan Ethiopia, aktivitas politik di Somalia mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan setelah pemerintahan transisi sepakat untuk menambah jumlah kursi di parlemen, merekrut para tokoh Islam moderat ke dalam keanggotaannya, & membiarkan wilayah selatan Somalia mengadopsi hukum Islam sebagai dasar peraturan daerahnya. Sharif Ahmed - tokoh Islam yang juga merupakan bekas anggota ICU, organisasi induk dari Al-Shabaab - kemudian terpilih sebagai presiden baru Somalia pada bulan Februari 2009.

Sharif Ahmed. (Sumber)
Terpilihnya Ahmed sebagai presiden Somalia ternyata menimbulkan protes keras dari kelompok-kelompok penyusun ICU yang lain - termasuk Al-Shabaab - yang menuduh Ahmed sebagai pengkhianat karena bergabung dengan pemerintahan transisi Somalia yang dianggap sekuler. Sebagai akibatnya, hanya beberapa jam setelah Ahmed disumpah sebagai presiden, beberapa anggota Al-Shabaab menembaki istana kepresidenan Somalia. Konflik & kontak senjata juga timbul antara milisi-milisi penyusun ICU pada akhir Februari 2009 karena perbedaan pendangan mereka mengenai posisi Ahmed sebagai bagian dari pemerintahan transisi Somalia. Akibat kontak senjata tersebut, sekurang-kurangnya 23 orang dilaporkan tewas.

Memasuki awal tahun 2010, untuk pertama kalinya Al-Shabaab melancarkan serangan di luar Somalia setelah salah seorang anggotanya melakukan percobaan pembunuhan di Denmark kepada kartunis setempat yang beberapa tahun sebelumnya menggambar karikatur parodi dari Nabi Muhammad SAW. Beberapa bulan kemudian alias pada bulan Juli 2010, Al-Shabaab kembali melancarkan serangan di luar Somalia. Kali ini sasarannya adalah Kampala, ibukota Uganda, di mana serangan tersebut dilaporkan menewaskan 70 orang lebih.

Bulan Februari 2010, pemimpin Al-Shabaab untuk pertama kalinya mengakui bahwa mereka memiliki koneksi dengan Al-Qaeda, kelompok ekstrimis Islam dengan jangkauan global yang menjadi terkenal sejak serangannya ke gedung kembar WTC di AS pada tahun 2001. Sebelum pengakuan ini dikeluarkan, isu bahwa Al-Shabaab memiliki koneksi dengan Al-Qaeda memang sudah lama merebak, namun para anggota Al-Shabaab selalu membantahnya dalam berbagai kesempatan.



PERKEMBANGAN TERAKHIR

Tentara Kenya di Somalia. (Sumber)
Bulan Juli 2011, untuk pertama kalinya Al-Shabaab mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan di wilayahnya menyusul timbulnya krisis pangan & kelaparan yang melanda Somalia selatan akibat kekeringan. Kendati demikian, para anggota Al-Shabaab tetap tidak luput dari kecaman dunia internasional karena walaupun petinggi organisasi tersebut sudah mengizinkan masuknya bantuan internasional ke Somalia selatan, para anggota Al-Shabaab masih ada yang melakukan penyerangan & penculikan kepada para pekerja kemanusiaan dari luar negeri.

Kembali ke medan konflik, aksi-aksi bersenjata yang dilakukan oleh Al-Shabaab di tahun 2011 masih belum menurun. Namun, memasuki bulan Oktober 2011, perang sipil di Somalia memasuki fase baru setelah Kenya - negara yang berbatasan langsung dengan Somalia di selatan - melakukan invasi ke wilayah Somalia. Kenya beralasan invasi tersebut dilakukan untuk memerangi Al-Shabaab yang disebut-sebut menculik para pekerja kemanusiaan & orang asing di Kenya. Kenya juga mengklaim bahwa kebijakannya menginvasi Somalia mendapat restu dari pemerintahan transisi Somalia sendiri. 

Hingga permulaan tahun 2012, ribuan pasukan Kenya masih ditempatkan di Somalia & belum berhasil membasmi Al-Shabaab sepenuhnya. Kondisi keamanan di Somalia juga belum mengalami peningkatan. Kalau sudah begini, pertanyaan pun merebak mengenai apa solusi terbaik untuk mengakhiri konflik di Somalia yang begitu kompleks ini. Apakah dengan jalur militer yang terbukti gagal mengembalikan stabilitas negara tersebut selama puluhan tahun, atau lewat jalur diplomasi yang memerlukan waktu & kesabaran lebih untuk menemukan penyelesaian akhir terbaiknya. Yang pasti, selama pihak-pihak yang terlibat dalam konflik di Somalia masih belum mau membuang ego kelompoknya masing-masing, maka selama itu pula perdamaian di Somalia hanyalah sebatas mimpi.  -  © Rep. Eusosialis Tawon



BIODATA

Nama resmi : Harakat Al-Shabaab Al-Mujahidin
Tahun aktif : 2006 - sekarang
Area operasi : (mayoritasnya di) Somalia
Ideologi : Islam garis keras, Wahabiyah



REFERENSI

BBC News - Al-Qaeda's origins and links
Wikipedia - Ahlu Sunna Waljama'a
Wikipedia - Al-Shabaab
Wikipedia - Islamic Courts Union
Wikipedia - Kenyan invasion of Somalia (2011)
Wikipedia - War in Somalia (2006-2009)
Ali, Abdirahman. "The Anatomy of al-Shabaab". (file PDF)
Ibrahim, Muhammad. 2010. "The Al-Shabab Myth : Notoriety not Popularity". (file PDF)


            

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

4 komentar:

  1. jadi inget pelem black hawk down
    walaupun ga begitu jelas bendera yg dibawa, karena tuh pelem ttg keheroan amrik.
    somalia masih galau

    BalasHapus
  2. bendera hitam memang menjadi trend perjuangan umat islam, karena menurut hadis bendera hitam yg akan diangkat oleh imam mahdi

    BalasHapus
  3. ini lah pejuang islam,,, :D mantab gan

    BalasHapus
  4. AL shabaab,Bilal bin rabah

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.