FAUNA       SEJARAH       HIBURAN    •     Cari Artikel →

Perang Libya-Mesir, Konflik Singkat yang Membelah Dunia Arab




Peta dari Libya & Mesir (Egypt), 2 negara yang terlibat perang.

Dunia Arab adalah sebutan untuk kawasan di Timur Tengah yang mayoritas penduduknya berbahasa Arab & berasal dari suku Arabia. Sepintas karena kesamaan ini, maka negara-negara Arab pasti selalu kompak, terutama kalau bicara soal masalah konflik dengan Israel. Namun faktanya, negara-negara Arab juga bisa berkonflik satu sama lain ketika sedang tidak sejalan. Salah satu dari sekian banyak konflik antar negara Arab tersebut adalah perang Libya-Mesir, perang berskala kecil yang memiliki dampak begitu besar bagi relasi negara-negara Arab ke depannya.

Perang Libya-Mesir (Libya-Egypt war) atau kerap juga disebut sebagai perang perbatasan Libya-Mesir (Egypt-Libya border war) adalah konflik bersenjata singkat pada tahun 1977 antara militer Libya melawan militer Mesir. Kendati perang tersebut berlangsung sangat singkat & skala konfliknya juga relatif terbatas, perang itu memiliki dampak politik jangka panjang yang besar terhadap kondisi politik dunia Arab yang pasca perang ibarat terbelah menjadi 2 kubu. Perang ini juga menjadi arena perebutan pengaruh antara pihak-pihak adidaya. Jika AS berada di belakang Mesir, maka Uni Soviet memberikan dukungannya pada Libya.



LATAR BELAKANG

Sejak tahun 1948 yang juga merupakan tahun berdirinya Israel, negara-negara Arab beberapa kali terlibat konflik bersenjata dengan Israel karena menganggap pendirian Israel sebagai ilegal & tidak memperhatikan hak-hak komunitas Arab Palestina. Mesir adalah salah satu negara Arab yang getol memerangi Israel sejak awal berdirinya "negeri Zionis" tersebut karena letak kedua negara yang memang bersebelahan. Khusus untuk Perang Yom Kippur yang terjadi pada tahun 1973, Mesir juga memiliki motivasi tambahan untuk merebut kembali Semenanjung Sinai, wilayah Mesir bagian timur yang diduduki oleh Israel sejak berakhirnya Perang 6 Hari di tahun 1967.

Anwar El-Sadat (kiri) bersama
Muammar Al-Qaddafi. (Sumber)
Konflik terus-menerus dengan Israel membawa dampak negatif tersendiri bagi kondisi perekonomian & militer Mesir. Sebagai akibatnya, pasca Perang Yom Kippur, Anwar El-Sadat - presiden Mesir kala itu - mulai mendekatkan diri kepada AS & Israel dengan harapan bisa mendapatkan kembali Semenanjung Sinai tanpa harus kembali menempuh jalur perang. Manuver politik dari Sadat tersebut langsung menuai kecaman dari Muammar Al-Qaddafi, pemimpin Libya yang terkenal sangat anti terhadap AS. Rasa kesal & frustrasi Qaddafi kepada Mesir semakin bertambah karena pada periode yang bersamaan, perundingan yang dilakukan untuk menyatukan Libya, Mesir, & Tunisia ke dalam 1 negara berakhir tanpa hasil.

Ketegangan antara Libya & Mesir mulai terlihat ketika pada tahun 1976, Libya menutup kedutaan besar Mesir di wilayahnya setelah Mesir menuduh adanya keterlibatan agen rahasia Libya dalam peristiwa pembajakan pesawat Mesir di tahun yang sama. Mesir lantas membalasnya dengan mulai menambah pasukan di perbatasan Libya-Mesir. Setahun kemudian, pemimpin Libya memerintahkan ratusan ribu orang-orang Mesir di wilayahnya untuk angkat kaki & keluar dari Libya. Serangkaian peristiwa tadi pada gilirannya membuat konflik terbuka antara kedua negara seolah hanya tinggal masalah waktu...



BERJALANNYA PERANG

Bulan Juni 1977, ratusan demonstran Libya bergerak ke wilayah Mesir untuk memprotes kebijakan politik Mesir pada saat itu, namun mereka langsung dihadang oleh tentara Mesir yang menjaga perbatasan kedua negara. Tanggal 20 Juli 1977 alias sekitar sebulan setelah insiden tersebut, militer Libya membombardir kota Sallum, Mesir, dengan meriam artileri. Dalam serangan tersebut, pasukan artileri Libya juga mendapatkan sokongan dari pasukan tank & pesawat tempur Libya.

Para tentara Libya yang sedang meluapkan
kegembiraan mereka di dekat bangkai
pesawat tempur milik Mesir. (Sumber)
Serangan Libya jelas langsung memancing kemarahan Mesir. Sehari setelah pasukan Libya menyerang kota Sallum, Mesir langsung menggerakkan 3 divisi pasukannya ke perbatasan kedua negara. Hasilnya, pasukan Mesir berhasil menghentikan laju pasukan Libya & bahkan menghancurkan sebagian besar persenjataan daratnya. Tak lama usai keberhasilan tersebut, Mesir mulai berbalik menjadi pihak penyerbu. Pasukan udara mereka mulai membombardir pos-pos militer & pangkalan udara milik Libya, sementara pasukan tank mereka digerakkan untuk merebut kota-kota milik Libya di dekat perbatasan kedua negara.

Walaupun berada dalam posisi tertekan, pasukan Libya masih sempat melakukan serangan kembali ke wilayah Mesir. Pesawat-pesawat tempur milik Libya dikirim untuk membombardir sejumlah kota & pos militer milik Mesir di dekat perbatasan. Esok paginya, Mesir berusaha membalas dengan cara mengirimkan pesawat tempurnya untuk menyerang pangkalan udara Libya di dekat kota Benghazi, namun pesawat tersebut langsung dicegat oleh pesawat-pesawat tempur milik Libya. Pertempuran sengit antar pesawat di udara pun tak terhindarkan & dalam pertempuran tersebut, sebuah pesawat tempur milik Mesir dikabarkan hancur.

Memasuki hari-hari berikutnya, pasukan udara Libya beberapa kali mencoba melakukan serangan ke wilayah Mesir. Namun, pasukan Mesir berhasil mematahkan serangan-serangan tersebut. Di hari ke-5 perang, pasukan Mesir bahkan mengklaim bahwa mereka berhasil menembak jatuh 4 pesawat tempur milik Libya. Pada periode yang kurang lebih bersamaan, negara-negara Arab yang lain juga terus menekan Libya & Mesir agar segera naik ke meja perundingan & mengakhiri perang. Tekanan tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah pada tanggal 24 Juli 1977, Mesir & Libya sepakat untuk berhenti melanjutkan perang. Dengan demikian, konflik perbatasan antara kedua negara yang sudah berlangsung selama 5 hari itupun berakhir.



KONDISI PASCA PERANG

Pesawat tempur Mesir yang
sedang diparkir. (Sumber)
Walaupun perang antara Libya & Mesir hanya berlangsung sebentar, kerugian yang timbul dari perang tersebut juga tak bisa dipandang sebelah mata. Tercatat ratusan orang tewas & terluka akibat perang tersebut. Kedua belah pihak juga kehilangan sejumlah kendaraan perangnya, namun kerugian lebih besar harus ditanggung oleh pihak Libya yang kehilangan 100 kendaraan lapis baja & 21 pesawat tempurnya. Konflik perbatasan skala kecil sempat kembali timbul di tahun 1979, namun untungnya konflik tersebut tidak sampai merambat kembali menjadi perang berskala lebih besar.

Di luar aspek militer, perang Libya-Mesir membawa dampak besar bagi persekutuan negara-negara Arab. Bila sebelum perang negara-negara Arab bisa dibilang cukup kompak karena sama-sama memusuhi Israel, maka sesudah perang mereka ibarat terbelah menjadi 2 kubu. Sebagian negara Arab - khususnya yang berbentuk emirat atau kerajaan - menaruh dukungan pada Mesir, sementara sebagian lainnya yang berhaluan kiri lebih condong bersimpati pada Libya. Hingga beberapa tahun berikutnya, perpecahan tersebut masih tetap terasa di antara negara-negara Arab.

Dampak paling terasa dari perpecahan ini adalah negara-negara Arab tidak lagi satu suara mengenai Israel & tidak bisa lagi melakukan perang berskala besar kepada "negara Zionis" tersebut setelah terakhir kali melakukanya di tahun 1973. Padahal di tahun yang sama, negara-negara Arab masih sangat kompak & bahkan sempat melakukan embargo minyak bersama-sama yang sukses melumpuhkan aktivitas industri negara-negara Barat. Dampak lain dari perpecahan dunia Arab bisa dilihat saat perang Irak-Iran meletus di tahun 1980. Di saat mayoritas negara Arab menyokong Irak dalam perang tersebut, Libya & Suriah justru menaruh dukungannya pada Iran yang notabene bukan merupakan negara Arab.  -  © Rep. Eusosialis Tawon 



RINGKASAN PERANG

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
   - Waktu : 20 - 24 Juli 1977
   - Lokasi : Libya, Mesir

2. Pihak yang Bertempur
   (Negara)  -  Libya
          melawan
   (Negara)  -  Mesir

3. Hasil Akhir
    Konflik berakhir tanpa pemenang yang jelas

4. Korban Jiwa
    Antara 200 - 500 orang



REFERENSI

Air Combat Information Group - Libya & Egypt, 1971 - 1979
The History Guy - The Egypt-Libya Border War of 1977
Wikipedia - Arab world
Wikipedia - Libyan-Egyptian War
 - . 2006. "Edisi Koleksi Angkasa : Perang Hizbullah-Israel". PT Gramedia, Jakarta.


      

COBA JUGA HINGGAP KE SINI...

4 komentar:

  1. Negara-negara Arab tidak kompak...., Bagaimana bisa meapi Israel....?

    BalasHapus
  2. Ini era kolonialisme baru yang dimotori negara maju

    BalasHapus
  3. Perang Libya dan Mesir memecah persatuan negara-negara Arab, kunjungan balasan ya ke bog saya www.goocap.com

    BalasHapus




Tamu yang baik selalu meninggalkan jejak sebelum pergi. Jadi, silakan tinggalkan komentar anda mengenai artikel ini selama tidak mengandung unsur spam, provokasi SARA, & kata-kata kasar. Komentar yang baru dibuat tidak akan langsung muncul karena akan diperiksa terlebih dahulu.

Jika anda tertarik untuk mencetak / menyimpan artikel ini, silakan menuju "Pusat Logistik" yang terletak di bagian kanan halaman ini.

Baca aturan pakai. Jika kebingungan berlanjut, tinggalkan pesan di kotak komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.